Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Halo


__ADS_3

Keluarga Wallace sedang sangat berbahagia. Proses adopsi telah disetujui dan dijatuhkan kepada keluarga Wallace. Nama asli bayi perempuan yang cantik itu pun kini berubah menjadi Chloe Valleria Wallace.


"Nama yang cantik," ucap Otis saat menggendong Chloe yang mungil di lengannya. Luke mendekati Otis dan mengusap kepala bayi kecilnya. "Jaga dia, Luke!" titah Otis kepada Luke.


Luke mengambil bayi mungil itu dari gendongan kakak iparnya. "Dia kecil sekali, yah, Kak."


Otis mengangguk setuju. "Ya, sangat lembut. Aku rindu Kanaya saat bayi seperti ini. Dia tidak bisa marah atau merajuk. Dia akan mengikutiku ke manapun aku pergi. Ah, aku rindu masa itu." Tiba-tiba saja Otis tersadar kalau dia tidak bisa menceritakan masa kecil dengan Nay dengan sejelas itu di hadapan Luke yang masih mengharapkan cinta putrinya.


"Ehem! Pasti, Kak. Aku pasti akan selalu menjaganya," sahut Luke salah tingkah. Ucapan Otis kembali membuat jantungnya terasa nyeri begitu dia mengingat tentang gadis yang bernama Kanaya itu.


Setelah beberapa hari Chloe berada di tengah hangatnya keluarga Wallace, Luke menjadi fokus kepada Alma serta bayi mereka. Senang rasanya melihat kehangatan yang timbul karena hadirnya Chloe di antara mereka.


Sikap Luke sangat berubah. Dia menjadi sosok ayah dan suami yang lembut untuk anak dan istrinya. Tidak ada lagi ponsel di tangannya.


Alma bersyukur atas keputusan nekatnya yang dianggap gila oleh beberapa pihak tetapi ternyata membawa perubahan drastis kepada Luke.


Waktu pun dengan cepat berlalu. Usia Chloe kini menginjak 5 bulan. Perkembangannya cukup pesat karena Alma mengasuhnya sendiri.


"Daddy, jam berapa kamu pulang nanti?" tanya Alma suatu hari.


("Hmm, aku ada rapat malam, sih. Ada apa? Chloe baik-baik saja, 'kan?") tanya Luke khawatir. Pikirannya segera melayang jauh kepada putri kecilnya.


Alma mengulum senyumnya. "Dia baik-baik saja, Sayang. Besok, Chloe kita genap enam bulan dan sudah waktunya dia makan. Aku ingin mengajakmu berbelanja bersama,"


("Hanya itu? Kenapa tidak kamu katakan sedari tadi. Aku pulang sekarang. Untuk rapatnya, aku akan mengirimkan Victor ke sana. Tunggu aku yah,") jawab Luke. Laki-laki itu pun bergegas untuk bersiap-siap pulang. Sebelum pulang, dia berbicara kepada seorang pria yang tidak terlalu tinggi dan rambut berkuncir cepol di tengah kepalanya. Setelah itu, dia meninggalkan kantornya untuk menjemput istri dan anaknya.


Setibanya di rumah, Luke segera berganti pakaian dan menggendong Chloe yang sore itu sudah tampak cantik dengan terusan sederhana berwarna merah muda, hiasan di kepala dengan warna senada serta sepatu kain yang menempel di kedua kakinya yang mungil.


"Eh, mau kemana anak Daddy niy? Sudah cantik sekali." Luke tak tahan untuk tidak mencium pipi gembulnya putri perempuannya.

__ADS_1


Chloe pun menampakkan senyumnya yang lebar sambil mengeluarkan suara aaa yang cukup jelas.


"Daddy, coba panggil Da-, Daddy," pinta Luke, mengajarkan Chloe untuk memanggilnya.


"Itu sulit. Lebih mudah, Mommy, ya Nak?" kata Alma yang tiba-tiba saja masuk dan sudah siap dengan outfit berwarna senada dengan Chloe.


"Kamu cantik sekali. Tidak mau kalah dengan Chloe yah? Hehehe," goda Luke terkekeh.


Saat ini, keluarga Wallace memang tengah berbahagia. Namun sayangnya, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian, Luke mendapatkan telepon dari seseorang tanpa suara yang pernah menghubungi Luke di malam hari.


"Halo, selamat siang," sapa Luke.


Tidak ada jawaban atau pun tanda-tanda kehidupan yang terdengar dari seberang. Luke pun menutup ponselnya dan meneruskan pekerjaannya.


Sementara itu, si penelpon berdiam diri saat panggilannya ditutup begitu saja oleh si penerima telepon. "Sepertinya dia benar-benar melupakanku,"


Ya, si penelpon misterius itu adalah Kanaya. Gadis itu belum bisa melupakan Luke walaupun saat ini dia sedang menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Felix North.


Nay mengangguk. "Ya, tapi sepertinya otakku tidak mau bekerja hari ini,"


Felix menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tumpukan kertas, laptop yang terbuka, sampah makanan ringan dan kaleng bir berada dimana-mana. Belum lagi, bantal serta tissu yang tersebar di lantai. "Aku heran bagaimana bisa aku bertahan denganmu padahal kamu semenjijikan ini, Nay. Entah apa kata ibuku kalau dia mengetahui sifat aslimu. Bisa pingsan dia,"


Nay tidak memperdulikan ucapan Felix. Baginya Felix tak lebih dari seorang teman yang menemaninya. Saat ini, hubungan mereka sudah pada tahap nyaris menikah. Mereka sudah membicarakan, bukan mereka, hanya Felix yang bersemangat membicarakan soal pernikahan. Di mana pernikahan mereka akan diadakan, kapan, dan ***** bengek yang akan mereka kenakan saat menikah nanti.


Baik Otis maupun orang tua Felix senang sekali mendengar kedua anak mereka sudah sampai tahap sejauh ini.


Ini juga alasan perubahan sikap Luke. Otis selalu memberitahukan kabar hubungan Nay kepada Luke. Sedangkan, Nay semakin menderita mendengar kabar Luke dan bibinya sudah memiliki seorang bayi perempuan yang cantik.


Pada akhirnya, hari itu Nay tidak mengikuti ujian hanya karena dia telah mendengar suara Luke dan gadis itu masih belum bisa berbicara dengan paman yang dia rindukan. "Aku absen saja hari ini dan ikut ujian susulan,"

__ADS_1


"Terserahlah, Nay. Lalu, dari kemarin aku bertanya kepadamu, dimana kamu akan mengadakan pesta pernikahan kita?" tanya Felix yang sudah siap dengan tabnya.


"Kota Metropolitan," jawab Nay singkat.


Felix yang sedang asik mengetik, mengangkat wajahnya dan menatap manik hijau Nay. "Tempat asal kita?"


Nay mengangguk. "Ya, setelah menikah aku akan kembali ke sini untuk melanjutkan kuliahku. Kita akan ambil hari saat aku libur semester,"


Felix melanjutkan ketikannya dengan penuh semangat. "Oke, untuk gaun, katering, dekorasi, dan lain-lainnya bagaimana?"


"Suka-sukamulah," jawab Nay singkat.


Felix mengangguk. Hubungannya dengan Kanaya Rivers memang termasuk cepat. Nay tidak ingin berlama-lama brrkencan dan baru dua minggu yang lalu, gadis itu mengajak Felix untuk menikah.


Felix pun terkejut dan mengira Nay sedang mabuk, mengingat cairan terakhir yang dia tenggak hanyalah cairan yang berada di kaleng bir.


Begitulah rencana pernikahan mereka yang meragukan. Semua Nay lakukan hanya untuk membantunya melupakan Luke dari pikiran serta hatinya. Gadis itu tampak tersiksa sekali.


"Kamu seperti zombie, Nay. Tidak ada warna dan aura. Menyedihkan sekali," begitulah kata Kai.


"Ayahkulah yang menbunuhku, Kai," balas Nay saat itu dengan nada suara getir.


Maka dalam usahanya yang terakhir, dia kembali menghubungi Luke hanya untuk memperdengarkan suaranya.


("Halo, selamat malam,") sapa Luke.


Jantung Nay berdegup kencang hanya mendengar suara pria yang dia sebut sebagai pamannya itu.


("Halo, siapa ini?") tanya Luke lagi.

__ADS_1


Nay memenuhi rongga paru-parunya dengan banyak oksigen kemudian dia hembuskan perlahan. "Ehem, ha-, hai Paman Luke. Howdy?"


...----------------...


__ADS_2