Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Mundur


__ADS_3

"K-, Kai?"


Nay segera melepaskan pelukannya dari Luke. "I-, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Kai. Percayalah. Aku hanya sekedar curhat, you know?"


Kai mundur dengan jijik. Satu tangannya terangkat ke depan, mencegah Kanaya untuk mendekat. "Oh yah? Aku mendengar kata 'Paman, aku mencintaimu,' dari mulutmu, Nay! Itu ucapan tergila yang pernah kudengar! Dan kamu, Tuan Wallace yang terhormat, Kanaya adalah keponakanmu sendiri dan kamu sudah memiliki seorang istri yang tak lain bibi dari keponakanmu! Bisa-bisanya Tuan mengikuti hawa nafsu dan menyakiti perasaan orang lain seperti ini! Aku tidak habis pikir! Mungkin benar kata kakekku, dunia sudah mau kiamat!" Kai bergidik ngeri.


"Apa hubungannya denganmu, Fletcher? Ini urusan keluarga kami bukan urusanmu!" tukas Luke, dia menyeret tangan Nay dan bergegas pergi.


Namun Kai tak kalah cepat, dia menarik tangan Nay yang satu lagi dan menahannya. "Ini ada urusannya denganku, Tuan Wallace. Kamu telah menyakiti wanita yang kucintai!"


"Brengsek! Lepaskan tangannya!" perintah Luke.


Kai bersikeras dan tetap menahan tangan Kanaya. Namun Luke dibuat terkejut saat Nay melepaskan genggaman tangan darinya. "N-, Nay? Kamu, ...."


Kai tersenyum puas. "See, Tuan Wallace?"


Pria berkacamata itu pun mengambil motornya dan membawa Kanaya pergi dari sana secepat dia bisa. Kai mengendarai laju kendaraan roda duanya dengan kecepatan cukup tinggi. Dia tidak mendengar gadis yang berada di belakangnya yang bertanya dan memanggil namanya.


Beberapa lama kemudian, Kai memarkirkan motornya dengan cantik di sebuah kedai makanan yang berada di tepi danau.


"Di mana ini?" tanya Nay, gadis itu segera turun dari motor besar Kai.


"Masuk saja," ucap Kai dingin. Dia berjalan mendahului Nay dan segera mencari tempat duduk di tepi danau yang tenang.


Tidak seperti biasanya, sore itu Kai begitu diam dan hanya menatap danau. Sampai pesanan mereka tiba pun, Kai masih tetap terdiam.


"Kai, bicaralah." pinta Nay. Gadis itu lebih tersiksa jika pria yang ada di depannya itu hanya diam. Lebih baik baginya jika Kai marah atau menampar pipinya atau mencaci makinya dengan sebutan apa pun. Akan tetapi, tidak ada satu kata pun keluar dari mulut Kai.


Nay semakin tersiksa saat Kai tidak menatapnya sama sekali. "Kai,"

__ADS_1


Suara Nay tercekat. Kondisinya seharian ini sangat kacau. Dia merasa hancur sehancur-hancurnya. Hubungannya dengan Luke juga sedang renggang, dia dipaksa untuk bertunangan dengan pria asing yang tidak dia kenal, dan sekarang, sahabat satu-satunya yang dia miliki marah kepadanya.


Sebutir air mata turun kembali, dengan cepat Nay mengusapnya. "Kai, aku pulang,"


Nay beranjak dari kursi kayunya dan bergegas pergi, tetapi Kai menahan tangannya. "Duduklah, Nay,"


"Percuma juga aku ada di depanmu kalau kamu diam, Kai! Menatapku pun kamu tidak mau!" pecah sudah tangis Kanaya yang sedari tadi di tahannya.


Kai menarik tangan kecil gadis itu dan memeluknya. Dia tetap diam dan tetap tidak bicara sepatah kata pun. Bahkan sampai Nay selesai menangis.


"Tuh 'kan masih diam! Aku pulang saja!" protes Nay dengan suara sengau. Kedua matanya memerah dan sembab sehabis menangis kencang.


"Apa kamu tidak bisa diam saja dan menikmati pemandangan ini? Aku sedang mendamaikan diriku sendiri, Nay. Apa yang terjadi jika aku terbawa emosi, aku mungkin bisa menampar pemimpin Rivers Group yang baru. Kamu sekarang bosku, Nay. Kamu yang memberikanku gaji, apa yang terjadi jika dunia tau aku menamparmu? Nasibku akan benar-benar luntang lantung tanpa kejelasan," keluh Kai, dia berusaha membuat gadis yang dia cintai tersenyum kembali.


Kanaya mendengus. "Kita teman! Walaupun nanti aku menjadi pemimpin dunia ini, kita akan tetap berteman, Kai. Tidak akan ada yang berubah," ucapnya.


"Aku tau. Apa kamu ingat, sebelum aku mengajakmu ke pernikahan Bibi Alma, aku bercerita kepadamu kalau aku bertemu dengan seorang pria yang tampan seperti seorang superhero dan aku jatuh cinta padanya?" tanya Nay dan Kai mengangguk sambil memotong Cheese Quichenya. "Pria itu pamanku, Kai. Aku mencintai dia saat dia belum memiliki status suami bibiku dan dia belum menjadi pamanku,"


Kai menelan quichenya dengan cepat dan menenggak air mineral dari botol. "Tapi sekarang sudah menikah dan sudah menjadi pamanmu, Nay. Lupakan dia. Kamu masih muda, cantik, kaya raya. Apalagi yang kurang? Semua pria bisa antri di depanmu jika kamu mengumumkan kalau kamu mencari calon suami. Aku akan berada di barisan terdepan," Kai memberikan senyum lebarnya kepada gadis yang sedang memberengut itu.


"Aku tau," balas Nay lemah. Kali ini dia yang terdiam dan hanya menatap danau yang berwarna kehijauan itu. "Aku tau konsekuensi yang kuhadapi, Kai. Aku tau kalau aku akan menyakiti perasaan bibi dan ayahku. Yang aku tidak tau adalah bagaimana aku bisa hidup tanpa dia, Kai?" air mata Nay kembali menggenang.


"Apakah sudah sejauh itu?" tanya Kai pahit.


Nay mengangguk. "Aku benar-benar mencintainya, Kai. Hubungan kami awalnya begitu manis tapi akhir-akhir Paman Luke lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bibi Alma,"


Kai menggebrak meja dengan keras dan beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. "Sudah jelas, Nay! Bibimu adalah istri pamanmu! Wajar jika suami istri begit! Sadarlah, Kanaya! Sadar! Sadar!" pria itu mencipratkan air dingin ke wajah Nay.


"Kai, stop! Aku tau kenyataan itu! Kamu tidak perlu mengingatkanku lagi tentang itu! Yang jadi masalah adalah aku mencintai pamanku dan sulit bagiku untuk melupakannya," jawab Nay lemah.

__ADS_1


"Kamu sudah bertunangan 'kan? Gunakanlah tunanganmu untuk melupakan Tuan Wallace," usul Kai sambil mengetuk meja.


Nay mengehela napasnya. "Aku tidak kenal dengan Felix The Cat itu! Bagaimana kalau kamu saja yang membantuku untuk melupakan pamanku,"


Kedua alis Kai bertautan. "Weh? Aku? Bagaimana?"


"Antar aku kembali," sahut Nay dan dia menggenggam tangan Kai. Hanya dengan genggaman tangannya saja membuat wajah Kai tersipu-sipu.


Setibanya di kediaman Otis, Nay segera mengajak Kai untuk masuk. "Untuk apa aku masuk?"


"Kamu ingin hubungan pertemanan kita diupgrade, 'kan? Ya sudah, ayo masuk!" jawab Kanaya lagi dengan tak sabar, dia menggandeng tangan Kai dan setengah menyeretnya.


Kanaya melihat masih ada sepatu paman dan bibinya di sana. Gadis itu mengangguk mantap dan melangkah masuk ke dalam.


"Nay, darimana saja kamu? Keluarga Felix tadi mencarimu untuk berpamitan. Dan kenapa kamu membawa dia ke sini?" tanya Otis.


Kanaya tidak mempedulikan pertanyaan ayahnya. Dia melirik sekilas ke arah Luke yang menatapnya dengan gusar.


"Pa, aku ingin memutuskan pertunanganku dengan Felix," ucap Nay memberanikan diri.


Wajah Otis seketika memerah. "Jangan main-main kamu, Kanaya! Pertunangan sudah dilaksanakan dan kamu bertingkah lagi!"


"Aku tidak mencintai Felix, Pa. Ada orang lain yang kucintai!" sahut Nay. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa dia cegah. Sakit sekali rasanya melihat pria yang sesungguhnya dia cintai hanya menatap gusar kepadanya.


"Siapa priamu itu? Anak kecil di belakangmu itukah?" tanya Otis mencemooh.


Nay kembali melirik ke arah pamannya yang segera saja menbuang muka saat kedua mata mereka bertemu. "Ya, aku ingin menikah dengan Kai Fletcher! Aku mencintainya, Pa,"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2