Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Ada Apa Dengan Nay?


__ADS_3

Kepergian Alma dari rumah itu membuat Luke berpikir kalau yang dia butuhkan bukan wanita itu, melainkan Kanaya Rivers. Semakin lama dia memikirkannya, semakin dia yakin kalau dia membutuhkan Nay dalam hidupnya.


Setelah mempertimbangkan waktu yang berbeda 6 jam dari tempatnya, akhirnya Luke memutuskan untuk menghubungi Kai siang itu.


Luke terperangah saat Otis yang menjawab panggilan video dari sebuah aplikasi yang biasa dia pakai untuk berhubungan dengan Kai.


"Luke, ada apa pagi-pagi sekali kamu menghubungi asistenku?" tanya Otis santai, dia bahkan menawarkan rotu begel kepadanya. "Sarapan?"


Dengan cepat, Luke menguasai dirinyalah sendiri. "Di sini sudah menjelang tengah hari, Kak. Sejak kapan Kakak berada di sana? Alma sedang menginap di rumahmu, Kak. Kami ber-,"


"Aku tau. Kalian bertengkar hebat dan Alma memutuskan untuk pergi sementara supaya kalian bisa mendinginkan hati dan kepala kalian masing-masing," kata Otis. "Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa memaksa kalian untuk baik-baik saja, 'kan? Setiap pernikahan pasti akan ada ributnya. Itu wajar,"


Dari jawaban kakak iparnya itu, Luke bisa mengambil kesimpulan kalau Otis tidak ingin mereka bercerai. "Ya, tapi, Kak, hatiku sudah tidak ada lagi padanya. Aku sudah mencobanya, tapi, ...."


Otis tersenyum dan menyesap teh herbalnya. "Kamu belum berusaha keras, Luke. Terima kasih karena sudah mau mencoba untuk mencintai adikku dan terus berusaha untuk selalu mencintainya. Kuharap ka-,"


"Tuan Rivers! Kanaya pingsan!"


Terdengar suara Kai berteriak panik dan Otis pun segera berlari meninggalkan laptop serta Luke yang seketika wajahnya berubah menjadi khawatir.


"Fletcher! Kak Otis! Apa yang terjadi!" Luke terus memanggil Otis atau pun Kai untuk mendengarkan apa yang terjad dengan Nay. Apakah dia sedang sakit?


Luke menyambar jasnya dan melajukan kendaraannya ke tempat Otis. Pasti Alma mengetahui sesuatu, karena sudah sejak kemarin isterinya itu berada di rumah kakaknya.


"Luke, a-, ada apa? Kenapa dengan wajahmu?" tanya Alma yang siang itu sedang makan siang bersama Chloe yang tampak asik mengunyah kentang dengan 2 gigi kecilnya.


"Apa yang terjadi dengan Nay? Kamu pasti tau, 'kan? Otis pasti memberitahukan kepadamu! Otis berada bersama Nay, pasti terjadi sesuatu kepadanya. Iya, 'kan? Jawab aku, Alma!" cecar Luke.


Alma meminta baby sitternya untuk membawa Chloe keluar dari ruang makan supaya anak bayi itu tidak mendengar pertengkaran yang terjadi di antara kedua orang tuanya.


"Luke, diam dulu! Bagaimana bisa aku menjawabmu kalau kamu mencecarku dengan pertanyaan! Bahkan, kamu tidak memberiku kesempatan untuk mengambil napas! Gila!" balas Alma kesal.


Wanita itu tidak menangis lagi. Sesuatu di dalam dirinya telah membuat benteng pertahanan untuk menyerang balik. Dia tidak akan menangis lagi!


"Kanaya sakit. Makanya Kak Otis menyusul ke sana, untuk melihat kondisinya," jawab Alma ketus. Tadinya, dia tidak ingin membagi kabar ini kepada Luke. "Semoga saja, cintamu ini cepat menghilang dari muka bumi ini!"


Tangan Luke melayang di pipi Alma. Wajahnya tampak berang. "Ucapanmu, Alma! Salah satu alasan kenapa aku tidak bisa mencintaimu adalah karena ini! Mulutmu mengandung racun mematikan! Sebelum Nay pergi, dia bahkan mendoakan kebahagiaan kita!"

__ADS_1


Alma memegangi pipinya. Dengan berlinang air mata, dia membalas Luke dengan pukulan yang mengenai punggung Luke yang lebar. "Kalau dia tidak ada, kamu pasti akan kembali padaku, 'kan?"


"Tidak! Tidak akan pernah aku kembali kepadamu!" tukas Luke geram. Tidak ada lagi tatapan cinta untuk Alma.


Sementara itu,


"Bagaimana, Dokter?" tanya Otis khawatir. Sepanjang perjalanan dari apartemen Nay ke rumah sakit, dia tidak melepaskan tangannya pada anak gadisnya itu.


"Saya merekomendasikan untuk pemeriksaan penunjang lainnya, seperti pemeriksaan laboratorium dan cek darah. Setelah itu, kami akan tau apa penyakitnya," jawab si Dokter.


Otis dan Kai setuju. "Silahkan, Dokter. Tapi anak saya kapan bangunnya?"


"Kita tunggu sampai satu jam ke depan, Tuan. Saya akan memberikan infusan kepada Nona Rivers supaya tubuhnya tetap mendapatkan cairan," jawab Dokter itu lagi.


Kai dan Otis mengangguk-angguk. "Berarti kami harus menunggu sampai satu jam. Baiklah, Dokter."


Tak lama setelah itu, seorang perawat memakai pakaian laboratorium datang dan mengambil darah Nay untuk dimasukkan ke dalam beberapa tabung.


Kini, tinggal Kai dan Otis yang menunggu Nay untuk segera sadar.


"Bagaimana awalnya sampai dia bisa pingsan, Kai? Maksudku, dia baru saja pulih. Bagaimana pola makan dan tidurnya?" tanya Otis.


Otis menghembuskan napasnya dan kembali menatap Nay. Laki-laki itu sekarang tampak lebih tua karena memikirkan putri kesayangannya yang kini berbaring dengan selang infusan di tangannya. "Apa yang dia pikirkan sampai dia sulit tidur?" Otis memejamkan matanya sesaat dan menarik napas dalam-dalam. Apa yang dia takutkan kini terjadi. "Luke?"


Kai mengangguk lemah. "Iya. Dia menahan rindunya pada Tuan Wallace dengan mengambil jam kuliah lebih banyak dan mengerjakan tugas sampai subuh untuk mengalihkan pikirannya dari Tuan Wallace,"


"Apa kamu tidak bisa, .... Maksudku, apakah kamu tidak bisa membuka hatinya? Kamu berhasil membuka hatiku, aku berharap sekali kamu sanggup membuka hati putriku," ucap Otis. Suaranya terdengar berat saat mengucapkan itu.


Sepersekian menit kemudian, Otis merasakan jarinya digenggam oleh Nay. "Nay! Kanaya, Sayang. Papa di sini, Nak,"


Nay membuka kedua matanya perlahan dan Kai segera bergegas menekan tombol perawat supaya mereka segera datang ke ruangan rawat VVIP itu.


Perawat pun segera datang bersama dengan dokter yang memeriksa Kanaya sebelumnya. "Kondisinya baik. Semua stabil, tapi kami tetap akan memasang selang infusan sampai kantung infusannya habis. Untuk hasil pemeriksaan penunjangnya, mungkin sekitar satu jam lagi baru akan keluar hasilnya,"


Setelah menjelaskan hal itu, dokter dan perawat pun keluar dari kamar rawat Nay.


"Mau makan apa, Sayang? Papa akan membelikannya untukmu," tanya Otis.

__ADS_1


"Nanti saja," jawab Nay singkat. Gadis itu sudah asik dengan ponselnya.


"Buka mulutmu lebar-lebar! Kalau kamu mau hidup, masukanlah makanan apa pun! Buka!" Kai memaksakan sepotong apel masuk ke dalam mulut Nay. "Kunyah dan tidak perlu membelalak kepadaku! Nih, buka lagi mulutmu!"


Nay mengerutkan keningnya dan menatap Kai dengan tidak suka, tetapi mulut Nay mulai mengunyah apel yang disuapi oleh Kai itu.


Otis tersenyum melihat kesabaran dan kegigihan Kai dalam mengurus putrinya. Perlahan, dia keluar ruangan dan mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya.


Pria tua itu tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan Luke Wallace dari hidup Nay. "Brengsek kamu, Luke! Aarrgghh!" Tinju Otis melayang ke sebuah dinding dan dia menangis tersedu-sedu dengan lengan bersandar pada dinding itu.


Satu jam kemudian,


"Papa di mana?" tanya Nay. "Kenapa belum kembali?"


Kai mencoba menghubungi Otis, tetapi tidak ada jawaban dari laki-laki paruh baya itu. "Aku akan mencarinya,"


Tepat sebelum Kai keluar, dokter memasuki ruangan dengan membawa sebuah dokumen berisi hasil pemeriksaan penunjang.


"Selamat siang, Nona Rivers. Saya akan membacakan hasil pemeriksaan yang telah kami lakukan tadi pagi beserta diagnosa untuk Anda,"


Kai segera masuk kembali dan berdiri di samping ranjang Nay. "Silahkan, Dokter,"


"Hasil pemeriksaan menunjukkan, angka limfosit Anda cukup tinggi dan melebihi batas normal. Sedangkan nilai hemoglobin, hematokrit, eritrosit, serta trombosit sangat rendah," jelas dokter itu. "Kami juga menemukan adanya sebuah sel abnormal yang sifatnya merusak cukup cepat dalam kandungan darah Anda, Nona Rivers. Selain itu, ada pembengkakan di kelenjar getah bening, limfa, serta hati."


Nay mengeratkan genggaman tangannya pada Kai. Jantungnya berdetak dengan cepat. Sebisa mungkin, Kai menenangkan gadis itu dengan mengusap punggung tangan Nay.


"Diagnosa sementara sudah kami tegakkan, hanya saja untuk lebih memastikan diagnosa, kami membutuhkan pengambilan cairan dari sumsum tulang belakang," sambung dokter itu lagi.


Kai memberanikan diri untuk bertanya pada dokter. "Kalau saya boleh tau, apa diagnosanya, Dok?"


"Untuk sementara, Leukimia stadium 2. Nona Rivers belum merasakan sakit yang luar biasa, hanya saja sel darah abnormal ini harus segera kita buang sebelum menyebar. Nantinya, akan ada pembengkakan di beberapa bagian tubuh karena ulah si sel ini. Pendarahan juga akan terjadi dan timbul memar di sepanjang tulang belakang," jawab dokter.


Baik Kai maupun Nay saling berpandangan. Kai memeluk Nay dan menahan semua ketakutan yang dirasakan oleh gadis itu. "Berapa angka harapan hidupnya?"


"60% dengan kemoterapi serta radiasi. Diet makanan serta pola hidup teratur juga mempengaruhi proses penyembuhan," ujar Sang Dokter lagi.


"Kai, apa pun yang kamu dengar dari dokter hari ini, jangan beritahukan kepada ayahku atau Luke! Berjanjilah, Kai!" bisik Nay menahan runtuhnya air mata yang mendesak ingin segera meluncur dari tempat asalnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2