
"Kenapa Paman mengatakan aku keponakan Paman! Kenapa tidak bilang, aku kekasih Paman?" seketika saja, suasana hati Nay tak karuan karena pertemuan mereka dengan Ashley.
Kai dan Luke terdiam dan membiarkan Nay terus mengoceh dan mengeluarkan isi hatinya. Kai mengakui, ini kesalahan Luke, akan tetapi Luke juga tidak sepenuhnya salah.
"Kenapa kalian diam saja! Jawab aku!" tukas Nay, dia membelalak ke arah kedua pria yang hanya diam tanpa kata itu.
"Ehem! Statusmu memang masih keponakan Tuan Wallace, Nay. Pengadilan belum resmi mengetuk palu kalau paman dan bibimu bercerai. Ayolah, tidak perlu marah-marah seperti itu," bujuk Kai. Dia berusaha menenangkan Nay yang sedang berada di puncak emosinya itu.
Nay mendengus kesal. "Huh! Tapi, bisa-bisanya Paman berubah seperti tadi. Baru sejam yang lalu, Paman menciumku dengan penuh gairah dan tiba-tiba saja si *** itu datang dan Paman memperkenalkanku sebagai seorang keponakan! Bayangkan bagaimana hatiku! Uhuk! Uhuk!"
Begitu mendengar Nay terbatuk-batuk, baik Kai dan Luke segera memberikan segelas air untuk gadis itu. "Jangan emosi, Cantik. Nanti penyakitmu datang lagi. Istirahatlah,"
Nay memincingkan matanya ke arah Luke dan merangkul lengan Kai yang sudah siap mengantar ke kamarnya. Kai juga dengan sabar, memberikan beberapa obat yang harus diminum oleh Nay sebelum tidur.
"Tidurlah, Nay. Jangan memikirkan pamanmu dan temannya. Mungkin saja, mereka hanya sebuah masa lalu. Kamu juga punya masa lalu, 'kan? Begitu pula dengan pamanmu dan semua orang," ucap Kai lembut.
Nay memberengutkan bibirnya, kekesalan masih tampak jelas di wajahnya. "Maksudku, dia bisa bilang kalau aku kekasihnya, sebelum itu, kami baru saja berciuman, Kai."
"Orang dewasa kadang malas menjelaskan. Jika pamanmu mengatakan kalau kamu kekasihnya, Ashley akan memperpanjang pertanyaannya, 'kan? Itulah yang membuat sebagian orang dewasa malas menjelaskan karena akan panjang pembahasannya," jawab Kai bijak. "Tidurlah, besok kamu akan sangat lelah, Nay."
Nay mengangguk dan nampaknya reaksi obat-obatan itu sudah bekerja padanya sehingga dia merasa kedua matanya sangat berat.
Diam-diam, Otis mendengarkan percakapan Kai dan Nay di dalam kamar. Dia sempat bertanya kepada Luke mengapa Kanaya marah-marah.
"Oh, karena itu. Memangnya hubungan kalian sudah diresmikan?" tanya Otis saat itu kepada Luke.
Luke tampak malu-malu. "Sudah sejak lama, Kak. Hanya saja kami sempat terpisah karena, seperti Kakak tau, ...."
"Ya, aku paham. Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu kekasih Nay?" desak Otis. "Kamu dan Alma juga sedang dalam proses perceraian. Menurutku, tidak masalah kalau kamu jujur kepada temanmu itu,"
"Memang tidak masalah, Kak. Tapi, itu akan menjadi percakapan yang panjang, sedangkan kami semua sedang fokus kepada Nay. Jangan sampai dia terlalu lelah dan pulang terlalu malam," jawab Luke berkilah.
Otis mengangguk-anggukan kepalanya. "Begitu? Oke. Ah, Luke, besok pagi-pagi sekali, aku minta bantuanmu. Temani aku,"
"Tapi, aku dan Fletcher akan pergi ke tempat ibu Nay," jawab Luke lagi.
__ADS_1
Otis menggoyangkan kedua tangannya sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Rahasi, ibu Nay besok yang akan datang. Pesawatnya delayed karena ada badai. Seharusnya dia datang hari ini," bisik Otis.
Luke membuat bulatan dari jari telunjuk dan ibu jarinya. "Oh, oke,"
Saat Otis pergi ke kamarnya, dia melewati kamar Kanaya dan mendengar percakapan antara Kai dan putrinya. Dalam hati Otis berpikir, apakah dia lebih setuju Kanaya menikah dengan Kai? Karena Kai dinilai begitu dewasa dan mampu menenangkan putrinya baik saat Nay merajuk atau menolak sesuatu.
Sedangkan Luke, pria itu memang tampan dan sekssi. Hanya itu saja yang dia lihat dari sosok Luke Wallace. Otis belum pernah melihat Kanaya saat berduaan saja dengan Luke, maka dia pun merancang sebuah rencana.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Otis sudah mengajak Luke untuk berangkat ke bandara.
"Luke, tunggu sebentar." kata Otis lagi. Dia mengintip ke kamar Kanaya dan melihat gadis itu sedang bersiap-siap. Hari itu, Nay akan bertemu dengan dokternya dahulu dan barulah mereka ke bandara.
Otis mengetuk pintu kamar Nay. "Nay, ini Papa,"
"Masuk saja, aku sedang bersiap-siap," ucap Nay tanpa beranjak dari kursi make up-nya.
"Kamu sudah siap rupanya? Mau ke dokter dulu?" tanya Otis. Nay mengangguk. Otis pun mulai menjalankan rencananya. "Nay, Fletcher harus mengurus sesuatu di kantor hari ini jadi dia tidak bisa menemanimu,"
Nay yang sedang asik memulas bibirnya, melihat ke arah Otis. "Apa itu? Aku akan menunggunya,"
"Jalan saja sama Luke. Papa akan menemanimu hari ini," bujuk Otis lagi. Dari ekspresi wajah yang diberikan oleh anak gadisnya itu, Otis sudah bisa menilai kalau Nay akan menolak. "Papa dan Luke punya kejutan untukmu," ucap Otis lagi sebelum kalimat penolakan keluar dari mulut Nay.
Tiba-tiba saja Luke masuk, dan meminta Otis menunggu di luar. "Kamu cantik sekali hari ini, Nay," puji Luke seraya mengecup pucuk kepala gadis yang dicintainya itu.
Nay berdiri dan berjalan untuk mengambil tas yang akan dibawanya. Namun, Luke menarik tangannya dan mendekap tubuh kecil itu. Dia memagutnya lembut dan menaikkan tubuh Nay ke atas meja rias.
Nay membalas pagutan pamannya dengan penuh gairah. Kedua tungkainya, dia lingkarkan di pinggang Luke. "Oh, Paman,"
"Mulai saat ini, panggil aku dengan Luke saja. Pengadilan sudah memutuskan aku resmi bercerai dari bibimu," bisik Luke dengan suara mendessahnya yang masuk ke dalam telinga Nay dengan sangat sopan.
"Begitu? Berarti, Luke?" tanya Nay dengan seringai lebar. Luke mengangguk dan kembali memagut benda kenyal yang ada di depannya itu.
Setelah beberapa menit mereka asik saling memagut, akhirnya Nay bersedia jalan tanpa kehadiran Kai. Otis tersenyum puas karena dia berhasil menyingkirkan Kai hari ini.
Luke bersikap lebih lembut dan tidak sekasar Kai saat meminta Nay untuk menuruti kehendaknya. Hanya saja, pria dewasa itu banyak menggunakan bahasa tubuhnya dibandingkan dengan kata-kata.
__ADS_1
Setelah dari dokter, mereka pun melajukan laju roda besi mereka menuju bandara. Otis mengatakan kepada Nay kalau Kai akan menyusul mereka.
Setibanya di bandara, mereka menunggu di sebuah kedai kopi.
"Kenapa Papa melarangku untuk membeli tiket? Hari ini aku akan melakukan keinginanku, bertemu dengan Mama." protes Nay.
"Kamu mau menunggu Kai, 'kan? Tunggu saja dengan tenang dan santai," kata Otis tenang sambil menyesap kopi hangatnya.
Luke masih sibuk menghubungi Kai, dia tidak ingin Nay marah-marah. Mengingat dokter tadi mengatakan kalau Nay tidak boleh berada di bawah tekanan.
"Kai belum merespon panggilanku. Apa yang terjadi di kantor, Kak?" tanya Luke penasaran.
Otis tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. "You'll know, Luke. Soon,"
Tak beberapa lama kemudian, seorang wanita dengan langkah anggun menghampiri kedai kopi itu dan mendekati mereka. Suara sepatu hak tinggi serta gelang kakinya bergemerincing memenuhi seirama suara sepatunya.
Wanita berpakaian elegan itu, menyapa Otis dan Nay. "Otis?"
"Vio, sudah sampai rupanya," jawab Otis.
"Mama!" tukas Nay dan dia segera berlari untuk memeluk ibunya. "Aku rindu sekali padamu. Kenapa Mama bisa sampai disini? Tadinya aku akan ke tempat Mama hari ini,"
Wanita bernama Vio itu mengecup kening Nay dengan sayang. "Kamu sudah besar sekali, Kanaya. Ah, aku bersama seorang teman, tadi dia katanya akan menjemputku juga. Tapi, dimana dia?" kepala Vio celingukan ke kanan dan ke kiri mencari sosok temannya.
"Teman? Siapa?" tanya Otis. Dia sudah takut kalau mantan istrinya itu akan memperkenalkan seorang pria kepadanya.
"Nanti akan kukenalkan kepada kalian," jawab wanita berambut cokelat itu. Jari-jarinya lincah menari di atas ponsel pintarnya. "Ah, itu dia!" dia pun berlari menjemput seseorang yang akan dia kenalkan kepada keluarganya.
"Hai!" suara wanita itu terdengar jelas oleh sang sahabat yang dinanti-nantikannya.
Seorang wanita cantik datang berlari dan memeluk Vio. "Hai, Kak Vio," sapa wanita cantik itu.
Vio mengajak wanita itu untuk berkenalan dengan keluarganya. Mereka pun bergandengan tangan dan berjalan menuju kedai kopi tempat keluarganya menunggu. "Otis, ini temanku,"
"Ashley?" ucap Luke terkejut.
__ADS_1
"Oh, hai, Luke. Kita bertemu lagi," jawab wanita yang bernama Ashley itu sambil tersenyum.
...----------------...