
"Alma! Nay akan pulang! Oh, aku senang sekali. Kemarin aku menelponnya dan Fletcher mengatakan kalau hari ini Nay akan datang. Datanglah kemari dan sambutlah keponakanmu," tukas Otis antusias.
Saat kemarin, dia melakukan panggilan video kepada Nay, Kai Fletcherlah yang menjawab dan mengatakan kalau Nay sedang tertidur setelah semalaman lembur dan pria itu juga mengatakan kepada Otis kalau hari ini anak gadis kesayangannya akan kembali.
Berbeda dengan Otis, Luke tidak seantusias Otis saat menyambut kepulangan Kanaya, gadis kesayangannya. Tentu saja hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar untuk Alma.
"Cintamu akan kembali tapi kenapa wajahmu sedih?" sindir Alma tajam.
Luke terdiam. Saat di rumah sakit kemarin, Kai memberikan sebuah tugas yang menurut Luke itu berat. Pria kecil itu meminta Luke untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Otis mengenai kondisi Kanaya. Yang kedua, Kai juga memerintahkan Luke untuk meminta Otis supaya pura-pura tidak tau kalau Nay sedang sakit parah.
Memikirkan hal itu saja sudah berat, apalagi menjalankannya. Pria berusia 42 tahun itu bingung harus memulai darimana. Itulah penyebab mengapa dia tidak bersemangat.
Yang dia tau harus dia lakukan saat itu adalah berbicara kepada Alma tentang gugatan cerainya. "Alma, ada waktu luang?"
Alma menoleh dan menatap pria yang sedikit lagi menjadi mantan suaminya itu tertegun. "Kamu? Mengajakku?"
Luke mengangguk. "Di rumah ini hanya ada aku, kamu, dan si nany. Apa menurutmu, aku mengajak nany? Konyol!"
"Entahlah," ucap Alma seraya mengedikkan kedua bahunya. "Mau jalan sekarang?"
Luke mengajak Alma untuk pergi ke sebuah restoran yang berkonsep nyaman dan santai di pusat kota. Mereka memesan makanan ringan serta teh herbal untuk Almna dan iced cappuccino untuk Luke.
"Jadi?" tanya Alma.
Tak bisa dipungkiri baik Alma maupun Kanaya memiliki kemiripan pada mata hijau mereka. Ini selalu mengingatkan Luke akan Kanaya saat memandang mata hijau Alma.
"Kamu cantik hari ini," puji Luke.
Alma tertawa mendengar pujian yang dilontarkan oleh suaminya itu. "Apa? Hahahaha! Ada apa denganmu, Wallace? Kemarin kamu galau seperti seorang anak remaja dan sekarang, kamu berlagak seperti pria dewasa, are you alright?"
__ADS_1
Mungkin Nay benar, hanya Almalah tempat ternyaman dan tempat teraman untuk Luke berbagi cerita. Begitu Alma bertanya tentang keadaannya, Luke menangis. Air mata yang selama ini dia pendam, tiba-tiba saja jatuh. 'Pria juga bisa dan boleh menangis', yakin Luke dalam hati.
"Hei. Ada apa denganmu, Sayang? Kamu kenapa?" Alma berpindah ke samping Luke dan memeluk pria besar itu. "Sst ... ssst ... sst. Tenangkan dirimu, Sayang," Alma seperti menenangkan seorang anak kecil yang sedang menangis.
Ketika Luke mulai tenang, Alma memberika segelas teh herbal miliknya kepada Luke. "Ada apa denganmu, Luke?"
"Aku tidak tau harus memulai darimana. Yang aku rasakan saat ini hanyalah takut dan berat," jawab Luke. "Maaf, aku menangis di hadapanmu. Padahal aku sudah sering jahat kepadamu, Alma. Maafkan aku,"
Alma tidak mengerti apa yang terjadi. Wanita itu berusaha menebak-nebak apa yang Luke takutkan? Tidak mungkin ini soal perceraiannya, 'kan? Berkali-kali Luke mengatakan kalau dia sudah tidak memiliki cinta lagi kepada dirinya, jadi pasti bukan itu. Lalu, apa? Mungkinkah, ....?
"Luke, apa yang terjadi dengan Kanaya?" tebak Alma dan tebakannya benar, karena Luke tampak sangat putus asa saat Alma menyebutkan nama Kanaya.
"Dia sakit, Alma. Sakit parah. Selama ini Fletcher yang menemaninya. Dokter bilang kesempatan hidupnya tidak bisa diprediksi sampai kapan. Semua tergantung Nay, sedangkan gadis itu semakin lemah setiap harinya. Aku takut, aku takut kehilangan dia," sesal Luke. Suaranya tercekat saat mengatakan itu kepada istrinya.
Seperti tertampar sesuatu yang keras, Alma pun tercengang. Wanita itu memejamkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak mungkin dia sakit. Anak nakal itu tidak pernah sakit, Luke!"
Hatinya mencelos saat Luke menggelengkan kepalanya. "Kanker darah stadium 3,"
Kekuatan Alma menghilang, gelas yang dipegangnya tergelincir jatuh dan pecah. "Tidak mungkin! Ah, maafkan aku, maaf," katanya kepada seorang pegawai restoran yang memunguti pecahan gelas.
"Aku akan menggantinya," ucap Alma dengan gerakan cepat, dia berjongkok dan membantu pegawai itu. Tangannya tampak gemetar dan dia tidak fokus dengan apa yang dipegangnya sehingga jarinya tertusuk pecahan gelas. Sontak saja air matanya tumpah ke pipinya. "Tidak mungkin, Luke. Tidak mungkin Nay sakit! Aku bahkan belum meminta maaf kepadanya!" wanita itu menangis sambil berjongkok dan menutupi wajahnya di kedua lengannya yang terlipat.
Luke memeluk istrinya dan menangis bersama di bawah meja mereka.
Sementara itu di rumah sakit,
"Kapan aku pulang? Kalau mereka memintaku untuk pulang tandanya aku tidak ada harapan untuk sembuh, 'kan?" tanya Nay kepada Kai yang sibuk mendata barang bawaan mereka.
Dia menghentikan aktifitasnya dan menatap mata hijau sayu yang ada di depannya itu. "Kamu mau sembuh atau lewat?"
__ADS_1
"Tergantung bagaimana kondisiku, 'kan? Saat ini aku merasa lemas sekali," jawab Nay. Dia memandangi infusannya dan menghitung setiap cairan yang menetes dari infusan tersebut. "Cairanku semakin banyak saja,"
"Makanya makan! Jadi tidak perlu dipasang selang-selang seperti ini! Kamu 'kan bukan tanaman, makanlah yang banyak dan bahagialah. Pikirkan segala sesuatu yang membuatmu senang!" tukas Kai. Kali ini dia mengumpulkan beberapa obat-obatan yang harus diminum oleh Nay.
"Apa misalnya?" tantang Nay.
Kai kembali menatap mata sayu itu dan menguncinya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Nay. Gadis itu mundur teratur saat wajah Kai semakin dekat ke arahnya. "Berdebar tidak?"
"Bodoh!" sahut Nay melemparkan bantalnya kepada Kai. Wajahnya memerah, kenapa dia bisa tersipu saat Kai menggodanya? Kai tertawa lepas melihat respon sahabatnya itu.
"Itu menyenangkan, bukan?" tanya Kai lagi. Dia mengacak-acak rambut tipis Nay dengan sayang.
"Kai, kemana Pamanku? Kenapa dia belum datang?" tanya Nay celingukan dan sesekali melihat ke luar jendela.
"Dia sedang mengerjakan misi yang kuberikan. Kita lihat saja, apakah dia sanggup?" dengus Kai tersenyum miring. Di sela-sela waktunya menemani Nay, Kai menunggu laporan dari Luke. Paling tidak, kalau Luke sudah mengatakan tentang penyakit Nay, Otis akan menghubunginya. Namun sedari tadi, belum ada pesan atau telepon yang masuk, baik di ponsel Kai ataupun ponsel Kanaya.
Nay menatap curiga. "Misi apa?"
"Misi untuk menyelamatkanmu," jawab Kai asal.
Gadis yang tampak pucat itu memberengutkan bibirnya kesal. "Apa sih, Kai?"
"Kamu meminta pamanmu untuk menarik kembali gugatan cerainya, 'kan? Kamu selalu bilang kalau kamu tidak tau sampai kapan kamu akan bertahan, kalau begitu, maukah kamu mengabulkan satu permohonanku? Kalau kupikir-pikir, aku belum pernah meminta sesuatu kepadamu," ucap Kai dengan wajah serius.
Nay terperangah. "Ya, memang aku meminta paman untuk itu. Aku takut dia akan kesepian kalau aku tidak ada nanti. Tapi, bukan berarti aku tidak cinta kepadanya, Kai. Aku masih mencintainya," jawab Nay. "Memangnya apa permohonanmu?"
Kai menyeringai dan wajahnya masih tampak serius. "Kamu pernah mengatakan kepadaku kalau kamu ingin menikah. Kalau begitu, ...." Kai mengeluarkan sebuah cincin yang jika digabungkan akan membentuk satu hati penuh. Kemudian, Kai memasangkannya ke jari manis Kanaya. "Menikahkah denganku, Nay,"
...----------------...
__ADS_1