Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Rencana Otis


__ADS_3

"A-, Alma!" tukas Otis kaget. Dia tidak menyangka Alma akan datang ke sini. Alasan Otis mengajak Luke ke rumahnya adalah untuk membicarakan pembagian saham karena sebentar lagi akan diadakan rapat umum pemegang saham di Rivers Group.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa Luke ingin menikah dengan Nay? Apa yang terjadi di sini, Kak?" tuntut Alma dengan pertanyaan yang beruntun.


Otis menghampiri adiknya itu dan merangkulnya. "Kami sedang membicarakan untuk tugas dinas ke luar negeri. Dan Luke meminta izinku untuk membawamu turut serta dalam acara dinas tersebut. Bagaimana? Kamu setuju, 'kan?"


"Tapi tadi aku mendengar, Luke ingin menikah dengan Nay dan menceraikanku. A-, apa aku salah dengar? Apa aku terlalu lelah dan terlalu takut kehilangan suamiku? Oh, aku sudah tidak waras sepertinya, Kak," tangis Alma.


Otis memeluk adiknya dan menenangkannya. "Kamu lelah, Alma. Pulang dan beristirahatlah, kalau perlu kamu jalan-jalan dan berbelanja untuk membeli semua keperluanmu dan Luke untuk di sana nanti,"


Hati Alma masih tak tenang saat dia melihat wajah sembab Kanaya dan Luke yang melepaskan tangan keponakannya itu dengan cepat.


"Aku merasa ada yang salah di sini, Kak. Kenapa Nay menangis dan kenapa Luke menepiskan tangan Nay? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Alma lagi. Seharusnya dia masuk saja tadi, daripada dia mencuri dengar dari balik pintu berlapis kayu jati itu. "Ada apa, Kak?"


Otis meminta Luke untuk menemani istrinya keluar dari rumahnya. "Lupakan masalah ini, aku tidak mau Alma mengetahui aib ini! Aku akan mengurus tiket keberangkatan kalian siang nanti!" bisik Otis.


Sebelum Luke menanggapi Otis, pria itu sudah mendorongnya keluar dari ruangan.


"Nay, kamu tetap berangkat siang ini. Lupakan pamanmu dan carilah pria yang benar-benar baik untukmu," ucap Otis kepada Kanaya.


Kanaya menjejakkan kakinya dengan kesal. Jika, bibinya tidak datang, dia pasti sudah akan menikah dengan paman Luke. Seketika itu juga, rasa benci kepada bibi Alma mulai menjalar masuk dan menetap di hati Nay.


Tak lama, ponsel Otis berdering dan ternyata itu dari keluarga North. Wajah Otis segera saja sumringah saat berbicara dengan kolega sekaligus calon besannya itu.


Setelah selesai, Otis menghampiri Kanaya yang sedang bergelung di dalam selimut di kamarnya. "Nay,"


"Ya, Pa," jawab Kanaya, dia segera beranjak dari ranjangnya dan duduk di pinggiran ranjang.

__ADS_1


"Papa minta maaf, apa yang kamu lakukan dengan pamanmu itu hal yang salah dan Papa tidak mau kamu terus mengingat pamanmu, Nay," kata Otis. Dia berusaha menyelami perasaan putrinya itu. Namun, Nay tetap terdiam. "Baru saja, keluarga North menghubungi Papa. Mereka ingin bertemu denganmu dan melanjutkan hubungan baik kita. Bagaimana? Kamu mau menemani Papa?"


Nay masih terdiam. Dia lelah menjelaskan kepada ayahnya kalau dia tidak mau menikah dengan siapa pun, bahkan anak presiden sekalipun. Tetapi, ayahnya seakan tuli dan tetap ingin menikahkan dia dengan Felix.


"Aku ingin menjenguk Kai," ucap Nay dan tanpa menjawab pertanyaan ayahnya, dia bergegas pergi meninggalkan ayahnya yang termangu di dalam kamar bernuansa pink itu.


Setibanya dia di rumah sakit, Kai sedang ikut program terapi. Dia melambaikan tangannya dengan ceria memakai tangan satunya lagi yang tidak terbalut perban. "Tunggu yah,"


Nay mengangguk perlahan. Setelah Kai selesai, dia menghampiri Nay dengan kakinya yang masih sedikit pincang.


"Hei, aku pikir kamu marah kepadaku," ucap Kai, menyeringai lebar ke arahnya.


Gadis yang hari itu tampak cantik dengan tampilan sederhana itu pun membalas Kai dengan tersenyum. "Kalau aku marah kepadamu, aku tidak lagi memiliki tempat untuk mengadu, Kai,"


Butiran bening air mata jatuh di pangkuan Nay dan tiba-tiba saja seperti hujan turun, air mata Nay berderai dengan derasnya.


"Mencintaiku? Kai Bodoh, hahaha!" ujar Nay sambil tertawa. Baginya, Kai tidak hanya seorang teman tapi juga seorang kakak.


Nay adalah anak tunggal. Ibunya bercerai dari ayahnya karena saat itu Otis terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Otis bersikeras meminta hak asuh Nay jatuh ke tangannya.


Jadilah Nay dibesarkan oleh ayah dan bibinya. Dia tidak memiliki seorang teman karena Otis takut ibu Nay tiba-tiba datang dan menculik Nay, maka Nay disekolahkan di rumah oleh Otis.


Begitu dia kuliah bisnis, dia bertemu dengan Kai tetapi saat itu Kai tidak berkuliah disana. Dia bekerja untuk membantu mahasiswa membuat skripsi ataupun laporan. Di situlah, Nay menawarkan Kai untuk bekerja di tempat ayahnya sebagai karyawan. Itulah awal pertemanan mereka.


"Kai, ayahku tetap ingin menikahkanku dengan Felix. Papa menyuruh Bibi dan Paman untuk berbulan madu selama satu bulan. Papa tidak memberitahukan kepadaku kemana mereka akan pergi. Aku harus apa, Kai?" tanya Nay. Dia tidak mau menikah dan dia juga tidak mau membayangkan paman dan bibinya berbulan madu entah dimana.


Pria itu menghembuskan napasnya. "Biarkan aku bicara dengan ayahmu kalau begitu. Besok aku sudah boleh keluar dari rumah sakit. Kalau aku belum boleh pulang, aku akan kabur dari sini,"

__ADS_1


Nay tertawa kecil. "Apa yang akan kamu bicarakan kepada ayahku? Berani sekali kamu bicara dengan ayahku,"


"Lihat saja besok," tantang Kai.


Benar saja, keesokan harinya begitu Kai sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, Kai segera bertandang ke tempat Otis Rivers.


"Oh, Fletcher. Kamu tampak sehat, hahahaha! Duduklah, jangan terlalu lelah," ucap Otis ramah. "Kanaya sudah memberitahukan kepadaku tentang maksud kedatanganmu kesini. Jadi, ada apa, Anak Muda?"


Kai menyeringai malu-malu. "Ini mengenai Kanaya, Tuan. Kanaya bercerita kepadaku kalau Anda tetap ingin menikahkan Nay dengan Felix North. Apa tidak sebaiknya membiarkan Nay sendiri dulu?"


"Bagaimana maksudmu?" tanya Otis ragu. Pria tua itu tidak tahu apakah harus percaya kepada anak muda yang ada di hadapannya itu atau tidak?


"Nay bercerita kalau Anda memintanya untuk kuliah di luar negri, berikanlah kepada Nay pilihan. Biarkan dia memilih, mana yang terbaik untuknya. Dia ingin kuliah atau menikah? Apa pun pilihannya, aku yakin dia yang lebih tau," jawab Kai.


Otis mengangguk-anggukan kepalanya. "Benar juga katamu, Kai. Sebenarnya aku hanya ingin dia melupakan Luke dan bisa mencari cintanya sendiri,"


Kai berdeham dan menunjukan dirinya di hadapan Otis. "Ehem! Seperti aku misalnya, hahahaha,"


"Hahahaha, kamu harus lebih banyak belajar lagi, Kai. Baru aku akan merestuimu. Untuk saat ini, jadilah teman yang baik untuk Nay," tutur Otis.


Malam itu, Otis memanggil Nay. Dia mengikuti saran Kai untuk memberikan pilihan kepada putri semata wayangnya itu.


"Nay, tadi Kai datang kesini. Kedatangan Kai membuka mataku sekaligus menyadarkanku kalau yang menjalani ini semua adalah kamu dan aku tidak bisa mengaturmu seperti ini. Maafkan aku," ucap Otis.


Nay terdiam. Apa yang dikatakan oleh Kai sampai ayahnya bisa meminta maaf kepadanya saat ini.


"Kalau kamu tidak mau menikah dengan Felix, maka aku akan memberikanmu pilihan. Mana yang mau kamu pilih, menikah dengan Felix atau kuliah di luar? Kedua pilihan itu aku berikan kepadamu dengan satu tujuan, untuk melupakan pamanmu," sambung Otis lagi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2