Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Mendadak Menikah


__ADS_3

Percobaan sel punca yang dilakukan oleh Kai ternyata membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Kondisi Nay berangsur-angsur membaik. Gadis itu mulai kuat melawan sel-sel ganas yang berada di dalam tubuhnya.


Sampai beberapa bulan kemudian, "Selamat, Nona Rivers. Anda telah memenangkan pertarungan ini dengan luar biasa. Tubuhmu sudah bersih dan sel ganas itu telah menghilang dari tubuhmu."


"Benar begitu, Dok?" tanya Nay penuh haru.


Dokter itu mengangguk. "Yes, dan berterima kasihlah pada Tuan Fletcher. Dia sangat berjasa dalam hidupmu. Mulai dari menemanimu setiap waktu sampai bersedia menjadi donor sel punca untukmu."


Nay mengingat awal perjalanan penyakitnya. Kai memang selalu ada disampingnya dan memberikannya semangat untuk terus berjuang.


"Ya, Kai Fletcher memang sangat berarti dalam hidupku, Dok. Entah bagaimana jadinya hidupku tanpa dia. Oh iya, datanglah ke pernikahanku, nanti akan kuberikan undangannya untukmu," ucap Nay antusias.


"Wishlist?" tanya dokter itu menggoda Nay.


Seringai lebar muncul di wajah Nay. "Iya, hehehe. Terima kasih untuk segalanya, Dok,"


Setelah keluar dari rumah sakit, Nay kembali ke rumahnya. Semenjak Nay berobat di negri itu, Otis dan Vio membeli sebuah tempat tinggal sementara di sana. Begitu juga dengan Luke dan Alma.


Sementara, Kai. "Kenapa kamu selalu memintaku untuk terus mengikutimu? Ada Luke, kenapa harus aku? Hei, Kanaya!"


"Aku sukanya sama kamu, Kai, bukan Luke," jawab Nay jujur.


Semburat merah menjalar di wajah Kai. Pria itu tampak salah tingkah saat Nay berbicara seperti itu kepadanya. "Jadi? Kamu suka padaku, Nay?"


"Tentu saja. Tidak mungkin aku meminta kamu untuk mengikutiku kalau aku tidak suka kepadamu, kan?" jawab Nay malu-malu.


Rambut Nay kini sudah mulai tumbuh, tetapi dia ingin memanjangkan rambutnya dengan cepat. "Aku mau extension rambut,"


"Rambut cepak begitu, bagaimana menempelnya?" ejek Kai saat itu.


Jawaban Kai membuat Nay kesal dan cemberut. "Bisa! Apa pun bisa kulakukan, Kak! Tidak ada yang mustahil jika aku berusaha dengan sangat keras!"


Kai mengacungkan ibu jarinya ke arah Nay. "Good dan itu kata-kataku,"


"Pinjam," jawab Nay singkat sambil tersenyum lebar. "Sebentar lagi aku akan menikah, tidak mungkin aku menikah dengam rambut seperti laki-laki, 'kan?"


"Aku tetap suka. Mau rambutmu botak, panjang, keriting, lurus, atau apa pun itu, aku tetap suka. Lagipula yang menikah itu kamu, 'kan bukan rambutmu!" tukas Kai.


Nay memberengutkan bibirnya. "Tetap saja aku mau rambut panjangku kembali,"


"Ya, Nay!" sahut Kai tak sabar.

__ADS_1


Setelah dokter menerima transplantasi sumsum tulang belakang Kai, kondisi Nay memang menjadi jauh lebih baik. Di saat itulah, dia mengatakan kepada Kai kalau dia ingin menikah.


Setelah Nay resmi keluar dari rumah sakit, gadis itu mengungkapkan keinginannya kepada Otis dan Vio.


"Menikah?" tanya Otis ragu.


Nay mengangguk. Baik Otis dan Vio saling berpandangan. Mereka mengizinkan putri mereka untuk menikah, tetapi tidak semendadak ini.


"Calonmu mana, Nay?" tanya Vio putus asa. Hampir setahun belakangan ini, mereka fokus pada kesembuhan Nay dan tidak ada di pikiran mereka untuk mengadakan sebuah pesta, apalagi pesta pernikahan.


"Aku sudah memiliki calon dan dia ada disini," jawab Nay santai. Ya, dalam diam, Nay sudah memutuskan siapa yang akan menjadi pasangannya.


Keputusannya sudah bulat, pria ini selalu menemani dan tak pernah hilang dari hatinya. Perlahan-lahan, rasa cinta itu tumbuh dan berkembang semakin besar dalam hati Nay seiring berjalannya waktu.


Beberapa hari kemudian, Nay mulai disibukkan dengan urusan pernikahan. Sampai saat itu, dia belum mau membuka suara siapa yang akan menjadi pendampingnya nanti.


Hal ini jelas membuat Otis dongkol. Dia tidak suka ketidak jelasan. Sore hari itu, Otis memanggil Luke dan Kai untuk berbicara enam mata.


"Siapa di antara kalian yang mendapatkan cincin dari anakku?" tanya Otis, matanya penuh selidik dan memeriksa jari-jari tangan kedua pria yang ada dihadapannya itu.


Luke dan Kai saling melirik jari-jari tangan mereka. Tidak ada cincin yang disematkan oleh Nay disana. Otis pun putus asa. "Ah, ada-ada saja. Benar kataku, aku hanya memiliki satu orang putri, tapi aku merasa seperti memiliki lima orang putri. Pintar sekali dia membuat rambutku memutih,"


Hubungan Nay dengan Luke tidak menjauh tidak juga bertambah dekat. Namun, ada beberapa waktu saat mereka hanya berdua saja. Seperti kata Luke, waktu Kai lebih banyak dihabiskan untuk menemani Nay.


"Hahaha, tidak seperti itu, Luke. Cinta Nay tidak berubah terhadapmu, jadi aku pikir dia akan tetap memilihmu sebagai pendampingnya. Aku dan Nay akan selalu bertengkar jika kami bersatu," jawab Kai berkilah. Namun, jauh di dalam hatinya, dia berharap Nay akan memilihnya.


Sementara itu, Nay dan Vio sedang asik memilih gaun pengantin untuk Nay. "Aku suka yang ini. Bagaimana menurutmu, Ma?"


"Oke. Tapi, Mama lebih senang yang ada tali tipisnya itu, Nay. Terlihat lebih manis untukmu," usul Vio sambil mengambil gaun putih panjang bertali spagheti dengan punggung terbuka dan pita besar di belakangnya.


Nay mengamati gaun itu. "Hmmm, oke juga. Aku ambil ini dan satu lagi yang ini,"


Vio mengerutkan keningnya. "Kamu mau berapa kali pesta sampai ada dua gaun pengantin? Calonnya saja kamu belum tau, 'kan?"


"Sudah. Tapi, aku takut berubah di tengah jalan. Jadi aku mempersiapkan dua gaun. Yang satu manis, dan yang satu lagi sekssi. Seru, 'kan?" jawab Nay memandang gaun-gaun pilihannya sambil membayangkan saat dia memakai gaun itu.


Setelah membayar gaun mewah tersebut, Vio mengajak putrinya untuk istirahat di cafe kopi. "Aku ingin kopi," pinta Nay. Dia mengendus semerbak wangi kopi begitu mereka memasuki cafe tersebut.


"Air mineral atau jus," ucap Vio mengingatkan.


Tak lama, datanglah satu gelas sedang capuccino dingin serta jus mangga bercampur susu dan whip cream di atasnya.

__ADS_1


Nay memandang iri kopi yang disesap oleh ibunya itu. "Ah, aku ingin kopi,"


"Jadi, siapa pria beruntung itu?" desak Vio.


Nay mendekat ke arah telinga sang ibu dan berbisik. "Dia? Astaga, tidak disangka kamu akan memilih pria itu, Nay. Kupikir yang satu lagi, lebih dewasa dan lebih berwibawa saja menurut Mama. Tapi, siapa pun pilihanmu, aku selalu mendokan kebahagiaanmu, Sayang," ucap Vio lagi.


Hari pernikahan pun tiba. Karena mereka sudah mempersiapkan tempat dan sebagainya di rumah baru mereka, maka pernikahan dilangsungkan disana. Beruntunglah, semua keluarga Nay sudah berkumpul di sana semua sejak dari beberapa bulan yang lalu.


"Kanaya, are you ready? Pemberkatan sudah akan dimulai," ucap Otis. Jantungnya berdegup kencang, dia takut putrinya akan melarikan diri lagi seperti kejadian saat bersama Felix North.


"Almost, wait Pa," sahut Nay dari dalam.


Tak lama, dia pun keluar dengan memakai gaun pilihan Vio, gaun putih bertali spaghetti dengan punggung terbuka dan dilengkapi dengan pita besar di belakangnya. "Bagaimana?"


"Cantik. Kamu selalu cantik dan rambutmu sangat indah," jawab Otis, dia segera menggandeng lengan putrinya erat-erat dan berjalan menuju altar.


Begitu sampai di altar, Nay berdiri berhadapan dengan pendampingnya. Otis mengangguk, memberikan tanda jika acara pemberkatan pernikahan itu sudah dapat dimulai.


Setelah mengucapkan janji pernikahan, Sang Pemuka Agama pun meresmikan pernikahan mereka. "Maka dengan ini, Kanaya Tabitha Rivers dan Luke Shawn Wallace resmi menjadi pasangan suami istri. Apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Silahkan, boleh mencium pasangannya,"


Sorak sorai para tamu undangan memenuhi kapel kecil itu. Kelopak bunga kecil-kecil dan confetti pun berlomba untuk mengudara.


"Nay, selamat yah. Aku selalu berdoa untukmu dan memang pamanmulah yang terbaik menjadi pendampingmu, Nay. Berbahagialah Kanaya Rivers," ucap Kai. Pria itu memeluk sahabatnya yang masih melekat di hatinya itu.


"Kai Bodoh!" ucap Nay kesal.


Beberapa hari sebelum pernikahan.


"Kai, menikahlah denganku!" ucap Nay tanpa basa-basi. Gadis itu memberikan buket bunga kecil kepada Kai.


"Tidak mau! Aku menolak!" tegas Kai, mengulurkan kembali buket tersebut kepada Nay.


Nay terkejut dan menatap pria kurus itu dengan kesal. "Apa maksudmu tidak mau? Kamu menolakku?"


Kai menganggukan kepalanya. Seketika itu juga, raut wajah Nay menjadi sedih. "Kenapa?"


"Karena kamu tidak mencintaiku. Cintamu hanya Wallace seorang. Perasaanmu saat ini hanyalah perasaan sesaat. Aku tidak mau kita menikah sebentar, aku mau menikah untuk selamanya," jawab Kai. "Pikirkan lagi, Nay." Sambil berbicara seperti itu, Kai melengos pergi.


"Kai Bodoh!" ucap Nay bermonolog.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2