
"Kamu gila, Nay! Kita masuk ke dalam DPO hanya dalam waktu kurang dari enam jam! Ckckck! Gila!" Kai tidak dapat berhenti mengomel kepada Nay. Keputusan Nay kabur dari acara pemberkatan pernikahannya kini berdampak pada hidupnya juga. "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Nay? Aku tidak habis pikir kenapa kamu melakukan hal segila ini?"
"Karena aku tidak ingin menikah. Aku akan bertanggung jawab atasmu, Kai. Kamu bisa hidup dengan tenang dan jangan pikirkan lagi kesalahanku hari ini, oke?" jawab Nay santai.
Kai menggelengkan kepalanya. Mana bisa dia membiarkan Nay menanggung semuanya walaupun ini semua karena keputusan gila yang telah dia perbuat. "Kita tanggung masalah ini bersama,"
"Hatimu terbuat dari apa, Kai? Kamu masih tetap berteman denganku padahal kamu tau aku banyak menyakitimu. Kali ini, biarkan aku membalas kebaikanmu," kata Nay. Suaranya tercekat, gadis itu terharu karena kebaikan Kai.
"Mudah saja. Terima cintaku maka kamu sudah membalas kebaikanku, hahahaha. Bercanda, jangan dimasukan ke dalam hati. Aku tidak akan membiarkanmu menanggung ini sendiri," Kai menggenggam tangan Nay untuk menenangkannya. "Kita hadapi ini berdua. Kamu pasti takut, 'kan?"
Nay mengangguk. "Hiks, maafkan aku, Kai."
Kai memeluk gadis yang masih memakai gaun pengantin ini dan membiarkannya menangis.
Tak lama, Kai menghubungi Otis dan memberitahukan kepada Otis kalau mereka berada di apartemen Kanaya. "Kami sedang berada di apartemen Nay, Tuan,"
"Di mana dia sekarang?" tanya Otis. Nada suaranya terdengar geram sekali. "Aku hanya memiliki satu orang putri tapi aku merasa seperti memiliki empat orang anak laki-laki! Dia membuatku malu dan cepat beruban! Aduuh, kepalaku. Aku akan ke sana sekarang!"
Kai dapat membayangkan ekspresi wajah Otis saat mengucapkan kalimat itu. "Baik, Tuan Rivers. Nay tertidur, aku rasa dia juga lelah secara psikologis. Aku harap Anda tidak terlalu memarahinya,"
"Huh! Siapa kamu berani mengaturku? Itu urusanku!" Otis menutup ponselnya dan segera meminta supir untuk mengantarnya ke apartemen Nay.
Tentu saja Otis merasa geram karena perjanjian kerjasama yang sudah dia rencanakan dengan North Finance Corporate batal sudah. Keluarga North sangat tidak terima dengan kelakuan Nay yang dianggap tidak menghargai anak mereka, Felix North.
Beberapa menit kemudian, dia sudah sampai di apartemen Nay. Pria itu membuka pintu apartemen putrinya tapi ternyata terkunci dengan sandi. Dengan tak sabar, Otis menggedor pintu itu. "Kanaya! Buka pintunya!"
__ADS_1
Kai setengah berlari dan membukakan pintu untuk Otis. "Nay masih te-,"
"Aku tidak peduli! Anak kurang ajar!" Otis berjalan ke kamar tempat Nay tertidur. Dia terpana saat melihat betapa nyenyak tidur putrinya itu dengan masih mengenakan gaun pengantin. "Fletcher, tolong jangan ganggu aku dan Nay. Aku serahkan ponselku kepadamu. Jawablah semua panggilan dan catat pertanyaan atau permintaan yang tidak kamu mengerti!" perintah Otis. "Dan, Kai. Terima kasih atas segalanya,"
Kai mengangguk paham dan menutup pintu kamar Nay dengan perlahan. Dia tau dia tidak lepas dari hukuman juga dan dia akan siap menanggung hukuman untuknya.
Sementara itu, Otis berbaring di sebelah Nay. Gadis itu merasakan ayahnya ada di sampingnya dan segera memeluk Otis. "I'm so sorry, Pa,"
Otis menepuk punggung tangan yang melingkar di perut buncitnya. Hilang sudah emosi yang menguasainya sejak tadi pagi. "Aku masih marah padamu, Nay. Kamu putriku tapi entah sudah berapa kali kamu membuatku malu di hadapan puluhan wartawan dan rekan bisnisku? Apa yang ada di otakmu sampai kamu bisa kabur seperti tadi pagi?"
"Aku tidak mau menikah," jawab Nay. Dia menyandarkan kepalanya di pundak ayahnya. "Aku takut,"
Otis menghembuskan napasnya. "Lalu kenapa kamu meminta Felix untuk menikahinya dan memberinya harapan?"
Pria paruh baya itu merasa bersalah dan dia memejamkan matanya sesaat untuk merenungi kesalahan yang dia perbuat. Laki-laki yang menduda itu berusaha untuk merasakan sakit yang dirasakan oleh putrinya. "Sepertinya aku harus banyak belajar dari Fletcher bagaimana memahami perasaanmu, Nay. Kupikir itu cara yang ampuh untuk membantumu melupakan pamanmu,"
"Tapi, itu justru membuatku sakit, Pa. Papa seperti membunuhku perlahan," Nay semakin terisak. Suaranya terputus-putus karena isak tangisnya.
Otis bagai tersambar petir saat putrinya mengatakan kalau dia telah membunuhnya perlahan. "Maafkan aku, Nay. Aku tidak tau bagaimana caranya supaya kamu bisa melupakan Luke. Aku tidak tau kalau ternyata aku malah membuatmu seperti ini,"
"Aku hanya ingin Paman Luke, Papa," bisik Nay masih terisak.
"We all know that's impossible, Nay," jawab Otis.
Sementara Nay mencurahkan isi hatinya kepada Otis, di lain tempat, Luke memikirkan Nay. Sejak kembali dari pesta pernikahan yang berantakan itu, Luke tidak berhenti memikirkan Nay.
__ADS_1
Tanpa sadar, dia memegangi bibirnya. Masih terasa jelas sekali ciuman manis yang diberikan oleh Nay malam itu. "Arrgghh! Kenapa aku tiba-tiba memikirkannya?"
"Memikirkan siapa, Sayang?" tanya Alma yang datang tiba-tiba dan membuyarkan lamunan Luke.
"Oh, tidak. Aku tidak memikirkan siapa-siapa, Sayang. Dimana Chloe?" tanya Luke. Dia berusaha mengalihkan perhatian istrinya supaya Alma tidak mencurigainya.
Alma tersenyum dan menunjuk ke arah ranjang Chloe. "Dia tertidur. Dia belum terbiasa bepergian jauh. Kita harus mengajaknya supaya kita bisa mengajaknya berwisata,"
Luke mengangguk. "Ya, Sayang. Kita akan biasakan dia. Aku berganti pakaian dulu. Kakakmu meliburkan hari ini. Entah dimana anaknya saat ini,"
"Apa kamu memikirkannya, Sayang? Maksudku, Kanaya. Apa kamu memikirkan gadis itu?" tanya Alma. Walaupun Luke menutupi perasaannya, tetapi Alma bisa merasakan kalau suaminya masih memikirkan Nay.
"Kamu mau jawaban jujur atau tidak?" Luke kembali bertanya kepada istrinya itu.
Alma menarik napas dan berpegangan pada kursi yang ada di depannya. "Tidak perlu, 'kan? Aku sudah tau jawabannya kalau kamu bertanya seperti itu,"
Luke berjalan menghampiri istrinya dan memeluk Alma. "Aku sedang berusaha, Sayang. Aku terus berusaha untuk menyingkirkan Kanaya dari hatiku. Kumohon, bersabarlah,"
Alma memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Luke. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Luke dan mendaratkan bibirnya di bibir Luke yang sudah lama dia rindukan itu.
Untuk sepersekian detik, Alma mengira ciumannya itu tidak berbalas. Tepat ketika dia melepaskan ciumannya, Luke menarik pinggangnya dan meraup bibir Alma. Ciuman itu berubah seketika menjadi pagutan yang menggairahkan dan semakin menuntut.
Untuk pertama kalinya setelah hubungan mereka tengah diuji, Luke mencium Alma dengan panas seperti saat ini. Di saat Nay patah hati karena menginginkan cinta Luke, Luke berusaha sekeras mungkin untuk melupakan bayang-bayang Nay dari benaknya.
...----------------...
__ADS_1