
Setelah menghabiskan sisa liburan dengan menangis maka Kanaya pun bersiap untuk kembali melanjutkan kuliahnya. Namun, ada satu hal yang mengganjal hati Otis. "Kenapa harus Kai yang ikut? Papa bisa menemanimu, Nay!"
"Aku tidak mau! Mana bisa aku bercerita kepada Papa tentang segala hal. Katakan saja misalnya aku merindukan seseorang dan aku tidak bisa menceritakannya kepada Papa," jawab Nay. "Aku tidak akan sampai 1 tahun karena aku termasuk mahasiswa yang cerdas jadi aku dapat menyelesaikan perkuliahanku dengan cepat."
Otis memandang putri semata wayangnya dengan tidak rela apalagi saat Kai masuk ke dalam dengan membawa koper di tangannya. Pria itu berpakaian tebal lengkap dengan jaket bulu tebal dengan tudung yang lebar. "Aku sudah siap. Di sana dingin, 'kan?"
Nay dan Otis menggelengkan kepala mereka bersamaan sambil tak hentinya berdecak. "Ckckckck,"
"Aku kagumi semangatmu, Anak Muda. Kemarilah sebentar, aku ingin berbicara denganmu!" titah Otis kepada Kai yang segera saja mengikuti Otis bagai seekor anak kucing.
Mereka masuk ke ruang kerja Otis. Pria yang sudah mulai menua itu meletakkan tulang ekornya ke sofa empuk berwarna cokelat dan meluruskan kedua kakinya dengan santai. "Duduklah dan dengarkan aku!" Kai menurut dan duduk berhadapan dengan Otis. "Aku ingin kamu benar-benar menjaga anakku di sana. Jangan ganggu waktu belajarnya dan tetaplah bekerja,"
"Baik, Tuan Rivers. Siap laksanakan!" tegas Kai ala-ala militer.
Jari telunjuk Otis teracung ke arah Kai. "Aku tidak membutuhkan janjimu tapi aku membutuhkan bukti dan kenyataan. Aku perlu melihat itu, Kai." sahut Otis keras. "Satu hal lagi, aku ingin kamu benar-benar membantu Kanaya untuk melupakan Luke!"
"Setelah itu, aku harap Tuan tidak terkejut kalau ternyata putri anda akan tergila-gila kepadaku dan akan memintaku untuk menikah dengannya," ucap Kai menyeringai lebar. Dia senang menggoda pria yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu.
Senyum lebar yang menampilkan deretan gigi putih Otis terpatri di wajahnya. "Bicara apa kamu, Fletcher? Felix North saja ditolaknya, apalagi hanya seorang Kai Fletcher,"
"Jangan meremehkanku, Bapak Tua. Aku Aku memang bukan berasal dari keluarga konglomerat atau pengusaha ternama tapi aku memiliki sesuatu yang tidak Felix North miliki yaitu prinsip. Aku memegang prinsipku dengan sangat kuat," balas Kai tanpa meninggalkan senyumnya.
Otis mendengus kasar. "Huh! Hah! Prinsip sama seperti cinta, dia tidak dapat dimakan," ejeknya.
"Kalau Anda tidak memiliki prinsip dalam berusaha maka usaha Anda akan bangkrut dan jatuh begitu saja, bukan? Begitu pula dalam kehidupan cinta, jika Anda tidak memiliki prinsip maka Anda akan ditinggalkan oleh cinta," kata Kai tak mau kalah. Dia akan dengan senang hati meluangkan waktu hanya untuk berdebat dengan Luke.
Namun sayangnya, suara di ketukan pintu membuat kedua manusia itu sadar kalau mereka akan mengejar jam pesawat.
"Kai, ayo!" perintah Nay yang hanya menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan. Gadis itu dapat melihat ibu jari Kai terangkat dari balik pintu.
Setelah Nay menutup pintu ruangan bernuansa cokelat kayu itu, Kai berjalan dengan langkah pasti mendekati Otis. Pria itu berbisik, "Prinsipku adalah, membantu Nay dan membuatnya menyukaiku," Kai pun menyeringai lebar. "Kami pamit, Tuan Rivers,"
Semenjak pertemuan terakhirnya dengan Nay, Luke merasakan ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia berpikir, Otis selalu memberitahukan kabar dan informasi kepadanya dan Nay tentang mereka. Berarti, ada kesalahan informasi yang disampaikan oleh Otis. Apa itu sebuah kesengajaan?
__ADS_1
Pria itu berbaring di sofa dan menutup matanya dengan lengannya yang kekar. Mengapa Nay bisa beranggapan kalau Otis jatuh cinta lagi kepada Alma? Ah, Chloe!
Luke beranjak dari posisi berbaringnya dan menyambar ponsel yang ada di atas meja. Dia menghubungi Nay, tetapi tidak ada jawaban dari gadis itu.
"Apakah dia sudah berangkat?" tanya Luke bermonolog. Laki-laki bertubuh kekar itu menyambar jasnya dan berlari ke parkiran untuk mengambil kendaraannya.
Tangannya tidak berhenti memegang ponsel, dia terus berusaha menghubungi Nay. ""Ayolah, Nay. Jawablah panggilanku!"
Karena tetap tidak ada jawaban, Luke menghubungi Kai. Beruntunglah, Kai menjawab panggilannya. "Fletcher! Fletcher, apakah kamu bersama dengan Kanaya?" tanya Luke.
Saat itu, Kai dan Nay sedang dalam perjalanan menuju bandara. Kai melirik ke arah Nay yang tertidur. "Ya, aku bersamanya, Tuan Wallace. Tapi dia tertidur. Sudah beberapa malam ini dia kurang tidur maka dari itu, aku mohon maaf kalau aku tidak dapat membangunkannya,"
"Tunggu aku! Kalian di bandara, 'kan? Kumohon, Kai. Tunggu aku," pinta Luke memohon. Sebelum gadis yang dia sayangi itu pergi, dia ingin Nay tau tentang bagaimana perasaan Luke yang sesungguhnya. Dia tidak akan membiarkan Nay pergi dengan kesalahpahaman.
Kai menatap Nay sesaat, setelah itu dia menghembuskan napasnya kasar. "Baiklah, akan kusampaikan kepada Nay dan kami akan menunggumu,"
"Thanks,"
Kai tidak tau apa yang ingin dibicarakan oleh Luke. Dia menyesali ucapannya, kenapa dia harus berkata kalau mereka akan menunggunya? "Aarrggh, stupid!" rutuk Kai pelan.
Ketika kendaraan mereka mulai stabil kembali, Kai mengecup pucuk kepala Nay dengan lembut. "I love you, Nay,"
Setibanya mereka di bandara, Kai mengajak Nay untuk melipir di kedai donat dan kopi. "Nay, temani aku! Kita flight jam berapa?"
"Satu jam lagi. Kita harus boarding. Kamu mau kemana? Aku lapar," jawab Nay.
"Ke sana," jawab Kai dan menunjuk ke sebuah kedai donat yang wangi donatnya sudah tercium dari tempat mereka berdiri.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mengikuti wangi donat itu. "Jangan lama-lama, yah. Aku malas membeli tiket lagi," kata Nay mengingatkan.
Kai mengangguk dan memesan satu box, donat kayu manis untuk Nay dan donat mint untuk dirinya sendiri. Tak lupa dia membeli kopi untuk mereka berdua. Setelah selesai, Kai kembali dengan menenteng satu box besar donat.
"Kamu mau pesta? Banyak sekali," kata Nay sambil mengambil satu donat kayu manis dan menggigitnya. "Yuk, sambil jalan,"
__ADS_1
"Nay, ada yang ingin bertemu denganmu," kata Kai. Dia tidak tau bagaimana cara mengatakan kepada gadis yang sedang asyik melahap donat kayu manis itu kalau Luke ingin bertemu dengannya.
Kedua alis Nay tampak menyatu. "Siapa?" Nay kembali melirik ke arah jam tangannya. "Hei, ayo! Kita harus boarding! Bawa saja kopi dan donat kita! Sial, aku masih lapar!"
Mereka berdua pun berlari sambil menyeret koper. Entah mengapa, Nay menolak semua fasilitas yang diberikan oleh Otis saat dia hendak kembali kuliah. Itulah yang membuat Otis terus merasa bersalah.
Sementara itu, Luke memacu laju roda besinya supaya lebih cepat. Dia terus berhubungan dengan Kai melalui pesan dan baru saja Kai mengirimkan pesan yang mengatakan kalau mereka sudah harus ke boarding pass.
Begitu sampai, Luke meninggalkan mobilnya begitu saja dan berlari ke arah pintu pemberangkatan yang telah diberitahukan oleh Kai.
Luke berhenti dan menghubungi Kai. "Kai, dimana? Belum masuk, 'kan?"
("Belum, tapi kami sedang mengantri untuk masuk. Cepatlah! Kami berada di Gate 2,") jawab Kai.
Mata Luke berputar dengan cepat mencari tanda, palang atau apa pun yang bertuliskan Gate 2. Dia berjalan seperti orang linglung sambil memincingkan matanya. Luke tak lagi memperdulikan pakaiannya yang basah karena keringat.
Tak lama, matanya melebar dan dia kembali berlari begitu dia melihat sebuah papan berwarna hitam dengan tulisan emas bertuliskan 'Welcome To Gate 2'
Luke melihat antrian yang cukup panjang. "Kenapa semua anak gadis pakaiannya serupa?" batin Luke putus asa.
Di tengah keputusasaannya itu, dia berteriak, "Nay! KANAYA! Nay!"
"Paman?"
"Tuan Wallace!" Kai melambai-lambaikan tangannya kepada Luke. Kemudian, dia mendorong Nay untuk keluar dari barisan. "Temui pamanmu sebentar, Nay,"
Luke menghampiri Nay dan segera memeluknyabdengan erat. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan membawa kesalahpahaman yanh terjadi di antara kita,"
"Salah paham apa? Kenapa Paman ke sini?" Jantung Nay berlomba-lomba untuk keluar. Dia tidak mengerti apa yang pamannya itu bicarakan.
Luke memegang ceruk leher Nay dengan kedua tangannya dan meraup bibir lembut Nay. "Aku tidak pernah bisa melupakanmu, Nay. Kupikir dengan aku membohongi perasaanku, aku akan bisa tenang melepasmu pergi tapi ternyata membuatku semakin mengingatmu," kata Luke lagi dan dia kembali mencium Nay. "Semua kabar dari ayahmu tentang kita, kupikir berlebihan. Ayahmu terlalu banyak memberi bumbu ke dalam informasinya. Chloe bukan anak kandungku, kami mengadopsinya. Aku berhubungan dengan Alma di malam pernikahanmu. Hanya satu kali itu dan saat itu pun yang ada di dalam benakku hanya kamu, Nay,"
Air mata Nay menetes kembali. Dia sudah bersumpah untuk pergi dan melupakan Luke. Namun sekarang, rencananya berantakan. Dia tersenyum. "Kenapa semesta selalu sebercanda ini, yah? Aku menghargai perasaan Paman, tapi aku sudah berjanji kepada seseorang untuk melupakan Paman. Tapi aku masih sangat mencintai Paman hingga detik ini,"
__ADS_1
Pengumuman pesawat akan segera lepas landas, membuat Nay teralihkan. Dia berjinjit dan mencium Pamannya. "Aku harus pergi, Paman. Berbahagialah bersama bibi dan sepupuku. Sampaikan salam sayangku untuk mereka," kata Nay melepas ciumannya dan berbalik arah menghampiri Kai yang sudah menunggunya di pintu masuk. "I love you, Paman and i always do,"
...----------------...