
Luke dan Kai berjalan memasuki rumah sakit tempat Nay dirawat. Sesekali, Kai melihat Luke dari sudut matanya. Pria itu ingin memastikan, kalau Luke tidak akan meninggalkan Nay apa pun kondisi Nay saat ini.
"Ini kamarnya, masuklah," kata Kai mempersilahkan Luke untuk masuk ke dalam kamar rawat inap.
Nay sedang tertidur. Di atas bantalnya terdapat banyak rambut. Luke terpana melihat kondisi gadis yang dia cintainya begitu memprihatinkan.
"Kai, apa yang terjadi kepadanya?" tanya Luke berbisik. Dia mendekati Nay dan mengusap wajahnya dengan lembut.
"Nay yang akan mengatakannya kepadamu. Dia sudah berjanji. Hanya saja, aku mohon rahasiakan ini dari Tuan Rivers atau siapa pun," pinta Kai.
Mendengar suara Kai, Kanaya terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya. "Kai, ken-, oh! Paman Luke! Kenapa Paman bisa ada di sini?"
Nay menutupi tubuhnya dengan selimut dan wajahnya tampak malu karena Luke melihatnya dalam kondisi seperti itu. "Kai! Ini pasti ulahmu! Kamu yang mengajak pamanku ke sini! Iya, 'kan!"
"Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini. Aku menunggu di luar. Take your time, Tuan Wallace," ucap Kai dan dia pun bergegas keluar dari ruangan rawat VVIP itu.
Kini, tinggalah Luke dan Kanaya. Dua orang itu tenggelam dalam diam, tanpa suara.
"Ehem! Nay, kenapa kamu tidak bercerita kepadaku kalau kamu sakit parah seperti ini?" tanya Luke.
Nay menatap manik cokelat pamannya. "Aku takut Paman akan berpaling dariku. Saat ini aku tampak buruk sekali dan aku tidak mau Paman melihatku dalam kondisi seperti ini,"
"Itukah alasanmu tidak memberitahuku?" tanya Luke lagi. Jujur saja lu tampak terkejut dan terpukul melihat kondisi Kanaya yang seperti itu. Entah apa yang terjadi kepadanya, akan tetapi cinta untuk gadis itu masih melekat erat di dalam hatinya. "Nay, apa pun yang terjadi kepadamu, aku akan tetap mencintaimu. Apalagi kalau kamu hanya sakit seperti ini, kamu pasti sembuh dan akan kembali cantik lagi, Nay. Aku percaya kamu bisa melewati semua ini,"
Karena efek kemoterapi serta hormon yang berubah-ubah Kanaya pun menitipkan air matanya saat Paman Luke mengucapkan kalimat itu. "Benarkah? Paman akan tetap mencintaiku?"
__ADS_1
Lutk menggangguk perlahan. "Tentu saja. Ketika aku jatuh cinta kepada seorang wanita maka aku tidak hanya memberikan hatiku tapi aku juga akan memberikan seluruh hidupku kepadanya dan aku akan mencintainya baik itu dalam kondisi sehat atau sakit, untung atau malang, dan dalam senang atau sedih,"
"Lalu, bagaimana dengan Bibi? Bibi Alma sempat datang ke apartemenku dan dia marah kepadaku karena Paman telah menggugat cerai Bibi. Apa yang terjadi, Paman?" tanya Nay.
Nay memang sudah berniat untuk menanyakan hal itu kepada pamannya, akan tetapi kondisi tidak memungkinkan untuk segera bertanya masalah gugatan cerai tersebut.
Luke tampak emosi. "Alma mendatangimu? Kenapa dia harus marah kepadamu? Gugatan cerai itu sudah lama hendak kulayangkan kepadanya tapi baru kemarin aku melakukan hal itu dan ini tidak ada hubungannya denganmu, Nay. Percayalah, bukan karena kamu yang memintanya tapi memang aku yang ingin bercerai darinya," jelas Luke.
"Ya, dia marah kepadaku dan menyalahkan ayahku serta dirinya sendiri karena telah gagal mengurusku dengan baik. Pipi beranggapan kalau dulu dia telah salah mendidikku dan menjadikanku seorang gadis manja yang akan melakukan segala hal demi mendapatkan apa yang kuinginkan. Sesungguhnya, aku bukan gadis seperti itu. Aku akan bekerja keras demi apapun yang ingin aku dapatkan, tapi bukan berarti aku melakukan segala hal demi mencapai tujuanku," sanggah Nay. Wajah pucatnya tampak sedih. "Apakah seharusnya aku tidak boleh menggoda Paman sejak awal? Aku tidak tau kalau oada akhirnya hubungan kita bisa sejauh ini. Aku merasa bersalah pada Bibi,"
Air mata kembali mengalir di pipi tirus Nay. Akhir-akhir ini dia merasa dia lemah sekali dan sangat mudah mengeluarkan air mata.
Melihat Nay menangis, Luke memeluk gadis kecil itu. "Bukan salahmu, Sayang. Ada kesalahanku juga di dalamnya. Aku ingin kamu tau, andai aku tidak mencintaimu, aku tidak akan tergoda olehmu. Salahkulah Nay, karena aku mencintaimu,"
Luke mengecup pucuk kepala Nay dan menenangkannya. "Tidak usah dipikirkan masalah itu. Fokus saja supaya kamu sembuh. Sekarang, katakan padaku. Kamu sakit apa, Nay?"
"Kanker darah stadium 2 dan hampir naik ke stadium 3. Aku takut sebenarnya. Aku takut mati. Terkadang, aku tidak kuat menahan rasa sakit di sekitar tulang belakangku dan mereka menyuntikkan sesuatu dari sana dan itu sakit sekali." cerita Nay. "Seluruh badanku rasanya seperti ditusuk-tusuk dan setelah kemoterapi, aku merasa sangat mual. Kai yang selama ini membantuku. Sekarang, hatiku sedikit lega karena aku sudah menceritakan sakitku pada Paman. Tapi berjanjilah jangan beritahukan ini kepada siapapun. Ayahku akan shock nantinya dan dia akan menbawaku berobat ke luar negri sampai aku sembuh. Itu akan lebih melelahkan," sambung Nay lagi.
Luke mengangguk. "Aku berjanji. Mulai sekarang, aku yang akan menemanimu,"
Namun betapa herannya Luke saat dia melihat gelengan kepala dari Nay. "Tidak. Aku tetap ingin Kai yang menemaniku,"
"Kenapa harus Kai?" tanya Luke. Laki-laki dewasa itu tidak habis pikir, apa yang membuat Kai sangat spesial di mata kekasihnya itu.
"Kalau aku mati nanti, Paman tidak perlu merasakan kehilangan yang sangat dalam. Aku sudah mengatakan hal ini kepada Kai dan dia tidak berkeberatan. Jadi aku memintanya untuk selalu menemaniku sampai pengobatan ini selesai dan entah bagaimana hasilnya nanti," jawab Nay.
__ADS_1
Luke memejamkan matanya sesaat dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Kanaya sekarang. Sampai saat ini dia belum bisa memahami bagaimana jalan pikiran dari gadis yang selalu dicintainya itu. Sampai dia sakit pun, dia tidak memberikan ruang atau kesempatan kepada Luke untuk tetap berada di sisinya.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Tapi, aku akan tetap datang ke sini setiap hari dan akan terus merawatmu sampai kamu sungguh nanti. Pikirkan saja kesembuhan bukan kematian. Kita akan menikah, 'kan?" hibur Luke.
Semburat merah terlihat di wajah Nay yang pucat. "Iya, aku akan berusaha supaya aku sembuh,"
Malam itu di sebuah bar di tengah Kota Metropolitan yang tidak pernah lelah dengan kesibukannya, duduklah seorang wanita berpakaian elegan dengan warna terang tampak sedang meracau.
Ada seorang pria yang duduk disebelahnya. "Nona, kamu sudah cukup mabuk. Berhentilah," kata pria itu menjauhkan gelas dari wanita yang siap berperang saat gelas minumnya diambil.
"Ehem! Kamu siapa?" tanya wanita itu.
Pria itu tersenyum. "Kamu siapa?" tanyanya membeo.
Wanita itu mengulurkan tangannya, dengan wajah memerah karena pengaruh alkohol, dia berkata, "Alma Rivers. Tadinya Alma Wallace tapi Wallace Brengsek itu menceraikanku hanya karena gadis muda! Sialan!"
Wanita yang bernama Alma itu merebut gelas dari tangan teman prianya dan menenggak cairan di dalam gelas itu dengan sekali tenggak. "Aarrggh! Ehem! Siapa namamu?"
"Luke. Luke Winston," jawab pria itu.
Alma membulatkan kedua bola matanya. "Aku pulang, aku rasa aku sudah mabuk. Kenapa semua orang bernama Luke? Aku masih mencintainya, Luke. Aku masih mencintaimu, Luke. Aku tidak ingin bercerai darimu. Entah kenapa aku masih mencintaimu padahal kamu sudah sering menyakitiku dan sekarang, aku sakit karenamu, Luke! Kamu jahat sekali!" Alma meracau dan tangannya terus memukuli pria asing yang baru saja dia temui malam itu.
Alma terus meracau sampai dia tertidur di kursi bar dengan air mata menggantung di bulu matanya yang lentik. "Luke, kamu jahat sekali! Kamu membuatku sakit!" erangnya pelan.
...----------------...
__ADS_1