
Beberapa hari kemudian, Nay melakukan kontrol serta pengobatan di rumah sakit.
"Wah, beberapa sel abnormalnya sudah hilang. Pertahankan kondisimu, Nona Rivers. Kalau kondisimu begini terus, kita bisa mengurangi jadwal pengobatanmu menjadi seminggu sekali." ucap dokter itu takjub.
Nay yang saat itu ditemani oleh Kai, Luke, serta Otis sangat bahagia mendengar kabar itu. "Benarkah? Itu karena Kai selalu memaksaku untuk makan dan minum obat. Dia juga selalu mengingatkanku untuk selalu berjemur dan berolahraga."
Baik Luke maupun Otis terdiam, sedangkan Kai merasa sungkan dan tidak enak karena Nay terlalu menyanjung dirinya.
"Ah, bukan begitu, Nay. Maksudku begini, Dok. Kanaya itu sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Aku tidak mempunyai keluarga di sini dan saat aku bertemu dengan Nay, dia seorang gadis yang membuatku ingin selalu melindunginya dan sifatnya mengingatkanku kepada adikku yang berusia lima tahun, hahahaha!" ucap Kai salah tingkah.
Nay menatap Kai dan memonyongkan bibirnya. "Lima tahun? Kamu mengejekku, Kai!"
Dokter tertawa. Senang sekali rasanya melihat pasiennya dengan kondisi lebih segar dan terlihat bersemangat. "Tuan Fletcher, aku sungguh berterima kasih kepadamu. Berkatmu, Nona Rivers bisa kembali bersemangat dan memiliki harapan untuk bisa memenangkan pertarungan ini. Untuk wishlistmu, lakukan satu demi satu dan ingat, jangan terlalu memforsir tenagamu. Selamat untukmu, Nona Rivers," dokter menjabat tangan Nay dan semua yang mengantarkan Nay hari itu.
"Papa, aku ingin pulang bersama Kai," sahut Nay.
Luke dan Otis berhenti. "Heh! Fletcher, kamu punya kendaraan apa?"
"Motor, Tuan Rivers," jawab Kai sambil menunduk. "Pulanglah bersama ayahmu, nanti aku akan ke rumahmu."
Nay menggelengkan kepalanya. "Aku ingin naik motor, bukan mobil. Sudah lama sekali aku tidak naik motor berdua denganmu,"
Kai memandang Otis dan Luke bergantian, meminta persetujuan mereka untuk mengantar Nay pulang. "Pergilah! Jangan melajukan motormu lebih dari 40km/jam! Pastikan anakku tetap hangat!"
"Siap, Tuan Rivers! Terima kasih untuk kepercayaan Anda," balas Kai. Sesuai instruksi dan permintaan Otis, Kai memakaikan jaket tebal kepada Nay. Untuk memastikan gadis cantik itu tetap hangat, Kai memakaikan topi rajut serta sarung tangan.
"Kita tidak sedang berada di salju, Kai. Aku kepanasan," protes Nay.
Kai yang sedang fokus memasangkan masker dan helm kepada Nay pun menjawab, "Pakai saja, atau aku akan menberikanmu uang untuk naik taksi,"
__ADS_1
"Oke!" bungkam Nay. Dia tau, Kai akan bisa senekat dan setega itu padanya. Tujuan Nay ingin pulang bersama Kai sebenarnya adalah dia ingin memastikan sesuatu.
Beberapa malam sebelumnya, Otis sempat masuk ke dalam kamar Nay dan melihat wishlist yang gadis itu susun. Saat itu, Otis bertanya kepada Nay, siapa yang ingin dia nikahi, Luke atau Kai? Menikah ada di dalam list Nay urutan keempat. Jadi, jika dia ingin menikah dalam waktu dekat, paling tidak dia sudah tau siapa yang ingin dia nikahi.
Akhir-akhir ini perasaan Nay terombang-ambing. Hatinya terbagi dua, antara pamannya atau sahabatnya. Seperti yang sudah dia ketahui, Kai selalu berada disisinya dan selalu siap menolong serta menghiburnya. Kai bisa membuat hatinya berdebar-debar.
Itu juga yang dia rasakan saat bersama dengan Luke. Hanya saja, saat bersama Kai, dia bisa menjadi dirinya sendiri dan jika dia bersama Luke, dia bisa bermanja-manja.
'Andai mereka menjadi satu orang, aku tidak perlu bingung seperti ini.' pikirnya dalam hati.
"Kai, mampirlah ke suatu tempat!" pekik Nay, suaranya agak dikencangkan karena mereka sedang di atas motor.
"Kemana?" tanya Kai. "Ayahmu memintaku untuk mengantarmu langsung ke rumah! Kita langsung pulang!" tegas Kai.
"Ayahku tidak mengatakan itu! Baiklah, ke apartemenku saja! Berbeloklah!" titah Nay lagi.
Kai berdecak dan berbelok. Dia menuruti keinginan Nay hanya karena gadis itu sedang sakit. Tak lama, mereka pun sampai di apartemen megah milik Nay.
Kai pun masuk dan merubuhkan tulang belakangnya di sofa merah muda di dalam apartemen itu. Apartemen Nay memang di dominasi dengan warna merah muda dan abu-abu. Kecuali kamar Nay. Gadis itu memilih warna biru awan dan putih dengan alasan warna itu bisa membuatnya tenang.
"Kamu butuh minum obat dan makan. Semua obat dan makananmu ada di rumahmu. Lagipula untuk apa kita kesini, Nay? Konyol sekali!" tanya Kai. Pria berkacamata itu kesal karena dia tidak mau terjadi apa-apa dengan gadis yang dia cintai itu.
"Aku ingin memastikan sesuatu," jawab Nay, dia duduk disamping Kai.
"Apa yang ingin kamu pastikan?" tanya Kai. "Ah, besok kamu ingin melakukan wishlistmu, 'kan? Jangan pulang malam-malam dan makan!" Kai beranjak dari sofa empuk itu dan berjalan ke lemari pendingin. Dia mencari sesuatu yang bisa dia olah untuk dimakan oleh mereka berdua.
Nay cemberut dan mendekati Kai. Gadis itu duduk di meja makan dan memperhatikan Kai berjalan mondar-mandir, mencari ini itu, dan mulai menyiapkan bahan masakan. "Ya, daftar nomor satuku adalah aku ingin berbelanja seharian dan makan enak selama satu hari penuh. Dokter sudah mengizinkanku untuk itu,"
"Iya, Nay. Iya," ucap Kai, dia mulai menumis bawang putih serta lada dan tangan satunya lagi, mengukus sepotong ayam.
__ADS_1
"Kai!" panggil Nay.
Kai tak menjawab, dia benar-benar sudah fokus dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. Ini adalah salah satu sifat Kai yang tidak disukai oleh Nay. Gadis itu pun berdiri mendekati Kai, dan memeluk pinggang ramping pria itu.
Sontak saja, Kai berdiri mematung. "N-, Nay? Tanganmu,"
Bukannya menjauh atau melepaskan tangan, Nay semakin mempererat pelukannya dan merebahkan kepalanya di punggung yang ternyata cukup lebar itu.
Kai merasa tidak enak, tapi di saat yang sama dia menikmati sentuhan Nay di pinggangnya itu. "Kamu lelah?" tanya Kai.
Pria itu memperlambat gerakannya dan sekarang dia merasakan kepala Nay bergeleng di punggungnya. "Tidak, sudah kukatakan kepadamu, aku ingin memastikan sesuatu,"
Setelah makanan siap, Kai melepaskan pegangan tangan Nay dan dia memutar tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan. "Apa yang ingin kamu pastikan? Perasaanmu? Hatimu? Kamu sudah jatuh cinta kepadaku, begitu?"
Senyum Kai yang menggoda dan setengah mengejek itu, entah mengapa membuat jantung Nay berdebar-debar kencang. Dia mengangkat bahunya. "Entahlah, kamu tidak tampan, kamu tidak tinggi, kamu juga bukan kriteria pria idamanku, tapi kenapa akhir-akhir kamu selalu ada di otakku, Kai?"
Kai pura-pura berpikir. "Hmmm, kenapa yah?" Pria itu kini sibuk bolak-balik dari dapur ke meja makan, menyiapkan makanan untuk mereka berdua. "Makan dulu, yuk, Nay,"
Dengan patuh, Nay berjalan menghampiri pria yang sudah duduk di kursi makan. Dia memegang kedua pipi pria itu dan mengunci manik cokelat milik pria yang kini ada di hadapannya itu.
Perlahan, Nay mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Kai lembut. Setelah melepaskan kecupan itu, wajah Nay memerah. "Apa yang kulakukan! Aku sudah gila rupanya, Kai! Aku gila!"
"Oh, caramu memastikannya seperti itu? Salah, Nay! Begini caranya," Kai mendorong ceruk leher Nay dan menyapukan bibirnya selembut mungkin ke bibir Nay. Sesaat, dia menunggu respon dari gadis yang saat ini sedang berada di dalam pagutannya. Beberapa detik kemudian, tanpa ragu, Kai memperdalam pagutannya dan memainkannya dengan lembut.
"Ehem, bagaimana rasanya?" tanya Kai menyeringai lebar.
Nay terus memandanginya. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus sekarang. "A-, aku tidak tau. Ayo, kita makan lalu pulang,"
"Aku tidak pernah memaksamu untuk membalas perasaanku, Nay. Kejarlah kebahagiaanmu sendiri. Aku tau, kamu ragu sesaat. Tapi kurasa, itu hanya karena kita dekat akhir-akhir ini. Jangan ragu lagi. Aku sudah menyerahkanmu pada Luke Wallace," jawab Kai dengan senyum tulus.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Kai, Nay memeluknya erat. "Terima kasih, Kai. Terima kasih banyak,"
...----------------...