
"Nay!"
Beberapa suara terdengar memanggil nama Kanaya. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Dia dapat mendengar dengan jelas, ada suara pamannya di salah satu orang yang memanggil namanya.
Tetapi Nay mengacuhkannya. Dia berpura-pura untuk tidak mendengar suara Luke.
"Aku menolak!" tukas Otis.
"Kalau Papa menolak, aku akan kawin lari dengan Kai. Ayo, Kai!" usul Nay yang sudah bersiap kabur dengan menggandeng tangan Kai.
Kai membulatkan kedua matanya. "Kamu sinting, Nay!" bisiknya.
"KANAYA!" pekik Otis. "Jika kamu berani berjalan satu langkah saja keluar, maka kamu bukan putriku lagi dan aku akan melepaskan tanggung jawabku atasmu!"
Gadis berusia 23 tahun itu menghentikan langkahnya dan menatap netra ayahnya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. "Begitukah? Kalau begitu, aku akan pergi ke tempat Mama!"
Kali ini Otis menghampirinya. Kai mengambil alih tangan Nay dan memindahkannya ke belakang tubuhnya. Ya, dia siap menghadang Tuan Otis Rivers.
Otis terkejut melihat bagaimana Kai melindungi putrinya. Dia berhenti di depan Kai. "Anak muda, apa kau serius mencintai putriku?"
Kai menatap tajam manik hijau milik ayah gadis yang dicintainya itu. "Ya, aku sungguh-sungguh mencintai Kanaya. Tidak ada niat hatiku untuk mempermainkan perasaannya. Aku tidak seperti seorang pria pengecut yang memberikan harapan palsu tanpa bisa memberikan kepastian,"
Mata Kai menatap sepintas ke arah Luke duduk. Dia bisa melihat bibi Nay memandangi mereka dengan raut wajah ketakutan. Sedangkan Luke, wajahnya tampak geram dan kesal.
"Apa maksudmu?" tanya Otis heran. "Jangan menjelek-jelekkan orang lain, Anak Muda!"
"Maafkan aku, Tuan Rivers. Aku tidak ada maksud untuk menjelek-jelekan siapa pun, hanya saja aku teringat pada pria ini," jawab Kai dengan lugas. Dia tidak takut sama sekali kepada Otis, apalagi hanya seorang Luke Wallace.
Otis mengangguk-angguk tak sabar. "Aku tidak mau kehilangan anakku. Kalau Kanaya sudah menyusul ibunya berarti kesalahanku sudah sangat fatal, maka dari itu, aku akan mempertimbangkanmu sebagai pendamping Nay,"
Kai tersenyum senang. "Benarkah? Wah, baiklah kalau begitu, terima kasih banyak, Tuan Rivers," Kai menjabat tangan Otis dan mengguncangnya kuat-kuat. "Kamu dengar itu, Nay? Ayahmu sudah memberikan kita izin,"
__ADS_1
"Hentikan! Bisa patah tanganku nanti! Kalau kamu membuat putriku menangis, aku tak akan ragu membuatmu menyesal karena telah dilahirkan! Pergilah!" tegas Otis lagi, dan dia kembali melangkah ke ruang keluarga tempat dia duduk tadi.
Dengan langkah ringan Kai menggandeng Kanaya untuk keluar. Sesampainya di luar gerbang, Nay segera menyeret Kai untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Kai, Bodoh!" tukas Nay setelah mereka masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu memukul tangan Kai sambil menangis kencang.
"Auw! Kamu kenapa, Nay? Ini 'kan kemauanmu dan aku sudah menbantumu. Harusnya kamu mengucapkan terima kasih kepadaku bukan malah memukulku dan menyebutku bodoh!" protes Kai. "Dan kenapa kamu menangis?"
Kanaya terisak-isak, gadis itu sibuk mengusap matanya dengan tangan. "A-, andaikan, pa-, pamanku sep-, sepertimu, mu-, mungkin a-, aku tida-, tidak akan menangis, Kai,"
Pria yang ada di hadapannya itu tersenyum dan memasukan Nay ke dalam dekapannya. "Sudah kukatakan kalau aku menyukaimu, Nay. Aku berbuat demikian supaya kamu percaya kalau aku benar-benar menyukaimu. Kamu boleh pegang jantungku, hampir copot! Hebat sekali aku melawan petinggi grup tempatku bekerja,"
Mau tidak mau, Kanaya tertawa. "Itulah sebabnya, aku memanggilmu bodoh, hahahaha!"
Kai tersenyum senang saat melihat Nay tertawa. "Kamu lebih cantik saat tertawa, Nay. Jangan biarkan apa pun atau siapa pun membuatmu jatuh dan menangis,"
Nay memandang lekat manik hitam yang saat ini menatap dan mengunci kedua netranya. "Andaikan, Paman Luke sepertimu, Kai. Andaikan, ...."
Sudah hampir seminggu, hubungan Nay dan Kai semakin dekat. Kai tanpa malu bermain ke rumah Kanaya dan terkadang mengajak Otis untuk bermain catur atau hanya sekedar bermain dengan anak anjing Otis yang belum dia beri nama.
"Siapa namanya menurutmu?" tanya Otis sambil membelai-belai anak anjingnya. Tak bisa dipungkiri, dengan hadirnya Kai di hidup Kanaya membuat Otis tidak kesepian lagi.
"Ah, bagaimana kalau namanya adalah Coffee, karena dia seperti kopi 'kan, Tuan? Hahahaha," jawab Kai sambil bergurau.
Otis melihat-lihat anak anjingnya dan menggelengkan kepala. "Kamu tidak kreatif! Cari yang lain!"
"Yang kurang kreatif sebenarnya Anda, Tuan Rivers, hahahaha! Baiklah, bagaimana dengan Mocha?" ucap Kai lagi.
"Hmmm, bagus juga. Mocha! Ckckck, Mocha," Otis memanggil nama mini red poodle pemberian adiknya itu.
Tak lama, Alma dan Luke datang dengan membawa kopi kesukaan Otis serta beberapa kotak makanan yang berisi steak serta kentang goreng.
__ADS_1
"Repot sekali kamu, Alma. Masuklah. Aku dan Kai sedang bermain, hehehe. Dia pintar ternyata," sahut Otis terkekeh.
Luke memandang dingin ke arah Kai yang sedang asik menggendong Mocha dipangkuannya. Dia dan Nay duduk bersebelahan dan tampak dekat sekali. Luke tidak suka itu!
"Ada apa datang kemari? Aku seperti mendapatkan dobel kejutan," tanya Otis senang.
"Oh, tadi kebetulan le-,"
"Aku ingin memberitahukan kepada Kakak kalau aku dan Alma akan berbulan madu dan merencanakan ingin segera memiliki momongan, ya 'kan, Sayang?" jawab Luke. Pria itu melingkarkan tangannya ke pinggang Alma sambil melirik kepada Kanaya. Ya, dia memiliki maksud tersembunyi saat mengatakan itu. Dia ingin membuat Kanaya cemburu dan sakit.
Otis membulatkan kedua matanya. "Benarkah? Oh, aku senang sekali! Kapan kalian akan berangkat?"
"Mungkin dalam waktu dekat ini dan tujuan kami sebenarnya ke sini untuk meminta izin kalau orang lain 1 sampai 2 minggu ke depan aku tidak bisa masuk kerja, Kak," jawab Luke tersenyum. Matanya masih menatap tajam ke arah Kanaya. Laki-laki itu mencari tahu apakah Nay mendengar ucapannya atau tidak.
Sementara itu, Kanaya yang mendengar berita mengejutkan dari paman dan bibinya segera saja masuk ke dalam kamar dengan diam-diam dan mengunci pintu kamar tersebut. Dia semakin sadar kalau dirinya sampai kapanpun tidak tidak akan pernah bisa mendapatkan cinta dari pamannya.
Gadis itu membenamkan dirinya ke dalam selimut dan menumpahkan semua Air mata kesakitannya di sana. Setelah dia puas menangis, dia mengambil keputusan untuk segera melupakan pamannya dari hidupnya.
Keesokan harinya, Nay yang baru saja pulang dari kantor mendengar seseorang berbicara di dalam pantri kantornya. Nay mendengarkan dengan seksama apa yang dibicarakan oleh orang itu.
"Awasi dia! Jangan sampai kalian kehilangan jejaknya dan berikan laporan kepadaku apapun yang dia lakukan dan kemanapun dia pergi terutama saat dia pergi bersama dengan Kanaya Rivers!" perintah orang itu.
Nay mendengar suara yang tidak asing diterimanya itu dan dia pun segera membuka pintu pantry kantornya dan menemukan Paman Luke sedang menghubungi seseorang melalui panggilan ponselnya.
"Paman! Apa yang akan Paman lakukan kepada Kai?" tanya Nay tak percaya.
Luke berdecih. "Cih! Karena pria itu kamu melupakanku dan menghilangkanku dari hidupmu, 'kan, Nay?"
Kanaya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak ada yang pernah melupakan Paman ataupun menghilangkan Paman dari hidupku. Hatiku, cintaku, dan rasa sayangku hanya untuk Paman seorang! Bukan untuk Felix North ataupun Kai!" tegas Nay. "Tapi melihat Paman yang seperti seorang pengecut saat ini, membuatku mempertimbangkan perasaanku. Dan sepertinya aku memang harus melupakan Paman dari hidupku!" Gadis itu pun membuka pintu pantry dan bergegas pergi.
"Nay! Kanaya!" seru Paman Luke. Namun sayang, Nay semakin mempercepat langkahnya tanpa menoleh lagi ke arah Luke.
__ADS_1
...----------------...