Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Permintaan Kanaya -- Part 2


__ADS_3

Aktifitas di bandara udara memang tidak pernah sepi. Orang-orang lalu lalang dengan membawa koper atau hanya sekedar backpack dengan langkah cepat. Kedai kopi pun tak luput dari serangan orang-orang yang hendak terbang itu.


Sama halnya dengan rombongan Rivers, mereka baru waka take off dan sedang mengantri untuk mengambil koper mereka. Perjalanan yang dipilih oleh petinggi Rivers Group itu adalah perjalanan biasa yang membuat seorang ayah mengoceh tanpa henti sepanjang perjalanan.


"Aku tidak suka menunggu! Kita minta jasa porter saja atau supirku untuk mengantri disini. Papa sudah lelah sekali," ucap Otis sambil menguap.


Kai melihat Nay mulai tampak pucat dan lelah. "Aku akan panggilkan jasa porter. Tunggulah disini,"


Tak lama, Kai kembali bersama seorang pria tinggi, berbadan tegap, dan berseragam seperti seorang pilot. Tangan Kai juga penuh dengan 2 cup kopi serta 1 botol air mineral dan di tangan satu lagi, dia menenteng satu box pretzel kayu manis. Rasa favorit Kanaya.


Kai juga telah meminta jasa mobil travel untuk membawa mereka. "Tuan Rivers, itu mobil kita. Kalian bisa duduk di sana sementara aku dan Tuan ini mengurus koper-koper kita,"


Kai membukakan botol air tersebut dan memaksa Nay untuk meminumnya. Setelah Nay minum, Kai juga memaksa Nay untuk menggigit pretzel sugar cinnamon yang tadi dibelinya. "Makanlah kalau tidak mau mati muda! Pamanmu akan datang siang ini, kamu harus kuat!" bisiknya.


Otis melihat pemandangan itu dan tersenyum. Betapa patuhnya Nay kepada asisten pribadinya. Entah sihir apa yang diberikan oleh anak muda itu sampai Nay bisa menurut tanpa perlawanan seperti itu.


Ketika mobil mereka datang, Otis dan Nay menunggu di dalam sambil menikmati kopi dan pretzel mereka. "Nay Sayang, Papa menyukai Kai. Apakah hatimu sudah tersentuh olehnya?"


Nay terdiam, dia menggigit kecil pretzelnya sambil menatap Kai yang sedang mengobrol dengan si tuan porter.


Diamnya Nay sudah merupakan jawaban dari putri semata wayangnya itu. Untuk kesekian kalinya, hati Otis terasa pedih seperti teriris-iris. Apakah ini berarti dia akan meminta Alma untuk bercerai dari suaminya dan menikahkan Luke dengan Nay? Akan tetapi, itu sesuatu hal yang tidak pantas. Otis menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Setelah Kai selesai dengan urusan koper, mobil pun melaju menuju tempat tujuan mereka. Mereka berpisah arah karena Nay bersikeras ingin pulang ke apartemennya.


Setibanya di rumah, Alma sudah menyambut kedatangan Otis. "Selamat datang,"

__ADS_1


"Kamu belum kembali?" tanya Otis kepada Alma. Pria itu menyerahkan kopernya kepada salah satu pelayan. "Aku tidak mau diganggu karena Nay menolak layanan VIP,"


Otis pun masuk ke dalam kamarnya untuk bersih-bersih dan segera beristirahat. Sedangkan Alma, kepalanya celingukan mencari sosok keponakannya yang tidak tampak batang hidungnya itu. "Di mana dia?" batinnya dalam hati.


Tentu saja Alma tidak menemukan Nay, karena keponakannya itu sedang sibuk menurunkan barang-barang di apartemen miliknya.


"Nay, kamu masuk saja. Biar aku yang membawa ini semua!" tukas Kai yang dengan sigap mendorong serta menyeret koper-koper dan tas besar milik mereka berdua.


Tak beberapa lama, sebuah mobil berwarna hitam memasuki lahan parkir dan berhenti di sana. Dari dalam mobil itu, keluarlah seorang pria yang tampak matang dan tampan. Pria itu segera membantu Kai dengan cepat. Otot bisep dan trisepnya terlihat jelas saat dia mengangkat beberapa barang sekaligus.


"Tuan Wallace, Anda sudah datang? Kami baru saja sampai," ucap Kai. Pria muda itu cukup terkejut karena Luke datang pagi sekali padahal Kai mengatakan supaya Luke datang pukul 1 siang nanti.


"Ya, aku sedang tidak ada kerjaan. Di mana Nay?" tanya Luke sambil melangkah masuk ke dalam. Kedua pria itu mulai mengatur koper serta tas Nay dan Kai di tempat darurat.


"Mungkin dia tidur. Tuan Wallace, sebelum aku tinggalkan kalian berdua, ada yang ingin aku sampaikan kepada Anda terlebih dahulu," kata Kai. "Apa pun yang nanti kalian berdua lakukan, aku meminta kepada Anda untuk tidak membuat Nay terlalu lelah atau menangis terlalu banyak. Buatlah dia bahagia hari ini, Tuan,"


"Anda akan mengetahuinya sendiri, Tuan. Nanti Nay akan memberitahukannya kepada Anda," jawab Kai dan kemudian dia masuk ke dalam kamar Nay untuk berpamitan dengannya.


Selepas kepergian Kai, Luke menunggu Nay untuk bangun. Dia memesankan makanan untuk gadis yang sebentar lagi akan ditemuinya itu. Sesuai dengan permintaan Kai, maka Luke memesankan makanan organik untuk Nay.


Luke penasaran, apa yang terjadi kepada Nay? Dengan perlahan, pria itu masuk ke dalam kamar Nay dan dia melihat Nay sangat pucat. Apa dia sakit?


Luke duduk di tepi ranjang Nay dan memegang pergelangan tangannya. Gadis itu terbangun dan menatap Luke dengan mata hijaunya. "Paman Luke!"


Nay segera beranjak dari ranjangnya dan memeluk pria yang sudah beristri itu erat-erat. "Aku rindu sekali kepadamu, Paman,"

__ADS_1


"Me too, Nay. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Luke sambil memegangi kedua pipi Nay dengan kedua tangannya yang lebar.


Pertanyaan Luke dibalas dengan ciuman oleh Nay. Tanpa diperintah, Luke membalas pagutan dari gadis yang merupakan keponakannya itu. "Aku baik-baik saja, Paman," jawab Nay disela-sela kecupan rindunya.


Tak sampai hitungan menit, pagutan mereka semakin memanas dan menuntut. Tak ada lagi percakapan diantara mereka. Semua kata-kata yang ingin mereka ucapkan telah disampaikan dengan non verbal.


"Oh, i really missing you," bisik Luke parau.


Satu per satu pakaian mereka telah ditanggalkan. Tangan serta jari-jari Luke sudah berkelana ke bagian sensitif Nay yang segera saja membuat Nay melenguh saat kulit Luke menyentuh tubuhnya.


Suhu ruangan ber-AC itu kini berubah menjadi panas, keringat membasahi kedua insan tersebut. Berada di dalam dekapan Luke membuat Nay melupakan rasa sakitnya. Semua nyeri yang dirasakan akibat kemoterapi berganti menjadi kenikmatan yang tiada bandingnya saat Luke masuk ke dalamnya.


Selagi mereka asik memadu kasih, tiba-tiba saja hidung Nay mengeluarkan darah. Luke segera melepaskan dirinya dan bergerak cepat mengambil sehelai tissue. "Nay! Nay! Apa yang terjadi?"


Nay mengamb tissue dari tangan Luke dan menyumpalkannya di hidung. "Tolong ambilkan aku ice gel di freezer, Paman," pinta Nay. "Biasanya Kai sudah siap dengan semuanya tapi sekarang hanya ada Paman, maaf kalau aku merepotkanmu."


Luke meletakkan ice gel di hidung Nay dan menyelimuti tubuhnya. "Apa yang terjadi denganmu, Nay?" pria itu terus mendekap erat tubuh kekasihnya.


Diluar dugaan, Nay tersenyum. "Aku sakit, Paman. Maafkan aku kalau aku tampak sangat menyedihkan," kata gadis itu dengan suara sengau karena tertutup oleh ice gel. "Apa Paman masih akan mencintaiku kalau aku sakit seperti sekarang?"


Luke menyingkirkan kedua tangan Nay beserta ice gelnya dan mencium lembut bibir gadis itu. "No matter what happen with you, Nay. I will always love you,"


Nay tersenyum. "Benarkah? Apakah Paman akan mengabulkan keinginanku?"


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Luke lagi.

__ADS_1


"Ceraikan Bibi Alma dan menikahlah denganku, Paman," pinta Nay, matanya menatap lekat Luke yang sedang memandangnya juga.


...----------------...


__ADS_2