
Sebelumnya di rumah sakit,
"Paman, aku tidak tau apakah aku akan memenangkan pertarunganku dengan penyakitku ini, tapi aku ingin Paman melakukan sesuatu untukku," ucap Nay.
Malam itu, Luke bergantian dengan Kai untuk menjaga Kanaya di rumah sakit. Kai telah memberikan nasihat panjang kepada Luke, baik itu melalui pesan atau bicara langsung.
"Kamu mengingatkanku pada nenekku, Kai. Sungguh!" ujar Luke. Dia salut sekali kepada pria berkacamata itu yang mampu mengingat segala hal detail tentang Kanaya. Mau cemburu pun, rasanya tak pantas. Kai terlalu sempurna.
"Itulah mengapa Tuan Rivers dengan cepat merestuiku," jawab Kai berbangga diri.
Luke mendengus. "Cih! Baiklah, aku akan lakukan sesuai perintahmu, Fletcher. Bagaimana kalau ada sesuatu yang terjadi?"
Kai menjelaskan kembali dengan sabar. "Anda lihat tombol ini? Tekanlah. Nanti perawat akan datang dan mereka akan segera menghubungi dokter Nay,"
Anggukan kecil menjadi jawaban Luke dan nampaknya perlahan dia mulai mengerti apa yang harus dilakukan saat Nay mimisan atau muntah.
"Dia akan dikuasai oleh rasa mual. Jadi, kalau jam makan tiba, ajaklah dia keluar dan alihkan perhatiannya. Masukan makanan sedikit demi sedikit sampai habis," ucap Kai mengingatkan kepada paman Kanaya itu.
Kai meminta Luke mencoba menyuapi Kanaya saat mereka makan siang. "Suapi Nay, Tuan Wallace,"
Luke memindahkan Nay ke kursi roda dan mendorongnya. Sedangkan box makanan dipegang oleh Kai. "Anggap saja aku tak ada,"
Nay sedari tadi terus tertawa melihat tingkah lucu Kai. "Kenapa harus seperti itu? Wajahmu sangat lucu, Kai. Kamu benar-benar bisa membuatku tertawa terbahak-bahak!"
Begitulah akhirnya, Luke menyuapi Nay dengan sesabar mungkin. Biasanya, Luke mudah emosi. Dia sosok temperamental dengan kesabaran setipis tissue yang terkena air. Namun, begitu dia berhadapan dengan Nay, cinta dan kesabarannya diuji.
Setelah satu jam, "Dia tidak mau menghabiskannya," lapor Luke kepada Kai.
"Ck! Kenapa, Nay?" tanya Kai kepada Nay yang memandanginya sambil memberengutkan bibirnya yang pucat. "Habiskan, ayamnya saja, nasinya tidak usah! Buka mulutmu!"
__ADS_1
Setelah Kai akhirnya pergi, Luke tinggal berdua bersama Nay malam itu. Sebelumnya, Kai yang menyuapi Nay untuk makan malam.
"Apa yang ingin aku lakukan untukmu, Nay?" tanya Luke.
"Batalkan gugatan cerai Paman dan kembalilah pada bibiku," jawab Nay..
Luke mengangkat wajahnya. "Astaga, Nay! Itu tidak mungkin! Yang aku cintai adalah kamu, Kanaya Rivers, bukan Alma atau siapa pun!" emosi Luke cepat sekali menggelegak seperti air karbonasi diteteskan baking soda. "Gugatan itu aku lakukan bukan karena kamu yang memintanya tapi itu kemauanku. Sudah hampir setahun aku ingin menceraikan Alma tapi ada saja usaha yang dia lakukan supaya aku tidak menceraikannya,"
"Aku hanya percaya kepada Bibi Alma. Jika aku tidak ada nanti, hanya Bibilah tempat teraman untuk Paman." ucap Nay lemah.
Luke memegang tengkuk leher Nay, wajah gadis itu tampak kecil di dalam genggaman tangan pamannya. Dia mendorong tengkuk Nay dan menyapukan bibirnya ke benda kenyal pucat Nay. "Bagaimana kalau kamu hidup, Nay? Kita menikah, yah?"
Nay mengangguk lemah sambil tersenyum kecil. "Come on, let's have a bet, Paman!"
Tak tahan dengan ucapan Nay, bibir Luke menyapu bibir Nay lagi. Kali ini, Nay membalas pagutan pamannya dengan panas. "Kita harus sering-sering melakukan ini karena aku tidak tau kapan lagi kita bisa seperti ini,"
"Aku setuju," jawab Luke.
"Untuk Nona Rivers, kondisinya masih belum stabil, Tuan. Kadang baik dan kadang buruk. Kita tidak bisa memprediksi sampai kapan pasien bertahan. Kami hanya melakukan semua pengobatan sesuai dengan arahan dari pusat," kata perawat itu. "Bisa saja hari ini tampak baik tetapi besok drop, seperti itu, Tuan,"
Luke memejamkan matanya sesaat. "Apakah bisa sembuh?"
"Bisa. Obatnya pun mudah dan hanya ada satu di dunia," jawab perawat wanita itu.
"Apa itu, Suster?" tanya Luke ingin tau.
Betapa herannya Luke, saat wanita dengan wajah menenangkan itu tersenyum. "Keinginan pasien untuk sembuh dan tetap hidup,"
"Hanya itu?" tanya Luke, meragukan pendengarannya.
__ADS_1
Perawat itu mengangguk. "Yah, hanya itu. Kami para petugas medis sudah melakukan yang kami bisa untuk pasien. Bukan berarti pasien diam saja kan? Justru bantuan dari pasien yang memiliki keinginan tinggi untuk sembuh dan bertahan hidup, itulah yang menentukan kesembuhan dari pasien yang menderita penyakit kanker. Kanker jenis apapun dan seganas apapun,"
"Usia Nona Rivers masih tergolong sangat muda. Organ-organ tubuhnya masih baik dan sehat dan belum ada yang rusak parah. Hanya saja penyakit ini memang mempengaruhi hormon serta pikiran seseorang. Kondisi Nona Rivers saat ini sudah memasuki tahap depresi. Dia sering sekali mengeluh, putus asa, dan kalau yang saya dengar dari teman yang satu lagi dia sering membicarakan 'bagaimana nanti kalau aku mati atau bagaimana nanti kalau aku tidak ada?' Itu menjadi sasaran empuk untuk sel-sel kankernya untuk terus berkembang biak," sambung perawat itu lagi.
Luke terdiam. Itukah sebabnya Nay meminta dia untuk membatalkan gugatan cerainya?
"Tapi, bukan berarti dia akan mati, 'kan? Maksudku dengan kondisi yang saat ini berapa persenkah kesempatan dia akan sembuh?" tanya Luke.
Perawat itu berpikir sambil mengecek catatan kesehatan Nay. "Hmmm, sebenarnya bukan ranah saya untuk menjawab ini tapi saya akan membantu anda untuk menjawabnya. Untuk kondisi Nona Rivers sekarang kesempatan hidupnya masih cukup tinggi. Namun, jika melihat perkembangan sel kankernya yang tidak stabil itu membuat kami belum menemukan kepastian tentang seberapa besar pasien akan sembuh,"
"Menurut dokter, lusa pasien atas nama Kanaya Rivers sudah boleh pulang kembali ke rumahnya dan kami berharap ajaklah Nona Rivers untuk selalu berbahagia dan tidak memikirkan penyakitnya," kata Suster itu melanjutkan penjelasannya.
Keesokan harinya, Kai sudah datang dengan membawa beberapa pakaian ganti, alat make up, tab kesayangan Nay, serta cat kuku.
"Hai, bagaimana kondisimu?" tanya Kai.
Nay segera menarik Kai untuk mendekat dan berdiri di samping Luke. "Dengarkan kalian berdua! Kemarin, aku sudah mengatakan kepada Paman Luke untuk mencabut gugatan cerai kepada Bibi Alma dan saat ini, aku minta kepadamu, Kai. Jika aku tidak ada nanti, tolong temani ayahku. Hibur dia dan jaga dia. Pokoknya, kamu tidak boleh meninggalkan ayahku sendirian, berjanjilah kepadaku!"
"Nay, kamu masih akan hidup sampai seribu tahun lagi, tidak perlu kamu membuat kami berjanji seperti ini," tukas Kai menepuk kening gadis yang sedang duduk berpangku tangan itu.
"Ini sakit, Kai! Sakit sekali!" protes Kanaya.
Luke membelai punggung Nay dengan sabar. Namun tidak dengan Kai, dia terus bertentangan dengan Nay. "Kalau begitu, bagi rasa sakitnya kepadaku, Nay! Aku tau sakitmu seperti apa tapi aku tidak akan tau bagaimana efeknya di tubuhmu kalau kamu setiap harinya hanya sanggup mengatakan mual, mual, dan mual! Bagi rasa sakitmu kepadaku, supaya aku paham rasa sakitmu seperti apa!"
Luke dan Nay tercengang mendengar ucapan Kai. Luke tidak pernah menyangka kalau cinta yang dirasakan oleh Kai Fletcher sedalam itu dan bahkan dia tau apa yang harus dia lakukan untuk menguatkan Kanaya. Terbukti, setelah mengucapkan itu, Nay terdiam dan tidak mampu berkata-kata lagi.
"Apa maumu, Kai Fletcher? Tuan Sok Tau!" tukas Nay pedas setelah beberapa menit mereka terdiam.
"Mudah saja! Bangkitlah Nay! Kuatlah! Jadilah seperti Kanaya Rivers yang kukenal, yang selalu optimis menghadapi apa pun, dan bahkan berkeyakinan tinggi untuk bisa merebut pria yang dia cintai dari bibinya! Jadilah Kanaya yang seperti itu!" jawab Kai ketus. Dia melemparkan semua barang bawaannya ke atas ranjang. "Aku membawakan ini semua supaya kamu tau, betapa cantiknya kamu di mataku! Dengan atau tanpa ini semua, rasa cintaku tidak berubah, Nay! Tapi kalau kamu tidak ada keinginan untuk hidup, percuma saja, Nay! Aku hanya membuang-buang waktuku mengurus orang yang sudah siap untuk mati! Orang yang mengalah pada ketakutannya sendiri!"
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Kai melengos pergi. Entah kekuatan dari mana, Nay mengejarnya, menarik tangan pria kurus itu, dan memeluknya erat-erat.
...----------------...