
Keesokan harinya, subuh-subuh sekali rombongan Otis River sudah berada di bandara. Pria itu hendak mengantar adik dan suaminya untuk berbulan madu.
"Luke, ikuti aku sebentar," sahut Otis sambil mengibaskan tangannya ke arah Luke. Otis memberikan sebuah kotak berwarna putih dan meminta lup untuk membukanya.
Adik iparnya itu menuruti keinginan Otis dan membuka kotak berwarna putih itu. "Ponsel? Untuk apa? Aku sudah memiliki ponselku sendiri, Kak,"
"Berikan ponsel lamamu kepadaku dan pakailah ponselku ini sampai selama-lamanya. Aku ingin kau melupakan anakku dan fokus kepada Alma saja. Di dalam ponsel baru itu juga sudah terpasang nomor barumu," tegas Otis sambil mengambil ponsel lama milik Luke yang dari tadi digenggamnya. "Aku tidak akan memberitahukan kepadamu kemanakan ayah akan pergi begitu pula dengan sebaliknya aku tidak memberitahukan kepada Kanaya ke mana kalian pergi,"
Luke menekuk salivany dengan kasar sambil menyisir rambut spikeynya ke belakang. "Ya, aku mengerti, Kak,"
Otis mengangguk-anggukan kepalanya dan berharap semoga adik iparnya itu benar-benar mampu melupakan Kanaya, putri kesayangannya. "Bagus. Sekarang pergilah!"
Sekitar beberapa jam kemudian sebuah mobil berhenti di depan Otis dan dari dalam mobil tersebut turunlah seorang gadis muda yang cantik memakai topi cap serta kaos dan celana jeans. "Loh, Papa kok ada disini?"
"Tentu saja Papa menunggumu. Tadi pagi Papa mengantar Bibi Alma untuk pergi berbulan madu dan sekalian saja apa menunggumu di sini. Tidak masalah, 'kan?" jawab Otis sambil berkelakar.
Nay tersenyum simpul dan dengan manja dia menggandeng dengan ayahnya untuk berjalan bersamanya. Tiba-tiba saja, Otis memberikan sebuah kejutan yang dibungkus kado dengan rapi dan dihiasi dengan pita besar berwarna merah. "Ini untukmu, Nay. Bukalah,"
"Apa ini, Papa?" tanya Kanaya dengan kedua matanya berbinar ceria. Dia membuka kotak itu dengan cepat dan segera saja dia mengeluarkan isinya. "Wah, ponsel baru? Ini untukku?"
Otis mengangguk. "Tentu saja untukmu. Ah, ada nomor yang sudah terpasang didalamnya juga, sebagai gantinya aku akan mengambil ponsel lamamu,"
Kening Kanaya mengerut. "Kenapa dengan ponselku? Kenapa juga aku harus mengganti nomorku?"
"Luke. Aku mau kalian saling melupakan dan tidak saling mencari," jawab Otis singkat. Membahas masalah dengan Kanaya lebih berat dibandingkan dengan Luke. Dia tidak mau melihat anaknya sakit ataupun menangis karena harus melupakan pria yang dicintainya, tetapi Otis juga memikirkan yang terbaik untuk Kanaya.
Kanaya terdiam. "Ya, Papa. Aku harus segera boarding. Jaga dirimu baik-baik, Pa. Aku sudah meminta Kai untuk menemanimu selama aku tidak ada,"
__ADS_1
Otis tertawa. "Hahahaha, anak itu bisa apa? Hahahaha,"
Selepas kepergian Kanaya dan Alma, Otis pun kembali ke rumahnya. Dan kali ini dia merasakan kesepian karena walaupun biasanya kan ayah menginap di apartemen tapi setidaknya Gadis itu masih menghubungi dirinya dan kembali untuk bermain denganny.
Namun kali ini, Kanaya tidak akan kembali dalam waktu yang lama. Entah kenapa dia merasa sangat sedih dan merasa bersalah karena telah menjauhkan Kanaya dari hidup nyamannya.
Sesuai janji Kanaya, pagi itu Kai datang untuk menemui Otis. Dia membawakan beberapa camilan pagi serta kopi hitam yang dia beli di kedai kopi terdekat.
"Good morning, Tuan Rivers," sapa Kai bersemangat. Lengannya masih diperban tapi tidak menghalangi dia untuk beraktivitas pagi hari itu.
Otis terkejut mendengar sapaan dari Kai. Saat itu dia tengah sarapan seorang diri dan begitu mendengar suara Kai pria tua itu cukup terkejut. "Oh, siapa itu?"
Otis membukakan pintu untuk Kai dan mempersilahkan pria muda yang berbadan kecil itu untuk masuk dan sarapan bersamanya. "Hah, untuk apa kamu kesini, Anak Muda?"
"Tentu saja untuk menemani Anda, Tuan Rivers. Aku tahu anda pasti kesepian maka dari itu aku datang ke sini dan berniat untuk menemani anda sarapan setelah itu aku berangkat kerja, " jawab Kai sambil menghidangkan kopi untuk Otis.
"Ini namanya kopi, Tuan Rivers. Anda pasti belum pernah merasakan kopi yang dijual di kedai kopi bukan? Maka itu aku membawanya ke sini supaya Anda bisa merasakan nikmatnya kopi yang dijual di kedai kopi. Kopi ini tidak kalah enak dengan kopi mahal yang biasa Anda konsumsi," jawab Kai bersemangat. Dia menyesap kopinya dengan nikmat di hadapan Otis sehingga membuat pria paruh baya itu menelan salivanya.
"Apakah seenak itu?" tanya Otis memperebutkan bibirnya dan mulai mencoba menyesap kopi pemberian Kai. Sesapan pertama membuat Otis membelalakkan kedua matanya. "Wow, benar katamu, ini nikmat sekali!" serunya.
Akhirnya sarapan Otis pagi itu menjadi cukup ramai dengan kehadiran Kai yang memang senang bercanda dan murah senyum. Selama ini Otis di kelilingi oleh orang-orang yang serius dengan pembawaan mereka yang berwibawa dan membicarakan hal yang itu-itu saja.
Namun berbeda dengan Kai, pria itu membicarakan tentang apapun mulai dari pertandingan sepak bola, makanan favoritnya, tempat dia dan Nay sering datangi, dan bahkan pria itu dapat mengimbangi obrolan Otis seputar perusahaan.
Diam-diam Otis mengagumi sosok Kai. Pantas saja kenapa Kak Naya bisa berteman lama dengan pria yang ada di hadapannya itu.
"Apa jabatanmu di kantor?" tanya Otis serius.
__ADS_1
"Oh, aku hanya karyawan biasa, Tuan Rivers. Tanpa bantuan Kanaya Aku mungkin tidak akan mendapatkan pekerjaan senyaman ini apalagi di tempat ternama sebesar Rivers Group," jawab Kai jujur.
Otis mengangguk-anggukan kepalanya. Pria yang hobi meminum kopi itu mulai menyusun rencana untuk membalas semua yang pernah dilakukan oleh Kai baik itu kepada dirinya maupun kepada Kanaya.
"Apa pendidikan terakhirmu tanda tanya dan bagaimana pengalaman kerjamu?" tanya Otis seperti sedang mewawancarai seorang pegawai baru.
"Aku hanya lulusan sekolah kejuruan, Tuan Rivers. Karena keterbatasan biaya aku tidak dapat melanjutkan pendidikanku dan kemudian seseorang mengajakku bekerja jadi apapun kulakukan supaya aku dapat mengumpulkan uang dan bisa bertahan hidup," jawab Kai tanpa canggung.
Lagi-lagi, Otis mengangguk. "Sudah berapa lama kamu bekerja di Rivers Group?"
"Hmmm, kira-kira sekitar 3 atau 4 tahuan, Tuan. Tapi sebelumnya aku mau minta maaf, ada apa di balik semua pertanyaan yang Anda berika kepadaku ini?" tanya Kai. "Waktu pertama kali Nay membawaku ke Rivers Group, si pewawancara tidak menanyaiku sedetail ini, Tuan,"
"Tentu saja, ada Kanaya di sebelahmu, 'kan? Sekarang aku tau kenapa Nay selalu mengajakmu jika ada acara pesta perusahaan. Kamu cerdas dan wawasanmu luas. Kamu juga memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin karena kamu berani mengambil keputusan. Aku salut padamu," ucap Otis panjang.
Kai tersipu malu. "Ah, bisa saja. Terima kasih, Tuan Rivers. Sepertinya, aku harus pergi dan menyudahi sarapan yang menyenangkan ini," Kai melihat jam tangannya yang sudah usang, kemudian dia berpamitan kepada Otis karena dia harus bekerja.
"Tuan Fletcher, ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu tapi ini bukan barang baru. Ini milikku yang sudah lama tapi paling tidak, ini bisa menggantikan jam tangan usangmu itu," kata Otis, dia beranjak berdiri dari kursi makan dan bergegas ke kamarnya.
Tak lama, dia keluar dengan membawa kotak besar berisi koleksi jam tangannya. Pria tanpa rambut itu mengambil satu gulungan jam tangan bermerk dan memberikannya kepada Kai. "Kemarikan tanganmu, Anak Muda,"
Otis menarik tangan Kai, dengan cekatan dia membuka jam tangan usang milik pria itu dan menggantinya dengan jam tangan miliknya. "Anggap saja ini hadiah untukmu dan satu lagi, aku ingin kamu menjadi asisten pribadiku. Kebetulan asistenku aku wariskan kepada Luke dan aku belum menemukan orang yang pantas mengambil alih pekerjaanku. Bagaimana? Kamu mau menerimanya?"
Kai membuka mulutnya lebar. Dia tidak mempercayai pendengarannya. "Benarkah, Tuan?"
Otis mengangguk. "Sudah kubilang, anggap saja ini hadiah untukmu, Anak Muda,"
Kai tersenyum lebar dan memeluk tangan pria paruh baya berkepala setengah botak itu. "Terima kasih, Tuan Rivers,"
__ADS_1
...----------------...