
Suara bel pintu apartemen mewah berbunyi. Namun, tidak ada jawaban dari si pemilik apartemen tersebut. Tak menyerah, Sang Tamu pun menekan bel pintunya kembali. Lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam.
Selagi tamu pria itu menunggu, tiba-tiba datanglah seorang gadis dengan memakai pakaian kasual dan tas tangan yang cukup besar. Gadis itu melepaskan kacamata hitamnya dan menyapa tamu yang sedari tadi berada di depan pintu apartemennya. "Halo. Loh, Tuan North,"
"Halo, Nay," balas si tamu menyeringai lebar. Berkat bantuan dari odys Rivers akhirnya Felix North berhasil mendapatkan alamat di mana Kanaya tinggal.
"Dari mana kamu mengetahui alamatku? Apakah ayahku yang memberikannya kepadamu? Wah, kalau begitu Ayah pilih kasih sekali! Masuklah!" protes Nay dan mempersilahkan Felix untuk masuk.
Felix pun melangkahkan kakinya dengan ringan dan sampai tersenyum dia masuk ke dalam. "Tuan Rivers menyukaiku karena dia tahu kita akan segera menikah, bukan?"
Nay mendengus. "Tidak usah bermimpi! Aku sudah bilang pada ayahku kalau aku tidak mau menikah karena umurku masih muda Maka itu aku memilih kuliah dibandingkan menikah denganmu. Itulah alasanku Kenapa kok bisa sampai berada di negara ini,"
"Karena kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Felix terkejut.
"Yep," jawab Nay santai. Gadis itu masuk dalam kamarnya dan berganti pakaian. "Lalu, Apa tujuanmu ke sini? Apakah kamu kuliah juga?"
"Menyusulmu. Aku berniat untuk menemanimu di sini mungkin saja kamu akan membuka hatimu untukku. Tadinya, aku ingin mengungkapkan cintaku kepadamu tapi ternyata dari wajahmu sudah menunjukkan kesedihan yang dalam. Wajahmu berbeda, Nay. Saat pertama kali kita bertemu, jujur saja aku langsung jatuh cinta kepadamu karena kedua matamu yang berbinar-binar dan wajahmu yang ceria, tapi begitu aku melihatmu hari ini aku rasa terjadi sesuatu yang besar dalam hidupmu," jawab Felix berterus-terang.
Kanaya mengambilkan minuman dingin untuk Felix dan untuk dirinya sendiri. "Aku tidak punya apa-apa, minumlah. Di mana kamu tinggal?"
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Nay," sahut Felix lagi. Perubahan Kanaya yang cepat wajar saja membuat Felix bertanya-tanya. Dia tahu kalau dia tidak pantas untuk mencampuri urusan hidup gadis yang sedang duduk di sofa dan asik dengan ponselnya itu.
"Secret makes woman be a woman, rahasia membuat wanita menjadi seorang wanita. Aku tidak akan memberitahukan kepadamu apa yang terjadi denganku karena kesedihanku tidak untuk diumbar-umbar kepada siapapun cukup aku saja mengetahui apa yang terjadi denganku. Entah itu pahit atau manis aku harus tetap menghadapinya sendiri," jawab Kanaya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap tajam ke arah Felix.
Tentu saja, ini membuat Felix salah tingkah. "Jangan menatapku seperti itu! Aku menyukai kedua matamu dan warnanya yang cantik,"
"Ya, aku tau kalau aku cantik," jawab Nay singkat. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Felix pun terpaksa mengurungkan niatnya. Dia tidak tau apa yang terjadi kepada gadis itu. Akan tetapi, Felix sangat penasaran apa yang merubah Kanaya sampai bisa berubah sedrastis ini.
"Tujuanku kesini memang ingin melamarmu, Nay. Tapi ternyata itu tidak memungkinkan. Jadi aku merubah rencanaku dan akan mengajakmu untuk bersenang-senang! Deal?" tanya Felix.
Kanaya menggelengkan kepalanya. "Nope. Aku sudah lelah seharian kuliah. Belum lagi tugasku menumpuk. Aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk hal-hal yang tidak berguna seperti itu." Setelah berkata demikian, Nay beranjak dari sofa nyamannya. "Pergilah, North! Aku lelah!" sahutnya sambil melengos pergi.
Felix mengeratkan giginya dan kemudian dia mengisi paru-parunya dengan oksigen setelah itu dia hembuskan panjang. "Ck! Sial!"
Bukan Felix North namanya kalau dia menyerah. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Felix sudah menunggu Nay di depan pintu apartemennya kembali. Dengan menggunakan jaket tebal bertudung dan dipenuhi oleh bulu-bulu lembut, Felix sudah siap menyambut Nay hari itu.
Nay keluar dari apartemennya dengan memakai jaket yang hampir sama dengan Felix. Seolah Felix kasat mata, Nay segera berjalan memasuki lorong apartemen tanpa mempedulikan Felix yang mempercepat langkah di sampingnya.
"Gutten morgen, Kanaya," sapa Felix.
Kanaya terdiam dan tidak menggubris pria itu sama sekali. Felix pun kembali menyapa, "Nay, selamat pagi. Aku antar ke kampus yah? Jauh tidak dari apartemenmu?"
Nay memandangnya dan melepas airpods yang sedari tadi menutup telinganya. "Apa sih?"
Felix tertawa dan mengambil airpods mungil tersebut dari tangan Kanaya. "Hahahaha! Aku pikir kamu mengacuhkanku ternyata, .... Hahahaha! Aku sudah salah paham terhadapmu, Nay."
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Nay galak dan melangkah kembali.
Felix mengambil pergelangan tangan gadis itu dan menariknya. "Aku akan mengantarmu! Aku tidak menerima penolakan darimu!"
"Hei! Hei! Apa-apaan ini! North, kamu kurang ajar! Lepaskan!" Kali ini, Felix tidak mempedulikan teriakan Kanaya. Dia semakin mempercepat langkahnya dan memasukan Nay ke dalam mobil.
Nay masih memukul-mukul pintu serta kaca jendela mobil Felix. "Buka! Keluarkan aku! Felix!"
__ADS_1
"Akhirnya kamu menyebut namaku, Nay. Ah, senangnya. Hahahaha!" Felix masih puas tertawa sampai Nay tertegun melihat pria itu tertawa terbahak-bahak seperti itu. Dia tidak pernah melihat Felix tertawa sebelumnya. Selama ini, mereka selalu membicarakan sesuatu yang serius tentang pekerjaan atau bisnis yang akan mereka kembangkan masing-masing.
Kanaya sendiri masih bingung, kenapa Felix bisa mengajaknya menikah dan bahkan menyusul sampai sejauh ini.
Selagi memikirkan hal itu, dia teringat dengan Luke. Di mana pamannya itu sekarang? Apakah Luke masih memikirkan dirinya sama seperti dia memikirkan pria itu? Apakah Luke sudah mencintai bibi Alma dan melupakannya? Karena Luke sama sekali tidak berusaha untuk menghubungi Nay.
"Kampusku tidak jauh dari sini, biasanya aku berjalan kaki dan membeli roti isi di sana serta sekotak susu atau kopi untuk sarapan. Setelah itu, aku akan melanjutkan sisa jam kuliahku dari rumah karena Papa memintaku untuk tetap memantau perusahaan," jawab Nay pasrah.
Felix memberikan hormat kepada Nay. "Siap, Nona! Siap, laksanakan! Hari ini saya akan menjadi supir pribadi, Nona dan akan mengantar ke manapun Anda ingin pergi!" Pria berperawakan tinggi dan tampan itu kemudian melajukan kendaraan sportnya menuju penjual roti isi yang tadi ditunjuk oleh Nay.
Selagi Kanaya dan Felix menikmati pagi yang indah di negara bersalju itu, Kai sedang sibuk mengurus pekerjaan Otis sambil sesekali membalas pesan Kanaya yang menceritakan tentang Felix.
"Tuan, kenapa Anda mengizinkan Felix North menyusul Gadisku di sana? Tapi Anda tidak mengizinkanku untuk menemui Nay!" protes Kai kesal.
Otis yang sedang membaca laporan tentang perubahan saham pun mendongakan kepalanya untuk melihat Kai lebih jelas. "Tujuanmu datang kesini untuk menemaniku, kan? Bukan untuk menjumpai Kanaya, hahaha. Aku belum bisa menyerahkan putriku kepadamu, Fletcher. Aku belum rela,"
"Kenapa? Apa yang salah denganku?" tanya Kai kepada Otis.
"Kamu pria yang cerdas dan bertanggung jawab. Tapi sayangnya, kamu terlalu mencintai Kanaya dan akan melakukan apa pun untuknya. Nay sudah tau titik lemahmu. Kuakui, hingga saat ini hanya Luke yang sanggup menaklukkan Kanaya," sahut Otis pahit. Diam-diam di dalam hatinya dia memuji kemampuan Luke hanya saja, hubungan di antara mereka salah.
Kai sudah bersiap memprotes Otis kembali, akan tetapi Otis sudah membuka mulutnya lebih dulu dan memberikan telapak tangannya kepada Kai. "Felix mengaku mencintai Kanaya dan pria itu memiliki sisi egois dan keras. Aku berharap, Felix bisa membuka hati Kanaya dan mengalihkan perhatiannya dari Luke,"
"Apa Anda sama sekali tidak memperhitungkanku?" tanya Kai.
"Aku memperhitungkanmu, Fletcher. Aku sudah membunyikan peluit untuk memulai, mulailah! Aku memang melarangmu tapi aku berharap kamu tidak menyerah dan tetap berusaha memenangkan hati anakku," jawab Otis bijak.
Kai mengepalkan kedua tangannya. Dia sudah mendapatkan jalan dari Otis, tinggal bagaimana cara dia untuk meyakinkan pria tua dan anaknya yang keras kepala itu untuk dapat menerima cinta dan kesungguhannya.
__ADS_1
...----------------...