
"Honey, tadi malam saat aku menjemputmu, kenapa kamu memanggil Nay?" tanya Alma keesokan paginya. Semalaman wanita itu tidak dapat tidur dengan nyenyak karena berpikir Ada apa antara suami dengan keponakannya tersebut?
Luke tampak gelagapan saat menjawab pertanyaan Alma. "Ah, eh, oh itu. Emmm, aku hanya sedang kesal kepada keponakanmu itu karena dia selalu menuntutku untuk kerja, kerja dan kerja. Aku belum bisa mengimbangi kerja cepatnya,"
Kerutan berpikir di kening Alma masih tampak sangat jelas. Apakah mungkin hanya karena alasan pekerjaan sampai nama Kanaya tercetus begitu saja dari mulut suaminya?
Namun, segala pikiran buruknya itu dia buang jauh-jauh. Tidak mungkin juga ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua mengingat hubungan keduanya adalah paman dan keponakan.
"Apa aku harus bicara kepada Kak Otis supaya kamu dipindahkan ke divisi yang lain sehingga pekerjaanmu lebih santai sedikit?" usul Alma. Wanita itu ingin Luke kembali ke Luke yang dia kenal. Ataukah mungkin, dia membeli kucing dalam karung? Sekali lagi pikiran seperti itu dia buang jauh-jauh, dia tidak mau pernikahannya hancur berantakan hanya karena prasangka buruknya.
Luke menggelengkan kepalanya. Pria itu bersikeras ingin berada satu divisi dengan Kanaya. "Pendapatan di divisiku jauh lebih besar dibanding divisi yang lain karena divisiku berada di bawah pimpinan Kanaya langsung. Itulah sebabnya aku bisa dengan mudah mengajukan kenaikan pendapatan atau bonus lainnya,"
Alma berusaha memahami suaminya itu. "Baiklah kalau memang itu maumu, Honey. Hanya saja aku tidak ingin kamu berubah. Beban pekerjaanmu berat dan kamu marah-marah sepanjang hari bahkan hanya karena hal sepele, kamu bisa meledak," protes Alma.
Mendengar keluhan istrinya, Luke memeluk wanita yang tampak ingin menangis itu dan berusaha menenangkannya. "I'm so sorry, Honey. I don't mean it. Aku berjanji aku tidak akan marah lagi kepadamu. Aku akan meninggalkan urusan kantorku di kantor dan hanya membawa cinta untukmu saat aku kembali ke rumah. Bagaimana?"
"Benarkah? Kamu bisa melakukan itu?" tanya Alma, kini butiran bening dari pelupuk matanya jatuh membasahi pipinya. Segala kecemasan, kegelisahan, dia masukan ke dalam butiran bening yang menetes itu.
Luke mengangguk perlahan kemudian laki-laki berparas tampan itu mengecup bibir istrinya dengan lembut. "I promise, Honey,"
Ketika Luke berjanji kepada Alma, dia ucapkan janji itu dengan sungguh-sungguh. Dia tidak ingin mengingkari janjinya itu.
Namun, janji tinggallah janji. Saat istirahat siang tiba, pria itu kembali melihat Kai Fletcher masuk ke dalam ruangan Nay. Amarahnya dengan cepat menggelegak seperti tersulut api.
"Nona Rivers, bisa temui aku sebentar? Sekarang!" titah Luke.
__ADS_1
Nay mengangkat wajahnya dan menatap wajah paman Luke yang terlihat serius. "Baik, Tuan Wallace. Saya segera ke sana,"
Ruangan Nay dan Luke hanya dipisahkan oleh satu pintu geser, sehingga gadis muda itu tidak perlu memutar terlalu jauh untuk menemui pamannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Wallace?" tanya Nay dengan anggun.
Melihat keponakannya dari dekat membuat Luke gugup, dia meneguk salivanya, membenarkan dasinya dan berdeham. "Ehem. Maafkan saya karena mengganggu kesibukan Anda dengan kawan Anda. Tapi, apakah Anda tidak malu membawa seorang pria masuk ke dalam ruangan Anda dan mengajaknya berpacaran di sini?"
Gadis yang siang itu memakai jumpsuit panjang dengan lengan berenda pun menggelengkan kepalanya. "Sebelum Anda bekerja di sini, para karyawanku sudah mengenal baik siapa itu Kai Fletcher. Mungkin Anda bisa mencari tau tentang Kai Fletcher sebelum Anda menilainya,"
"Ada apa denganmu, Nay? Sikapmu berubah kepadaku dan bahkan kamu menghindariku," tanya Luke, dia meninggalkan bahasa formalnya.
"Paman yang memintaku untuk menjauh dan aku telah mengabulkan keinginan Paman," jawab Nay santai.
"Apa ayahmu tau tentang Kai?" Luke berniat menyudutkan keponakannya itu.
"Ini bukan tentang cemburu atau apa-apa, Nay. Aku hanya mengingatkanmu untuk tidak membuat malu keluarga besarmu. Ingatlah Nay, kamu seorang pimpinan dari sebuah perusahaan raksasa Rivers Group. Jaga tingkah lakumu!" tukas Luke menatap tajam ke arah keponakannya tersebut.
"Aku tau, Tuan Wallace. Terima kasih telah mengingatkan dan selamat menikmati istirahat siang Anda. Permisi, Tuan Wallace," sinis Nay kemudian dia melengos pergi begitu saja dengan gaya anggun.
Selepas kepergian Kanaya, Luke mencari tau tentang Kai Fletcher. Dalam waktu beberapa menit, dia sudah menemukan nama Kai Fletcher.
"I got you, Mr. Fletcher," sahut Luke mendengus senang sambil menjentikkan jarinya ke layar laptop.
Dengan senyum kemenangan, Luke membawa dokumen berisi data pribadi Kai Fletcher untuk dia serahkan kepada Otis, ayah Nay.
__ADS_1
"Apa Kak Otis tau pria yang bernama Kai Fletcher?" tanya Luke saat dia sudah bersama Otis.
Otis berusaha mengingat-ingat. "Kai Fletcher, hmmmm. Kanaya pernah bercerita tentang Kai ini satu atau dua kali kepadaku. Ada apa dengan Kai kita ini?"
"Akhir-akhir ini Kai sering mendatangi Nay di kantor. Aku hanya takut dengan asumsi orang-orang saja, Kak." jawab Luke.
"Hmmm, Nay itu hampir tidak pernah mengenalkan seorang pria kepadaku. Aku berpikir mungkin usianya yang masih sangat muda sehingga dia masih senang bermain. Tapi, kalau dia sudah memiliki seseorang, aku tidak mempermasalahkan itu, Luke. Aku percaya putriku seorang gadis baik, pintar dan bisa menjaga dirinya sendiri. Dia tidak akan datang dan menyerahkan sesuatunya yang berharga kepada pria," kata Otis tersenyum. Betapa bangganya pria tua itu kepada putri semata wayangnya.
Luke memberikan dokumen berisi data pribadi Kai kepada Otis. "Kakak pasti terkejut setelah mengetahui siapa itu Kai Fletcher,"
Otis kembali mengerutkan keningnya. "Setauku dia pemimpin D'icon Group. Sepertinya itu perusahaan yang baru dirintis. Aku akan memberikan dukungan kepada pria-pria perintis seperti itu, Luke. Jangan khawatir, hahahaha!"
"D'icon Group?" tanya Luke lagi.
Otis mengangguk. Dia meminta asistennya untuk memberitahukan profil D'icon Group. "Nah, lihat ini. Itu pria yang bernama Kai Fletcher, 'kan? Nay pernah mengenalkan kepadaku saat pernikahanmu dengan Alma,"
Kali ini, Luke yang dibuat bingung. Apa yang dia dapatkan berbeda dengan apa yang kakak iparnya itu dapatkan. Apa yang terjadi? Siapa sesungguhnya Kai Fletcher ini?
"Coba Kakak baca dulu dokumen yang aku bawakan ini? Apa yang kutemukan berbeda dengan yang Kakak temukan," kata Luke lagi.
Otis membuka dokumen yang dimasukan ke dalam amplop cokelat itu dan membaca isinya.
"Tidak mungkin! Aku melarang Nay untuk menjalin hubungan dengan seorang karyawan biasa! Mau dikasih makan apa nanti anakku?" tanya Otis sambil terus membaca profil Kai Fletcher.
Setelah selesai membaca dokumen itu, wajah Otis menjadi kemerahan. "Hubungi North Group. Aku akan mengatur pertunangan antara putranya dengan Nay! Luke, terima kasih untuk informasi yang berharga ini. Untunglah kamu memberitahuku tentang Kai, kalau tidak, aku akan menikahkan mereka dan menemukan Nay sedang mengemis di jalanan demi sesuap nasi,"
__ADS_1
Luke tersenyum senang. Entah apa yang membuatnya senang tetapi paling tidak, dia berhasil menyingkirkan Kai dari hidup Kanaya Rivers.
...----------------...