
Hubungan Luke dengan Kanaya menjadi semakin dekat semenjak pria yang menjadi pamannya itu mengungkapkan cinta kepadanya.
Mereka berdua sering menghabiskan waktu di apartemen milik Nay jika dia sedang bosan pulang ke rumah. Seperti malam itu, setelah pulang kantor, Luke menghubungi Alma, istrinya untuk mengatakan kalau dia tidak dapat pulang malam itu.
"Eh, lagi? Kenapa sih, Hon, kerjaan kamu banyak sekali? Selama seminggu ini kamu hanya pulang dua kali, itupun seperti mampir saja. Kamu pulang, tidur, dan pagi-pagi sekali kamu sudah jalan. Memangnya kamu tidak merindukanku?" tanya Alma saat itu. Wajar saja jika wanita itu protes karena memang akhir-akhir ini suaminya jarang sekali pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan atau meeting.
Luke meneruskan percakapannya sambil berjalan. Dia bergegas menyusul Nay yang sudah menunggunya di dalam mobil. "Aku juga maunya di rumah sama kamu, Sayang. Tapi 'kan, aku tidak bisa meninggalkan pekerjanku begitu saja,"
Dari seberang terdengar suara istrinya yang merajuk. "Apa Kak Otis tau kalau Kanaya selalu membebankanmu pekerja yang berat? Jangankan bulan madu, kita bahkan tidak punya waktu khusus untuk kita habiskan bersama. Perlukah aku berbicara kepada Kak Otis untuk memberimu cuti satu bulan? Atau semingguanlah,"
Luke tertawa dan mengecup bibir Kanaya dengan lembut. "Tidak bisa seperti itu, Alma Sayang. Kak Otis sudah tau apa saja pekerjaanku. Aku berjanji pekan depan akan meluangkan waktu untukmu, kita bisa bersama-sama di hari itu," lanjut Luke berbicara pada ponselnya.
"Benarkah? Kamu harus berjanji kepadaku, Sayang!" tegas Alma.
Bibir Nay mulai menciumi wajah pamannya dengan mesra dan itu membuat Luke kehilangan fokusnya. "Sayang, sudah dulu yah. Aku harus menyetir mobil untuk ke tempat meeting. I love you, Honey,"
Sejurus kemudian, Luke mengakhiri panggilan teleponnya tanpa menunggu balasan sayang dari istrinya itu dan dengan penuh gairah, dia meraup bibir merona yang sedari tadi membangkitkan hasrat kelaki-lakiannya "Kamu selalu mengangguku, Gadis Nakal!"
"I love you too, Paman," bisik Nay manja dan membalas pagutan panas dari pamannya itu. Kedua insan itu pun menggila di dalam mobil. Beruntunglah karena saat itu hampir seluruh karyawan kantor sudah pulang. Mungkin ada beberapa office boy yang melihat mobil bergoyang fi parkiran VIP, tetapi mereka tidak akan berani mengusik atau melaporkan para VIP itu.
Tak hanya Alma yang memprotes waktunya, Otis, ayah Nay juga memperhatikan jam pulang putrinya tersebut.
"Kanaya, apa kamu marah kepada Papa?" tanya Otis suatu hari.
Nay menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku marah kepada Papa?"
"Soal pertunangan itu. Aku tidak akan mencabut rencana pertunanganmu, Nay. Apalagi akhir-akhir kamu jarang pulang dan tidak memberitahukan kepadaku kemana kamu pergi," protes Otis sambil menatap putrinya yang sedang asik bermain game.
__ADS_1
Gadis itu menghentikan permainannya dan memberikan fokusnya kepada Otis. "Aku sedang ingin sendiri, Pa. Aku tidak marah ataupun merajuk."
Otis menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Pekan depan, temui Felix North di sebuah restoran yang sudah aku pesan secara pribadi,"
"Ya, Pa," jawab Nay pendek. Pewaris tunggal Rivers Group itu tidak mau membuat ayahnya curiga maka dari itu, dia terpaksa menerima jadwal kencan yang sudah diatur oleh Otis. Toh di hari yang sama Paman Luke kesayangannya juga akan menghabiskan waktu bersama Bibi Alma.
Keesokan harinya, Nay menunggu Luke di apartemennya. Kebetulan hari itu adalah akhir pekan, sehingga mereka mempunyai banyak waktu kosong.
Tak lama, suara bel pintu apartemen Nay berbunyi. Nay segera berlari untuk menyambut pujaan hatinya itu. Dengan membawa sebuket bunga, Luke menerima pelukan dari Nay.
Nay segera melingkarkan kedua tungkainya di pinggang Luke dan mencumbu pamannya itu tanpa henti. Buket bunga indah, dia lemparkan begitu saja ke sembarang arah.
"Kamu lama sekali, Paman. Apakah sulit mendapatkan izin dari Bibi?" tanya Nay sambil terus menciumi pamannya itu.
Luke mengangguk, dengan kedua tangannya yang kekar, pria itu menopang tubuh mungil Nay supaya tidak terjatuh. "Aku butuh alasan, 'kan? Kalau alasanku tidak jelas, aku tidak akan diizinkan menemui gadis kecilku ini,"
Tak hanya kecupan dan pagutan, jari-jari Luke dengan lancarnya menemukan kedua bongkahan padat nan indah yang tampak menyembul dari pakaian minim keponakannya itu.
Dengan rakus, Luke menikmati kedua bukit memukau itu dan membuat Nay yang berada di pangkuannya mendessah hebat. "Oh, Paman,"
"Siapa yang menyuruhmu untuk menggoda Pamanmu ini, Nay? Sekarang waktunya aku untuk menghukum keponakanku yang tidak sopan ini," sahut Paman Luke. Hanya dengan satu tangan, dia berhasil melucuti semua pakaian yang menempel di tubuh Nay hingga tak menyisakan satu helai benang pun di tubuh gadis itu.
***
"Paman, bolehkah aku minta satu hal kepadamu?" tanya Nay setelah mereka selesai melakukan pelepasan yang memuaskan.
Luke menangkap jari Nay yang menari-nari di sekitar dadanya yang bidang dan mengecupnya. "Bukankah kamu sudah memiliki segalanya? Apa yang mau kamu minta?"
__ADS_1
Nay menggelengkan kepalanya. "Aku belum memiliki segalanya, aku belum memiliki Paman seutuhnya," ucap Nay. Gadis itu beranjak dari sisi Luke dan duduk di atas tubuh Luke yang hanya ditutupi oleh selimut tebal.
Dengan sigap gadis itu menyingkirkan selimut yang menutupi benda pusaka milik pamannya dan duduk di atasnya. Nay mulai bergerak lagi perlahan tanpa meninggalkan fokusnya kepada Luke.
"Anak Nakal! Apa maksudmu dengan belum memilikiku seutuhnya? Kamu telah mengambil semuanya dariku, Nay," tak tahan dengan gerakan yang diberikan oleh Nay, Luke menahan kedua lutut Nay untuk berhenti bergerak.
Namun Nay menghempaskan tangan Paman Luke dan balas menahan tangan kekar itu. "Paman masih milik Bibi Alma bukan milikku. Aku mau Paman menjadi milikku,"
Luke mengangkat gadis itu dan melahap bibir kecil yang sedari tadi sibuk mengoceh dan membaringkannya di atas ranjang. "Nay, kamu benar-benar membuatku pusing! Aku sudah menjadi milikmu seutuhnya, Kanaya. Apakah aku harus memberikan nyawaku juga untukmu?"
Bibir Luke kini mulai turun dan mengecup kuat leher Nay sehingga nampaklah tanda merah di leher gadis itu. Ciuman Luke semakin menurun, sampai di kedua gunung kembar yang tampak menjulang dan menantang itu.
Nay melenguh dengan suara yang sensual dan membuat Luke semakin semangat bermain ke bukit kembarnya. "Oh, Paman! Aahh, maksudku adalah, ...."
Luke kembali ke atas dan melahap bibir keponakannya itu. "Apa maksudmu, Nay? Katakan dengan jelas atau aku akan kembali menghukummu!"
Senyum menggoda terpatri dengan jelas di wajah cantik Nay. "Hukumlah aku, Paman. Hukum aku sepuasmu!"
Pria kekar dan sekssi itu, benar-benar tidak memberikan kesempatan Nay untuk bernapas dengan baik. Lagi-lagi dia bermain di lembah milik Nay yang sudah sangat basah akibat kecupan tanpa henti darinya.
Nay menarik kepala pamannya dari lembah itu dan mencumbunya dengan lembut. "Dengarkan aku, Paman. Aku mau Paman menceraikan Bibi Alma dan kita menikah. Kita bisa menikah di luar negri dan mengganti identitas kita. Bagaimana?"
Permintaan Nay itu membuat Luke terkesima. "Cerai? Aku menceraikan Alma? Itukah yang kamu mau?"
Nay mengangguk dengan cepat. "Ya, Paman. Ceraikanlah Bibi Alma dan kita bebas melakukan apa pun yang kita mau."
...----------------...
__ADS_1