
"Dia akan kesakitan setiap malam. Dia akan mual dan muntah, dan dia juga akan mengalami bad day seharian itu," jelas Kai kepada Luke saat malam itu Luke menawarkan diri untuk menjaga Nay.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Luke. Saat itu mereka sedang menunggui Nay kemoterapi.
"Tidak ada selain menghibur dan mendengarkan seluruh keluh kesahnya yang suram," jawab Kai. "Teriakannya akan luar biasa, begitu pula dengan tangisannya. Besarkan hatinya, jangan sampai dia lemah. Itu yang harus Anda lakukan, Tuan Wallace,"
Luke mengangguk-angguk, berusaha memahami ucapan Kai. Siap tidak siap, dia harus siap. Karena inilah yang akan dia hadapi jika dia tetap memilih Kanaya setelah proses perceraiannya nanti.
"Boleh aku bertanya?" tanya Kai, pria itu mengajak Luke untuk menunggu Nay di sebuah cafe yang berada di dalam rumah sakit. "Apakah Anda benar-benar tulus mencintai Nay? Walaupun saat ini kondisinya seperti ini? Maksudku, Anda tidak ada rencana, ah, maafkan aku sebelumnya. Tapi, Anda tidak akan meninggalkannya, 'kan?"
Luke mendengus. "Bodoh! Kamu bertanya atau memastikan? Aku mencintai dia, Fletcher. Apa pun yang terjadi dengannya nanti, aku akan bertahan dan tetap ada untuk Nay,"
"Apa yang Anda harapkan? Maksudku, kalau kita melihat Nyonya Wallace, Anda bisa meninggalkan dia begitu saja. Ketakutanku sama seperti ketakutan Tuan Rivers, kami takut kalau Anda hanya akan mempermainkan hati Kanaya," desak Kai. Dia belum puas dengan jawaban dari Luke.
"Aku mengharapkan kesembuhan dan kebahagiaan Nay, tentu saja. Apa maksudmu bertanya seperti itu, Fletcher?" tukas Luke tajam.
Inilah yang ditakutkan oleh Kai dari pria yang sedang menyesap kopi di hadapannya itu. Kai hanya takut Nay akan terluka mengingat Nay sangat mencintai pamannya. Namun, tidak ada yang tau apakah Luke seorang pria brengsek atau bukan?
"Ah, itu sudah selesai," kata Kai. Dengan cepat dia menghampiri ruangan kemoterapi Nay dan berbicara dengan dokter. "Bagaimana, Dok?"
"Masih sama seperti kemarin, tapi saya punya kabar baik. Sel-sel abnormal di dalam tubuhnya sudah berhenti melakukan penyebaran, itu yang harus kita pertahankan. Jangan sampai sel-sel jahat itu menyerang organ penting," jawab dokter itu.
Setelah dokter itu pergi, Kai menghampiri Kanaya yang tampak semakin lemah. "Howdy, girl?"
Nay tersenyum. "What do you see?"
"You look great, as always, Nay," jawab Kai sambil menggenggam tangan kecil Nay dan menautkan jari-jarinya disana.
Nay mendengus. "Huh! Liar! Apa pamanku masih di sini?"
__ADS_1
Kai menganggukan kepalanya dan menunjuk kepada seorang pria yang membawa boneka figur superhero wanita besar yang baru saja melewati pintu. ,"He insist. Jadi malam ini, aku bisa meninggalkanmu berdua dengan pamanmu. Is that oke?"
"Hai, Nay. Bagaimana kabarmu?" tanya Luke, dia memberikan boneka itu kepada Nay. "Kamu adalah dia, Nay. Kuat, cantik, dan tidak mudah menyerah,"
Nay tersenyum lemah. "Terima kasih, Paman," ucap gadis itu. "Kai, kapan aku bisa pulang? Aku rindu ayahku,"
"Nanti akan aku tanyakan kepada dokter. Kalau menurutku lebih baik, kamu jujur pada ayahmu, Nay." usul Kai sambil membantu Nay berpindah ke kursi roda.
Luke mengambil alih kursi roda itu dan mendorongnya. "Aku saja, Fletcher,"
Mereka berdua akhirnya bekerja sama mendorong Nay di kursi rodanya.
"Belum saatnya, Kai. Sudah kukatakan nanti ayahku akan shock. Kalau aku boleh pulang, aku akan ke salon untuk membeli rambut palsu, aku akan berdandan, dan aku akan membeli pakaian baru, supaya aku terlihat baik-baik saja di depan ayahku," jawab Nay.
Sambil mengobrol, Kai membawa Nay berjalan-jalan di taman rumah sakit sambil menyuapi Nay sepotong roti lapis dan susu almond. Hanya dengan cara inilah, Nay sanggup menelan makanannya.
"Kak," sapa Alma setelah sebelumnya dia mengetuk pintu kamar Nay.
"Alma, masuklah," balas Otis. Pria tua itu pun beranjak dari ranjang Nay dan duduk di sofa pink cerah yang ada di dalam kamar tersebut. "Ada apa?"
Alma tampak sungkan bercerita setelah melihat kondisi kakaknya yang memprihatinkan. "Apa kabar Kanaya?"
Otis menggeleng lemah. "Aku tidak tau. Fletcherlah yang selalu mengabariku soal Kanaya dan dia selalu berkata kalau Nay baik-baik saja. Dia mengirimkanku beberapa foto Nay, tapi entah mengapa hatiku tak nyaman sebelum aku bertemu dengan Nay secara langsung," suara Otis tercekat, matanya memandang ke arah luar jendela.
Alma merasa tidak enak hati karena dia baru saja bertemu dengan keponakannya dan kondisi Nay saat itu memang tampak tidak baik-baik saja. "Semoga Nay baik-baik saja, Kak. Aku selalu berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaannya,"
Air mata Otis tak dapat terbendung lagi, dia menangis sesenggukan. "Anakku,"
Setelah puas menangis, Otis mengajak Alma untuk melanjutkan pembicaraan mereka di ruang keluarga. "Ada apa kamu ke sini? Di mana Chloe?"
__ADS_1
"Chloe sedang bersama Nanynya karena aku takut aku pergi terlalu lama," jawab Alma. Dia tidak tau bagaimana harus memulai cerita yang akan dia ceritakan ini.
"Jangan terlalu lama meninggalkan anakmu. Sering-seringlah menghabiskan waktu dengannya sebelum kamu menyesal seperti aku sekarang. Aku baru menyadari, waktu yang telah kuberikan ternyata tak banyak untuk Nay. Aku dulu terlalu sibuk dengan urusanku sampai tiba-tiba saja Nay sudah sebesar ini," kata Otis dengan tatapan menerawang. "Sejujurnya, aku lega saat Nay batal menikah, artinya aku masih memiliki kesenangan untuk menghabiskan waktu dengannya. Tapi saat ini, dia asik dengan hidupnya sendir,"
Alma menghela napasnya. "Bagaimana pun Nay sudah dewasa, Kak. Kakak tidak bisa mengaturnya lagi. Apalagi soal cinta,"
Seakan disadarkan oleh sesuatu, Otis kembali menatap adiknya. "Aku tau. Dia memilih cinta yang salah. Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Luke? Tidak bisakah mediasi dulu?"
"Aku akan menerima gugatan cerai itu, Kak. Kalau memang ini jalan yanh terbaik untuk kami, apa boleh buat, 'kan?" jawab Alma. Setelah dia memikirkan matang-matang tentang perceraian ini, dia yakin, cerai memang jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Benar kata Luke, jika pernikahan ini terus dipaksakan, mereka hanya akan saling menyakiti.
"Sudah saatnya aku belajar mencintai diriku sendiri. Mungkin Luke dan Nay memang berjodoh," ujar Alma lagi. "Luke sangat mencintai Kanaya kita, Kak. Baru kali ini aku melihat dia begitu keras kepala untuk cintanya. Aku belum pernah melihat Luke seperti itu selama kami berpacaran dulu. Makanya aku yakin, Luke akan selalu mencintai Nay,"
Otis menghembuskan napasnya dan kembali memandang ke arah lain. "Aku belum memikirkan itu. Rasanya sampai kapan pun, aku tidak bisa mengikhlaskan hubungan mereka. Kanaya layak mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari mantan bibinya."
"Kalau mereka saling mencintai? Tidak masalah, 'kan?" tanya Alma berusaha meyakinkan.
Sesaat sebelum Otis menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Alma, ponsel wanita itu berbunyi. Sebuah pesan masuk dari pengacara yang menangani kasus cerainya.
Alma membaca pesan itu tak percaya. Dia terus mengulangi kata-kata yang tertulis di dalam pesan tersebut.
"Ada apa, Alma?" tanya Otis khawatir.
"Kak, ini tidak mungkin terjadi tapi ini terjadi!" jawab Alma.
"Apa maksudmu?" Otis bertanya kembali.
"Luke membatalkan gugatan cerainya!" jawab Alma masih tak percaya. "Sebaiknya aku menemui Luke sekarang! Akan aku kabari kepada Kakak apa yang terjadi. Sampaikan salamku pada Nay jika dia menelpon nanti,"
...----------------...
__ADS_1