
Di sebuah pantai nan indah dengan suara debur ombak yang menyapa halus tepian pantai terdapat sebuah villa megah bertuliskan Rivers : Sea Shore Cottage. Tepat di balkon atas, terdapat sepasang suami istri yang sedang menikmati keindahan pantai yang terbentang di hadapan mereka.
Namun sayangnya, wajah pasangan muda itu tak seindah pantai atau pun ombak atau bahkan kepiting kecil yang berlarian di tepi batu karang.
"Alma, maafkan aku. Aku tidak bisa," sahut si pria. Pasangan wanitanya tampak memberengutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya dari si pria. Pria itu berusaha meminta maaf dan menghibur pasangannya yang tengah merajuk itu.
"Ada apa sih, Luke? Aku benar-benar tidak paham apa yang terjadi denganmu dua bulan terakhir ini. Tujuanku menikah denganmu bukan untuk kuhabiskan dengan menangis setiap hari! Sekarang kita memiliki waktu untuk bersama tapi aku tetap merasa aku sendirian! Semenjak kita sampai di pulau ini, yang kamu lakukan hanyalah menatap ponsel bodohmu!" tukas si wanita sambil mengusap air matanya yang berlinang.
Luke terdiam. Pernikahan mereka baru berjalan 3 bulan lamanya. Akan tetapi dua bulan belakangan ini, dia menghabiskan waktunya dan mencurahkan cintanya untuk seorang wanita lain. Ada perasaan bersalah mendera pria tampan itu.
Dia sangat berharap dengan dia menuruti keinginan Otis, dia bisa melupakan gadis yang kini masih senang bertandang di hatinya itu. Tetapi bayangan memang tidak semudah kenyataan, pada akhirnya, dialah yang sangat tersiksa dengan perjalanan ini.
"Aku hanya bisa merasakan cintamu selama satu bulan pernikahan kita setelah itu, kamu entah kemana. Apakah karena wanita itu?" tuntut Alma yang masih terisak.
Luke tertunduk dan memejamkan kedua matanya sesaat. "Aku harus jujur kepadamu, Alma. Seharusnya sudah kukatakan ini dari sebulan yang lalu, tapi setiap aku memandangmu, aku tidak tega untuk mengatakan hal ini,"
Alma menutupi kedua telinganya sambil terus menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan! Jangan katakan apa pun, Luke! Aku tidak mau mendengarnya!" Wanita itu kemudian pergi dari hadapan Luke sambil menangis.
"Ini sulit sekali, Nay. Sulit sekali untuk menepati janjiku," ucap Luke bermonolog. Kemudian, pria itu masuk ke dalam untuk menyusul istrinya.
Keesokan harinya, Luke mengajak Alma untuk sarapan di restoran dekat pantai. Semalaman, Luke tidak dapat memejamkan matanya sedikit pun. Dia memikirkan bagaimana cara menepati janjinya dengan Kanaya. Di lain sisi, dia pun merasa tersiksa jika terus berlama-lama bersama Alma, istri yang sudah tidak dicintainya lagi.
__ADS_1
"Alma, ada yang harus kubicarakan denganmu," ujar Luke, mengulangi kalimat yang kemarin sempat ditolak oleh Alma. Pria itu berharap, semoga pagi ini Alma bisa lebih siap mendengarkan dan menerima apa yang akan dikatakannya.
Respon Alma tidak sehisteris kemarin, kali ini Alma mengacuhkan Luke dan berpura-pura tidak mendengarnya. Dengan segala kesabaran yang tersisa, Luke menggenggam tangan Alma. "Aku perlu bicara denganmu," katanya sekali lagi.
Lagi-lagi Alma memalingkan wajahnya. Luke tahu kalau istrinya itu sedang menyembunyikan tetes air mata yang telah menetes di pipi mulusnya.
"Alma, please. We should do this. I mean, aku tidak bisa terus memaksakan kondisi seperti ini. Aku merasa terpenjara dan tersiksa. Tolong mengertilah," pinta Luke memohon. Dia sudah tidak dapat menahannya lagi dan kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Aku rasa kamu sudah mengetahui apa jawabanku atas pertanyaanmu," balas Alma dingin.
Luke menenggak habis bir kalengnya dan meremmas kaleng yang kini kosong itu. "Kamu sudah tau apa yang akan aku bicarakan?"
Kini semua orang yang ada di restoran pagi itu, memandang ke arah Alma yang sedang menangis histeris. Luke tidak berusaha menenangkan istrinya yang sedang tersedu-sedu tersebut. Dia memejamkan matanya sesaat dan menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Maafkan aku, Alma. Tapi aku mencintai gadis itu. Selama dua bulan ini, aku berhubungan dengannya dan hubungan kami semakin dekat sebelum akhirnya, Kak Otis mengetahuinya," tutur Luke. Tidak ada perasaan bersalah sama sekali di wajahnya.
Alma mengerutkan keningnya. "Kak Otis tahu siapa wanita itu?"
Luke mengangguk perlahan. Alma menggeliat tak nyaman. Wanita itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan berharap apa yang dipikirkannya saat ini salah.
Anggukan Luke menjadi jawaban pasti untuk Alma. Wanita itu mendengus. "Lalu, bagaimana denganku? Apakah aku mengenal gadis itu? Please, don't tell me who she is, Luke! Please, don't!"
__ADS_1
"Ya, Alma. Dugaanmu benar. Kanaya. Gadis di dalam foto itu adalah Kanaya. Saat Kak Otis memanggilku, dia memintaku untuk pergi bersamamu dan dia berharap semoga aku dan Kanaya dapat saling melupakan." jawab Luke. Ada seperti terasa sakit saat dia menyebut nama Kanaya. Dia merindukan gadis itu, Tidak ada yang lebih diinginkannya di dunia ini selain mendengar suara Kanaya. "Kami saling mencintai dan kami tahu hubungan kami merupakan suatu kesalahan dan kotis pun tahu cepat atau lambat jika dunia mengetahui hubungan kami maka itu akan menjadi aib bagi keluargamu terutama untuk Kanaya yang sudah menyandang sebagai pemimpin Rivers Group,"
Alma tersenyum pahit. "Luke, apa yang merasukimu? Mungkin aku tidak akan menyalahkan keponakanku karena menurutku dia masih terlalu kecil untuk disalahkan. Kamu seharusnya membimbing dia supaya dia tidak salah dalam melangkah bukan malah mengajaknya untuk menjebloskan diri bersama ke dalam neraka!"
Luke tertunduk. Dia sudah memiliki firasat jika Alma akan membela Kanaya dan akan berpihak kepadanya. Akan tetapi, dia sudah siap dan berbesar hati untuk menerimanya.
"Kalau kamu sudah mengetahui alasanku bersikap dingin kepadamu karena aku mencintai wanita lain selain dirimu. Aku ingin kita berpisah sampai di sini," ucap Luke parau. Semua emosi bergabung menjadi satu di dalam hati Luke dan dia tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan emosi-emosi tersebut dan mana yang harus didahulukan untuk segera keluar.
"Aku mencintaimu dan aku tidak ingin berpisah darimu! Apa pun yang terjadi aku ingin selalu bersamamu. Lupakanlah Kanaya dan lihatlah aku!" sahut Alma bersikeras mempertahankan rumah tangganya.
Namun betapa terkejutnya Alma saat dia melihat suaminya itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa terus memaksakan ini karena aku tidak bisa memaksa diriku untuk mencintaimu. Kanaya sudah mengambil separuh jiwa dan hidupku,"
Bak tertampar keras, Alma mengibas-ngibaskan kedua tangannya untuk mengambil oksigen lebih banyak supaya dia tetap sadar. "Aku butuh jeda untuk mengerti, Luke. Aku membutuhkan keheningan untuk merenungkan segalanya sebelum aku kembali melaju. Setelah itu, aku akan menentukan keputusan tentang bagaimana hubungan kita selanjutnya,"
Alma pun beranjak dari kursinya dan meninggalkan makanan yang sama sekali belum tersentuh.
Ketika sore hari tiba, Alma menemui Luke yang sedang duduk di tepi pantai sambil menanti matahari terbenam di ufuk barat. Wanita itu duduk di samping look dan menyadarkan kepalanya di bahu kekar milik suaminya tersebut.
"Aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak ingin bercerai darimu. Jika kamu tidak bisa melakukannya denganku maka aku akan mengadopsi seorang anak untuk aku urus atau aku akan membeli sel telur dan menanamnya di rahimku. Aku ingin kamu tetap menjadi milikku, Luke," sahut Alma tegas.
...----------------...
__ADS_1