Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Janji


__ADS_3

"Alma, ada yang harus kukerjakan di kantor, bisakah aku pergi hari ini kesana? Besok sampai sebulan ke depan, aku tidak dapat mengawasi anak buahku. Kupikir hari ini aku akan mengalihkan tugas-tugasku kepada asisten dan beberapa orang kepercayaanku," tanya Luke sehari sebelum keberangkatan bulan madu mereka.


Alma tampak murung. Dia takut kalau Luke akan berbelok entah kemana. Semenjak dia tidak sengaja mendengar percakapan antara Otis, Nay, dan suaminya, hati kecilnya berkata kalau Otis menyembunyikan sesuatu darinya dan wanita itu menganggap ini ada hubungannya dengan Luke dan Kanaya.


Ditambah lagi, dia teringat suaminya kepergok sedang berada di sebuah apartemen bersama seorang wanita muda.


Dengan manja, Alma menggelendot di lengan Luke. "Tidak bisakah kamu mengerjakannya dari rumah?"


Luke mengecup kening Alma dengan enggan. "Tidak bisa, Alma. Aku harus ke kantor hari ini. Kakakmu juga sudah tahu kalau ada sesuatu yang harus kurus sebelum aku berlibur satu bulan lamanya,"


Alma melepaskan genggamannya. "Baiklah kalau begitu, Sayang. Semoga tidak lama, yah,"


"Aku tidak tahu ini akan lama atau tidak, tapi selama sebulan ke depan kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama tanpa dia mengganggu kita. Aku hanya meminta izin mu satu hari ini untuk mengurus seluruh pekerjaanku dan beberapa urusan pribadiku," sahut Luke dingin.


Alma bisa merasakan kalau hati suaminya sudah tidak ada lagi untuknya. Wanita itu takut, kalau Luke akan menemui Kanaya atau wanita muda yang saat itu bersama dengannya.


Akal sehatnya kembali mengambil alih dan berhasil memenangkan pikirannya. "Ya sudah. Mungkin aku akan menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan bersama temanku. Mungkin kalau aku pulang sore, kamu bisa menjemputku atau aku akan ke kantormu,"


Lagi-lagi Luke tersenyum tetapi kali ini dia menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Sayang. Kalau kamu sudah selesai lebih dulu kamu bisa langsung pulang ke sini. Sebulan ke depan kita akan banyak jalan dan aku takut kamu kelelahan sehingga kamu sakit nantinya,"


Dengan memikirkan alasan dari suaminya tersebut, Alma pun mengalah dan mengangguk. "Ya, kamu benar, Sayang. Aku harus menjaga staminaku untuk satu bulan kedepan supaya aku bisa bersenang-senang denganmu dan menikmati waktu bulan madu kita,"


"Aku jalan dulu, kabari aku jika terjadi sesuatu. Oke, Sayang," ucap Luke berpamitan.


Firasat Alma memang benar, Luke hanya mampir ke kantornya sebentar dan itu pun hanya untuk mengalih tugaskan pekerjaannya kepada asisten pribadinya dan juga karyawan kepercayaannya.


Setelah selesai mengurus pekerjaannya, Luke menemui Otis di kediamannya. "Kak, apa kabar?"


"Hei, Luke. Masuklah. Bukankah seharusnya kau bersiap-siap? Pesawatmu akan jalan pagi-pagi sekali 'kan besok?" tanya Otis menyambut kedatangan adik iparnya itu.


Luke menganggukan kepalanya. "Ya, tapi tadi aku mampir sebentar ke kantor untuk mengalihkan tugasku kepada asisten pribadiku dan juga aku meminta izin kepada kakak untuk satu bulan ke depan,"


Otis tertawa. "Hahahaha, don't worry, Luke. Aku tidak akan mengganggumu tentang pekerjaan. Aku sudah memiliki orang kepercayaan untuk menggantikan kamu dan Kanaya selama Kanaya melanjutkan studinya di luar negeri,"


Mendengar Otis menyebutkan nama Kanaya, Luke memberikan perhatian lebih kepada pria yang sedang asyik dengan korannya itu. "Kanaya kuliah di luar negri? Di mana itu?"

__ADS_1


Otis mendengus. "Jangan pernah kau remehkan orang yang sudah tua! Kalian pikir aku bodoh? Tentu saja aku tidak akan membocorkan Ke mana kamu pergi kepada Kanaya begitu pula dengan sebaliknya. Aku tidak akan memberitahukan kepadamu kemanakan ayah akan meneruskan studinya," Otis membalik korannya dan kembali melanjutkan aktivitas membacanya. "Tujuan kalau misalkan kalian adalah supaya kalian bisa saling melupakan terlebih lagi untukmu, Luke. Fokuslah kepada Alma dan bercintalah kalian sepuasnya sampai kalian mendapatkan seorang anak,"


Luke mengangguk lagi dan kemudian dia berpamitan kepada ayah dari kekasih yang dicintainya itu.


Tak lama, Luke sudah memarkirkan kendaraannya di depan sebuah hotel bintang lima yang megah dan mewah. Dengan memakai kaus putih dilapisi dengan jaket kulit hitam, topi dan kacamata hitam serta celana panjang jins berwarna senada, Luke memasuk hotel mewah tersebut.


"Reservasi atas nama Boboyland di kamar VVIP Presiden Suite," ucap Luke.


Resepsionis itu pun menghubungi pemilik kamar tersebut dan semenit kemudian, wanita cantik itu mempersilahkan Luke untuk naik ke atas.


Setibanya di kamar yang dia tuju, dia membunyikan bel pintu. Seorang wanita muda membukakan pintu untuknya. Tanpa kata sapa, wanita muda itu segera menggelantung di pinggang Luke seperti seekor anak koala dan melahap bibir yang sudah sangat wanita itu rindukan.


Tidak bertepuk sebelah tangan, Luke membalas pagutan wanita muda itu. "I miss you so much, Nay,"


Air mata Nay berjatuhan, ciuman mereka pun segera berubah menjadi ciuman basah yang menggairahkan.


"Paman, andai kita bisa menghentikan waktu, aku akan melakukannya," bisik Kanaya. Dia merangkul pamannya itu dengan erat.


Luke menciumi seluruh wajah Kanaya. "Aku pun demikian, Nay. Saat itu, aku ingin mengatakan tentang hubungan kita kepada ayahmu, tapi Alma masuk dan ayahmu menutupi semuanya,"


Luke menggelengkan kepalanya. "Ayahmu bisa melakukan apa saja, Nay. Aku tidak mau kamu bermasalah dengan ayahmu,"


"Aku bisa saja tinggal dengan ibuku," ucap Nay bersikeras.


Lagi-lagi Luke tersenyum. "Kamu memang masih anak-anak, Nay." kata pria itu sambil merapikan rambut Nay yang terjuntai ke depan menutupi wajahnya.


Dengan sigap, Nay mendorong tubuh pamannya hingga Luke jatuh ke ranjang. Nay segera membuka pakaiannya dan hanya menyisakan sehelai lingerie berwarna hitam. Tubuh bagian depannya tampak begitu jelas.


"Aku sudah dewasa, Paman dan aku tau, Paman suka ini," katanya, menggoda Luke.


Napas Luke memburu begitu melihat kedua bukit kembar nan indah yang menyembul dari lingerie hitam keponakannya. Dengan kasar, Luke menyentuh dan meraupnya dengan rakus.


Kanaya mendessah hebat dalam dekapan Luke. "Ah, Paman,"


"Kamu mengujiku, Nay Kecil!" ucap Luke, mengangkat wajahnya dan menatap manik hijau Nay yang cantik.

__ADS_1


Nay tersenyum penuh arti. "Akan kubuktikan malam ini kepadamu, Paman, kalau aku bukan anak kecil lagi." Gadis itu bangkit berdiri dari pangkuan Luke dan melepaskan semua yang tadi menempel di tubuhnya.


Jari jemarinya yang lentik dengan lincah melucuti pakaian Luke satu per satu. Luke memejamkan kedua matanya dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Nay.


Begitu semua sudah ditanggalkan, Luke membaringkan tubuh Kanaya, seolah membalas dendam atas perbuatan nakalnya. Setiap inci tubuh Nay tak lepas dari kecupan sensual Luke.


Nay menikmati sensasi aneh yang menyenangkan saat Luke mengecupnya perlahan. Luke sangat pandai membuat napas Nay tersengal-sengal dan tubuhnya seperti tersengat arus listrik bertegangan tinggi.


"Paman, ayo, cepat!" pinta Nay yang sudah tak tahan dengan pemanasan yang dilakukan oleh Luke.


Luke menatap Nay, menunggu sesuatu. Namun Nay kembali membalikan posisi mereka. Dia menduduki Luke dan segera masuk ke dalam tubuh Luke.


"Nay! Kita belum memakai pengaman!" tukas Luke terkejut sambil terus menahan kenikmatan yang dipompakan oleh Nay.


Betapa herannya Luke ketika melihat gadis itu terus bergoyang di atasnya sambil menggelengkan kepala. "Sudah kukatakan kepada Paman, aku akan menunjukan kepada semua orang kalau aku sudah dewasa dan aku tidak mau diatur oleh siapa pun!"


Luke pun pasrah dan laki-laki itu mengikuti setiap permainan yang dimainkan oleh keponakannya yang sangat pintar dan selalu berhasil membuatnya terpesona.


"Paman, maukah Paman berjanji kepadaku?" tanya Kanaya setelah mereka melakukan pelepasan yang luar biasa siang itu.


"Berjanji apa, Nay?" tanya Luke. Dia masih menciumi bibir Nay, seolah belum puas.


"Berjanjilah kalau Paman tidak akan jatuh cinta kepada Bibi dan Paman akan segera pergi denganku setelah berbulan madu," pinta Nay.


Luke mengangguk. "Aku berjanji dan maukah kamu berjanji kepadaku juga untuk menungguku kembali?" tanya Luke. Nay mengangguk perlahan. "Ayahmu mengatakan kepadaku kalau kamu akan pergi untuk melanjutkan kuliahmu di luar negeri. Di manakah itu? Karena ayahmu tidak mau memberitahukan kepadaku di mana kamu akan melanjutkan kuliahku dan akan aku pastikan aku kan mati penasaran karena aku tidak dapat menemukanmu,"


"Aku juga belum tahu ke mana aku akan pergi karena Papa yang menyiapkan segalanya dan aku akan mengetahuinya begitu tiket kepergianku sudah di tanganku. Tapi aku berjanji aku akan memberitahukan kepada Paman begitu papa memberikan tiketnya kepadaku," janji Kanaya kepada pamannya.


"Baiklah kalau begitu, kita sama-sama berjanji untuk saling memberitahukan di mana posisi kita saat itu, kita akan saling menunggu sampai kita kembali lagi ke tempat ini. Deal?" tanya Luke memberikan jari kelingkingnya kepada Kanaya.


Nay mengangguk dan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Luke. "Ya, aku berjanji,"


Perjanjian itu mereka tandai dengan ciuman yang panas dan seakan tak pernah berakhir.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2