
Sementara Alma dan Luke sedang sibuk dengan urusan proses adopsi seorang anak. Felix semakin gencar mendekati Kanaya. Tak tanggung-tanggung, pria itu datang setiap waktu. Sehingga tidak mungkin bagi Nay memiliki waktu untuk melamunkan Luke.
Gadis cantik itu pun mulai sanggup menyingkirkan Luke perlahan-lahan karena kehadiran Felix di sisinya. Seperti hari ini, Nay sudah tidak ragu untuk segera masuk ke dalam mobil dan Felix dan mengoceh panjang lebar.
"Kenapa, sih, dosen-dosen itu selalu memberikan tugas yang tidak manusiawi? Apa mereka tidak tau kalau aku juga harus bekerja! Aarrgghh! Bagaimana caraku membagi waktunya?" tukas gadis cantik itu dengan pipi kemerahan seolah dia memakai blush on tebal.
Felix tertawa melihat wajah Nay yang sangat lucu itu. "Hahaha! Kamu yang memilih untuk melanjutkan studimu, kalau kamu tidak mau tugas, kamu bisa memilih untuk menikah denganku,"
Nay memincingkan matanya. "Cih! Lebih baik aku menuntut ilmu daripada aku harus menikah denganmu!" ucap Kanaya sambil mengalihkan wajahnya.
Tak lama, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Kanaya. Di layar ponsel itu terpampang nama Kai Fletcher. Nay segera membuka ponselnya dan membaca pesan dari Kai itu.
Sontak saja raut wajah Nay berubah, tawanya menghilang, dan ocehannya berubah menjadi kesenyapan. Dia meletakan ponsel tanpa membalas pesan dari Kai itu.
__ADS_1
"Kenapa denganmu? Siapa yang mengirimkan pesan kepadamu?" tanya Felix yang segera menyadari perubahan Nay yang cepat.
"Tidak ada apa-apa. Aku ingin segera pulang dan beristirahat. Aku lelah hari ini," kata Nay dingin. Tatapan matanya kosong dan ada nada getir dalam suaranya.
Felix tidak tau apa yang terjadi dengan gadis itu. Hanya satu yang dia tau, jika Nay dalam kondisi seperti ini, lebih baik dia menuruti keinginan Nay dan tidak memaksakan kehendaknya. Maka, Felix pun mengantar Nay ke apartemennya.
Setibanya di kawasan apartemen, Nay segera turun tanpa berpamitan atau mengucapkan terima kasih kepada pria yang sudah berbaik hati mau mengantarnya itu.
Nay merubuhkan tubuhnya di ranjang dan menutupi wajah dengan bantal. Tak berapa lama, dia kembali membaca pesan dari Kai dan tanpa dia kehendaki, tetesan air matanya jatuh dengan cepat.
"Aarrgghh! ****!" ucap Nay kesal. Dia meraung dan melemparkan semua benda yang ada di atas ranjangnya. "Aaarrgggghhh!"
Merasa ada sesuatu yang aneh karena pesannya tudak segera dibalas oleh Sang Penerima pesan, Kai menghubungi Kanaya. "Nay, are you oke?"
__ADS_1
Terdengar suara isak tangis dari gadis cantik itu. "Off course no, Kai Bodoh! Aku mau kamu datang menemuiku hari ini, Kai! Aku membutuhkanmu saat ini!"
Kai tertawa. "Hahaha, maukah kamu membelikanku tiket pesawat?"
"Aku akan mentransfer uangnya, wait," pinta Nay. Tak lama, suara Kai tampak terkejut.
"Wuoh! Kamu gila! Hanya untuk mendengarkanmu menangis, kamu rela mengeluarkan uang sebanyak ini?" sahut Kai.
"Aku sudah tidak tau lagi harus bercerita kepada siapa. Maksudku, apakah kabar itu benar?" tanya Nay masih terisak. "Dia sudah berjanji kepadaku, Kai," tangisnya kembali pecah.
Kai terdiam mendengarkan tangis Nay, seperti yang biasa dia lakukan saat sahabatnya itu menangis. "Aku mengetahui kabar itu dari ayahmu, Nay. Aku tidak tau tentang kebenaran kabar itu,"
"Datanglah kesini, Kai. Temui aku dan kita resmikan kita menjalin hubungan serius!" titah Kanaya lagi dengan tegas.
__ADS_1
...----------------...