
Setelah mengikuti beberapa ujian susulan yang dikarenakan kemalasan Kanaya untuk masuk kuliah saat ujian, akhirnya orang tua Felix North beserta Otis Rivers pun mengunjungi anak-anak mereka yang berada di negeri orang tersebut.
"Tidak kusangka ternyata anakku seorang pria sejati, hahaha. Aku bangga padamu, Felix," sahut John North sambil menepuk punggung Felix.
Dia membanggakan putranya di depan Otis Rive Rivers yang entah kenapa wajahnya tampak ragu dan khawatir di hari itu. "Apakah tidak terlalu terburu-buru untuk menikah? Maksudku, biarlah Nay menyelesaikan kuliahnya dulu, setelah itu barulah kita membicarakan soal pernikahan. Bagaimana menurutmu, Nay?"
"Aku ingin menikah saat libur semester nanti. Semingguan lagilah kira-kira. Felix sudah mengurus segalanya. Mulai dari dekorasi, venue, makanan, sampai hal-hal lain yang akan kami perlukan," jawab Nay dingin, jari-jari dan bola mata hijaunya berlarian di sekitaran ponselnya. "Aku dan Felix sudah memutuskan di mana pernikahan kami akan dilangsungkan,"
Felix sedikit tersipu mendengar jawaban Nay yang sangat gamblang itu. "Itu benar, Tuan Rivers. Kami juga sudah bertukar cincin dan tak lama setelah itu, kami memutuskan untuk menikah," jawab Felix. Dia mengambil tabletnya dan menghidupkan benda segi panjang itu dengan stylus pen. "Ini tema pernikahan yang sudah kami rancang. Kami sudah menghubungi Wedding Organizer untuk mengurus pernikahan kami di Kota Metropolitan," lanjut Felix lagi.
Kalimat terakhir Felix membuat mata kedua orang tua mereka membulat. "Apa! Kalian kembali ke sana? Lalu, bagaimana kuliahmu?" tanya Kaitlyn North kepada Nay.
"Aku akan lanjutkan kuliahku setelah liburan semester berakhir. Sudah kukatakan tadi, 'kan? Kami menikah saat libur semester tiba. Menikah satu hari, lalu sisanya kami akan berbulan madu setelah itu, kami kembali lagi ke sini. Semua sudah kami pikirkan matang-matang," jawab Nay santai.
Untunglah keluarga North memahami sikap Nay yang santai dan sedikit asal itu. Mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka dan tidak menyangka kalau putra dan kekasihnya sudah menyiapkan pernikahan mereka dengan baik.
"Rupanya kalian serius untuk menikah. Kupikir saat Felix mengatakan kalian akan menikah, itu hanya sekedar gurauan," ucap John North.
"Ide dari Kan-," Felix menutup mulutnya dan tidak melanjutkan kalimatnya saat dia melihat mata Nay membelalak ke arahnya.
"Apa, Sayang?" tanya Kaitlyn North, memandang lembut ke arah putranya.
Felix menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maksudku tadi, itu ide kami berdua. Aku dan Kanaya yang ingin segera menikah."
__ADS_1
"Tentu saja mereka harus segera menikah. Mereka sudah tinggal bersama-sama, 'kan?" kata Otis. Namun sayangnya, para orang tua itu tidak tau ada banyak kebohongan dan kepura-puraan dibalik keinginan Kanaya untuk segera menikah bahkan Felix pun tidak tau.
Pria itu ingin menjawab pertanyaan dari calon ayah mertuanya tetapi lagi-lagi Nay memberikan tatapan tajamnya kepada Felix.
Nay mengatakan kepada ayahnya kalau dia dan Felix sudah tinggal bersama di apartemennya, dengan harapan Otis akan meneruskan info ini kepada Luke.
Kai adalah seorang agen ganda. Dia selalu memberitahukan kepada Nay tentang apa yang dikatakan Otis kepada Luke dan sebaliknya.
Inti dari pernikahan ini hanyalah untuk memuaskan rasa penasaran Nay yang mencari kabar kebenaran tentang hidup paman dan bibinya yang selalu diberitahukan oleh Otis hampir setiap harinya.
Ayahnya bercerita kalau kehidupan pernikahan Luke dan Alma sekarang bahagia dan sempurna. Ke mana janji Luke yang telah mereka ikrarkan bersama-sama? Itulah yang membuat Nay penasaran. Apakah secepat itu Luke melupakan dirinya?
Di tempat lain, Luke masih terngiang-ngiang dengan ucapan serta permintaan Kanaya saat gadis itu menghubunginya beberapa hari yang lalu.
("Ehem! Halo, Paman Luke. Howdy?") sapa Nay saat itu.
("Kamu masih mengenaliku suaraku, Paman. Aku senang sekali, kupikir Paman sudah lupa padaku,") jawab Nay dari seberang. Suaranya terdengar serak karena dia menahan kantuk. Saat itu di tempat Nay sudah pukul sebelas malam dan hari itu dia mengantuk sekali, tetapi rasa kantuknya menghilang seketika saat dia mendengar suara pria yang dicintainya.
Luke mengatur napasnya, karena tiba-tiba saja napasnya sesak dan seakan dia kehilangan seluruh oksigen di ruangan itu. "Darimana kamu mendapatkan nomorku? Fletcher!"
("Paman, aku ada permintaan. Maukah Paman mengabulkan permintaanku? Tapi sebelum itu, apakah Paman menepati janji kita?") tanya Nay. Suaranya kini tercekat, dia menahan tangis karena dia tau apa jawaban dari pamannya itu.
Luke tampak jengah dengan pertanyaan dari Nay. Dia mengendurkan dasinya dan menelan salivanya kasar. "Nay, janji itu, anggap saja kita tidak pernah berjanji. Sekarang aku memiliki seorang anak. Aku sudah bukan Luke yang dulu lagi, Nay. Aku harap kamu juga bisa mendapatkan kebahagiaanmu sendiri,"
__ADS_1
Setetes butiran bening jatuh dari pelupuk mata Nay yang kehijauan. ("Aku akan menikah dengan Felix North, Paman. Tapi sebelumnya, aku punya satu permintaan kepadamu,") Nay menguatkan diri dan hati supaya tangisnya tidak pecah.
"Katakan saja," ucap Luke. Pria itu juga merasakan sakit yang sama saat Nay mengatakan dia akan menikah. Luke mengepalkan tangannya. 'Sekarang, siapa yang melanggar janji kita, Nay?' tanya Luke dalam hati.
("Satu hari sebelum pernikahanku, aku ingin bertemu denganmu. Datanglah ke alamat yang nanti akan aku kirimkan kepada Paman,") jawab Nay singkat.
Begitulah, permintaan Nay, isak tangis sekilas yang dia dengar, ucapan Nay tentang pernikahannya, serta suara gadis itu kini telah melekat di otak Luke.
"Sayang, kamu mengambilkan bubur Chloe terlalu banyak," sahut Alma dan dengan cepat dia mengambil mangkuk bubur yang dipegang oleh Luke dan mengurangi bubur yang ada di mangkuk kecil itu. "Kamu sedang memikirkan apa, Sayang?"
Luke terkesiap dan menyadari kesalahannya. "Oh, maafkan aku. Aku tidak memikirkan apa-apa kok,"
Alma mengerutkan keningnya dan membuat alis tebalnya tampak bertautan. "Benar kamu tidak apa-apa? Apa kamu tidak enak badan? Istirahatlah kalau kamu memang lelah, Sayang. Aku tidak mau kamu sakit," Alma mengambil termometer dan mengarahkan alat itu ke kening suaminya.
"Normal. Atau kamu kurang tidur? Ah, pokoknya kamu harus beristirahat, Sayang! Tidurlah, tidurlah!" kata Alma. Dia memberikan beberapa finger food alih-alih bubur kepada Chloe yang mulai merajuk karena jam makannya terlewat.
"Aku baik-baik saja, Alma," tolak Luke halus. Dia kembali memanggil istrinya dengan nama. Biasanya, Luke akan melakukan saat dia berhubungan dengan Nay. Hanya gadis muda itulah yang akan memiliki panggilan spesial darinya.
"Alma?" tanya Alma. Jantung Alma berdebar-debar dan rasa khawatir menyelusup bagai pencuri di hatinya. "Tumben kamu memanggil namaku saja? Ada apa denganmu, Sayang?"
Luke tersenyum pahit. "Oh yah? Mungkin kamu salah dengar, Sayang. Aku tidak memanggilmu Alma, kok. Jangan berprasangka buruk, Sayang. I'm fine and always will,"
Benarkah begitu? Pikiran dan benak Alma kini mulai memberikan sinyal untuk waspada. Siapa wanita itu kali ini? Tidak mungkin Nay lagi karena Nay sedang berada di luar negri dan mereka sama sekali tidak menyimpan nomor satu sama lain. Alma menatap tajam ke arah Luke yang tampak salah tingkah dan kembali asik mengambilkan makanan untuk putri mereka.
__ADS_1
'Kali ini, aku harus lebih waspada kepadamu, Luke. Aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi dari sisiku!' batin Alma.
...----------------...