Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Gugatan Cerai


__ADS_3

"Luke! Jelaskan padaku, apa ini!" seru Alma suatu hari. Sengaja dia menemui Luke pagi-pagi sekali sebelum pria itu pergi bekerja.


"Surat cerai," jawab Luke santai, tanpa perasaan.


Segelas air dingin membasahi wajah Luke dan mengenai kemeja serta dasi merahnya. "Kamu gila! Kamu kejam, Luke! Sudah kukatakan kepadamu, aku tidak mau bercerai! Apa kamu sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk masuk kembali ke hatimu?" tanya Alma, suaranya tercekat. Dia memegang gelas yang isinya baru saja dia siramkan ke arah Luke dengan tangan gemetar. "Apakah hatimu sudah tertutup sepenuhnya, Luke?"


Luke menggebrak meja dengan kedua tangannya yang terkepal. "Sudah kukatakan, kita tidak bisa terus bersama. Hubungan ini sudah tidak sehat dan tidak akan berhasil! Kita hanya akan saling menyakiti! Kali ini, keputusanku sudah bulat. Ada atau tidak adanya tandatanganmu, aku akan tetap bercerai denganmu,"


"Kanaya! Semua pasti permintaannya! Kami salah mendidik Gadis ****** itu dari awal, segala keinginannya selalu dituruti dan apa yang dia mau, selalu bisa dia dapatkan! Persetan dengan ucapanku, ****** tetap saja ******! Aku tidak peduli walaupun dia keponakanku sendiri!" tukas Alma. Wajahnya yang biasanya terlihat sabar, kini tampak menyeramkan dengan berbagai macam ekspresi kemarahan menghiasai wajah cantik tersebut.


Sekali lagi, Luke menggebrak meja makannya. "Tidak ada hubungannya dengan Nay! Ini murni kemauanku!"


Alma menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Jangan berbohong! Aku tau sekali sifat busuk keponakanku itu!"


Dengan penuh amarah, Alma meninggalkan rumah itu dan pergi menuju suatu tempat. Di tengah perjalanan, dia menghubungi Otis. "Halo, Kak. Aku sedang dalam perjalanan ke tempat Kakak. Ada yang ingin kubicarakan denganmu!"


Mendengar suara Alma yang terkesan gusar dan menahan emosi, Otis pun bertanya-tanya. ("Ada apa denganmu? Kamu habis bertengkar lagi dengan suamimu?")


"Akan kukatakan saat aku sampai nanti, aku sedang menyetir." Alma pun menutup panggilannya dan kembali fokus pada kemudinya.


Tak beberapa lama, Alma sudah memarkirkan kendaraan roda empatnya dengan rapi di garasi rumah Otis yang bergaya klasik itu.


"Kak! Tolong beritahukan kepada anak Kakak, untuk tidak mengganggu rumah tangga orang lain!" seru Alma. Suaranya bergetar dan wajahnya memerah.


Otis tidak paham apa dibicarakan oleh sang adik. "Apa maksudmu? Putriku sedang berada bersama Fletcher dan ini tidak ada hubungannya dengan suamimu. Dan lagi, yang kau bicarakan itu adalah anakku, Alma. Apa pantas kamu marah-marah seperti itu?" Otis tidak tau kalau Luke dan Nay sudah saling bertemu. Yang dia tau, Nay saat ini bersama dengan Kai.

__ADS_1


Alma membanting dokumen cerai yang diberikan oleh Luke tadi malam. "Ini! Luke menggugatku untuk bercerai! Siapa lagi yang bisa berulah seperti ini kalau bukan Kanaya? Putri kesayanganmu!"


"Apa yang kau tuduhkan, Alma! Gugatan Luke tidak ada hubungannya dengan putriku!" seru Otis tak mau kalah. Dia mengambil dokumen cerai itu dan membacanya. "Di sini sudah tertulis dengan jelas, sudah tidak ada kecocokan lagi di antara kami dan jika tetap diteruskan, kami hanya akan saling menyakiti. Lihat? Bukan salah Nay!"


"Aarrgghh! Pantas saja Kakak bercerai dari Kak Vio! Ternyata karena Kakak tidak peduli dengan perasaan wanita!" tukas Alma putis asa lalu melengos pergi dari hadapan Otis yang murka karena nama mantan istrinya terseret dalam urusan ini.


"Alma! Alma! Kembali, Alma!" pekik panggil Otis tidak didengar lagi oleh adik perempuan satu-satunya itu.


Sementara itu, gadis yang disebut-sebut sebagai pembawa masalah pada rumah tangga bibinya itu sedang melakukan pemeriksaan di sebuah rumah sakit.


"Kemoterapi yang ke 3? Mulai bulan ini, kami akan menaikkan frekuensi kemoterapinya untuk mencegah metastase lebih banyak lagi serta pemberian obat chlorambucil yang akan kami berikan untuk diminum dan yang terakhir adalah transplantasi sumsum tulang belakang untuk mengganti sumsum tulang yang sudah rusak," kata dokter mengakhiri penjelasannya. "Banyak, yah? Saya tidak bisa memberikan janji atau harapan, tapi ketika seseorang sudah didiagnosa dengan kanker, artinya kita harus berjuang bersama dan tingkatkan kualitas hidup Anda,"


"Apakah akan sakit?" tanya Nay. Dia terus menggenggam erat tangan Kai selama pemeriksaan berlangsung. "Apakah aku juga akan mati muda?"


Dokter itu tertawa. "Usiamu masih sangat muda, Nona Rivers. Anda memiliki harapan hidup yang lebih tinggi karena imun tubuh Anda masih bagus dibandingkan dengan pasien yang sudah berumur. Positif thinking, jangan stress, makan dan istirahat yang cukup itu sudah membantu proses penyembuhan Anda," jawab dokter menjelaskan. "Kalau sakit, tentu akan sakit dan akan sakit sekali,"


Kai pun ikut memberikan semangat kepada Nay dan menemaninya untuk menjalankan kemoterapi di hari itu.


"Aku mual, Kai dan aku merasa aku sudah menjadi seorang nenek-nenek tua," keluh Nay.


Keluhannya itu membuat Kai tertawa. "Tenang saja, kalau kamu jadi nenek, aku akan menjadi seorang kakek yang baik untukmu,"


Nay tersenyum. "Kai, terima kasih untuk segalanya dan terima kasih untuk cintamu. Maafkan aku kalau aku tidak dapat membalas cintamu yang luar biasa indah ini, Kai,"


"Cinta tidak harus berbalas, Nay. Rasakan dan nikmati cinta yang kuberikan kepadamu," jawab Kai lembut.

__ADS_1


Nay memeluk Kai dengan sayang. Gadis itu bertanya-tanya, mengapa dia tidak dapat mencintai pria yang begitu tulus mencintainya dan bahkan seorang pria yang belum memiliki keluarga? Andaikan dia bisa membalas perasaan Kai, mungkin dia tidak akan merasakan sakit seperti ini. Nay menumpahkan rasa sayangnya kepada Kai ke dalam pelukannya itu.


Setelah selesai dari rumah sakit, Kai membuatkan salad serta ayam fillet panggang untuk Nay. Kai bertekad akan membantu proses penyembuhan gadis yang dicintainya itu sekuat tenaga. Dia menggunakan gajinya diam-diam untuk membelanjakan makanan organik dan sehat untuk Kanaya.


"Makan setelah itu istirahatlah. Wajahmu sudah seperti zombie yang kelaparan," ucap Kai sambil memberikan sepiring salad serta potongan fillet ayam besar kepada Nay.


"Aku mual," kata Nay membaringkan kepalanya ke atas meja makan.


"Aku akan menyuapimu. Kamu mau makan di bean bagmu? Atau di kasur?" tanya Kai siap membantu Nay untuk beranjak dari kursi.


Jari telunjuk Nay menunjuk kursi kacang kesayangannya yang berwarna merah muda. Kai mengangguk dan menggandeng tangan kecil Nay untuk pindah ke kursi kacang merah muda itu.


Dengan telaten, Kai menyuapi Nay sesendok demi sesendok sampai sisa makanan di piring itu tinggal setengah porsi.


Mereka makan sambil bercanda dan bergurau sehingga tanpa terasa, Nay telah menghabiskan satu porsi ayam dan salad itu.


Kai juga membantu Nay untuk meminum obatnya. "Oke, istirahatlah, aku akan menjagamu,"


Nay pun mulai tertidur karena pengaruh obat serta rasa lelah dan sakit yang dia rasakan. Dengan lembut, Kai menyelimuti tubuh Nay.


20 menit kemudian, suara bel pintu apartemen Nay berbunyi terus menerus, seolah tamu tersebut tak bisa menunggu si pemilik untuk membukakan pintu.


"Ya! Sabar!" pekik Kai dari dalam. Dia melirik Nay yang ternyata sudah terbangun karena suara bel pintu dan bergegas membukakan pintu untuk sang tamu yang tidak sabaran itu.


"Mana Nay?"

__ADS_1


"Nyonya Wallace?" sahut Kai terkejut.


...----------------...


__ADS_2