
"Bagaimana? Sudah berhenti, 'kan?" tanya Kai lembut. Pria itu satu-satunya orang yang tidak panik saat melihat kondisi Nay yang berdarah-darah. "Kuncinya hanya satu, tetap tenang dan jangan panik,"
Dengan serta merta, Otis memeluk Kai. "Terima kasih, Fletcher. Aku sudah lemas melihat darah." Setelah melepaskan pelukannya, Otis menggandeng lengan Nay dan mengajaknya kembali berbaring dengan bantal yang ditinggikan. "Tidurlah, Nay,"
Setelah putrinya tertidur, Otis berjalan keluar dengan mengendap-endap. "Fletcher, Luke, temani aku."
Kedua pria itu pun segera berjalan bersama Otis yang mengajak mereka ke ruang makan. Ruang makan keluarga Otis, terdapat sebuah island atau meja besar dan di depan island terdapat meja bar, lengkap dengan wine cellar yang berisi berbagai macam wine dari berbagai macam tahun dan negara.
Otis mengambil sebuah botol hitam pekat dengan cairan berwarna merah bertuliskan Cabernet Sauvignon di depan botol itu. Otis menuangkan minuman itu ke dalam tiga gelas wine. "Cheers, for health,"
"Ah, aku menemukan jadwal sinar dan kemoterapi Nay. Periode 4?" tanya Otis.
Kai dan Luke mengangguk. "Ya, seminggu 3 kali sinar dan kemoterapi. Itu periode sedang mengingat kondisi Nay yang seperti ini,"
"Kanker darah stadium 3? Gila! Kenapa aku bisa tidak tau, Luke! Tak ada satu pun dari kalian yang memberitahuku! Terlalu! Apa yang kalian tunggu? Kalian menunggu putriku mati, baru akan memberitahuku kenapa dia mati? Begitu! Astaga, yang kita hadapi itu kanker! Kanker!" tukas Otis. Wajahnya memerah, wajar saja dia sudah menenggak tiga gelas wine merah itu.
Luke dan Kai saling berpandangan. "Maafkan kami, Tuan Rivers. Ini bukan kemauanku tapi ini permintaan Nay," ucap Kai lagi.
Otis menggebrak meja cukup kencang. "Argh! Persetan dengan itu! Aku ayahnya, kalian bisa mengabaikan omongan Nay dan memberitahuku! Bagaimana kalau aku tidak sempat mengetahuinya dan dia sudah tak tertolong? Bagaimana?"
Pria tua itu meneteskan air matanya. "Aku takut dia tidak sanggup, Fletcher. Aku belum siap kehilangan dia,"
Kai mengedikkan kepalanya, memberi tanda kepada Luke untuk memeluk calon ayah mertuanya. Luke pun menurut dan merangkul pundak Otis. "Aku pun takut kehilangan dia, Kak."
Begitu Luke mengucapkan kata itu, Otis seperti tersadar. "Dia masih mencintaimu, 'kan? Menikahlah dengan Nay. Kita adakan pesta pernikahan secepatnya! Aku akan bicara dengan Alma,"
"Dia sedang ragu, Kak." jawab Luke singkat. Pria sekssi itu seolah tau bagaimana perasaan hati Kanaya saat ini.
__ADS_1
Kening Otis berkerut. "Ragu? Ragu akan apa?" tanya Otis tak paham. Selama ini yang dia tau, anaknya selalu mencintai Luke. Lalu, kenapa sekarang ragu? Bahkan, dia rela melarikan diri saat pemberkatan pernikahan berlangsung hanya karena tidak mau dinikahkan dengan orang lain, dan sekarang dia ragu? Apa yang membuatnya ragu?
"Fletcher." jawab Luke, tatapan matanya beralih kepada Kai dan saat ini dua pasang mata sedang melihatnya tajam.
"A-, aku?" tanya Kai.
Bukan tanpa alasan Luke mengatakan kalau Nay sedang ragu. Dia melihat selama Nay sakit, gadis itu dekat sekali dengan Kai. Setiap dia takut, dia senang, dia khawatir, selalu Kai yang dipanggil olehnya.
Seperti tadi, begitu dia ketakutan, orang yang pertama dia panggil adalah Kai. Luke merasa tersingkirkan karena ulah Nay ini.
Keesokan harinya, kondisi Nay jauh lebih baik dari saat dia di rumah sakit. Gadis itu menghabiskan makanan yang telah disiapkan.
"Oh, dimana Kai? Aku belum melihatnya," tanya Nay pagi itu.
Tadi malam, Kai memang pulang ke apartemennya karena dia tidak mungkin bermalam di rumah Otis dan lagi, di rumah itu sudah banyak orang yang menjaga Nay, jadi dia memilih untuk kembali ke apartemennya.
"Pulang," jawab Otis.
"Ada Luke. Luke yang akan mengantarmu," tegas Otis.
Nay pun terdiam. Bukannya dia sudah tidak mencintai pamannya itu, tapi entah kenapa akhir-akhir ini rasanya lebih nyaman bersama Kai.
Otis mengajak Luke untuk berbicara berdua dengannya. "Bagaimana proses ceraimu?"
"Pengacaraku dan pengacara Alma yang akan maju. Hubunganku dengan Alma juga tidak ada masalah. Kami lebih nyaman seperti ini," jawab Luke.
Otis mengangguk-anggukan kepalanya. Anggukan yang mengandung banyak arti dan pertanda, pria paruh baya itu sedang menyusun sebuah rencana.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu kepada Nay?" tanya Otis.
Luke tersenyum. Wajahnya menjadi merah muda. "Rasanya sedikit aneh membicarakan masalah hati denganmu, Kak. Janggal sekali,"
Otis mendengus. "Huh! Lagakmu seperti anak muda saja, Luke! Tidak usah malu-malu lagi! Katakan kepadaku, bagaimana perasaanmu kepada anakku?"
"Aku mencintainya. Kalau Kakak bertanya apakah aku takut, ya aku takut aku kehilangan dia. Nay membawa tiga per empat hati dan hidupku," jawab Luke.
Otis menyesap kopi dinginnya dan meletakkan kembali cangkir kopi itu. Dia terdiam dan pandangan matanya jauh ke depan. "Aku pun demikian, Luke. Dia putriku satu-satunya. Dia hidupku, dia nyawaku, dan dia pusat kebahagiaanku. Aku tidak tau bagaimana hidupku tanpa dia. Aku sudah memberitahukan kepada Vio, ibu Nay tentang Nay dan aku takut dia akan membawa Nay tinggal bersamanya jika Nay bisa melewati semua ini,"
"Aku takut, Luke. Aku takut dengan segala kemungkinan yang mungkin terjadi." sambung Otis lagi. "Lalu, kenapa Nay bisa berubah seperti itu?"
"Apa maksudnya berubah?" tanya Luke. Seorang pelayan mengantarkan beberapa macam kue manis serta macaron. Luke mengambil satu macaron berwarna kuning dan memasukannya ke dalam mulut dalam satu suap.
"Dia lebih dekat kepada Fletcher. Apakah perasaannya berubah?" tanya Otis. "Apakah aku harus menikahkan dia dengan Fletcher? Maksudku, apa pun yang bisa kita lakukan saat ini, aku akan melakukannya,"
Otis pun melengos pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Luke. "Nay, Papa mau bertanya sesuatu hal padamu,"
Saat itu Nay sedang berbalas pesan kepada Kai sambil tersenyum kecil. "Bertanya apa, Pa? Aku meminta Kai untuk memulai wishlistku,"
"Wishlist?" tanya Otis tak paham.
Nay mengangguk. "Ya, aku, Kai, dan paman, membuat wishlist yang akan kami lakukan bersama-sama. Dokter juga sudah mengizinkanku untuk melakukan itu. Aku mau memulai wishlistku secepat mungkin. Aku takut waktunya tak akan cukup,"
"Kamu masih memiliki waktu, Nay! Kita kerjakan wishlistmu satu per satu bersama-sama. Tidak hanya bertiga," usul Otis. Dia tidak bisa membayangkan betapa sedihnya hati Nay saat tau waktunya telah habis dan dia masih memiliki keinginan yang belum terwujud. "Boleh aku liat bucket listmu?"
Nay memberikan secarik kertas dengan nama rumah sakit tempat dia di rawat di atas kertas itu. Otis membaca satu per satu, sampai pada poin menikah.
__ADS_1
"Siapa yang ingin kamu nikahi? Pamanmu atau Fletcher? Karena ini ada di dalam bucket listmu di nomor empat. Kita harus menyiapkan segalanya, bukan?" tanya Otis. Dia tidak ingin memandang wajah putrinya, karena benar kata Luke, saat ini Nay ragu dan keraguannya itu terlihat jelas di matanya.
***