Unconditional Love For My Uncle

Unconditional Love For My Uncle
Kembali Dan Berjuang


__ADS_3

Kai menepati janjinya dengan tidak memberitahukan penyakit Kanaya kepada Otis. Kai juga meminta kepada dokter dan perawat untuk tidak merahasiakan diagnosa Nay.


Pemeriksaan sumsum tulang belakang sudah dilakukan dan hasilnya Nay mengidap kanker darah stadium 2. Memiliki harapan hidup sampai 5 tahun ke depan dan jika Nay berhasil memenangkan pertarungan dengan sel kankernya, kualitas hidup Nay akan lebih panjang.


"Anakku sudah boleh pulang? Akhirnya, sakit apa dia, Dok?" tanya Otis suatu hari.


Dokter tersenyum, dokter laki-laki itu mengerling ke arah Kai dan Nay. "Hanya kelelahan, banyaknya aktifitas tapi tidak dibarengi dengan nutrisi dan kualitas tidur yang cukup,"


Otis memandang marah kepada Nay, dia berkacak pinggang dan mengomel kepada anak gadisnya itu. "Kamu sudah dewasa, Nay. Hiduplah yang teratur,"


"Nona Rivers masih harus tetap melakukan kontrol teratur sampai kondisinya stabil. Jika ingin pindah rumah sakit, saya akan mengirimkan email kepada dokter berikutnya sehingga Anda tidak perlu repot memikirkan dokumen rumah sakit," ucap si dokter lagi.


Otis mengangguk tanpa curiga sedikit pun. Kai merasa bersalah karena menyembunyikan ini, tetapi dia juga berpikir jika Otis tau mengenai ini, dia akan panik dan memaksa Nay untuk tetap di rumah sakit sampai gadis itu sembuh total dan itu akan menyebabkan, Nay depresi dan stress.


Setelah keluar dari rumah sakit, Nay memutuskan untuk mengambil kuliah online dan hanya sesekali datang ke kampus untuk menyerahkan tugas yang membutuhkan tanda tangan.


Dokter sudah mengirimkan jadwal kemoterapi untuk Nay. "Kamu takut?" tanya Kai.


Nay menggeleng. "Tidak, aku tidak takut. Sebentar lagi, kuliahku akan selesai dan setelah upacara kelulusan, aku akan kembali dan meneruskan pengobatanku di sana," jawab Nay. "Kamu tidak memberitahukan kepada pamanku, 'kan tentang apa yang aku alami?"


"Tidak. Kamu ingin memberitahu kepadanya sendiri, 'kan?" tanya Kai.


Nay mengangguk lemah. "Ya, dan aku ingin tinggal sendiri di apartemen karena pasti aku akan sering berteriak kesakitan saat malam hari. Dokter bilang, rasanya akan sangat sakit dan setelah kemoterapi, rambutku akan rontok dan aku akan sering muntah. Mengerikan sekali, bukan? Apakah aku kuat, Kai?"


"Harus dan pasti! Kamu harus kuat dan pasti kuat, Nay. Eh, tapi kalau kamu tinggal di apartemen, siapa yang akan menemanimu?" tanya Kai lagi. Tentu saja pria berperawakan tinggi itu memikirkan Nay.


"Kamu," jawab Nay singkat.


Kai menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"


Lagi-lagi Nay mengangguk. "Ya, siapa lagi yang mau menemaniku? Paman Luke pasti mau, tapi aku yang tidak mau,"


Mau tidak mau, Kai pun menyetujui permintaan Nay yang menurutnya sangat aneh itu. Dia bersikeras supaya penyakitnya tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya. Lalu, bagaimana kalau Nay tiba-tiba drop dan meninggal? Pikiran itulah yang kini bersemayam di benak Kai. Besar sekali tanggung jawabnya.

__ADS_1


Dengan berbagai macam alasan, Nay selalu bisa menghindar dari Otis saat dia melakukan kemoterapi. "Kai akan mengantarku. Papa di rumah saja atau bermain catur bersama Mr. Tomkins di sebelah. Pria itu senang sekali membuat corndog dan istrinya menjual corndog-corndog tersebut. Kalau mereka tau, Papa adalah ayahku, mereka akan memberikannya gratis kepada Papa."


"Tapi, aku ini ayahmu, Nay. Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" tanya Otis curiga.


Nay menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. "Tidak ada, Papa. Aku hanya tidak mau Papa lelah menunggu, biarkan Kai saja yang menunggu. Aku pergi," Nay mencium pipi ayahnya. "Kai, cepatlah!"


Sampai hari kelulusan tiba, Nay berhasil merahasiakan pengobatan yang telah dia lakukan selama satu bulan terakhir ini.


"Aku tampak buruk sekali, Kai," ucap Nay memberengut saat dia melihat pantulan dirinya di depan cermin.


"Cantik. Kamu selalu cantik," hibur Kai.


Otis masuk ke dalam kamar putrinya dengan memakai kemeja serta jas terbaiknya yang berwarna biru gelap, senada dengan warna almamater yang Nay kenakan hari itu.


"I'm ready. Nay, ada apa denganmu? Kenapa kamu belum bersiap-siap? Kenapa kamu sedih?" Otis segera memeluk putrinya. Entah apa yang dirasakan oleh Nay saat ini, Otis ingin anaknya itu jujur kepadanya. "Apa kamu baik-baik saja, Nay?"


Nay menangis di pundak ayahnya. "Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin memeluk Papa sebentar, tapi, ...." Nay menarik tubuhnya, sambil menangis dia berkata, "Tapi nanti, jas Papa basah,"


Otis tertawa dan kembali menarik Nay dalam dekapannya. "Tidak masalah bagiku, Sayang."


" Proficiat, Nay Sayang," Otis tak berhenti menciumi pipi Nay.


Beberapa hari setelah hari kelulusan, Nay mengurus kepulangannya ke Kota Metropolitan. Dengan ditemani Kai, Nay melakukan kontrol terakhir ke rumah sakit sekaligus melakukan kemoterapi terakhir.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Kai bersamaan dengan Nay setelah Nay melakukan kemoterapi terakhir di hari itu.


"Saya punya dua kabar. Mana yang ingin kalian dengar pertama?" tanya dokter itu.


"Buruk saja lebih dulu, Dok. Jadikan kabar baik itu sebagai penghiburan," jawab Nay.


Dokter itu tersenyum. "Baiklah, kabar buruknya adalah, sel kanker itu sudah menyebar ke beberapa titik dan nantinya akan menyebabkan Anda merasa sakit luar biasa, dan ada pembengkakan di beberapa tempat serta memar di sepanjang tulang punggung," dokter itu menunjukkan gambar sel kanker yang berada di tubuh Nay. "Untuk kabar baiknya, sel itu memang menyebar tetapi tidak bertambah besar. Selama Nona Rivers menjalankan kemoterapi teratur, kita bisa mengontrol sel ini. Satu lagi pesan dari saya, berbahagialah, Nay. Bahagia adalah obat dari segala penyakit,"


"Terima kasih, Dokter, atas semua bantuan Anda. Terima kasih juga karena Anda mau merahasiakan ini dari papa saya," ucap Nay menjabat tangan si dokter.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Nay segera kembali ke apartemennya dan bersiap-siap untuk ke bandara. Otis sudah menyambut Nay dengan sukacita dan wajah semringah senang.


Di tempat lain, permasalahan antara Luke dengan Alma belum kunjung mereda. Alma masih berusaha untuk mempertahankan pernikahan mereka.


"Chloe butuh sosok seorang ayah, Luke. Paling tidak, setiap hari atau dua hari sekali kamu bisa mengunjunginya," pinta Alma.


Luke yang saat itu sedang berada di kantor, sama sekali tidak mengangkat wajahnya sama sekali sekedar untuk menatap istrinya.


"Luke!" tukas Alma.


"Kamu tidak melihatku sedang bekerja? Kamu datang ke sini di jam sibuk dan ini belum jam istirahatku, Alma," balas Luke gusar.


Tepat di saat itu, Chloe memanggil namanya. "Dadda, ...."


Luke memejamkan matanya, ada sedikit bagian dari hatinya yang tersentuh saat Chloe berhasil memanggil pria itu dengan sebutan 'Dadda'. Walaupun belum sempurna, tapi sudah membuat Luke terharu.


"Ya, Sayang," ucap Luke segera menghentikan pekerjaannya dan mengambil anak perempuan kecil itu dari tangan Alma.


Dia mendudukan Chloe dalam pangkuannya dan mengajarinya cara mengetik di laptop. Sesekali Luke menciumi rambut jagung Chloe serta membelai gadis kecil itu dengan lembut.


"Luke, melihatmu bersama Chloe membuatku yakin kalau kita bisa bersatu," ucap Alma merendahkan suaranya.


Luke menggelengkan kepalanya. "Berkali-kali kukatakan, semakin kita mencobanya, semakin kita saling menyakiti,"


"Tap-,"


Ponsel Luke berdering, dia segera melihat layar ponselnya dan tertulis nama Fletcher di sana. "Ya, Fletcher,"


("Kami akan kembali, Tuan Wallace. Nay ingin Anda menunggunya di apartemen esok hari pukul 1 siang,") terdengar suara Kai dari seberang dan sepertinya lawan bicaranya itu sedang berada di tempat ramai.


"Aku akan ke sana. Terima kasih, Fletcher," jawab Luke, kemudian menatap lekat mata istrinya yang serupa dengan manik gadis yang dicintainya. "Nay kembali dan maafkan aku, aku memilih dia, Alma,"


Tanpa aba-aba, air mata Alma bergulir cepat dan jatuh ke pangkuannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2