
"Jelaskan kepadaku, Nay! Apa yang kamu lakukan dengan Pamanmu!" tuntut Otis. Dia meminta penjelasan dari anak gadisnya.
Hatinya resah saat dia mendengar kabar yang diberikan oleh Kai saat dia menjenguk pria itu di rumah sakit. Pria yang sudah berumur enam puluhan itu, ingin menolak berita dari Kai. Namun semakin dia menolak, semakin dia diperlihatkan oleh fakta dan bukti-bukti yang perlahan-lahan dia sadari.
Kanaya pun tak bisa mengelak saat ayahnya meminta penjelasan darinya. "Aku mencintai Paman Luke sebelum Paman menikah dengan Bibi Alma, Pa,"
Dia terus menundukkan wajahnya dan tak berani menatap kedua mata ayahnya. Kanaya tahu kalau ayahnya sangat murka saat ini. Apalagi hubungannya dengan Luke merupakan hubungan terlarang yang dapat menjadi aib untuk keluarganya.
Otis menanyakan dirinya di sofa kekuatan di dalam tubuhnya seolah-olah menguap begitu saja. Dia tidak dapat lagi menopang dirinya sendiri dan bahkan kepalanya terasa berputar-putar. Hatinya sangat sakit begitu mengetahui kebenaran yang keluar dari mulut putrinya.
Putri yang selama ini dia bangga-banggakan, Putri yang selama ini dia elu-eluka ln dan dia selalu menganggap putrinya itu memiliki attitude yang baik, ternyata bermain gila dengan pamannya sendiri. Otis merasa dikhianati oleh Kanaya maupun Luke.
"Apa salah Papa dan apa salah bibimu, Nay? Sampai kamu tega menghianati kami berdua?" tanya Otis sambil memijat-mijat pelipisnya. "Pria-pria muda di sekelilingmu banyak yang mengantri untuk mendapatkan cintamu, Nay. Tetapi kenapa kau memilih pamanmu sendiri untuk kau cintai?"
Seperti keran yang dinyalakan, air mata Nay kembali bercucuran. Dia mengusapnya dengan anggun. Beberapa hari terakhir ini memang berat untuknya. Dia harus berhadapan dengan kenyataan kalau pria yang dicintainya sudah beristri, akan tetapi untuk melupakan Luke bukan perkara yang mudah. Luke sudah masuk ke dalam hidupnya dan membuat dunianya jungkir balik, tak karuan.
"Aku mencintai Paman, sebelum dia menjadi Pamanku, Pa. Aku tidak bisa melupakan Paman Luke begitu saja, apalagi setelah kami dekat," isak Kanaya.
"Bodohnya, Pamanmu juga terjerat olehmu! Gila! Dunia sudah gila!" tukas Otis. Dia ingin marah dan menyalahkan putrinya tersebut, tapi dia juga sadar kalau putri kesayangannya itu sedang dimabuk cinta. "Papa tidak tau apa yang kalian berdua pikirkan? Luke sudah lebih dewasa, seharusnya dia bisa membimbingmu bukan malah ikutan gila!"
Tak hanya Kanaya yang terombang-ambing saat ini, Otis pun demikian. Berkali-kali, pria itu mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan terhadap putrinya yang masih menangis sekarang.
"Aku akan memanggil pamanmu ke sini dan kumohon, simpan rapat masalah ini. Aku tidak mau bibimu tahu tentang ini!" tutur Otis. Baru saja dia hendak mengambil ponselnya, Nay mengucapkan sesuatu yang membuatnya terguncang.
"Kenapa Paman dan Papa lebih menyayangi Bibi Alma dibandingkan dengan aku? Aku mencintai Paman Luke, tapi Paman memilih untuk bersama Bibi. Papa juga begitu! Papa lebih mementingkan perasaan Bibi! Kapan Papa mementingkan aku!" tanya Nay, dia pun segera bergegas keluar dengan membantung pintu.
Gadis itu berjalan ke arah kendaraannya dan dalam sejurus kemudian, dia sudah melajukan kendaraan roda empatnya itu dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat.
__ADS_1
Setibanya dia ke tempat yang dia tuju, dia segera masuk ke dalam ruangan tempat Kai di rawat.
"Kau pengkhianat, Kai! Aku benci padamu!" pekik Nay, dia melempar semua bantal kecil yang berada di sofa ke arah Kai yang tangannya masih di perban. "Kenapa kamu memberitahu Papa kalau aku berhubungan dengan Paman Luke! Kenapa, Kai!"
Suara Nay yang diiringi dengan derai air mata membuat Jay terpaksa masuk untuk melihat apa yang terjadi di dalam. Namun Nay meminta Jay untuk tetap berjaga di luar.
"Nay! Tenang dulu, ini di rumah sakit, loh," sahut Kai yang dengan susah payah, berusaha menangkap bantal-bantal beterbangan.
Nay kembali berteriak histeris, "Bagaimana bisa tenang, Kai! Kamu menghancurkan hubunganku dengan Paman Luke dan kamu menghancurkan hidupku! Luke Wallace adalah hidupku, Kai! Aku tidak bisa hidup tanpanya dan aku hancur saat aku tidak bisa bersamanya,"
Mendengar tangisan Nay, Kai sadar bahwa dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam hati Nay, bahkan untuk mencobanya saja, dia tidak memiliki harapan.
"Tujuanku memberitahukan kepada ayahmu supaya kamu sadar apa yang kamu lakukan itu salah, Nay. Itu bukan cinta tapi hanya sebatas nafsu sesaat," ucap Kai, dia mengulurkan tangannya supaya Nay mau mendekat ke arahnya. "Dengar Nay, cinta tidak menyakiti dan cinta tidak egois. Kalau kamu dan pamanmu tetap berhubungan, bagaimana dengan bibimu? Itu yang harus kamu pikirkan,"
"Kamu belum pernah jatuh cinta, Kai! Kamu tidak tau bagaimana rasanya mencintai! Aku tidak bisa memilih siapa yang ingin kucintai! Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mencintai pamanku! Kalian semua sama saja! Kalian semua memojokanku!" seru Kanaya. Sepertinya gadis itu sudah lelah menangis, suaranya serak, hampir habis.
Kini, ruangan rumah sakit itu sunyi hanya terdengar suara isak tangis Kanaya. Perlahan, gadis itu membuka pintu dan berjalan dengan langkah gontai meninggalkan Kai yang masih menatap hampa ke arahnya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Otis sudah meminta Nay untuk bangun dan bersiap untuk rapat keluarga.
"Apakah harus sepagi ini?" tanya Nay malas-malasan. Kedua matanya bengkak karena kebanyakan menangis kemarin.
Otis mengangguk. "Pamanmu sudah menunggu dari tadi,"
Mendengar kata Paman dari mulut Otis, jantung Kanaya seakan ditikam dan bertalu-talu dalam waktu bersamaan.
Tak lama, Kanaya sudah menyusul ayah dan pamannya di ruang kerja Otis, yang memang biasa dipakai untuk membicarakan hal yang serius.
__ADS_1
"Pagi, Paman Luke," sapa Nay.
Otis memperhatikan interaksi di antara mereka berdua. Putrinya tampak gugup, begitu pula dengan Luke. Jauh di dalam hatinya, Otis berharap kalau Luke akan menyangkal kebenaran hubungan mereka. Ya, dia masih berharap apa yang didengarnya kemarin itu salah walaupun Nay sudah mengakuinya.
"Aku mengumpulkan kalian tanpa sepengetahuan Alma. Dia pasti akan hancur sama sepertiku jika tahu kalian memiliki hubungan yang tidak wajar. Benar begitu, Luke?" tanya Otis kepada Luke.
"Sebelumnya aku minta maaf, Kak. Aku mencintai Kanaya melebihi rasa cintaku kepada Alma. Aku baru menyadarinya saat seminggu aku menikahi Alma," jawab Luke tertunduk.
Sebuah tamparan keras melayang di pipi Luke. Otis telah menamparnya dengan kencang. "Gila! Kenapa kamu menikahi Alma kalau yang kamu cintai adalah putriku? Jawab, Luke!"
"Aku mengenal Nay semenjak menikah dengan Alma, Kak. Rasa itu sempat aku lawan dan aku buang, bahkan aku menghindari Nay supaya aku bisa melupakan dia. Tapi semakin aku menghindar, semakin aku sadar kalau aku sudah jatuh cinta kepadanya," jawab Luke, dia memberanikan diri menatap wajah kakak iparnya.
Otis tidak dapat berkata-kata kembali. Dia tau semuanya salah, tapi dia juga tidak tega jika meminta Luke menceraikan Alma. Adiknya itu pasti akan hancur dan sangat patah hati. Apalagi, mereka belum sempat berbulan madu.
"Aku minta kepadamu untuk tetap bersama Alma dan Nay, aku akan mengirimmu untuk melanjutkan studimu ke luar negri. Untuk sementara, itu keputusan yang bisa aku ambil untuk kalian," tegas Otis.
Nay tidak dapat membantah atau pun menyetujui permintaan ayahnya. Toh kekasih hatinya juga tidak memperjuangkan cinta mereka.
"Kamu berangkat hari ini juga, Nay! Kemas barang-barang yang ingin kamu bawa, sisanya kamu bisa berbelanja di sana!" titah Otis.
Nay mengangguk. "Baik, Papa," jawabnya dengan suara tercekat. Dia menahan air matanya supaya tidak kembali tumpah.
Sesaat Nay beranjak dari kursinya, Luke menggenggam pergelangan tangan Nay dan menahannya. "Kak, aku mencintai Kanaya. Maafkan aku jika pada akhirnya, aku harus menyakiti Alma dan detik ini juga, aku meminta izinmu untuk menikahi Kanaya Rivers dan menjadikannya istriku,"
"Apa!" seru seorang wanita yang baru saja membuka pintu ruangan kerja Otis. Wanita itu sedari tadi berdiri di depan pintu dan menahan diri untuk masuk sampai akhirnya dia masuk dan tanpa sengaja mendengar kalimat mengejutkan itu.
...----------------...
__ADS_1