
"Ucapanmu keterlaluan, Alma! Kamu menyebut keponakanmu sebagai wanita murahan! Kemana hatimu?" tukas Luke.
Sore itu, Luke menerima panggilan video dari nomor Kai dan saat dia mengangkatnya, wajah Nay yang muncul di sana. Pria berperawakan tinggi dan kekar itu tak menyangka kalau Nay akan menghubunginya.
Perbedaan waktu di antara mereka adalah enam jam. Ketika di tempat Luke sore hari, maka di tempat Nay sudah menjelang malam.
Ketika mereka sedang saling menumpahkan rindu, Alma tiba-tiba saja datang dan mengambil alih laptop Luke.
"Nay! Kenapa kamu tidak berhenti mengganggu rumah tangga kami! Berhentilah mengganggu suamiku dan jangan jadi wanita murahan seperti ini!" caci Alma. Kesabaran wanita itu sudah habis. Selama ini, dia selalu bisa bersabar dan menahan semua emosinya. Namun kali ini, dia gagal.
Sulit sekali rasanya bersabar saat dia mendengar seruan rindu dari suami dan keponakannya tersebut. Hatinya seakan diiris-iris, apalagi saat dia melihat suami dan keponakannya itu saling menyentuh walaupun hanya lewat layar, tetap saja rasa sakit itu datang.
Luke yang saat itu mendengar ucapan Alma yang keterlaluan, menampar pipi Alma.
Alma memegangi pipinya dan menatap Luke tak percaya. "Aku istrimu, Luke. Dia hanya keponakanmu! Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini?"
"Tapi, apakah tidak keterlaluan jika kamu mengatakan kalau Nay wanita murahan? Apa pantas seperti itu!" seru Luke tak mau kalah. "Apa kamu tidak lihat dia menangis? Ucapanmu itu! Itu sunggu keterlaluan, Alma!"
"Lalu, bagaimana dengan kalian? Apa kalian juga tidak keterlaluan? Bermain di belakangku dan asal kamu tau, Luke, kalian juga telah membuatku sakit! Andaikan saja, kamu ada di posisiku, apa yang akan kamu lakukan saat kamu melihat pasanganmu begitu mesra dengan keponakannya sendiri!" air mata Alma mengalir di pipinya dan dia tidak berusaha untuk menahannya. "Sekarang katakan kepadaku, what should i do, Luke! Apa yang harus aku lakukan?"
Luke menunduk dan terdiam. Malam itu, hanya terdengar suara isak tangis kesakitan Alma. Wanita itu tidak pernah menyangka kalau pernikahannya akan kacau dan berantakan hanya karena hadirnya orang ketiga di antara mereka.
Di tempat lain, Nay juga sedang merasakan patah hati karena ucapan bibi Alma yang tak pernah dia sangka. "Aku bukan wanita murahan, Kai,"
"Bukan, Nay. Bukan," Kai memeluk Nay dan berusaha ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh gadis yang dia cintai itu. Nay menangis di dalam pelukan Kai sampai akhirnya dia tertidur di sana.
Beberapa hari kemudian, Nay sudah kembali ceria dan melupakan rasa sakit yang saat itu membuatnya menangis jika dia mengingat ucapan bibinya lagi.
__ADS_1
Begitu pula dengan Luke. Laki-laki itu tidak menghubungi Nay ataupun Kai. Mungkin dia menunggu waktu yang tenang untuk menghubungi Kai kembali. Begitu yang dipikirkan oleh Kai saat itu.
"Kai, sepertinya besok aku tidak akan pergi kuliah. Aku ada kelas besok, tapi entah mengapa rasanya lelah sekali hari ini," ucap Nay suatu hari.
Kai segera meninggalkan laptopnya dan menghampiri Nay untuk membantunya menbawa sebagian bukunya. "Kamu terlalu lelah dan lagi pikiranmu itu loh, Nay. Semua penyakit itu berasal dari pikiran. Bagaimana kalau besok kita berlibur? Jalan-jalan? Atau berbelanja seperti hobimu dulu, sudah lama juga kamu tidak berbelanja, 'kan?"
Gadis mungil itu memutar kedua matanya. "Good idea," dan setelah itu dia merubahkan tubuhnya di kursi kacang. "Aku ingin tidur sebentar, Kai,"
Kai mengangguk dan memutar sebuah lagu klasik karya Frederick Chopin yang berjudul Nocturne Op. 9 No. 2. "Tidurlah, Nay,"
Hari mulai sore, entah sudah berapa jam Nay tertidur. Sedangkan Kai sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.
"Nay, bangun. Makanlah dulu setelah itu mandi dan silahkan tidur kembali," ucap Kai. Akan tetapi setelah sekian menit, Nay belum juga terbangun.
"Sepertinya dia mengantuk sekali. Nay, bangun dulu," kali ini Kai mengusap lembut pipi Nay. Namun, tetap saja Nay tidak bergeming. "Kanaya! Bangun, woi!" Kai meninggalkan sikap lembutnya karena Nay tak kunjung membuka matanya.
Kening Kai mengerut, dia berpikir, tidak seperti biasanya sahabatnya itu tidur sampai seperti ini. Jika ada seseorang yang memanggil namanya, senyenyak apa pun dia tertidur, Nay pasti akan terbangun. Tetapi kali ini tidak begitu.
Tak lama, dia mengambil ponselnya dan menghubungi dokter untuk datang ke apartemen Nay. Karena Kai mengatakan detak jantung Nay tidak teraba maka, dokter pun segera datang.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Kai khawatir.
"Apa Nona Rivers mengonsumsi obat tidur?" tanya dokter itu.
Kai menggeleng. "Setau saya, tidak. Tapi memang akhir-akhir ini, kualitas tidurnya sedikit berantakan karena dia mengerjakan tugas kuliah yang cukup banyak,"
Dokter itu mengangguk-angguk. "Sejauh ini normal. Tubuhnya sedang bereaksi terhadap rasa lelah. Seperti membalas dendam untuk jam tidurnya. Suhu tubuhnya mulai naik. Saya memberikan obat demam dan infusan untuk memastikan teman Anda tidak mengalami dehidrasi,"
__ADS_1
"Jadi?" tanya Kai lagi, karena dia pasti akan memberikan laporan tentang Nay sakit kepada Otis.
"Terlalu lelah dan tubuhnya butuh istirahat. Saya akan menunggu disini sampai Nona Rivers terbangun," ucap dokter itu lagi.
Kai mengangguk dan membuatkan teh chamomile untuk sang dokter yang sedang menyuntikkan obat demam ke selang infusan.
Sekitar 40 menit kemudian, Nay terbangun dan memanggil Kai. Gadis itu cukup panik saat melihat tangannya sudah terlilit selang infusan. "Kai! Kai! Apa ini?"
Kai segera menghampiri Nay bersama dengan dokter. "You'll fine, Nay. Tadi kata dokter, kamu pingsan dalam tidurmu karena terlalu lelah,"
"Dokter? Kenapa ada dokter? Kenapa aku diinfus?" tanya Nay setengah menangis.
Dokter itu datang dan menenangkan Nay. "Tubuhmu menuntut balas dendam, Nona Rivers. Mereka memintamu untuk beristirahat. Saya memberikan infusan karena sejak siang tadi, tidak ada cairan yang masuk ke dalam tubuhmu,"
Tiba-tiba saja dari hidung Nay mengalir darah segar. Nay kembali berteriak histeris. "Kai! Ini apa?" tangis Nay pecah karena melihat darah yang keluar secara mendadak.
"Ini reaksi demam tinggi, Nona. Ini reaksi normal," ucap dokter lagi dan mengompres hidung Nay dengan menggunakan ice gel.
"Demam?" tanya Nay. Tangannya memegang keningnya yang berkeringat.
Dokter dan Kai mengangguk bersamaan. "Makanya, sudah kubilang jangan terlalu banyak mikir!"
Dokter itu pun tertawa mendengar celotehan Kai dan dia pun berpamitan pulang setelah menjelaskan kembali terbuang obat serta vitamin yang harus di konsumsi oleh Nay.
Kai memastikan Nay makan banyak dan meminum obat serta vitamin yang diberikan oleh dokter. "Infusanmu berlaku hingga 12 jam ke depan. Di dalamnya ada zat besi, zinc, dan obat demam. 1 kantung harus habis,"
Nay memberengutkan bibirnya dengan kesal. "Ah, baiklah! Jangan katakan kepada ayahku atau Luke! Kalau kamu mengingkari janjimu, aku akan mengusirmu!"
__ADS_1
"Ya, sekarang makanlah!" balas Kai. "Nay, semoga cepat sembuh," Kai mengecup pucuk kepala Nay dengan sayang.
...----------------...