
“Ayah, Reva diundang, ya?” pinta Kaia kepada Rafael seraya membolak-balik kartu undangan ulang tahun hologramnya.
“Reva?” Rafael tercekat, meskipun ia berusaha tetap tenang menuliskan satu per satu daftar nama ke dalam undangan ulang tahun putrinya. Tulisannya memang parah, tetapi lumayanlah kalau untuk sekadar menulis nama saja. “Reva, siapa?”
“Rumahnya dekat, Ayah. Di situ,” tunjuk bocah itu ke salah satu sisi tembok yang berbatasan langsung dengan tembok kamar Reva.
Astaga! Dari mana Kaia mengenal Reva?
“Kamu, kok, kenal sama Tante Reva?”
“Namanya Reva, Ayah. Bukan Tante Reva.”
“Iya, deh. Memang Kaia kenal?”
“Well, she is my friend, Ayah.”
“Kok, bisa?”
“Kaia pernah melukis di rumah Reva. Dia baik, Ayah. Kaia dapat chocolate cookies sama potato chip,” ujar Kaia bersemangat. Kemudian ia bergegas meraih tas sekolahnya dan mencari sesuatu di dalamnya. “Ayah, lihat, Kaia juga dapat slime,” imbuhnya seraya mengacungkan benda penuh glitter tersebut. “Tapi jangan bilang Bunda, ya!”
“Kenapa memangnya?”
“Bunda bilang, Kaia nggak boleh main sama Reva. Soalnya Reva udah dewasa.”
“Nah, ‘kan, masa Reva harus datang ke ulang tahun Kaia? Isinya bocah semua! Nanti dia nggak betah, lho.”
“Please, Ayah, Kaia cuma mau bagi cake sama hampers-nya.”
“Bagi-bagi kue, ‘kan, bisa langsung ke rumahnya.”
“Please, Ayah. Sisa kartu undangannya masih banyak.”
“Tanya Bunda dulu, deh.”
“Jangan, Ayah! Nanti Bunda marah.”
“Nah, berarti Kaia nggak bisa undang Reva. Nggak enak sama Bunda.”
“Ayah, tolong, dong, tulis satu aja buat Reva. Tolong, Ayah.”
Bocah itu benar-benar memelas. Rafael jadi merasa serba salah karena sejak pindah ke apartemen itu, Kaia tidak memiliki teman. Baru kali itu ia sampai merengek meminta seorang temannya untuk datang.
Sepertinya Kaia sangat menyukai Reva, dan Rafael mengerti betul alasannya. Reva memang pendiam, tetapi jika sudah mengenalnya, ia adalah orang yang sangat menyenangkan diajak bicara. Wawasannya luas dan ia sangat konyol. Tak heran jika Kaia yang sama-sama pendiam merasa betah berbincang dengannya.
“Ya sudah, deh!” Rafael pasrah. Ia mengambil satu kartu undangan, dan perlahan jemarinya mulai bergerak menuliskan nama ‘Reva’ di dalamnya.
Rasanya tak menentu sekali saat itu. Baru sampai huruf ‘R’ saja jari Rafael sudah bergetar. Segores luka terbesit di hatinya. Ia tak mengerti mengapa sepenggal nama seseorang bisa sampai menyebabkan napasnya tersengal seperti itu. Namun, ia segera menghiraukannya. Itu adalah permintaan Kaia, dan Rafael hampir tidak pernah menolak permintaan putrinya.
__ADS_1
“Sudah, nih,” ujar Rafael sembari menyodorkan kartu yang tampak berkilauan itu.
“Ayah kasih, dong, masa Kaia?”
“LHO? Kamu gimana, sih, Ka? Masa ayah yang antar? Kaia, ‘kan, bisa jalan sendiri?”
“Kaia malu, lah, Ayah. Ayo, Ayah bantu Kaia.”
Astaga, bocah ini!
“Please, Ayah,” pinta Kaia dengan wajah cemberut yang menggemaskan, yang selalu saja dapat meluluhkan hati Rafael.
Yah, mau bagaimana lagi, pikir Rafael. Lagipula, mereka sudah tinggal bersebelahan seperti itu. Lama-kelamaan juga pasti berinteraksi.
Rafael segera bangkit dari duduknya dan mematut diri di depan cermin. Jantungnya berdegup kencang. Wanita itu terasa seperti orang asing saat mereka bertemu kembali. Jangankan mencoba berbicara, menatapnya saja terasa sangat canggung. Tak tenang, Rafael mulai menyeduh kopi untuk meredam kecemasannya. Padahal, ia hanya perlu mengetuk pintu di sebelahnya untuk mengantar Kaia. Kaia yang akan berbicara. Kaia yang akan memberikan kartu undangan itu. Namun Rafael tetap merasa gugup bukan kepalang.
“Ayah, cepat! Nanti Bunda keburu datang!” pekik Kaia yang sudah berada di depan pintu.
“Iya, iya. Sabar, dong, Sayang.”
Di depan pintu kamar Reva, Rafael mematung bagai dipakukan ke lantai. Ia tampak ragu-ragu, dan berkali-kali menarik nafas panjang sebelum benar-benar mengetuk pintu itu.
“Ayo, Ayah,” bisik Kaia perlahan karena ia tidak mau gaduh di depan rumah seseorang.
“Sabaaar ....” Rafael turut mendesis sepelan mungkin.
“Sabar, Kaiaaa ....”
Mereka berdua tak henti saling berbisik. Rafael tak mengerti mengapa ia merasa segundah itu, seperti hendak membuka kandang monster berbahaya yang siap melahapnya hidup-hidup saja. Sedangkan Kaia kesal sekali melihat ayahnya mendadak menjadi lamban seperti itu.
Tok! Tok!
Akhirnya, bernyali juga si jangkung itu menempelkan buku-buku jarinya ke pintu.
Kemudian, semilir hening terasa di tungkaknya. Tidak ada jawaban pada ketukan pertama.
“Sekali lagi, Ayah ....”
Tok! Tok!
Dan pintu pun terbuka.
“ ... “
“Hey.”
Dengan segenap keberanian, Rafael menyapa wanita ramping berkulit cerah yang tengah berdiri di hadapannya. Reva memakai dress hitam dengan potongan minim yang tampak ketat sekali, dan itu sontak membuat Rafael gagal fokus. Saat bersamanya, ia tidak pernah melihatnya memakai pakaian seperti itu.
__ADS_1
Reva sudah pasti akan membanting pintunya kembali sekencang mungkin, jika saja ia tidak melihat Kaia sedang berada di situ. Namun gadis kecil itu tersenyum dengan sangat ramah kepadanya, yang akhirnya ia balas hanya dengan senyum kecil yang kikuk.
“Maaf ganggu, Kaia mau kasih undangan buat kamu.”
Kaia menyerahkan kartu tersebut, yang segera disambut raut kebingungan pada wajah Reva.
“Jadi, hari sabtu ini Kaia ulang tahun,” terang Rafael. “Eeeh ... kamu jelasin dong, Ka,” desaknya sembari mencubit kecil pundak anaknya sendiri.
“Temanya Under The Sea, soalnya aku suka mermaid,” jelas Kaia malu-malu.
Sembari terus memalingkan pandangannya dari Rafael, Reva hanya mengaruk-garuk lehernya yang bahkan tak terasa gatal, tanpa tahu harus merespons bagaimana.
Tiga mahkluk canggung saling tarik-ulur melirik dan membuang muka. Super awkward. Mengenaskan. Tidak ada satu pun dari mereka yang pandai berbicara dan memulai percakapan. Reva sungguh ingin segera melarikan diri dari situasi yang menbuatnya sangat risih seperti itu. Namun, sepertinya Kaia mengharapkan sekali kehadirannya. Anak itu tak berhenti memberikan lirikannya sambil senyum-senyum. Reva jadi merasa bingung.
“Maaf, Kaia. Aku nggak bisa,” tolak Reva dengan tegas yang langsung disambut raut wajah sendu Kaia. Dan Reva bisa menangkap kekecewaan itu dengan jelas. “Tapi ... aku mau kasih kado buat kamu. Apa pun yang kamu mau,” lanjut Reva demi meredakan rasa bersalahnya.
Kedua mata Kaia kembali berbinar mendengar tawaran Reva barusan. Ia melirik ke arah ayahnya yang tak jelas sedang berbuat apa. Pria itu terus saja mondar-mandir tak karuan seraya menggigit kuku-kukunya. Kebiasaan joroknya yang sejak lama tak pernah hilang. Ia kemudian tersadar bahwa Kaia sedang membutuhkan konfirmasinya, jadilah ia mengangguk kecil.
“Kaia mau apa?” tanya Reva. “Aku nggak mau kasih surprise. Aku beli yang kamu mau aja.”
Kaia kembali menatap penuh kegembiraan kepada Rafael, tetapi kali itu ayahnya sedikit menggeleng. “Jangan yang terlalu mahal, ya, Kaia,” tegurnya.
“Kaia mau tas yang ada sequin-nya boleh, nggak?” pintanya dengan polos.
“Boleh, kok. Nanti aku cari yang kualitasnya paling bagus, ya,” jawab Reva menyetujui.
“Makasih, Reva,” ujar Kaia sembari menepuk riang kedua telapak tangannya.
“Yi, inget, ya, pokoknya jangan beli yang terlalu mahal. Kaia masih kecil soalnya, masih belum perlu—”
“Sayaaang ....” Seseorang memanggil Reva dari dalam, yang membuat wanita itu sontak menoleh.
“Handuk, mana?” Suara dari dalam kamar mandi.
“Di dalam kabinet ada satu,” jawab Reva setengah berteriak.
Rafael seketika terperangah. Suara pria dari dalam kamar mandi. Ia mendengarnya dengan sangat jelas. Pintu masuk Reva memang terbuka cukup lebar saat itu, dan Reva sama sekali tidak mempersilakan kedua tamunya untuk masuk. Jadilah mereka bertiga berdiri di ambang pintu.
Tak lama kemudian, Kris keluar dari kamar mandi bertelanjang dada, dengan hanya melingkarkan handuk kecil di pinggangnya dengan tubuh yang belum sepenuhnya kering.
Reva menjadi panik karena Kris tak menyadari bahwa ia sedang kedatangan tamu, dan mereka jadi terpaksa menonton tampilan tak senonohnya sehabis mandi. Semakin bertambah canggung saja situasi itu.
“Maaf, aku masih ada urusan. Pokoknya aku segera kasih kadonya ke kamu, ya, Kaia,” ujar Reva terburu-buru sembari menutup pintunya dengan cepat.
Sedetik kemudian pintu itu terbuka kembali. “Oh, ya, selamat ulang tahun, Kaia. Terima kasih undangannya,” ujar Reva singkat dengan kepala yang melongok sedikit dari celah pintu.
Kaia dan Rafael masih berada di situ. Terkejut juga mereka dengan pemandangan Kris yang tak patut tadi. Tanpa mendengar balasan dari Kaia, Reva langsung mengunci pintunya kembali.
__ADS_1
Saat itu Rafael meyakini bahwa ada yang terasa salah pada lubuk hatinya yang terdalam. Ia sungguh tak bisa membiarkan apa yang ia lihat tadi berlalu begitu saja dari benaknya. Meskipun, ia terus berkata kepada dirinya sendiri bahwa hubungan Reva dan kekasihnya sama sekali bukanlah urusannya.