
“Undangan dari siapa?” tanya Kris ketika melihat Reva tengah membaca isi kartu yang berlapis sticker hologram itu.
“Temanku, tetangga sebelah.”
“Delapan tahun?” Kris mengerenyitkan dahi begitu ia melongok ke dalam isi kartu itu dan melihat angka delapan tertera di sana. “Kamu berteman sama anak umur delapan tahun?”
“Memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa, sih. Pasti dia menarik, ya? Soalnya kamu itu susah berteman.”
“Ya, dia baik, sih. Dan dia tertarik sama seni, kayak kamu.”
“Wah, bisa kupoles jadi artis kalau gitu.”
“Sudahlah, orangtuanya malesin.”
“Memang kenapa? Siapa orangtuanya?”
Oh, tidak! Reva tertahan sejenak. Sungguh salah langkah ia merasa. Seharusnya ia tidak membicarakan perihal orangtua Kaia kepada Kris. Pria itu sudah bersumpah jika suatu hari ia dapat menemukan Rafael, ia akan menghajarnya habis-habisan. Kris itu petarung jalanan, ia tak akan segan menggasak Rafael tanpa ampun, apalagi ia memiliki banyak teman.
Sebenarnya Kris tak tahu apa-apa perihal Rafael. Tak tahu namanya, apalagi rupanya. Saat Reva memberitahunya bahwa ia sedang hamil, Reva sama sekali tak pernah menyebut nama Rafael. Sama sekali tak menunjukkan fotonya atau memberikan informasi sekecil apa pun tentangnya kepada Kris. Reva hanya berkata bahwa pelakunya adalah ‘mantan pacar’. Sudah. Hanya itu. Ia tidak menceritakan seluruh kisahnya sama sekali, karena ia memang tak pernah nyaman mengumbar masalah-masalahnya dengan rinci, apalagi sampai bergosip tidak jelas. Reva memang selalu seperti itu, menutup rapat-rapat tentang dirinya dari orang lain.
Kris pun tak mau memaksa. Ia mengerti pasti rasanya sangat berat bagi Reva untuk mengenang dan membahas pria yang sudah dengan sangat kejam merusak hidupnya. Namun, Kris berjanji saat itu. Bersumpah dalam hatinya bahwa jika ia sampai menemukan si ‘mantan pacar’, ia akan memberikan pelajaran yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Dan itu sesungguhnya memang wajar saja, karena Kris dengan jelas menyaksikan tragedi nahas yang dialami Reva. Bagaimana wanita itu disakiti sampai jiwanya hancur berkeping-keping. Bagaimana ia dicampakkan hingga tak berdaya.
__ADS_1
Reva tahu bahwa Kris tak bermain-main dengan ucapannya. Kris terlihat sangat bersungguh-sungguh, dan menurutnya itu sangat mengerikan. Entahlah apa yang akan terjadi, membayangkannya pun Reva tak sanggup. Maka dari itu, ia tetap menutup rapat identitas Rafael dari Kris.
“Udah, deh, nggak penting bahas tetangga sebelah,” ujar Reva yang tengah duduk di sebelah Kris, dan mulai bersandar pada dada pria itu untuk mengalihkan perhatiannya.
Kris balas memeluk dan membelai rambutnya, serta tak henti menciumi pucuk kepala Reva. Semakin hari rasanya ia memang semakin jatuh cinta kepada wanita itu. Masa lalu Reva pun sama sekali tidak mempengaruhi dirinya, karena masa lalunya sendiri juga diwarnai dengan berbagai kisah pilu dan terkadang terlalu memalukan untuk diceritakan. Namun, biar bagaimanapun, Kris memang pria yang baik. Ia menerima Reva dengan tangan terbuka, dan menyayangi perempuan itu seutuhnya.
“Kalau gitu, bahas tentang kita aja, gimana?” bisik Kris dengan lembut tepat di telinga Reva.
Reva kembali terdiam dan mulai mengambil napas dalam-dalam dengan tenang. Pembahasan itu lagi.
Pernikahan. Janji suci sejati. Hubungan sehidup semati. Reva sudah menghindari percakapan mengenai topik itu selama setahun terakhir. Selama itu Kris kerap memberi kode bahwa ia sudah siap menikah. Kris ingin berumah tangga. Kris ingin hidup bersama Reva selamanya. Namun, Reva sama sekali belum siap. Kepingan-kepingan di hatinya saja masih banyak yang menghilang entah ke mana. Dan ketika kepingan-kepingan itu akhirnya ditemukan, Reva masih harus menatanya lagi dengan baik agar ia kembali menjadi utuh. Reva bukannya tak cinta kepada Kris. Namun, trauma itu masih sangat rekat menempel pada jiwanya, dan ia tidak mau menyakiti Kris karena itu.
“Kris—”
“Maaf ....”
“It’s okay. Aku tetap akan terus di sisi kamu selama kamu healing.”
“Maaf, Kris. Aku pun nggak menyangka jadinya separah ini.”
“Masih kerasa sakit, ya?”
Sakit. Sakit sekali. Apalagi monster itu sudah tinggal dekat sekali dengannya. Auranya bahkan terasa saat Reva tidur di malam hari. Membayang-bayangi tanpa henti. Sembilan tahun yang sudah berlalu seolah tak ada artinya, menguap begitu saja. Reva sangat membenci fakta bahwa ia masih saja bergetar setiap kali bertemu dengan Rafael, karena ia sangat ingin terbebas dari pria mengerikan itu. Reva sampai mulai membenci dirinya sendiri karena hal itu.
__ADS_1
Sembari menarik napas panjang, Reva menggeser posisi duduknya agar ia lebih nyaman menikmati pelukan dari Kris. Ia mulai melingkarkan kedua tangannya pada pinggang pria itu, dan mereka saling mendekap semakin erat.
“Aku nggak tahu apa jadinya hidup aku tanpa kamu,” ujar Reva dengan lirih dalam belaian kekasihnya.
“Aku yang beruntung ketemu kamu. Sebelum ada kamu, hidupku nggak jelas. Bahkan nggak ada artinya.”
“Jangan bilang gitu, Sayang. Kamu orang baik, kamu berarti buat banyak orang.”
Tak banyak yang tahu bahwa Kris memang memiliki masa lalu kelam. Orangtuanya berpisah sejak ia masih kecil, dan setiap mereka bertemu, yang dibahas hanya masalah uang dan uang. Kris tak dianggap, tak diurus, dititipkan kepada paman dan bibinya begitu saja saat ia masih remaja. Karena tak enak menumpang, Kris mulai mencari penghasilan sendiri sembari sekolah.
Pergaulan sempat menjerumuskan Kris cukup dalam ke dunia malam. Kris sudah mengenal rokok dan alkohol sebelum dewasa. Saat itu, salah satu pekerjaannya adalah sebagai joki billiard. Ia dibayar cukup tinggi jika dapat memenangkan permainan. Pekerjaan lainnya di bar malam juga semakin mendekatkannya kepada alkohol.
Kris menunda dua tahun sebelum akhirnya ia bisa kuliah seperti teman-teman sekolahnya. Selama itu, ia bekerja dan mengumpulkan uang untuk dapat melanjutkan pendidikan, karena ia tahu selembar ijazah diploma bisa membuatnya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Hanya saja, bahkan pada saat dirinya disibukkan dengan mata kuliah pun, ia tak bisa lepas dari kehidupan malamnya. Kris seperti menemukan rumah di jalanan, dan ketenangan batin dalam alkohol.
Kelas literasi yang resmi dibuka di kampusnya sejak puluhan tahun yang lalu menjadi tempat di mana Kris menemukan Reva untuk pertama kalinya. Saat itu, Reva terdaftar sebagai mahasiswi Teknik Industri, sedangkan Kris mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Gedung mereka berjauhan, dari ujung ke ujung. Beruntungnya, ketertarikan kepada dunia kepenulisan dalam diri Kris dan Reva menjadi magnet untuk mempersatukan mereka di sebuah kelas literasi.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, saat itu Kris berpikir bahwa Reva sangat cantik. Kulitnya bersih cerah, kontras sekali dengan rambut hitam panjangnya yang tebal. Ia memiliki sorot mata yang tajam dan garis rahang yang tegas. Meskipun tatapan galaknya seolah hendak membunuh seseorang, ketika berbicara suaranya terdengar sangat lembut. Kris tak tahan. Ia nekad mendekatinya meskipun Reva selalu memasang pertahanan kokoh terhadap orang asing dengan menunjukkan sikap dingin dan kakunya.
Perlahan Reva mulai mau diajak berbicara. Mulai menanggapi Kris dengan basa-basinya meskipun terkadang ia enggan. Sebenarnya Reva hanya menunjukkan rasa hormatnya karena Kris itu senior, tetapi itu saja sudah cukup membuat Kris bersenang hati. Dari perbincangan-perbincangan itu, akhirnya Kris tahu bahwa Reva sedang membutuhkan pekerjaan.
Tak terhindarkan, selain menjadi teman membaca dan menulis, Kris dan Reva pun menjadi rekan kerja. Sebabnya, Kris selalu merekomendasikan pekerjaan di mana ia juga berkecimpung di dalamnya. Perlahan-lahan ia mulai terobsesi dengan Reva, di saat wanita itu justru baru saja menjalin hubungan dengan Rafael tanpa Kris ketahui.
Tragedi yang dialami Reva adalah berkah bagi Kris, karena tanpa kemalangan itu, Kris tak akan mungkin memilikinya. Semakin Reva tersiksa oleh mantan pacarnya, semakin dalam wanita itu jatuh dalam pelukannya. Begitulah sekiranya yang ada di dalam benak liar Kris. Tak apa jika setelah sembilan tahun itu Reva masih belum membuka dirinya secara utuh, Kris akan tetap menunggu.
__ADS_1
Benang tipis di antara obsesi dan cinta adalah hal yang saat itu dirasakan oleh Kris. Tanpa sadar, selama itu ia telah bermain-main dengan trauma yang dimiliki oleh Reva. Ada kepuasan tersendiri bagi Kris saat melihat Reva paranoid mengingat masa lalunya. Artinya, ia tak akan pernah kembali ke sana apa pun yang terjadi. Reva harus tetap seperti itu. Harus tetap berlari sejauh mungkin dari cinta pertamanya. Kris bertekad kepada dirinya sendiri akan membuat Reva selalu seperti itu.