Under The Rain

Under The Rain
Bab 41—Sejuta Kerinduan


__ADS_3

Memasuki tahun ke tiga terapi, Rafael mulai bisa berolahraga ringan seperti berjalan kaki di pagi hari, meskipun batasnya tak lebih dari dua puluh menit sebelum dirinya tumbang. Tetap saja, itu merupakan kemajuan yang sangat baik. Dirinya sudah tak lagi membutuhkan baik kursi roda mampun tongkat untuk membantunya berjalan. Ia juga sudah berbincang dengan keluarganya, dan mulai bersosialisasi bersama teman-temannya seperti Adji dan Erin.


Hari itu merupakan hari ulang tahun Rafael yang ke-32. Semua orang di rumahnya tengah sibuk untuk membuat acara kecil-kecilan sebagai bentuk dari rasa syukur atas kondisi Rafael yang terus membaik. Wina memasak lebih banyak, karena Nadia dan Kaia juga akan datang. Adik-adik Rafael memesan satu buah opera cake serta beberapa desserts, dan mereka sejak tadi sibuk membuat minuman serta kudapan ringan.


Rafael menghampiri Sheila dan Thalia yang sedang berada di dapur, sementara Wina dan yang lainnya sibuk merapikan ruangan-ruangan. Sebenarnya, mereka berdua jarang sekali berada di rumah karena sibuk bekerja. Sheila hampir setiap hari mengambil lembur, dan Thalia juga selalu magang hingga larut malam sembari mengerjakan skripsi.


“Dek, banyak banget beli makanan. Sayang, lho, uangnya.” Rafael merasa tak enak kepada kedua adik perempuannya atas pesta yang menurutnya tak perlu.


“Nggak apa-apa, dong, Kak. Namanya juga syukuran. Lagipula, kita memang sudah lama nggak kumpul, ‘kan?” jawab Sheila.


“Maaf, ya, Dek, jadi ngerepotin kamu terus sejak Kakak sakit.”


Rafael duduk di sebuah kursi sementara kedua adiknya berkutat dengan pisau dapur dan blender. Pria itu hanya mampu memandangi punggung mereka dengan kekecewaan terhadap dirinya sendiri. Lalu, Thalia berbalik untuk duduk bersamanya. Di dapur itu terdapat meja makan mini dengan dua buah kursi kayu, sementara meja makan utama yang mewah dengan dua belas tempat duduk berada di ruang makan.


“Kita mau berterima kasih sama Kakak. Karena tanpa bantuan Kakak dulu, aku sama Sheila nggak bisa kuliah. Yang kita keluarin hari ini buat Kakak itu masih nggak ada apa-apanya,” jelas Thalia sembari menatap wajah kakaknya yang jadi sering terlihat muram.


“Betul, Kak ...,” timpal Sheila seraya memotong buah. Keluarga kita dulu bertumpu sama kamu doang, lho. Sekarang, giliran adik-adikmu ini yang turut berkontribusi. Udah saatnya Kakak pikirin diri sendiri, biar kita gantian urus Mama sama Papa dan adik-adik.”


Rafael hanya bisa tertegun haru melihat adik-adiknya tumbuh menjadi wanita dewasa yang bertanggung jawab dan penuh rasa peduli. Ia begitu bangga karena usahanya selama itu tak sia-sia. Namun, ia juga merasa bersalah karena selama tiga tahun penuh tak ada yang bisa ia lakukan selain menyusahkan seluruh anggota keluarganya. Apalagi jika memikirkan Nadia. Rafael tahu, mantan istrinya itu yang menanggung seluruh biaya pengobatannya, dan ia merasa berhutang besar.


Dengan perasaan tak tentu, Rafael berjalan ke taman belakang, di mana ayahnya sedang berada di sana untuk memberi makan kucing. Kondisi Pram sendiri juga sebenarnya tak jauh berbeda dengannya. Ia mengalami stroke ringan dan nyeri persendian kronis, dan hanya mampu mengerjakan tugas-tugas ringan saja di rumah.


“Pa,” sapa Rafael ketika ia mendekat untuk duduk di sebelah ayahnya.


“Eh, Kak,” sahut Pram, “sini, bantu Papa urus kucing.”


Rafael segera mengangkat salah satu anak kucing dari kandangnya, dan menggendongnya untuk memberikan susu. Total ada tiga belas kucing di rumahnya saat itu. Awalnya, ia hanya memiliki seekor kucing betina saat sekolah dulu, yang ia pungut dari jalanan karena ia tak tega melihat si kucing kedinginan di bawah hujan deras. Dua puluh tahun kemudian, kucing di rumahnya menjadi belasan, karena setelah kucing pertamanya itu, ia jadi ketagihan mengadopsi beberapa kucing jalanan yang menurutnya terlihat mengkhawatirkan.


“Sehat, Kak?” tanya Pram di antara kucing-kucing mengeong yang minta diberi makan.


“Sehat. Papa sehat?"


Pram menghentikan aktifitasnya sejenak setelah ia memastikan mangkuk-mangkuk makanan kucing sudah terisi penuh. Lalu, ia duduk di sebelah putranya di gazebo favorit mereka. Tampak wajahnya sudah berkerut, dan rambut putihnya sudah berjumlah jauh lebih banyak dari pada yang hitam. Ia membuka kacamatanya, melipatnya, dan meletakkan benda itu di sampingnya.


“Harus sehat, Kak,” jawabnya mantap. “Setidaknya harus berpikir kalau kita itu sehat. Kuat. Yang penting itu di mental, dan di hati,” imbuhnya seraya menepuk punggung putranya.


“El pengen secepatnya balik kerja, Pa,” ujar Rafael tertunduk, masih dengan anak kucing yang terus menggelinjang di pangkuannya.


“Kakak sudah yakin kuat?”

__ADS_1


“Kalau kerja dari rumah kuat, Pa. Nggak enak sama Sheila dan Thalia soalnya. Jadi mereka yang harus kerja buat nutup kebutuhan.”


Pram melirik ke arah putranya, dan ia mengerti betul kegelisahan Rafael saat itu. Ia pernah berada dalam posisi seperti itu bertahun-tahun yang lalu.


“Kak, Papa ngerti kalau sebagai laki-laki, kamu merasa perlu bertanggung jawab. Lihat Papa sekarang. Sakit-sakitan, ndak kerja. ndak punya menghasilan—”


“Pa! Tapi Papa pekerja keras. Dulu kita punya semuanya berkat Papa. Kita bisa nyaman tinggal di rumah sebesar ini karena Papa. Kalau memang setelah itu ada musibah, ya bukan salah Papa.”


“Nah, itu, Nak, yang Papa maksud. Kamu mengalami musibah, jadi jangan menyalahi diri sendiri terus. Kamu tahu apa yang membentuk laki-laki?”


Rafael tak merespons.


“Sikap, Kak. Semangat kamu. Cara kamu memberi contoh. Pasti rasanya frustasi ketika kita merasa nggak berguna. Tapi, ketika kamu tetap positif, menunjukkan niat baik untuk bantu semuanya, mereka akan ngerti.”


“Iya, Pa—”


“Rafaeeel ...!”


Teriakan suara cempreng yang terdengar tak asing tiba-tiba mengusik ketenangan ayah dan anak yang sedang mengobrol syahdu itu. Tentu sudah bisa ditebak siapa pemiliknya, bahkan Rafael yang mengalami cedera otak pun tetap bisa mengenali suara itu dengan baik.


Nadia baru saja tiba di undangan ulang tahun mantan suaminya, dan ia segera melambaikan tangannya saat menemukan pria itu di taman belakang.


“Hey, El, apa kabar?” tanya Nadia yang langsung duduk di sebelah pria itu, dan mengibaskan rambut panjangnya sampai mengenai wajah sang mantan suami.


“Baik, Nad,” jawab Rafael jengkel, sembari mengusap wajahnya yang terkena kibasan rambut. “Baru balik dari Singapura?”


“Aku cuma setahun di sana buat sekolah fashion. Sekarang balik lagi ke Bandung.”


“Oh, kirain settle di sana.”


“Nggak, dong! Aku, ‘kan, mau nikah bulan depan. Kamu datang, ya? Aku bawa undangannya, nih, buat kamu sekeluarga.”


“Sama si Irvan, ya?”


“Ih, kok, tahu? Kamu kepo, ya?”


“Kamu selingkuh sama dia udah lama, Nad. Aku pura-pura buta aja. Pura-pura budeg. Males ribut sama kamu soalnya.”


“Itu, ‘kan, salah kamu, El. Kapan kamu perhatian sama aku? Sibuk sendiri mulu!”

__ADS_1


“Iya, aku salah. Maaf, ya, Nad.”


Setahun yang lalu, sebelum Nadia berangkat ke Singapura, Rafael menandatangani surat perceraian mereka begitu ia bisa memegang pulpen dan menggerakan jari-jemarinya. Sama sekali tak ada kendala dalam proses itu, karena memang keduanya sudah ingin berpisah sejak lama. Rafael juga tak protes saat Nadia meminta hak asuh atas Kaia.


Nadia betul-betul ingin menjadi ibu yang baik bagi putri semata wayangnya. Ia sadar bahwa ia sangat merasa ketakutan kehilangan putrinya setelah insiden yang dialami Rafael di apartemen itu. Selama berada di Singapura, ia juga turut membawa Kaia untuk tinggal bersamanya.


Setiap akhir pekan mereka akan berjalan-jalan. Hanya berdua saja, untuk merekatkan bonding antara ibu dan anak. Tak pernah mereka melewatkan quality time untuk satu malam pun. Nadia selalu membacakan dongeng sebelum tidur kepadanya, mendengarkannya bercerita tentang teman-temannya, tentang hobinya dan tentang segalanya. Sesuai permintaan Kaia, Nadia pun memasukannya ke sekolah desain grafis untuk anak-anak, sementara dirinya menekuni industri mode.


“Kamu kenapa nggak minta cerai dari dulu, Nad?” Pertanyaan itu sebenarnya sudah sejak dahulu berputar-putar di benak Rafael.


“Yah, gimana, ya ... sebenarnya, jadi istri kamu itu nggak buruk-buruk banget, sih. Aku bebas pergi, bebas party, bebas ngapain aja. Kamu nggak bawel, nggak ribet minta ini-itu. Jadi, ya, aku fine aja.”


“Karena aku nggak peduli, Nad. Masalah hidup yang lain pun udah numpuk, jadi aku malas kalau harus berdebat terus sama kamu.”


“Iya, aku tahu, kok. Jadi kamu nggak boleh protes ketika aku selingkuh! Lagian, dulu aku parno sama perceraian. Stigma di keluarga kita buruk banget soalnya.”


“Mama kamu parno kamu jadi janda?”


“Iya! Nyebelin banget, deh! Bersyukurnya si Irvan cepet ngelamar. Kalau ngga, Mama riweuh banget pasti!”


“Kamu yang bener, ya, sama Irvan. Kelihatannya dia baik. Dia juga sayang banget sama kamu.”


“Sekarang aku bener, kok. Dia juga pisah sama mantan istrinya baik-baik. No clash. No drama. Kita udah saling terbuka dan nerima semuanya. Maaf, ya, waktu sama kamu, aku nggak bener.”


“Yah ... aku sendiri juga nggak bener, sih. Jadi santai aja. By the way, kalau aku nggak sakit dan masih berpenghasilan, kamu tetap minta cerai nggak?”


Nadia terkesiap. Sakit? Rafael berpikir perceraian itu terjadi karena dirinya sakit? Karena dirinya tak bekerja? Astaga. Ia mengerenyitkan dahi dan memicingkan kedua matanya. Apa belum ada yang memberitahunya soal Reva? Apa buku diary itu masih belum dibacanya? Duh.


Nadia ingat saat Wina berjanji akan memberikan pengertian kepada Rafael tentang mengapa dirinya meminta perpisahan. Tampaknya, Wina belum mengatakan apa pun.


“Cepat atau lambat, kayaknya kita pasti pisah, deh. Kamu mau hidup kayak gitu terus memangnya?” Hanya itu saja jawaban dari Nadia, meskipun sebenarnya ia merasa sangat gemas!


“Iya, sih—”


“Kalau kamu gimana? Kamu nggak cari pacar lagi?” Nadia si biang gosip mulai tak tahan untuk tak memancing-mancing. Ia memang selalu seperti itu, rasanya sulit sekali mengendalikan lidah.


Rafael terdiam. Ia hanya menunduk sembari memandangi kedua kakinya yang ia ayun-ayunkan pelan. Namun, bagi Nadia itu adalah jawaban yang sangat jelas. Ada sejuta kerinduan dalam diamnya pria itu. Siapa pun bisa melihatnya. Dan siapa pun tahu untuk siapa kerinduan yang dipendam itu.


Ah, gemas sekali rasanya! Haruskah segala tentang Reva diceritakan saat itu juga?

__ADS_1


__ADS_2