
Sebuah alat pacu jantung sudah disiapkan oleh tim dokter kala mereka memutuskan untuk untuk mencopot semua tuba yang terpasang pada tubuh Rafael. Sejak tadi pagi, ritme pada monitor itu sangat stabil, dan terdengar suara batuk kecil dari tenggorokannya, pertanda bahwa pria itu sudah mulai bisa merespons terhadap keberadaan selang ventilator yang masuk melalu saluran pernapasannya. Pupilnya sudah mulai bereaksi saat dokter menyinarinya dengan sorot lampu senter. Perlahan, jari-jemarinya pun bergerak ketika ujung telunjuknya dijepit oleh sebuah pulse oxymetry untuk mengukur kadar oksigen dalam darah.
Setelah menghabiskan waktu selama empat bulan sebelas hari di ruang ICU, Rafael akhirnya dinyatakan telah melewati masa kritis.
Banyak sekali yang harus dilakukan oleh tim dokter yang bertugas menangani kasus Rafael sejak hari pertama pria itu dilarikan ke rumah sakit. Serangkaian pemeriksaan fisik dan psikologis wajib dijalaninya pasca terbangun dari koma. Seluruh aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya perlu dikaji ulang, seperti seorang siswa baru yang hendak mendaftar masuk ke sekolah. Tak hanya masa ototnya saja yang menyusut drastis entah ke mana, kemampuan responsifnya juga bak hilang ditelan bumi setelah gegar otak traumatik yang dialaminya.
Rafael tak mampu berbicara sepatah kata pun kala seluruh keluarganya datang untuk menjenguk, setelah mereka diberi kabar oleh pihak rumah sakit bahwa pria itu telah terbangun dari tidur panjangnya. Dengan mata sayup yang menjadi sangat sensitif terhadap cahaya, ia hanya bisa memandangi lesu satu per satu anggota keluarganya secara bergantian. Semua hadir di situ termasuk Pak Pram, dan juga Nadia. Bahkan, Kaia yang belum berusia dua belas tahun pun untuk sementara diizinkan masuk ke ruang ICU yang dipenuhi oleh peralatan medis yang terlihat canggih itu.
Para adik perempuan Rafael hanya bisa saling menatap iba melihat kakak laki-laki mereka terbangun dalam keadaan seperti itu. Harapan setinggi langit seketika terjun bebas kala mereka menyadari bahwa Rafael terbangun dalam kondisi yang teramat buruk. Tidak. Bukan itu yang mereka inginkan saat sang kakak akhirnya sadar dan membuka matanya. Bukan begitu sosok Rafael sebelum mengalami perkelahian yang hampir membuat nyawanya melayang. Rafael tak pernah terus-menerus terlihat seperti orang mengantuk dengan mulut menganga. Rafael tidak bisu dan tuli sebelum menghabiskan empat bulan di kamar ICU. Rafael tak pernah tampak sekurus itu, dengan punggung bungkuk dan leher terkulai lemas setiap kali dokter mencoba membuatnya duduk.
Pria yang baru saja kembali ke kesadarannya itu sama sekali bukan Rafael yang mereka nantikan. Ia terlihat sangat berbeda. Ia bahkan tampak tak mengenali sekumpulan orang-orang yang sedang berdiri mengelilinginya siang itu. Keluarganya sendiri.
“Kayaknya ...,” ujar Sheila dengan ragu-ragu, “ini yang dokter maksud saat mereka bilang kalau kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.”
“Jangan putus asa, Nak! Kita ikuti saran dokter untuk terapi. Kakakmu pasti bisa normal lagi kayak dulu. Pasti. Kamu harus yakin.” Wina mencoba tegar sembari terus mengusap bulir-bulir air matanya sendiri, yang sejak tadi seolah tak mau berhenti berjatuhan saat kedua manik itu ia paksa untuk menatap putranya yang tampak sangat memprihatinkan.
Saat itu Rafael harus kembali menjalani beberapa prosedur medis untuk memastikan keadaannya secara menyeluruh, sementara semua anggota keluarganya masih menunggu di rumah sakit untuk sebuah keputusan.
__ADS_1
“Ma, apa benar Kakak nggak ngenalin kita? Apa Kakak masih bisa sembuh total, Ma?” tanya Yarra dengan nada ketakutan terdengar di dalam kalimatnya.
“Tenang, ya, Dek. Kakak itu mengalami cedera otak traumatik. Sepertinya wajar kalau baru bangun dari koma, dan dia masih bingung sama realita,” jawab Sheila menenangkan. “Kita tunggu kabar dari dokter, ya.”
“Tapi, Kak—”
“Udahlah, Dek. Coba buat nggak mikir negatif, ya. Kemarin, ‘kan, kita sudah diberi kabar kalau kemungkinan memang ada kerusakan di jaringan saraf. Tapi, semua itu bisa ditangani sama terapi, kok,” imbuh Thalia yang juga merasa khawatir melihat adik perempuannya dilanda rasa panik.
Pram yang siang itu mengunjungi putranya dengan menggunakan kursi roda hanya bisa duduk menyendiri di ujung koridor, sementara anak-anak dan istrinya ia biarkan menunggu di sebuah lounge yang nyaman. Pram jelas sangat terpukul melihat putra semata wayangnya kembali ke kehidupan seolah setengah utuh. Setengahnya lagi seperti tertinggal entah di dunia mana. Fisiknya tak kembali dengan sempurna, apalagi mentalnya yang seperti tak pada tempatnya ketika ia mulai mengerjapkan matanya tadi pagi.
Sebagai seorang ayah sekaligus kepala keluarga, Pram tak ingin terlihat lemah meskipun ia sangat ingin menangis. Seluruh tubuhnya yang sudah renta bergetar begitu hebat saat putranya melirik ke arahnya di ruang ICU tadi, tetapi ia terlihat tak mengenalinya sebagai ayah. Pram merasa mungkin hidupnya sendiri tak akan lama lagi, dan ia sungguh tak ingin menghabiskan sisa-sisa harinya dengan hidup sebagai orang asing bagi putranya sendiri.
“La, gimana, ada kabar dari Reva? Apakah dia tahu kalau kakakmu sudah sadar?” tanya Wina kepada Sheila saat mereka sedang memberi asupan kepada perut yang sudah keroncongan sejak siang.
Sheila yang selalu update kabar tentang Reva dari Erin dan Nadia hanya menggeleng lemah sembari mengunyah nasi goreng. “ Belum, Ma. Belum ada kabar,” jawabnya.
“Apa Mama perlu datang ke sana? Ke tempat Reva tinggal sekarang?”
__ADS_1
“Sepertinya jangan, Ma. Takutnya Kak Reva nggak nyaman. Kata Kak Erin, dia pun mulai mutusin kontak. Nggak pernah balas sms atau angkat telepon lagi.”
“Tapi, Mama perlu datang untuk minta maaf sama dia soal tindakan kakakmu dulu, La. Lihat kakakmu sakit dan sampai harus terapi psikologis, Mama jadi kepikiran Reva.”
“Ma, Sheila janji akan cari cara biar Mama bisa ketemu Kak Reva, ya.”
“Tolong, ya, La. Pasti berat buat dia, apalagi dulu dia harus jalanin semuanya sendirian. Anak laki-laki Mama sendiri sekarang mengalami nasib yang sama. Jadi Mama sadar, seberat apa yang udah dilewatinnya dulu.”
“Iya, Ma. Sheila janji.”
"Kakakmu akan senang sekali kalau kita bisa bawa Reva pulang ke rumah, Mama yakin itu. Dokter bilang, kondisi mentalnya akan cepat pulih kalau Kakak ngerasa selalu bahagia."
"Betul, Ma. Semoga aja semuanya kembali kayak dulu, ya. Kak El selalu bahagia kalau ada Reva. Mereka sahabat sejati dan harus selalu sama-sama."
***
Satu kecupan mesra mendarat di kening Reva saat janji suci pernikahan telah selesai diucapkan. Tanda tangan mempelai pria dan wanita sudah tercantum di buku itu. Buku kecil yang memuat sebait bukti sah perkawinan beserta kekuatan hukum yang berada di dalamnya. Tak banyak orang yang hadir di sana selain Bi Uma dan dua orang saksi. Tak ada pesta apalagi resepsi besar-besaran. Hanya Kris dan Reva yang baru saja menyandang status baru sebagai sepasang suami-istri di hadapan seorang penghulu dan wali.
__ADS_1
Tak terbendung lagi rasa bahagia Kris saat itu, saat satu-satunya yang telah ia perjuangkan akhirnya berwujud kenyataan di hadapannya. Pernikahan itu sangat dianggapnya sebagai hal yang suci dan sakral, dan menikahi wanita yang sangat dicintainya adalah sebuah berkah yang tak ternilai oleh apa pun. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur saat lantunan doa baik terucap sebelum prosesi akad nikah dimulai, dan ia tetap tak henti-hentinya bersyukur saat ia menggenggam tangan istrinya untuk pulang ke rumah, atau ke mana pun mereka akan melangkah bersama.
Kris telah kembali ke tanah Jawa beberapa hari yang lalu, bersamaan dengan kembalinya Rafael dari kegelapan sunyi yang menenggelamkan pikiran sadarnya. Di mulai sejak hari itu, kedua pria berbeda nasib itu akan memulai menjalani kehidupan baru yang telah menanti mereka di depan.