
Sesi pertama konsultasi tak membuahkan banyak hasil bagi Andini. Alih-alih menggali berbagai keterangan dari Reva, dokter itu malah dibuat penasaran mengapa wanita itu selalu terlihat murung. Sebetulnya, perasaan Andini sendiri mulai tak biasa ketika ia melihat beberapa bekas luka di wajah pucatnya. Ada sebuah luka memanjang bekas jahitan di pelipis, sayangnya Andini sama sekali tak bisa melihat lebam dan memar karena saat itu Reva mengenakan sweater yang menutupi bagian atas tubuhnya.
Andini harus melangkah lebih jauh jika ia ingin menemukan sesuatu, dan siang itu ia beranjak ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan dan memberikan laporan kesehatan Kris yang sejujurnya belum banyak ia pahami. Koordinasi yang bersinergi sangat dibutuhkan untuk menentukan masa depan Kris. Vonisnya akan jauh berbeda antara berperan sebagai konsumen atau pengedar. Jumlah kepemilikan obat-obatan dan kesehatan mental Kris juga akan benar-benar dipertimbangkan sebelum putusan hakim resmi dikeluarkan.
Satu hal yang awalnya Andini tak tahu, bahwa alasan utama penahanan Kris sebetulnya adalah percobaan pembunuhan, bukan keterlibatannya dengan jeratan zat adiktif.
Begitu Andini mendapatkan pernyataan tersebut dari pihak kepolisian, semuanya mulai terasa masuk akal baginya. Luka yang dilihatnya di wajah Reva mulai masuk akal. Kilatan ketakutan di kedua mata Reva, dan betapa wanita itu tak bisa melepaskan dirinya dari Rafael. Semuanya mulai masuk akal di dalam benak Andini. Ia hanya tak mengerti mengapa Kris bisa sampai melakukan hal kejam seperti itu. Pasti ada sebuah alasan yang kuat. Pasti ada sesuatu yang bisa ia pahami. Polisi pun sebenarnya masih dalam proses penyelidikan.
Tekad Andini untuk mengunjungi kediaman Reva sudah bulat. Malam-malam ia bertandang untuk menemui Reva berdasarkan alamat yang ia dapatkan dari pihak kepolisian. Tentunya, hal itu dilakukannya setelah memastikan Kris mendapatkan perawaatan yang terbaik. Andini memang memiliki banyak kolega yang ia percayai di rumah sakit itu, sehingga ia bisa menitipkan Kris dengan tenang.
Saat jam makan malam berlangsung, Andini baru tiba di rumah Reva. Jarak dari rumah sakit sekitar dua puluh kilometer, ditempuh oleh Andini dalam waktu empat puluh menit. Di tengah perjalanan, ia tak lupa mampir untuk membeli kudapan sehat seperti kue gluten-free dan buah-buahan. Ketika Andini tiba di depan pagar rumah itu, Reva sedang menyantap makan malam ditemani oleh Rafael.
Dalam heningnya sebuah desa di Sleman Utara, Reva bisa mendengar dengan jelas kala pagarnya diketuk. Kris memang sengaja tak memasang bel karena ia tak ingin diganggu ketika sedang berada di rumah. Jadilah orang yang hendak berkunjung harus mengetuk pagar berulang-ulang atau berteriak lantang seperti seorang debt collector. Itu pun hanya akan berhasil ketika pemiliknya tak merasa malas membuka pintu.
Saat itu Reva benar-benar ingin tahu siapa yang mengunjunginya setelah berbagai masalah yang datang menghampirinya, sehingga ia bergegas ke luar untuk melihat sosok itu.
“Hai, Reva,” sapa Andini yang terpaksa turun dari SUV mewahnya untuk mengetuk pagar. “Boleh saya masuk, Va?”
“Dokter Andini?” Penerangan samar di sekitar situ membuat pandangan Reva menjadi tak jelas sehingga ia perlu memincingkan matanya sembari berjalan mendekati pagar.
“Iya, Va, ini saya,” jawab Andini. “Maaf saya ganggu malam-malam, ya.”
Awalnya Reva merasa ragu-ragu untuk membuka pintu terhadap orang asing, tetapi ia tak tega juga kalau harus membiarkan Andini berdiri di luar sana.
“Saya cuma mau minta waktu sebentar, boleh?” jelas Andini yang segera bisa menangkap keraguan Reva. “Saya betul-betul mau bantu kamu, Va.”
Akhirnya Reva mengalah. Ia juga tak memiliki alasan untuk menolak kehadiran dokter itu. Andini sudah bersikap sangat baik kepadanya meskipun mereka baru saja bertemu. Dokter itu tak mungkin memiliki niat jahat.
“Silakan, Dok.” Reva membuka gembok pagar dan mempersilakan Andini masuk terlebih dahulu.
Tamu itu segera diarahkan untuk menuju ke ruang makan di mana Rafael sedang menikmati semangkuk soto ayam dan aneka sate.
“Eh ... Dokter,” sapa Rafael dengan segan. “Mari makan.”
__ADS_1
“Nggak usah,” tolak Andini dengan halus sembari meletakkan buah tangan yang dibawanya ke atas meja makan itu. “Ini justru saya bawa sesuatu, lho.”
“Yah, ngapain repot-repot, sih, Dok.” Rafael jadi merasa tak enak melihat banyaknya camilan yang dibawa Andini untuknya dan Reva. “Ayo silakan duduk, Dokter.”
“Nggak repot, lah. Tadi sekalian lewat, kok,” kilah Andini seraya menarik salah satu kursi di meja makan tersebut.
Rafael hanya mengangguk tersenyum dengan mulut penuh dengan telur puyuh. “Jadi, ada acara apa ini?” tanyanya polos.
“Va, hari ini pihak rumah sakit sama kepolisian udah mulai bekerja sama.” Andini segera membuka percakapan setelah saling bertukar sapa. Sebelumnya, saya mau minta maaf atas apa yang baru aja kamu alami.”
Dengan tulus Andini bersimpati kepada situasi Reva saat itu. Iya benar-benar tak menyangka bahwa pria yang pernah sangat dekat dengannya ternyata adalah pelaku tindak kekerasan.
“Pasti berat sekali rasanya jadi kamu, Va. Saya bangga banget lihat kamu bisa sekuat itu.”
Reva tak banyak merespons meskipun hatinya sangat ingin memuntahkan segala unek-unek yang ia rasakan selama bertahun-tahun. Namun, masalah itu benar-benar sudah terlalu rumit dan menjalar ke mana-mana. Reva tak tahu lagi dari mana harus memulainya.
“Maaf kalau saya lancang, Va ....” Andini menatap wanita itu dengan penuh perhatian. “Hasil keterangan polisi ... kamu sudah menggugat cerai. Apakah tekad kamu udah bulat?”
“Kalau kamu nggak keberatan, kamu bisa cerita sama saya tentang semuanya.” Andini menggenggam kedua tangan Reva yang terasa begitu dingin untuk mendapatkan kepercayaannya. “Va, saya bisa bantu kamu agar proses hukumnya berjalan cepat. Saya mau bantu kamu sebagai saksi ahli kalau memang kamu butuhkan.”
Rafael yang sedang asyik menikmati empal gorengnya yang begitu empuk terpaksa ikut angkat bicara. “Dokter Andini benar, Va. Pengadilan akan bertindak lebih cepat kalau kamu memang punya alasan kuat untuk pisah, terutama kalau kamu punya back up hasil medis tentang keadaan psikologis kamu sekarang.”
Belum sempat Reva menjawab, Rafael segera beranjak untuk mengambil sesuatu dari ranselnya yang terletak di sofa ruang tengah. Setelah benda itu ditemukan, ia segera kembali ke meja makan.
“Ini catatan harian Reva, Dok,” jelas Rafael sembari menunjukkan rupa buku diary itu kepada Andini.”
“El ... tolong jangan,” mohon Reva dengan memelas, menjulurkan lengannya untuk meraih buku itu. Terkejut juga dirinya saat mengetahui bahwa Rafael masih membawa buku itu ke mana-mana, padahal ia sudah dengan jelas meminta Erin untuk membakarnya saja.
“Kenapa jangan? Semua ada di sini, Va. Semua yang kamu butuhin ada di sini.”
Tentu saja Rafael tak akan semena-mena memberikan catatan berharganya itu kepada orang yang baru saja dikenalnya seperti dokter Andini. Namun, ia tetap membutuhkan sebuah panduan untuk dapat menceritakan semuanya kepada psikiater muda itu.
Di dalam buku catatan itu bukan hanya ada tulisan-tulisan pribadi Reva. Di sana juga terselip resep-resep dokter yang pernah diterimanya, foto USG beserta surat keterangan lahir mendiang bayi mungilnya, serta kartu nama dari beberapa terapis profesional yang pernah membantunya.
__ADS_1
Semalaman suntuk Andini dan Rafael berbincang sampai akhirnya wanita itu memutuskan untuk menginap. Ia tak mungkin menghentikan diskusi tersebut di tengah jalan, justru sesi konsultasi mendalam itu berpindah ke sofa agar lebih nyaman. Berkat kesabaran dan ketulusan hati Andini, Reva juga perlahan mulai membuka dirinya. Sedikit demi sedikit ia mengungkap kepingan demi kepingan dari puzzle rumah tangganya bersama Kris.
“Jadi gitu, Dok, penyebab dari rentetan permasalah ini memang saya,” aku Rafael sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Keputusan goblok saya dulu bikin semuanya jadi runyam sampai kayak gini.”
“Enggak, Dok! Aku yang salah paham sama semuanya. Aku ngerasa hancur banget sampai terburu-buru pergi dari rumah ... harusnya, aku bisa lebih sabar waktu itu.”
Andini menatap pasangan itu dengan penuh empati. Sepertinya ia juga turut merasakan duka dari keduanya melalui jalan hidup yang berliku. Melewati masa depresi sungguh tak mudah. Melewati berbagai terapi karena koma juga tak mudah. Mendengarnya saja sudah membuat Andini bergidik, apalagi kalau sampai harus mengalaminya.
“Kalian tahu nggak, kesalahan itu memang bagian dari kita, ‘kan?” Andini menghela napas panjang sembelum memberikan pandangannya kepada dua makhluk malang di hadapannya itu. “Coba diingat lagi, deh. Kalau dipikir-pikir, banyak dari masalah itu memang kita sendiri yang buat, ya?”
Rafael dan Reva hanya mengangguk sembari saling bersandar kepada satu sama lain.
“Ada yang sudah enak bekerja, dipecat karena mencuri. Ada anak putus sekolah karena hamil. Ada rumah tangga hancur karena perselingkuhan. Ada yang karirnya hancur hanya karena salah bicara ... kalau manusia semuanya sempurna, sepertinya nggak akan ada masalah, ya?”
“Iya, Dok ... sayangnya, hidup nggak kayak gitu karena manusia masih punya ego.”
“Betul, El. Tapi, sisi baik ataupun jahat itu semuanya bagian dari kita, dan karena itu hidup nggak ada yang sempurna. Lalu kita bisa apa, dong? Nggak ada lagi selain move on, ‘kan? Karena hidup terus berjalan.”
“Mau gimana lagi, Dok. Memang harus bertahan hidup selama masih dikasih napas ... sambil terus memperbaiki diri.”
“Saya ngerti kalau kadang sesuatu itu kerasa begitu menyakitkan. Kadang orang itu kerasa begitu jahat ... tapi El, Va ... kita punya pilihan, lho, untuk lihat dari sisi yang baik atau buruk. Saya juga punya banyak kesalahan yang hampir nggak termaafkan, tapi saya terus belajar dari situ.”
“Nggak akan sebesar kesalahan saya ke Reva, Dok.”
“Kata siapa? Kalau kita mau main salah-salahan atas semua tragedi ini, mungkin justru saya biang kerok yang sebenarnya.”
Rafael dan Reva saling melirik dengan raut kebingungan, lalu secara bersamaan mereka menatap Andini untuk sebuah penjelasan. Kalimat terakhirnya benar-benar membuat mereka bertanya-tanya.
“Maksud Dokter apa?” tanya Reva penasaran.
“Kamu tahu, Va ... kalau saya nggak ninggalin Kris sembilan belas tahun yang lalu, mungkin semuanya nggak akan kayak gini. Tapi saat itu saya benar-benar berambisi buat jadi dokter. Saya pindah ke Yogyakarta buat kuliah karena nggak mau terus-terusan diganggu sama cowok posesif itu.”
Sontak kedua mata Reva terbelalak, dan Rafael hanya bisa memandangi psikiater itu dengan mulut menganga. Pantas saja wanita itu bersikeras untuk mendekati Reva, ternyata memang ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
__ADS_1