
Dalam serangkaian kisah pilu dan penyesalan, tersurat pula warna baru persahabatan dari dua wanita yang sebelumnya selalu saja berseteru. Nadia bercerita kepada Reva tentang kondisi Rafael di hari Reva melarikan diri bersama Kris, dan bagaimana kondisi tersebut terus memburuk hingga seminggu kemudian. Serta kemungkinan bahwa pria itu bisa jadi tak akan benar-benar pulih untuk melihat dunia seperti sedia kala.
Bagi Reva, tentu saja ia merasa tak perlu mendengar kabar duka yang menyayat hati seperti itu. Bukan. Bukannya Reva tak peduli, tetapi karena ia tahu bahwa ia tak akan kuat jika ia harus hidup dengan fakta menyakitkan tersebut. Semakin merasa bersalah saja ia dibuatnya, saat ia diberi tahu bahwa pria yang sangat dicintainya bisa saja hari ini atau esok meregang nyawa, sedangkan pernikahannya hanya tinggal selangkah lagi di depan mata.
“Va, kamu harus ikut kita ke rumah sakit.”
Kalimat Erin barusan lebih terdengar seperti hukuman dari pada sebuah ajakan. Hukuman, karena Reva tahu batinnya akan sangat tersiksa melihat Rafael yang sedang terombang-ambing di batas kesadaran, dengan tanda-tanda kehidupan yang terlihat samar antara ada dan tiada. Sungguh, bagaimana pula ia bisa mendekatkan diri kepada pria itu, sedangkan ia sangat yakin bahwa ia tak akan sanggup meninggalkannya lagi. Di sisi lain, ada janji yang ia harus tepati.
“Aku nggak bisa, Rin,” balas Reva pasrah. “Aku nggak akan bisa pergi ke sana.”
“Tapi, Va—”
“Rin, kamu harus ngerti. Ada hati yang harus aku jaga, ‘kan?”
“Va!” Nadia menyela dengan lantang. “Kamu mau tetap menikahi dia? Karena apa? Kamu lihat apa akibat dari kegilaan orang itu?”
Reva terdiam, menunduk lemas ketika kedua wanita yang sedang duduk di samping kanan dan kirinya membelalakinya penuh tanda tanya. Ia tak tahu lagi apa yang ia mau saat itu. Ia tak tahu lagi mana yang benar dan tidak. Rentetan peristiwa yang terjadi akhir-akhir itu sungguh membuatnya sakit kepala.
“Va ....” Nadia memelankan suaranya seraya mengelus halus punggung bungkuk wanita malang di sebelahnya itu. “Aku tahu kalau kamu udah setuju buat menikah, tapi, aku juga tahu kalau kamu nggak cinta dia. Please, Va, jangan ulangi kesalahan yang El buat dulu.”
“Nadia benar, Va. Kamu yakin akan bahagia ketika menikah hanya kerena mau balas budi?” Erin turut memberi saran, seraya terus merangkul pundak Reva yang tampak lesu.
“Tapi, Rin, kalau bukan karena Kris, aku nggak akan hidup hari ini. Cuma dia yang selalu hadir di titik terparah dalam hidup aku. Dia banyak berkorban, Rin. Terlalu banyak. Sampai aku bisa bangkit lagi dan mulai hidup baru.”
“Tapi, Va—”
“Kamu tahu, Rin, dia lembur siang malam, hanya karena dia pengen ngasih kehidupan yang layak buat aku. Selama ini dia berjuang demi aku. Dia nggak pernah lelah bikin aku senyum bahkan di saat dunia nggak baik-baik aja. Bahkan El pun nggak pernah sepeduli itu saat kita sahabatan dulu.”
“Iya, Va, aku ngerti. Cuma tetap aja, aku pikir bukan itu alasan yang tepat buat menikah.”
“Apa alasan yang tepat, Rin? Karena cinta? Aku cinta sama El bertahun-tahun ... nggak pernah dianggap juga, ‘kan? Sampai aku lelah sendiri karena yang dia bahas selalu perempuan lain ....”
“Aku yakin, El menyesal banget pasti kalau harus kehilangan kamu kayak gini.”
“Terlambat, Rin. Sekarang Kris pergi, dengan harapan ketika dia pulang, dia bisa bawa bekal cukup buat pernikahan kita. Sekarang bilang sama aku, Rin, apa yang akan terjadi kalau dia datang dan aku nggak ada buat dia? Gimana rasanya kalau orang yang kamu perjuangkan habis-habisan, pergi begitu aja ninggalin kamu buat orang lain?”
__ADS_1
“Aku cuma berharap, setidaknya kamu pikirin lagi.”
Reva tak menjawab, dan ia mamang tak mau melakukannya. Rasanya tak ada jalan keluar yang baik untuk kemelut di antara mereka semua saat itu. Semua serba salah. Benang kusut yang sudah terlanjur terbelit-belit sampai terburai memang tampaknya perlu digunting saja bagian yang rusaknya. Dibuang dan dilupakan. Seperti masa lalu Reva saat itu. Sepertinya benar-benar tak ada cara untuk menyelamatkannya tanpa menciptakan masalah baru. Jadi, lebih baik dibuang dan dilupakan.
Melihat Reva yang tetap teguh dengan pendiriannya membuat Erin dan Nadia sadar bahwa mereka tak bisa memaksa lebih lanjut. Akhirnya, mereka pun dengan berat hati menerima keputusan Reva yang sama sekali tak mau berkhianat terhadap komitmennya kepada Kris. Entahlah, meski jiwa seperti tak mau menyerah, tetapi memang ada batasan untuk segala sesuatu.
Reva seperti sudah siap untuk merelakan cinta yang bertahun-tahun dipeliharanya menguap, membaur dengan unsur-unsur zat kimia di udara. Tak mau mendengar kata hatinya sendiri, Reva seolah tak peduli akan seperti apa wujud pernikahannya nanti. Saat itu, yang terpenting baginya adalah menepati janjinya, untuk menunggu Kris sampai pria itu kembali.
***
Nadia membanting pintu mobil hatchback-nya dengan kencang sembari terus bersungut dan mendengus kasar. “Gila!!! Keras kepala banget itu cewek! Kenapa, sih, semua orang keras kepala!!!”
Pedal gas diinjak hingga mobil menggerung, dan tuas tranmisinya digeser dengan terburu-buru. Nadia juga membanting setir seperti sedang kerasukan mahkluk halus. “Siapa yang lebih gila, Rin? Si cowok yang jelas-jelas punya kelakuan kayak psikopat, atau si cewek yang mau-mau aja kawin sama psikopat!”
“Nad! Hati-hati di depan ada sepeda!” Erin yang berada di kursi penumpang depan jadi menegang melihat Nadia yang berada dibalik kemudi, menjalankan mobilnya dengan ugal-ugalan seperti remaja mabuk. “Udahlah, Nad, kita cari cara lain,” ujarnya menenangkan.
“Cara apa, Rin? Kita harus celupin kepalanya ke air panas biar meleleh sedikit, gitu? Keras banget kayak es batu soalnya!”
“Itu mah elu yang psikopat, Nad!”
“Kamu dengar waktu dia pamit bilang apa? Katanya, dia nggak mau buat Bi Uma khawatir. Siapa pula Bi Uma itu, sih? Seolah-olah dia doang yang dianggap keluarga. Mama Wina nangisin dia siang malam, tahu! Gue aja dulu mantunya nggak pernah dinangisin! Kesel, deh!”
“Aku pikir si El udah paling susah diajak ngobrol, ternyata itu cewek tingkat batunya udah paling level dewa! Pantas mereka sahabatan, cocok banget, dah!!!”
“Nad, awas ada yang nyeberang!”
“Dan kenapa gue bisa-bisanya stuck di antara mahkluk-mahkluk keras kepala ini, Rin? Salah gue apa sama semesta?”
“Elu, sih, ngancam si El segala dulu, pakai bawa-bawa polisi pula! Dikit-dikit lawyer, dikit-dikit ngomongin pidana. Kalau nggak, mah, mereka udah nikah dari kapan tahun. Damai hidup kita semua sekarang!!!”
“Oh, semua salah gue sekarang? Kalau dulu si El kabur, anak gue nggak punya bapak, dong, Rin! Tauk, ah, pusing!”
“Tetap aja, Nad. Kalau kamu nggak jadi selingkuhannya El, semuanya nggak akan sampai kayak gini.”
“Dih, Erin! Awalnya aku nggak tahu, lho, kalau mereka sempat pacaran. Lagian, salahin El, dong, kenapa dia masih penasaran sama gue!”
__ADS_1
“Aneh emang! Padahal jelas-jelas udah masuk blacklist!”
“Iri aja, deh, lu! Ya, memang sekece itu, sih, aku. Mau gimana lagi?”
“Hah? Siapa yang iri sama cewek yang setiap bulan touch up sulam alis?”
“JAHAT BANGET KAMU, ERIN!!! Udah, ah! Terus gimana, nih? Masa pulang ke Mama Wina tangan kosong, sih?”
“Sebenarnya, dari kemarin aku kepikiran sesuatu, Nad. Tapi nggak yakin, bakal berhasil atau nggak.”
“Apaan, tuh? Kita coba ajalah, kagok edan!”
“Nad, mau nggak mau kita harus coba ketemu sama orangtuanya Reva, sih. Kita harus ceritain semuanya, siapa tahu mereka bisa bantu.”
“Oh, ya, sudah. Rumahnya dekat rumah Papa Pram, ‘kan?”
“Iya, cuma beda lima rumah. Tapi—”
“Tapi apa?”
“Hubungan Reva sama orangtuanya nggak dekat. Dan dia juga belum pulang lagi sejak kabur sembilan tahun yang lalu.”
“Oh, anak broken home, toh. Pantas aja dia aneh.”
“Hush! Sembarangan, lu!”
“Iya, maaf. Ya, udahlah, kita tetap coba datang aja.”
“Mamanya judes banget, Nad.”
“NGGAK TAKUT!”
Di saat-saat genting seperti itu, setiap kemungkinan dan kesempatan agaknya memang layak dicoba, termasuk berjalan tanpa alas di atas kaca yang sudah rapuh.
Sejak kecil, Reva selalu menggambarkan kondisi di rumahnya seperti berjalan di atas kaca tipis, yang akan pecah setiap kali ia salah melangkah. Menurutnya, seperti itulah hubungan dengan kedua orangtuanya. Ia harus sangat berhati-hati dalam bertindak dan berbicara agar amarah mereka yang meledak-ledak tak sampai berhamburan seperti serpihan kaca yang akan melukainya.
__ADS_1
Reva adalah seorang anak tunggal yang seolah-olah hidup sebatang kara, karena kedua orangtuanya sangat sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada teman berceloteh atau bercerita di rumah itu. Tak ada senyum, sapa, dan salam sejak ia masih kecil. Semuanya seperti orang asing yang kebetulan tinggal di satu atap. Dan untuk alasan itulah ia menjadi sangat pandai memendam rasa ketika tumbuh dewasa. Reva sudah sangat biasa menyimpan semuanya seorang diri.
Cukup lama mengemudi, mobil compact berwarna kuning itu akhirnya memasuki sebuah kompleks perumahan. Hanya tinggal beberapa belokan sampai Nadia dan Erin tiba di rumah masa kecil Reva yang tak terlalu mewah namun tetap tampak luas. Namun, sesaat setelah mereka sampai di sana, sepertinya Nadia menangkap sebuah pemandangan yang tak biasa di pekarangan rumah itu.