
Tubuh yang sudah lelah membatin itu tetap dipaksakan berdiri oleh Reva, berusaha menghadang Kris yang sedang terbakar amarah untuk menemui Rafael malam itu juga. Tidak. Reva tak bisa membiarkan mereka bertemu dalam keadaan seperti itu, atau Reva tak bisa membiarkan mereka bertemu lagi sampai kapan pun. Namun, Kris sangat bersikeras untuk menantangnya, dan Reva sungguh tak mau sesuatu yang buruk terjadi. Akhirnya, ia terus memohon dan memelas agar Kris tetap tinggal, untuk melupakan segalanya dan terus melangkah maju.
“Kris ... aku mohon, tolong jangan datang ke sana. Tolong ...,” desak Reva seraya menahan tangan Kris yang sudah berada di gagang pintu untuk membukanya. “Please ... aku bisa jelasin semuanya,” imbuhnya dengan nada memelas.
Kris terdiam sejenak, tetapi perlahan tanggannya mulai melonggarkan genggaman dari gagang pintu. Reva melihat gerakan halus tersebut, dan ia segera meraih tangan itu dan menggenggamnya.
“Kris ...,” tatap Reva penuh harap dengan mata berkaca-kaca seraya menelan ludah berkali-kali, “kamu mau dengar aku, ‘kan?”
Untuk sementara itu, Kris mengalah. Ia mulai menjauh dari pintu meskipun wajahnya masih merah padam penuh rasa kecewa. Ia sangat tak menyangka rasanya akan sesakit itu, saat mengetahui Reva telah berbohong kepadanya. Dan ia lebih tak menyangka bahwa pria yang selama ini ia incar berada begitu dekat dengannya selama berbulan-bulan. Kris merasa seperti sedang dipermainkan. Sedih dan marah bersatu padu, yang akhirnya melahirkan luapan emosi yang begitu beringas sampai ia tak sadar telah berbuat kasar terhadap kekasihnya sendiri.
“Apa penjelasan kamu atas semua ini, Va? Mungkin kamu lupa, tapi aku bisa bantu kamu untuk ingat lagi tentang semuanya.”
“Kris, nggak perlu—”
“Kenapa kamu sampai kehilangan pekerjaan dan keluar dari kampus? Kenapa sampai pergi dari rumah?”
“Kamu nggak perlu bahas—”
“Kamu ingat di mana bayi itu dimakamkan? Kenapa kamu sampai bisa pendarahan berkali-kali dan hampir mati karena itu, Va?”
“Cukup, Kris!”
“Berapa kali kamu harus operasi? Berhadapan sama pisau-pisau bedah? Kenapa dokter vonis kamu nggak bisa punya anak lagi? Berapa hasil kerja keras kamu yang habis terpakai buat itu semua, Va?”
“Kris ....”
“Seberapa sering kamu minum sertralin? Duloxetine? Hanya karena kamu pengen ngerasain bahagia kayak orang lain. Dan kenapa setiap bulan kamu harus ketemu psikiater? Kamu ingat?”
Tubuh Reva seketika merosot ke lantai ketika kakinya tak kuat lagi menopang. Kepalanya hampir saja beradu keras dengan lantai jika saja Kris tak sigap menahan dan melindunginya dari benturan.
__ADS_1
Ya, tentu saja Reva ingat setiap rincian penderitaan yang baru saja dengan gamblang disebutkan oleh Kris. Ia mengingatnya dengan baik. Ia bahkan tak akan bisa melupakannya sampai kapan pun. Namun, separuh hatinya masih tertinggal di masa lalu bersama Rafael, dan selama itu ia hanya bisa hidup dengan separuh yang lain. Tentu ia tak bisa membiarkan sebagian hidupnya direnggut oleh Kris begitu saja.
“Sekarang bilang sama aku, Va. Kenapa kamu sampai repot-repot melarang aku pergi ke sana? Apa yang kamu harapkan dari aku? Setelah aku lihat kondisi kamu selama sembilan tahun terakhir dengan mata dan kepalaku sendiri?”
“Astaga ....”
“Aku nggak terima lihat kamu diperlakukan kayak gini, Va. Aku nggak bisa!”
“Nggak ada untungnya punya dendam, Kris ....”
Melihat kekasihnya sendiri bersikukuh untuk menghalanginya, Kris sama sekali tak berniat untuk mundur. Sebaliknya, ia malah semakin dibuat bertanya-tanya dari mana sikap protektif itu berasal. Ikatan semacam apa itu, yang bahkan tak pudar oleh sejuta trauma dan derita. Yang terus saja ingin melindungi bahkan ketika disakiti. Kris tak habis pikir mengapa Reva bisa sampai mengalah pada lubang hitam yang hampir menelannya hidup-hidup.
“Aku ngerti sekarang, Va. Dari cara kamu menjauhkan aku dari dia. Akhirnya aku ngerti.”
Reva tak berani merespons. Tatapan tajam Kris saat itu sudah seperti sedang menelanjanginya bulat-bulat, menelisik jauh ke dalam sanubarinya untuk mencari sebuah jawaban yang pasti. Reva sadar bahwa sejak awal ia memang sudah berkhianat terhadap hubungan rapuhnya bersama Kris. Ia sadar bahwa ia tak akan pernah mampu memberikan dirinya seutuhnya. Namun, biar bagaimanapun, ia membutuhkan Kris. Ia sangat membutuhkan perlindungan dari pria itu, terhadap kehidupan yang gelap mencekam di sekitarnya.
“Karena kamu masih cinta sama dia, Va! Rasa itu masih ada. Masih kuat. Dan itu yang jadi pelindung dia selama bertahun-tahun!”
Di hadapan Reva, Kris menunduk dan mulai menyeringai meski tipis terlihat di ujung bibirnya. Satu lagi pil pahit kenyataan yang harus ia telan, meskipun sejujurnya ia sudah sangat biasa dengan hal itu. Biasa dengan kehidupan yang tak adil sejak ia kecil. Lalu, ia berusaha kembali membidik fokusnya kepada Reva, yang sejak tadi duduk tersedu di hadapannya.
“Untuk kali ini, khusus untuk hal yang satu ini, aku nggak bisa nurut permintaan kamu, Va. Aku akan tetap ke sana, sesuai janji sejak dulu!”
“Jangan, Kris ....”
“Dan malam ini kamu pindah dari sini! Bawa barang seadanya. Kita urus sisanya nanti.”
“Kenapa? Kenapa aku harus pindah? Ini rumahku!”
“Kamu gila kalau mikir aku bisa ninggalin kamu di sini! Mantan pacarmu itu mungkin sebentar lagi habis, Va. Kamu lihat aja nanti!”
__ADS_1
Tak ada waktu lagi, Kris segera beranjak untuk menemui Rafael malam itu. Ia sudah bertekad. Apa pun yang terjadi, ia sudah bertekad.
Reva masih bersimbah memegangi kedua kaki Kris, meski pria itu tak goyah berjalan menuju pintu sambil menyeret perawakan kurusnya. “Kris, tolong berhenti ....” rontanya terus-menerus. “Jangan, Kris ... aku bakal ngelakuin apa pun buat kamu. Apa pun. Tolong ... aku bakal selalu nurut sama kamu ....”
Tak tahan dengan rengekan wanita itu, dengan beringas Kris berbalik arah tanpa kata-kata, menggendongnya dan menguncinya di dalam sebuah lemari yang belum terisi apa-apa. Lemari itu tinggi memanjang tanpa sekat, pas sekali dengan postur tubuh Reva yang mungil. Tadinya, Reva berniat menambah beberapa koleksi tas dan sepatu baru, sehingga ia menyisakan sedikit ruang penyimpanan di kamarnya.
Tak peduli seberapa keras pun Reva memberontak, Kris terus berjalan menjauhinya. Jeritan demi jeritan yang ia dengar dari dalam lemari itu sama sekali tak mempengaruhinya. Tak henti juga pintu lemari itu digedor kencang hingga getarnya kentara dari luar. Namun, cara itu juga tetap tak berhasil.
Saat itu, tipis sekali pasokan udara yang bisa dihirup dari celah tipis di antara pintu lemari, dan Reva mulai merasa sesak nafas kala ia mendengar suara pintu kamarnya di kunci.
Kris benar-benar pergi menemui Rafael.
***
Gelegar petir yang saling bersahut-sahutan terdengar lagi malam itu. Saat itu sudah lewat tengah malam, saat Rafael yang masih terjaga mendengar suara pintu diketuk. Meski ia merasa sangat lelah dan kantuk, ia tetap beranjak untuk membuka pintu dengan langkah tak niat. Suara ketukan tersebut juga tak mau berhenti meskipun ia berusaha mengabaikannya. Itu terdengar sangat mengganggu, sehingga ia memutuskan untuk melihat siapa mahkluk menyebalkan yang sedang berdiri di sana.
Sosok Kris langsung tertangkap pandangannya begitu celah pintu terbuka lebar. Pria itu terlihat dingin dan sangat marah, membuat Rafael bertanya-tanya apa yang membuatnya bersikap gaduh seperti itu di depan rumahnya.
“Kenapa, Kris? Ada yang kurang di web?” Rafael langsung menyangka bahwa itu hanyalah sebatas urusan pekerjaan.
“Boleh masuk?” tanya Kris datar.
“Iya, sila—”
Satu tinjuan bangkar mendarat tepat di rahang kiri Rafael bahkan sebelum pria itu dapat menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya terhuyung sembarang hingga ia menerjang perabotan dapur yang langsung berjatuhan ke lantai. Kejutan itu sungguh sangat tak terduga, Rafael sama sekali tak siap. Ia pun hanya bisa mengerang nyeri tanpa mengerti apa-apa.
Belum sempat tubuhnya tegak, tinjuan ke dua melayang ke arah rahang kanan Rafael. Kali itu sudah pasti tulang di sekitar situ retak dibuatnya. Terdengar suara kertakan yang begitu kentara saat buku-buku jari Kris menghantamnya kuat. Tubuhnya kembali gelayaran menyerok benda-benda yang masih tersisa di atas meja, disusul oleh raung kesakitan yang semakin intens.
Nadia dan Kaia yang masih belum tertidur sontak terperanjat mendengar riuh dari dapur yang terletak dekat pintu masuk. Kemudian, keduanya segera berhamburan keluar kamar, hanya demi menyaksikan pemandangan yang seketika membuat jantung mereka hampir jatuh ke lantai.
__ADS_1
“EL!!!”
“AYAH!!!”