
Diary. Satu-satunya teman sejati sejak Reva masih kecil. Bahkan, saat dirinya tak mampu mencurahkan segala rasa kepada Rafael dan Erin, diary itu tak pernah absen menjadi saksi bisu terhadap setiap kisahnya. Reva sama sekali tak pandai berbicara. Setiap untaian kata di kepalanya seolah tersedak semua di dinding mulut setiap kali ia ingin mengungkap sebuah cerita. Namun, wanita itu sangat suka menulis. Dan ia menulis semuanya. Dari titik tergelap di dasar petaka sampai secercah cahaya di ujung lorong.
Nadia yang baru saja dihujani oleh berbagai fakta baru mengenai wanita yang telah lama dikenalnya itu sontak banjir air mata. Hal-hal yang sebelumnya ia pikir tak mungkin terjadi, mulai berbalik mengejarnya sebagai teror tak kasat mata. Bagaimana mungkin Reva mengalami semua itu tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya? Bagaimana mungkin wanita itu memendam semuanya seorang diri? Nadia tak habis pikir. Ia bahkan tak akan bisa melewati satu hari pun tanpa merengek kepada siapa saja yang tengah berada di dekatnya. Nadia si gadis manja, akhirnya sampai juga pada titik balik dalam kehidupannya saat itu.
“Rin ... aku jahat banget.” Lemah nadanya terdengar saat ia menyadari bahwa kehidupan pernikahannya berada di atas penderitaan orang lain. Saat ia menyadari bahwa seseorang di ujung sana harus berjuang mati-matian hanya demi sebuah pengakuan. Namun, sungguh, Nadia tak tahu apa-apa. Ia tak tahu bahwa selama itu ia sudah menjejakkan kaki di atas luka menganga yang semakin diinjak semakin perih.
“Nad ... nggak ada yang tahu ternyata masa lalunya sekelam itu.”
Erin seperti merasakan apa yang Nadia tengah rasakan. Sama-sama terkejut dan tak menyangka. Biar bagaimana pun, semua yang harus terjadi pasti akan terjadi. Suratan takdir telah tertera di alam semesta bahkan sebelum nafas pertama berembus. Mungkin, tidak banyak juga yang bisa dilakukan terhadap hal itu. Que sera sera.
“Dan gara-gara aku, El sampai jadi kayak gitu, Rin! Aku yang jelas-jelas bilang ke cowok itu, tentang masa lalu mereka berdua. Aku sendiri yang udah kirim El ke neraka, Rin!”
“Nad, cepat atau lambat, hal ini pasti bakal terjadi. Masalah di antara mereka bukan karena kamu. Itu memang sudah ada sejak lama. Sudah semacam bom waktu yang nggak bisa dihindari lagi.”
“Tapi, Rin, aku memperburuk keadaan. Sekarang kita cuma bisa berdoa biar El cepat sembuh. Dan itu pun harapannya kecil banget, Rin.”
“Udah, dong, Nad ... jangan nyalahin diri sendiri terus, ya? Kita pasti bisa lewatin ini semua sama-sama, kok.”
“Rin, kita harus kasih tahu Mama,” tegas Nadia seraya ia mendekap erat diary tersebut dengan kedua tangannya. “Mungkin semuanya belum terlambat, Rin. Mungkin kita masih bisa cari Reva dan bawa dia ke sini. Karena El butuh banget kehadiran dia di sisinya sekarang.”
“Tante Wina? Kamu yakin, Nad?”
“Nggak ada yang lebih berhak jadi menantu Mama Wina selain Reva. Aku yakin, kalau Mama baca semua cerita ini, beliau pasti ngerti kenapa tragedi ini sampai terjadi.”
“Kamu siap, Nad?”
“Hubungan aku sama El nggak pernah baik-baik aja sejak awal, Rin. Semua orang tahu itu. Kita setuju menikah untuk menolong satu sama lain, nggak lebih. Sekarang cukup, aku nggak bisa lanjutin lagi setelah tahu fakta ini.”
__ADS_1
“Kamu tahu, Nad, cincin di jari manis Reva—”
“Belum terlambat, Rin!!! Aku akan tetap lapor polisi, tapi untuk cari Reva, bukan untuk memperkarakan kasus ini!”
“Baiklah, kalau kamu sudah yakin buat merelakan semuanya.”
“Merelakan apa, Rin? Merelakan itu, kalau kita merasa memiliki sesuatu. Aku sama El nggak pernah memiliki satu sama lain. Jadi, apa yang harus direlakan?”
“Makasih, Nad, kamu bisa menyikapi semua ini dengan baik. Aku nggak tahu harus bangga atau sedih karena pernikahan kamu di ujung tanduk.”
“Rin, satu hal yang aku pelajari dari semua ini, bahwa kita itu ternyata nggak akan merasa kehilangan atas sesuatu yang nggak pernah kita miliki. Jadi, sejujurnya, aku baik-baik aja, kok.”
“Iya, Nad. Aku ngerti.”
“Yah, meskipun aku nggak pernah suka sama Reva, karena dia itu songong. Tapi, aku nggak tega banget lihat dia kayak gitu sekarang.”
“Songong? Perasaan dia diam aja, Rin. Nggak neko-neko. Songongnya di mana, ya?”
“Yah, itu, ‘kan, karena justru elu yang songong, Nad! Dia yang malas sama kelakuan elu!”
***
Pecah tangis menyembur ke udara saat Wina mulai membaca seluruh isi diary itu. Saat ia menyadari bahwa putra kesayangannya telah menjadi setiap alasan untuk luka batin di dalam jiwa seseorang. Wina menyesal. Sangat menyesal. Bagaimana pula hal sekejam itu dapat lolos begitu saja dari pengawasannya? Mengapa ia bisa-bisanya tak peka saat Reva datang kepadanya, tertunduk lesu mencari putranya yang entah berada di mana. Padahal, kala itu cucunya sudah berada di sana, di dalam rahim seorang wanita yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
Usia senja menjadi alasan mengapa Wina tak kuat menahan gempuran emosi yang baru saja ia terima setelah mengetahui berbagai berita nahas tersebut. Akibatnya, ia pun sampai pingsan berkali-kali. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat di mana ia menjenguk putranya, berubah menjadi tempat di mana ia sendiri perlu menjalani perawatan. Kondisi kesehatannya sempat mengalami penurunan karena tekanan darah tinggi dan dehidrasi. Meski begitu, Erin dan Nadia sudah benar-benar bertekad untuk mengungkap dan mengurai benang kusut di antara mereka semua. Wina harus tetap tegar melalui semuanya.
“Reva di mana sekarang, Rin?” tanya Wina dengan lemah. Selang infus terpasang sudah di nadi pada lengan kanannya.
__ADS_1
“Kita belum tahu, Tante,” geleng Erin pasrah sembari memijat lengan kirinya dengan lembut. Erin yang sejak tadi sibuk mendampingi Wina yang harus mendapat rujukan ke sana kemari tak pernah sekali pun meninggalkan wanita paruh baya itu. “Tapi, kita tetap akan lapor polisi, Tante.”
“Mama tenang aja, ya!” sambar Nadia yang juga terlihat bersungguh-sungguh untuk meminta bantuan kepada siapa pun yang ia kenal. Untung saja, Nadia memiliki jaringan koneksi yang sangat luas. Ia memiliki beberapa teman pengacara dan psikolog. Salah satu teman dekatnya juga merupakan istri dari seorang polisi Satreskrim. Semoga saja di antara mereka akan menjadi titik terang pada kasus menghilangnya Reva saat itu.
“Nadia, maaf ya, Mama merepotkan kamu terus ....”
Nadia yang awalnya sibuk bergelut dengan ponselnya kemudian melirik ibu mertuanya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang di sebuah kamar inap. Ia menatap wanita yang selalu sabar menghadapinya itu dengan penuh rasa iba. Rasanya, baru kali itu ia sungguh hanyut dalam kebersamaan intens di antara mereka berdua. Selama ia berstatus sebagai menantunya, ia tak pernah benar-benar menghiraukan wanita tua itu. Mereka hanya sesekali mengobrol dan bertemu tatap selewat. Namun, kali itu, ia sungguh tulus ingin berbincang dengannya dari hati ke hati.
“Mama, Nadia yang minta maaf. Selama ini, Nadia cuma bisa jadi menantu yang selalu bikin Mama sakit kepala.”
“Nggak, Nad. Kamu sudah banyak berkorban buat keluarga kita. Kamu bekerja sekaligus urus Kaia. Kamu izinin El tinggal di rumahmu, tanpa pernah nuntut apa-apa.”
“Mama, justru Nadia yang bersyukur punya suami baik dan pengertian kayak El. Meskipun, kayaknya semua orang sudah tahu kalau kita memang nggak saling cinta. Maaf, Ma, hubungan kita nggak mungkin berlanjut.”
“Iya, Nad, Mama ngerti. Lagian, nggak ada lagi yang bisa El kasih ke kamu saat dia sendiri sekarang lagi sakit separah itu ....”
“Eh? Mama jangan bilang gitu, dong! Nadia nggak pergi karena El sakit, Ma. Tapi karena memang ada yang jauh lebih berhak. Nadia janji, Nadia akan urus El sampai sembuh. Nadia akan tanggung semuanya.”
“Kita nggak tahu akan butuh biaya sebesar apa untuk—”
“Mama tenang aja! Mama lupa, ya, kalau Nadia itu banyak tabungan? Sumber penghasilan Nadia di mana-mana, lho, Ma. Nadia pasti bisa cover biaya pengobatan sampai El sembuh total. Setidaknya, cuma itu yang bisa Nadia kasih buat El sekarang.”
“Tapi, rasanya nggak enak, Nad. Mama nggak mau ngerasa berhutang lagi sama kamu ....”
“Ma, Nadia itu tadinya mau bangun rumah yang besar banget, karena apartemen itu udah kesempitan buat kita bertiga. Dananya ada, kok, udah Nadia kumpulin. Tapi, itu nggak penting lagi sekarang. Kesehatan El jauh lebih penting, ‘kan?”
“Mama nggak tahu harus bilang apa lagi sama kamu, Nak ....”
__ADS_1
“Nadia cuma punya satu permintaan ... Mama mau, ‘kan, maafin Nadia untuk semua kesalahan Nadia sejak dulu?”
Wina mulai menitikkan air mata saat wanita yang sudah sembilan tahun menjadi menantunya itu menciumi punggung tangan dan keningnya dengan lembut. Di antara seluruh pilu yang sedang Wina rasakan, ia sangat bersyukur bahwa seberkas sinar harapan masih menyala di ruang kelam nan gelap gulita itu.