
Sembari menahan gemelugut di sekujur tubuh, Reva melangkah memasuki rumahnya yang masih tampak sepi. Sudah hampir tengah hari, tetapi ternyata Kris belum datang. Padahal, katanya ia hanya akan keluar sebentar untuk mengurusi sebuah perizinan. Entah perizininan apa yang dimaksud itu, yang pasti Reva masih belum bisa bernafas lega. Suaminya itu memiliki akses penuh terhadap semua jaringan kamera CCTV yang berada di rumah, dan ia bisa memantau pergerakan istrinya dari mana pun melalui laptop atau ponselnya. Reva hanya bisa pasrah saja menghadapi dampratan pria itu jika ia sampai mempermasalahkan kepergiannya yang cukup lama tadi pagi.
Dengan perasaan gelisah yang tak mau pergi, Reva berusaha melewati hari itu seperti biasa. Sepulang dari pertemuannya dengan Rafael, ia segera turun ke dapur untuk memasak, kemudian membersihkan seluruh isi rumah, lalu mengurusi tanaman-tanaman cantik di halaman depan dan belakang. Sepertinya ia sudah melakukan semua pekerjaan rumahnya hari itu, tetapi Kris belum juga tiba saat sore menjelang.
Batin Reva mulai tak tenang. Biasanya, suaminya itu sangat protektif, dan selalu menelepon sepanjang hari meskipun sekadar untuk mengomel karena dirinya tak kunjung terlihat di dalam pantauan CCTV. Namun, sepanjang pagi itu ponselnya sepi. Jangankan telepon masuk, sebaris pesan di sms pun tak tampak. Aneh sekali.
Akhirnya, Reva sendiri yang berinisiatif untuk mencari tahu. Ada hal penting yang harus segera disampaikannya. Masalah perasaan hatinya yang selama itu selalu ia tutupi dari siapa pun. Reva benar-benar harus bicara, ia tak bisa lagi berpura-berpura setelah kembali merasakan pelukan hangat Rafael di pagi yang mendung tadi. Mereka bahkan hampir berciuman, tetapi Reva selalu menolaknya karena ia tahu itu tak benar, apa pun alasannya.
Kemudian, ditekannya tombol panggilan untuk menghubungkannya kepada Kris, tetapi tak ada satu pun jawaban dari seberang sana.
Gelap mulai membentang di angkasa. Rumah itu sudah bersih mengkilat, dan berbagai macam masakan untuk dua porsi tak tersentuh sama sekali. Jangankan untuk melahap santap siang dan malamnya seorang diri, untuk duduk tenang pun Reva tak mampu. Entahlah apa yang sedang dikerjakan oleh Kris di luar sana, tetapi Reva merasa ketakutan. Tak ada yang tahu apa yang bisa dilakukan oleh pria itu jika ia sedang kesal, dan Reva butuh kepastian apakah ketika ia pulang nanti, dirinya akan murka atau tidak. Kris sama sekali tak memberi kabar, dan Reva takut jika ia sedang merencanakan sesuatu.
Pukul 03.00 dini hari, mata Reva sudah sangat berat, tetapi ia selalu menolak keinginan tubuhnya untuk beristirahat. Ketika ia sedang menyibukkan dirinya dengan berbagai artikel, terdengar suara pagar besi dibuka oleh seseorang di halaman rumahnya. Rasa penasaran membuat Reva segera melesat ke arah jendela untuk mengintip, meskipun ia tahu bahwa yang baru saja tiba itu pasti adalah suaminya. Tentu saja, memangnya siapa lagi yang akan datang ke rumahnya malam-malam seperti itu? Di balik tirai, Reva melihat Kris sedang memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
“Dari mana? Kenapa baru sampai jam segini?” tanya Reva begitu suaminya masuk ke dalam rumah, lalu mereka berjalan beriringan menuju kamar.
“Ada masalah tadi,” jawab Kris dengan singkat sembari meraih handuk dan baju ganti yang bersih.
“Apa sampai harus mengabaikan teleponku dari siang?” Reva berusaha memancing-mancing tentang keterlambatannya pulang ke rumah. “Kamu nggak sempat buka HP, ya?”
“Nggak sempat ... maaf, ya, Sayang.” Tanpa banyak bicara, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.
Reva termenung di sebuah kursi kayu bergaya Skandinavia di kamar. Hari itu sudah sangat larut, dan Kris terlihat sangat kelelahan. Sepertinya sama sekali bukan saat yang tepat untuk membahas perkara rumah tangganya. Ia hanya bisa memandangi pintu kamar mandi dari tempatnya duduk, tak tahu apa yang harus ia katakan setelah pria itu keluar dari sana. Bagaimana pula memulai semua percakapan tentang keinginan dan cinta di masa lalunya yang belum usai.
Tak sampai lima belas menit, Kris keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di lehernya. Wajahnya masih basah bekas basuhan air, tetapi bukannya kesegaran yang tampak di sana, melainkan gurat-gurat kegundahan yang tak bisa Reva mengerti.
“Kita bisa tidur sekarang?” tanya Kris kepada Reva yang masih terjaga di kursi itu. “Aku matikan lampunya.”
Sepertinya Reva harus menunda untuk mengutarakan maksudnya sampai besok pagi, saat suasanya hati suaminya membaik. Terlihat sekali bahwa pria itu sedang mengalami sebuah masalah besar. Kris tak biasanya bersikap seperti itu.
__ADS_1
“Iya ... ayo, kita tidur.”
Reva mengalah. Ia mengikuti suaminya yang sudah mulai berbaring di tempat tidur. Di kamar itu lampu belum semuanya mati. Tersisa sinar temaram yang berasal dari sebuah lampu kecil yang berada di nakas di samping tempat tidur, dan Reva hendak mematikannya sebelum benar-benar terbawa mimpi.
“Jangan dimatikan yang ini,” pinta Kris sembari mencegah lengan istrinya untuk meraih tombol lampu.
“Kenapa memangnya?”
“Aku mau lihat wajah kamu sebelum kita tidur. Jangan digelapin semua.”
“Wajahku? Kenapa?”
“Apa aku nggak boleh memandangi istriku sendiri?”
Tumben sekali. Biasanya Kris tak masalah tidur dalam keadaan gelap gulita, mengapa malam itu satu lampu redup harus dibiarkan menyala?
“Kris ... ada apa sebenarnya?”
“Ada masalah di lokasi shooting,” jawab Kris dengan lemas.
“Masalah apa?”
“Entahlah, Sayang. Tiba-tiba izin shooting kita dicabut, dan semua kru jadi terombang-ambing nasibnya. Aku berusaha selesain masalah itu sebelum pulang, setidaknya nasib kru nggak terbengkalai.”
“Aku nggak ngerti. Kenapa bisa begitu?”
Kris lalu menjelaskan bahwa mereka sedang membuat teaser untuk sebuah film pendek, dan lokasinya terletak di sebuah desa wisata di Yogyakarya. Namun, secara sepihak dan tiba-tiba, kepala desa mengeluarkan surat pembatalan izin tersebut siang tadi. Padahal, shooting akan dilaksanan esok hari, dan semua kru yang bertugas dari mulai cameramen, stylist, MUA, para aktor dan segenap tim produksi sudah hadir semua di kota itu. Tentu saja tak semua dari mereka berasal dari Yogyakarta, kebanyakan malah berasal dari luar kota.
Sebagai kepala produksi, Kris merasa bertanggung jawab. Jangan bayangkan film garapan Kris itu seperti film-film dari Production House besar dengan modal selangit, dengan aktor dan aktris terkenal yang dibayar hingga ratusan juta untuk satu kali shooting. Kris bekerja secara indie, yang artinya, biaya pembuatan film juga tak banyak, dan itu dikeluarkan dari kantong pribadinya dengan bantuan sponsor.
__ADS_1
Kru yang bekerja kepada Kris hampir semuanya baru mulai merintis karir. Mereka kebanyakan terdiri dari anak-anak muda bersemangat yang belum mapan secara finansial, tetapi sangat berpotensi sebagai profesional yang hebat, dan Kris bisa melihat itu. Sejak awal, tujuan Kris menjadi produser memang untuk mengangkat potensi-potensi anak muda terpendam yang sulit menembus Production House besar karena persaingan ketat.
Oleh karena itu, saat masalah seperti itu terjadi, pihak yang paling dirugikan adalah Kris. Sejak sore ia kalang kabut mencari cara agar semua krunya bisa tetap bekerja. Ia tak mau mereka pulang dengan tangan kosong karena proyeknya gagal. Ia tak mungkin tega melihat semangat-semangat itu padam di tengah krisis dengan kepala desa.
“Apa surat izin yang keluar itu nggak ada kekuatan hukumnya? Memang kamu nggak bisa menuntut apa-apa?” Turut merasa kesal setelah mendengar suaminya bercerita, Reva menjadi gemas kepada si kepala desa.
“Sayangnya nggak, Va. Tadinya, surat bermaterai itu baru akan turun hari ini. Aku cuma nggak mau proyek ini gagal, kasihan anak-anak yang udah semangat mau kerja. Jadi, sejak siang aku sibuk cari tempat pengganti yang betul-betul mau kasih izin.”
“Apa alasan mereka berubah pikiran begitu aja?”
“Katanya banyak protes dari warga. Padahal kita cuma pakai area spesifik yang nggak akan ganggu mobilitas warga. Memang ini hanya film pendek untuk festival, bukan yang akan muncul di TV atau bioskop. Jadi mereka juga meremehkan.”
“Aku nggak habis pikir aja, masa bisa-bisanya izin digagalkan H-1. Itu mendadak banget, etikanya nggak gitu! Harusnya mereka kasih peringatan jauh-jauh hari.”
“Nggak ngerti, Va. Mungkin ada yang sengaja melakukan ini. Aku nggak tahu. Kalau ini gagal, aku terpaksa keluar uang besar untuk akomodasi para kru. Untuk biaya transport dan hotel mereka. Sponsor juga akan angkat kaki kalau besok masalah ini belum juga selesai.”
“Orang sengaja? Apa kamu punya musuh? Mungkin sesama sineas pembuat film?”
“Mungkin aja. Tapi aku malas mikirin itu sekarang. Siapa pun orang itu, dia pasti punya koneksi kuat sama kepala desa. Ada tindakan kolusi di situ. Aku yakin, Va.”
“Tapi, siapa? Siapa yang bisa setega itu?”
Astaga. Mengapa masalah seperti itu harus datang di saat yang tak tepat. Bagaimana pula Reva bisa menyampaikan keluh kesahnya, jika orang yang dituju saja sedang mengalami musibah besar. Suaminya itu berpotensi mengalami kerugian ratusan juta rupiah jika ia tak bisa menyelesaikan perkaranya dengan cepat.
Reva merasa tak tega sekali ketika memperhatikan raut lesu di paras suaminya di antara semburat cahaya jingga dari lampu temaram. Kris terlihat sungguh letih dan bingung. Biar bagaimana pun, dia itu sebenarnya bukan pria yang jahat. Malam itu saja dihabiskannya untuk memikirkan nasib para kru, dan ia sudah bersiap membayar mereka semua meskipun proyeknya berantakan. Ia memang selalu bertanggung jawab.
“Va, aku boleh peluk kamu tidur semalaman ini? Rasanya, akhir-akhir ini kita selalu punya jam tidur beda. Entah kamu duluan atau aku. Kita juga nggak selalu tidur bareng.”
Itu memang benar. Belakangan terakhir Kris kian menjadi-jadi dengan sifat temperamennya karena ia sedang mengalami banyak masalah pekerjaan. Berada di puncak karir ternyata tak semulus yang dibayangkan. Angin malah lebih kencang menerpa di atas sana, dan itu membuat beban stress Kris menjadi jauh meningkat. Oleh karena itu, Reva selalu menghindar. Terkadang ia bahkan tertidur di kursi kala sedang membaca buku hingga larut, sebab ia tak suka bau alkohol menyengat yang terkuar dari mulut Kris saat pria itu minum tepat sebelum tidur.
__ADS_1
Malam itu akhirnya mereka habiskan dengan saling berpelukan hingga keduanya terlelap. Kris membenamkan seluruh kepalanya ke pelukan istrinya dan tertidur pulas di sana. Perasaan Reva menjadi semakin tak menentu dibuatnya, karena ia tahu Rafael sedang menunggunya di luar sana.