Under The Rain

Under The Rain
Bab 20—Kompromi


__ADS_3

Motor Rafael yang mengalami kerusakan ringan terpaksa harus menginap di bengkel, kala ia berusaha menghindari tabrakan dengan sebuah mini bus yang melaju kencang. Kabut dan kalut yang menyelimuti otaknya menjadi penyebab dirinya tak mampu merespons dengan benar, tatkala mini bus yang tampak sedang terburu-buru itu membunyikan klakson berkali-kali. Tanpa kalkulasi yang matang, ia berpindah lajur untuk menghindar, tetapi motor kencang yang berpacu di belakangnya membuatnya sangat terkejut, sehingga naked-bike kesayangannya itu oleng dan sampai membuatnya terperosok ke selokan besar di tepi jalan.


Luka yang dialami oleh Rafael cukup parah karena tubuhnya terjepit di antara dasar solokan yang berbatu dan motornya yang sangat berat. Ia tertindih cukup lama di situ, sampai akhirnya warga setempat yang menyaksikan kecelakaan itu berhamburan menghampirinya untuk membantu. Maklum saja, saat itu sudah malam, dan lokasi kecelakaan itu tidak memiliki penerangan jalan yang baik.


Hujan, tanah basah dan jalanan berlubang juga turut menjadi faktor besar dalam tergelincirnya Rafael ke selokan yang hampir terlihat seperti kali kecil itu. Berhubung dirinya memang sedang mengambil lembur, Rafael pulang lebih malam dari biasanya, sehingga jalanan pun sudah mulai sepi.


Adik perempuan Rafael yang bernama Sheila segera datang setelah sang kakak menelepon bahwa ia sedang berada di klinik, yang letaknya tak jauh dari lokasi kecelakaan. Beruntungnya, Rafael tak harus sampai dirawat meskipun Sheila harus memapahnya berjalan karena kedua kakinya terluka cukup serius.


“Kok, bisa begini, sih, Kak? Apa kita mau ke rumah sakit aja? Kakak, ‘kan, punya asuransi dari kantor.”


“Nggak usah, La, semua lukanya udah dibersihin sama dokter tadi. Cuma perih aja, nggak sampai infeksi.”


“Nanti kamu diomelin Nadia kalau pulang dalam keadaan kayak gini. Setidaknya kalau di rumah sakit, beneran ada yang urus.”


“Males, ah, dirawat. Tadi juga, toh, nggak dapat rujukan.”


“Tangan kamu, bengkok, lho, Kak. Mending kita rontgen aja, yuk?”


“Kita pulang ke rumah Papa aja, deh.”


“Nggak bisa, Kak, Mama pasti histeris ngelihat penampakan kamu kayak gini.”


Rafael bukannya tak mau dilarikan ke rumah sakit. Hanya saja, ia selalu tak bisa tidur setiap kali menjalani rawat inap di tempat itu. Baginya, udara di rumah sakit terasa pengap, dan situasinya sangat berisik. Untuk menggunakan fasilitas kelas VIP yang private dan memiliki AC, tentu saja ia harus menombok banyak. Sebabnya, itu tak ada dalam cakupan asuransi dari kantornya. Dan tentu saja Rafael tak memiliki biaya untuk hal-hal seperti itu.


“Nggak apa-apa, La, kita pulang ke Nadia aja. Kalau dia nggak betah, dia pasti cari alasan buat kabur. Udah biasa.”


Sheila memandangi wajah Kakaknya dengan iba. Pernikahannya sungguh sangat memprihatinkan seperti itu. Seluruh keluarga Rafael juga sudah tahu bahwa pria itu tak bahagia bersama istrinya, bahkan merasa tersiksa. Namun, Sheila berjanji akan selalu merawat kakaknya jika Nadia memang tak mau.


“Ya, sudah, kalau itu mau Kakak. Kalau Nadia tiba-tiba pergi, aku sama Thalia ke sana, ya, buat nungguin Kakak.”


“Iya, La, makasih.”


Kemudian, Sheila yang dimintai tolong oleh Rafael untuk menjemputnya pun segera memesan taxi untuk mengantar kakaknya itu pulang. Ia lalu mulai menyiapkan diri demi mendengar ocehan Nadia yang siap mendamprat suaminya karena pulang dalam keadaan urakan dan kotor penuh lumpur.


***

__ADS_1


Tak perlu membahas secara rinci apa saja cercaan Nadia kepada Rafael, karena itu hanyalah rentetan pertanyaan bodoh yang Rafael sendiri tak tahu jawabannya. Sebaiknya hal-hal tersebut malah tak perlu dipertanyakan sama sekali, karena itu hanya akan membuat si korban semakin pusing, alih-alih mendapatkan pertolongan yang sepantasnya.


Kok, nabrak? Kok, jatuh? Kok, kamu ceroboh banget? Kok, jatuhnya ke selokan, sih? Kok, di situ hujan? Di sini panas, lho!


Rafael benar-benar berharap kedua telinganya tuli saat hendak mengetuk pintu rumahnya. Di sisi lain, Sheila mulai mengisi pikirannya dengan hal-hal indah nan manis, bahkan ketika mereka berdua masih berada di dalam lift. Alasannya, agar si cempreng yang merupakan kakak iparnya itu tidak sampai membuatnya menjadi bad mood seketika.


“Kak Nadia mau pergi?” tanya Sheila ketika ia selesai mengurus Rafael, membantunya berganti pakaian dan menyiapkan makan malam untuknya. Pria itu sudah tertidur di sofa empuk favoritnya di ruang tengah.


“Enggak, lah, udah malem,” jawab Nadia ngotot. “Kok, kamu nanya gitu?”


“Habisnya, setiap Kak El sakit, dia pasti datang ke rumah. Karena katanya, Kak Nadia selalu pergi.”


“Itu, ‘kan, karena aku banyak kerjaan, La. Kasian malah kalau El di sini. Nggak ada yang urus. Sedangkan, boutique nggak bisa ditinggal gitu aja, dong.”


“Ya, sudah. Jadi, aku bisa pamit ya, Kak.”


“Eh, La, tapi kamu tetap stand by, ya. Jaga-jaga besok aku keluar pagi-pagi banget. Soalnya, kita mau launching produk baru.”


“Iya, Kak, nanti kabari aja. Aku pulang dulu, ya!”


***


Kaia yang biasa diurus oleh Rafael menjadi kelabakan kala ayahnya terbaring dengan luka-luka seperti itu di atas sofa, sama sekali tak bisa membantunya. Hari itu ia mendadak sangat mandiri mempersiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah. Anak itu secara ajaib berhasil membuat sandwich pertamanya, dengan bermodalkan video tutorial di internet.


Nadia? Jangan tanya. Sudah pasti sibuk sendiri dengan makeup, outfit of the day dan aksesorisnya. Hari itu ia akan sangat sibuk dengan acara launching dan gathering. Clothing brand yang dibesarkannya mulai mendapatkan popularitas yang cukup besar di social media. Sehingga, ia telah siap untuk melakukan ekspansi.


“Kamu beneran mau pergi, Nad?” tanya Rafael yang sudah sejak tadi terbangun karena keributan istrinya berdandan.


“Iya. Nanti Sheila ke sini, tenang aja.”


“Nggak enak ngerepotin Sheila, dia harus kuliah.”


“Terus gimana? Emang aku nggak ada kerjaan?”


“Kamu masak nggak, buat aku?”

__ADS_1


“Mana sempat, atuh, Akang, aku buru-buru ini!”


Sebelum perdebatan suami-istri yang telah menikah selama sembilan tahun itu berlanjut, seseorang mengetuk pintu depan unit mereka.


“Eh, Mama Vino!” sambut Nadia dengan ramah. “Maaf, ya, jadi bikin repot.”


“Repot apa, atuh, Neng? Sama tetangga dekat, masa repot, sih?” jawab Mama Vino tak kalah sumringah.


Mama Vino yang hendak mengantar Vino ke sekolah memang sengaja dimintai tolong oleh Nadia untuk menitipkan Kaia. Mereka memang tinggal di gedung apartemen yang sama meskipun berbeda lantai.


Nadia mengucapkan terima kasih sekali lagi sambil melambaikan tangannya kepada Mama Vino, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu menghilang di ujung koridor untuk menuju lift, dengan dua anak yang mulai beranjak remaja di sisi kanan dan kirinya.


“Kamu sampai minta tolong orang buat antar Kaia, Nad?” Rafael yang menyaksikan adegan penjemputan Kaia barusan hanya menggeleng pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa.


“Ya ampun, kamu pagi-pagi bikin emosi, deh!” ketus Nadia sembari berkutat lagi dengan riasannya. “Makanya jangan sakit!”


Rafael tak tahan lagi dengan sikap Nadia. Kebetulan, Kaia sudah berangkat. Selama sembilan tahun itu, memang jarang sekali ia memiliki waktu berdua saja dengan istrinya untuk benar-benar lepas berbicara.


“Nad, kayaknya kamu nggak bisa terus-terusan bersikap seenaknya kayak gini, deh.”


“Seenaknya itu gimana, ya? Karena setahuku, aku mau kerja! Aku cari nafkah, sama kayak kamu!”


“Setidaknya, urus Kaia yang bener. Kamu kayaknya jauh banget sama dia. Seharian aku sibuk di kantor, jadi aku titip Kaia sama kamu, Nad.”


“Gini, ya, kamu sibuk buat apa, sih? Kamu ngasih nafkah ke aku? Enggak! Dari awal nggak pernah! Enggak ada sepeser pun! Apakah aku nuntut? Enggak juga!”


“Kok, jadi ke situ, Nad? Kita lagi bahas Kaia.”


“Aku nggak pernah tahu, lho, berapa gaji kamu. Aku juga nggak pernah minta. Karena aku tahu, semuanya habis buat berobat Papa, kuliah Sheila sama Thalia, sekolah Yarra sama Zaira. Aku nggak masalah. Jadi, perihal Kaia, aku juga minta pengertian kamu, dong!”


Rafael lagi-lagi hanya bisa menunduk pasrah. Memang benar, sejak awal menikah, ia tak pernah memberi nafkah kepada istrinya. Perannya sebagai tulang punggung keluarga menggantikan Pak Pram menyedot habis semua penghasilannya. Usaha catering ibunya hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Sisanya, semua ditanggung oleh Rafael.


Di satu sisi, Rafael memang sangat bersyukur bahwa Nadia yang sudah mandiri secara finansial itu tak pernah meminta apa-apa darinya. Bahkan, untuk tempat tinggal saja ia harus menumpang di apartemen milik Nadia. Dan Nadia memang sama sekali tak pernah perhitungan mengenai masalah uang. Ia sangat royal. Namun, di sisi lain, ia juga sangat jengah dengan sikap istrinya yang seenaknya saja. Dan tak ada yang bisa ia lakukan saat itu, setidaknya sampai Sheila dan Thalia lulus kuliah.


Situasi tersebut bahkan lebih parah saat Rafael baru menikah, karena seluruh kebutuhan keluarga Rafael ditanggung oleh Danang Sugiarto, ayah dari Nadia. Bahkan, mertuanya itu juga selalu menyemangatinya untuk meneruskan kuliah sampai wisuda. Dan beliau rela untuk menanggung semua biayanya.

__ADS_1


Akhirnya, saat Rafael mulai bekerja dan memiliki karir baik, ia mengambil alih seluruh tanggung jawab untuk menafkahi orangtua dan keempat adik perempuannya. Tak ada sisa sedikit pun yang dapat ia berikan kepada Nadia, dan tak banyak juga yang bisa ia sisihkan untuk Kaia.


Kenyataan pahit yang harus diterima oleh Rafael pada saat itu adalah bahwa pernikahannya hanyalah sebuah kompromi. Egonya kalah telak jika diadu dengan ego Nadia. Posisi dan kontribusinya kalah telak kala dibandingkan dengan Nadia. Dan ia harus belajar untuk menerima hal itu meskipun hatinya sangat tersakiti. Merelakan keinginan pribadinya terabaikan demi kepentingan seluruh keluarganya, dengan harapan seluruh perjuangannya tak akan sia-sia ... adalah sebuah kompromi.


__ADS_2