
Ulang tahun Kaia diadakan di sebuah restoran cepat saji yang memang cukup populer disewa untuk mengadakan event. Terdapat indoor space khusus di dalamnya yang dapat didekorasi sedemikian rupa untuk memeriahkan acara. Kaia memilih tema ‘Under The Sea’, yang artinya warna biru laut sedang mendominasi tempat itu. Sekitar lima puluh anak hadir dalam perhelatan ulang tahunnya. Cukup meriah untuk anak seusia Kaia. Satu buah kue berlapis fondant bertengger di meja utama, di atasnya tertancap angka delapan.
Tentu saja bagi Nadia, acara itu menjadi pembuktian totalitasnya sebagai seorang ibu. Nadia berkerja keras untuk membuat acara itu berkesan, dan tampaknya bangga sekali dia ketika melihat para tamu undangannya tampak puas setelah menghadiri acara. Nadia yang memang sudah sangat menawan semakin terlihat glamor dengan balutan gaun elegan berwarna baby blue. Tubuh jenjang nan molek aduhai itu pas sekali dibalut dengan wrapped dress selutut berbahan satin.
Rafael—yang bekerja sebagai seorang database administrator pada sebuah perusahaan telekomunikasi—tak mendapat cuti kerja meskipun saat itu hari sabtu. Sebabnya, kantornya itu sedang melakukan pembaruan program. Sebagai gantinya, ia mendapatkan waktu izin selama dua jam setelah makan siang. Syukurlah, dua jam itu cukup untuk menghadiri pesta ulang tahun putrinya dari awal sampai selesai. Setelahnya, ia terburu-buru kembali ke kantor.
Acara sudah selesai saat tiba-tiba seorang teman Nadia berceletuk untuk menambah durasi kebersamaan mereka di hari sabtu itu, dan celetukan itu mendapat sambutan dari rekan-rekan lain.
“Malam minggu ini, kenapa kita nggak sekalian nonton aja, yuk, ibu-ibu?”
“Boleh, Mama Aqila, mumpung masih siang, nih.”
“Duh, kumaha atuh mau nonton pakai dress heboh begini?"
“Nggak apa-apa, Mama Vino, cuek ajalah kita mah.”
“Eh, bentar, ibu-ibu, kukirim anakku dulu, ya, pakai taxi online. Di rumah ada neneknya.”
“Kenapa nggak diajak aja, Bun?”
“Rewel si Azriel, mah, Bun. Kalau di ajak ke mall minta ini itu.”
“Ah ... kalau gitu saya juga minta ayahnya jemput Belinda, deh. Biar bebas!”
“Ibu-ibu, siapa di sini yang bawa mobil? Diriku ikut nebeng, ya!”
“Boleh, yuk, Mama Dennis, sama saya aja. Yang nggak keangkut pakai taxi, ya!”
Begitulah. Secepat kilat gerombolan ibu muda itu membuat rencana hang out. Bahkan beberapa di antaranya segera mengirim anak mereka pulang demi me-time yang berkualitas. Beberapa dari kumpulan tersebut adalah teman dekat Nadia, sehingga tentu saja ia tak mau ketinggalan untuk bersua. Meskipun, saat itu kondisi Kaia sudah sangat kelelahan. Kaia memang tak memiliki fisik yang enerjik, ia sering kali merasa mudah capek.
“Bunda, tapi Kaia ngantuk,” elak bocah itu ketika ibunya memaksa mengajaknya turut serta.
“Sebentar doang, Ka. Nyampe mall juga kamu tinggal duduk aja di bioskop!”
“Tapi Kaia nggak mau ikut, Bunda. Kaia capek.”
“Ayolah, Kaia. ‘Kan, Bunda udah bikin party yang Kaia mau.”
“Tapi, Bun—”
“Kecuali Kaia bisa pulang sendiri. Bunda pesenin taxi. Ayah udah balik ke kantor soalnya.”
__ADS_1
“Kaia takut, Bunda.”
“Ya, sudah. Berarti Kaia ikut Bunda.”
Paksaan itu membuat wajah Kaia menjadi lesu. Ia benar-benar butuh beristirahat saat itu, tetapi Nadia tak mau tahu. Pikirnya, apa susahnya tinggal duduk manis? Lagi pula besok masih libur, Kaia bisa beristirahat sepuasnya.
Diam-diam adegan pemaksaan itu disaksikan oleh salah satu teman Nadia yang bernama Erin, yang kemudian merasa iba kepada Kaia.
“Nad, sorry, Kaia bisa ikut saya kalau dia mau,” tawar Erin kepada Nadia setelah ia berjalan menghampiri mereka. “Saya nggak ikut kalian jalan-jalan soalnya.”
Nadia menatap Erin agak tak yakin, takut merepotkan juga sepertinya. “Nanti ngerepotin, Rin.”
“Nggak, lah, Nad. ‘Kan, satu arah. Nanti aku antar Kaia sampai dia masuk ke rumah. Tenang aja,” ujar Erin meyakinkan. “Kaia mau ya ikut sama Mama Ayesha? Kaia nanti berani, ‘kan, tunggu Bunda sendiri?”
Ajakan yang langsung di sambut senyuman imut pada bibir Kaia tentunya. Lega sekali hatinya mengetahui bahwa ia tak perlu mengikuti ibunya yang hendak berkumpul-ria entah sampai jam berapa. Kadang kala Nadia memang keterlaluan, bisa-bisanya tidak peka terhadap kondisi anaknya sendiri.
***
Erin mengantar Kaia sampai ke lantai tujuh pada bangunan apartemen itu, sesuai seperti yang ia janjikan. Meskipun saat itu repot juga rasanya, karena putrinya yang bernama Ayesha itu masih berusia tiga tahun. Selain itu, Erin juga turut membawa sisa hampers pada ulang tahun Kaia, sementara Nadia cuek saja berlalu bersama teman-temannya tanpa beban.
Tiba di depan pintu kamarnya, Kaia tidak langsung masuk. Ia justru segera mengetuk pelan pintu tetangga sebelahnya.
“Eh, Kaia, ‘kok, ke situ?” tanya Erin yang panik karena mengira Kaia salah kamar.
Pintu pun terbuka. Disusul pemilik kamar itu yang perlahan melangkah ke luar melewati ambang pintu.
“ ... “
“REVA!”
“ERIN!”
“ASTAGA, VA! Kamu ke mana aja?”
Pekikan Erin sampai membuat anaknya yang masih balita terlompat kaget! Bergaung ke seluruh sudut koridor dan menghasilkan gema yang tak kalah kencang dengan suaranya sendiri. Pertemuan tersebut benar-benar tak disangkanya. Terakhir ia bertemu Reva sudah lebih dari sembilan tahun yang lalu.
Reva masih terperangah menatap teman lamanya itu. Wajah dan suaranya tak berubah sama sekali. Tak percaya rasanya kembali bertemu dengannya lagi, padahal dahulu mereka hampir selalu terlihat bedua.
“Kamu tinggal di sini, Va? Astaga! Tahu begitu aku sering main!”
“Aku baru pindah ke sini, Rin. Ayo, masuk. Tapi ruangannya sempit. Maaf, ya.”
__ADS_1
Kaia yang sempat kebingungan akhirnya mengerti bahwa Erin dan Reva sudah saling mengenal. Dan ia pun segera mengambil sisa hampers yang tadi ia taruh di lantai, untuk diberikan kepada Reva.
“Nggak usah repot-repot, Kaia.”
“Nggak apa-apa, kok, Kaia sudah dapat tas soalnya. Bingkisannya semua buat Reva.”
Jadilah mereka semua berkumpul di unit studio milik Reva. Kaia bahkan tak jadi mengantuk, apalagi kalau bukan karena gelimang clay dan crayon milik Reva. Ayesha juga terhibur tanpa rewel sedikit pun, memainkan berbagai mainan fidget dan rumah boneka. Sementara itu, dua wanita dewasa lainnya asyik berbincang dan bersenda gurau.
Reva yang menghilang tanpa jejak bak ditelan bumi sungguh membuat Erin gemas. Tak ayal, ia langsung menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan. Sedangkan Erin, ia adalah salah satu dari segelintir orang yang dapat Reva percayai sejak dulu. Oleh karena itu, ia tak keberatan berbagi sedikit cerita kepadanya.
“Kamu, ya! Bener-bener, deh! Ganti identitas pasti kamu, 'kan? Susah bener dicari!”
Reva sejak tadi hanya terkekeh saja melihat reaksi heboh sahabat masa kecilnya itu.
“Kamu, tuh, keterlaluan! Nomor hand-phone diganti, akun sosmed dihapusin, tempat tinggal pindah, tempat kerja pindah, kuliah cabut ... kemana, sih, kamu?!”
Ya, wajar saja Erin bertanya-tanya seperti itu jika ia tak mengetahui sebagian besar alur cerita hidup Reva. Namun, Erin sangat yakin bahwa Reva tak mungkin menghilang tanpa sebab.
“Ada apa, sih, Va? Please, dong, cerita. Please ...” mohon Erin dengan wajah memelas. “... ada apa di antara kamu sama El?” bisiknya dengan sangat pelan bahkan hampir tak terdengar.
Erin dan Reva sadar bahwa mereka tak mau membuat Kaia yang masih kecil merasa tak nyaman. Maka dari itu, mereka memilih untuk berbincang di balkon meski Bandung di penghujung tahun tak malu menunjukkan langit gelapnya. Dan jika sudah begitu, rintik hujan tak lama lagi akan turun.
“Hal terakhir yang aku tahu, kalian pacaran, ‘kan? Setelah itu kamu kayak duit di tengah bulan, HILANG entah ke mana!”
Reva tak menjawab, dan sepertinya ia tak akan menjawab. Apa yang harus diceritakan tentang perlakuan Rafael kepadanya? Antara terlalu banyak atau tidak ada sama sekali karena Reva telah lama menguburnya. Lalu apa yang ia rasakan di dalam hubungannya bersama Rafael? Semuanya. Reva merasakan semuanya dengan intens, hingga akhirnya malah tak terasa apa-apa lagi.
“Ya, nggak gimana-gimana, Rin. Normal aja kayak orang pacaran pada umumnya. Nggak cocok, terus putus.”
Sudah. Hanya itu saja yang keluar dari mulut Reva. Dari sekian banyak ingatan dan perasaan yang rumit membelit melintang ke sana kemari di otaknya, hanya segitu saja yang berhasil lolos keluar dari mulutnya. Sisanya, masih tersimpan dengan baik di benak si keras kepala itu.
Erin menatap Reva lekat-lekat. Tatapan menyelidik penuh keraguan atas apa yang didengarnya barusan. Ia tak puas dan tak percaya. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang begitu dalam tersembunyi di balik kedua manik mata sahabatnya itu. Dengan segenap jiwa dan raganya, Erin yakin sekali bahwa menghilangnya Reva berhubungan erat dengan Rafael.
“Va—"
“Aku mau tanya balik sama kamu, deh, Rin ...” Reva memotong, berbisik dengan sangat hati-hati, “ ... kenapa mereka bisa nikah?”
Tak mau pembahasan seputar masa lalu itu berfokus kepada dirinya, Reva segera menggulir topik ke arah lain.
Dari sekian banyak hal yang menganggu Reva, pertanyaan itulah yang paling kencang menyambar reseptor pada setiap ujung sarafnya. Rafael dan Nadia, bagaimana bisa? Karena jika menilik dari masa lalunya, rasanya Rafael tidak mungkin mau menikahi wanita itu.
Reva bukannya mau peduli dengan urusan itu, hanya saja sepertinya ia memang membutuhkan sebuah jawaban. Sebuah penjelasan sederhana, mengapa dari sekian banyak wanita yang pernah dikencani oleh Rafael, pria itu berakhir dengan Nadia?
__ADS_1
“Ceritanya panjang, Va ... kamu nggak akan percaya!”