Under The Rain

Under The Rain
Bab 23—Rumah Masa Kecil


__ADS_3

Rumah bercat putih dengan lantai ubin motif tegel itu tampak sangat asri. Langit-langitnya menjulang tinggi serta jendela-jendela besar tersebar di sana-sini. Dua puluh tujuh, adalah jumlah total dari jendela-jendela tersebut. Reva yang menghitungnya. Dan ia pun hafal di mana saja letak mereka semua.


Bangunan dua lantai itu juga memiliki halaman cukup besar, yang terletak baik di bagian depan maupun belakang rumah. Berbagai jenis pohon tertanam di sana, seperti pohon mangga dan pisang kipas, serta beberapa pohon palem. Reva meletakkan ayunan tali buatannya di sana, di salah satu cabang besar pohon mangga. Dan ia hampir selalu duduk di situ setiap pulang sekolah.


Di dalam kompleks itu, rumah tersebut memang salah satu yang terbesar. Letaknya di sudut jalan. Banyak penghuni kompleks yang dibuat iri olehnya, merasa dunia tak adil karena kavling itu memiliki lahan yang jauh lebih luas jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain. Namun, bagi Reva, rumah itu telah banyak menginspirasinya untuk menjadi seseorang yang sukses di kemudian hari. Agar kelak ia juga bisa membeli rumah besar seperti itu.


Pramudya Darsono—selaku pemilik rumah—sangat menyukai burung. Tak ayal, berbagai burung cantik di dalam sangkar-sangkar besar saling berciutan kala mentari datang menyambut pagi. Saat malam tiba, semilir angin dengan genit menggoda penghuni rumah di gazebo yang terletak di taman belakang yang terbuka. Sedangkan, di taman depan terdapat sebuah kolam besar dengan beberapa ikan koi di dalamnya.


Itu adalah rumah masa kecil Rafael. Ia menghabiskan waktunya tinggal di rumah itu selama dua puluh tahun, sebelum akhirnya menikah dengan Nadia. Kamar Rafael terletak di lantai dua, dengan pemandangan langsung ke bagian depan rumahnya. Dari situ, ia dapat melihat rumah Reva yang terletak di ujung jalan yang lain. Tentu saja, rumah milik orangtua Reva itu ukurannya jauh lebih kecil.


Reva sendiri tak betah berada di rumahnya. Orangtuanya selalu saja bertengkar jika sedang berada di satu atap, sehingga sering kali mereka memilih untuk saling menghindari. Tak banyak cinta yang tumbuh di sana. Setiap penghuninya lebih memilih untuk menjalani hidup masing-masing.


Tak jarang pula Reva pulang ke rumah disambut oleh pintu yang terkunci. Entah sedang berada di mana ibunya itu, karena ia juga bukan pekerja. Gosip miring tetangga kanan-kiri tentang kehidupan Tita sudah bukan rahasia lagi. Beberapa orang pernah melihatnya diantar pulang oleh pria lain. Sedangkan Adi, entahlah, pria itu jarang berada di rumah. Dalilnya, apalagi kalau bukan meeting ke luar kota.


Untungnya, Wina selalu sentiasa sigap memeriksa apakah Reva sudah dengan aman masuk ke dalam rumahnya. Jika belum, ia akan membawa gadis itu kembali sampai seseorang menjemputnya. Oleh karena itu, Reva benci sekali saat Nadia melakukan hal yang sama terhadap Kaia. Ia tahu persis bagaimana kecemasan seorang anak yang sangat ingin pulang, tetapi hanya ada kehampaan yang menyambutnya datang.


Hari itu, Rafael bertandang ke sana, ke rumah masa kecilnya. Ayahnya yang kian melemah dari hari ke hari hampir tak pernah beranjak ke mana-mana lagi. Namun, ia selalu bersemangat setiap kali putranya datang. Tadi pagi saja, ia sudah heboh merecoki istrinya di dapur untuk memastikan Rafael memakan semua masakan kesukaannya selama di sana. Dan ia juga akan memastikan putranya itu pulang dalam keadaan perut buncit.


Setelah berbulan-bulan menanti, akhirnya lengkap sudah tujuh orang anggota keluarga bahagia itu berada di satu meja makan yang sama.


“Sampai kapan Nadia di Jakarta?” tanya Pram setelah cukup lama juga mereka semua berbincang pada sesi makan siang itu.


“Dua hari, Pa,” jawab Rafael. “Acara pernikahan temannya, sih, hari minggu. Tapi, hari sabtu mereka ada reuni.”


“Kenapa nggak ikut, Kak?” tanya Zara.


“Dih! Males banget, ribet!” ketus Rafael.


“Ah, malesin kamu, Kak. Nggak romantis!” protes Yarra.


“Tanya Papa, gih. Mana mau dia nemenin Mama arisan, ‘kan?” bela Rafael.

__ADS_1


“Eh, sudah, sudah, habisin dulu makanannya!” lerai Wina.


Begitulah, Rafael memang sangat dekat dengan keempat adiknya. Aneh juga mengapa ia tak bisa akrab dengan Nadia meski mereka telah lama tinggal bersama. Padahal, Rafael tak pernah merasa dirinya itu pria yang kaku. Ia cukup terbuka untuk berbicara kepada siapa pun. Hanya saja, terkadang memang sulit baginya untuk memulai percakapan. Ya, ia memang merasa dirinya itu cool, tetapi tidak sampai cold juga.


Diskusi ringan di meja makan itu berlangsung sangat menyenangkan. Sudah lama juga mereka tak bercengkerama-ria seperti itu. Kesibukan Rafael memang sedang sulit sekali diajak kompromi. Sheila juga sudah mulai mempersiapkan sidang akhir, dan Thalia baru saja diterima sebagai pekerja paruh waktu di sebuah perusahaan digital.


Meskipun begitu, kesibukan putra-putrinya tak lantas membuat Pram bersedih, karena ia sangat yakin bahwa mereka semua akan selalu menyempatkan waktu untuk berbagi perhatian dan menemani hari-hari di masa senjanya.


***


Tengah malam hampir tiba. Beberapa menit lagi hari akan berganti tetapi Rafael masih belum mau menjamah alam mimpi. Ia terus berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, memperhatikan setiap sudut rumah yang sudah cukup lama juga tak ia tempati. Dan hatinya mulai tak tenang karena setiap hal yang ia lihat di sana mengingatkannya kepada Reva.


Kolam ikan. Reva pernah membeli ikan koki karena salah paham. Dan ikan kecil malang tersebut ia lepaskan ke dalam kolam penuh ikan koi raksasa! Rafael segera menceburkan dirinya ke kolam itu sebagai bentuk aksi penyelamatan terhadap si ikan malang. Kemudian, ia menarik lengan Reva sampai mereka tercebur berdua dan terbahak bersama.


Pohon mangga. Entah berapa luka gores terserat di kulit kedua bocah itu kala mereka berlomba memanjat pohon itu menuju batang tertingginya. Wina sampai harus membuka paksa baju dan menyemprot mereka dengan selang air bertekanan tinggi. Sebabnya, seluruh tubuh duo bandel itu dikerubungi semut merah!


Gazebo. Tempat teduh di taman belakang itu adalah spot favorit mereka belajar berdua jika hari sedang bersahabat. Jika tidak, tentu saja Rafael akan terpaku ke TV besar di ruang keluarga untuk bermain games, sementara Reva mengerjakan seluruh tugasnya.


Terlalu banyak. Terlalu banyak kenangan di rumah masa kecilnya itu saat Rafael menghubungkan segalanya dengan Reva-nya. Ia hampir tak sanggup berkeliling rumah lagi. Hanya simpul senyum getir yang sedikit tersungging di bibirnya kala kenangan-kenangan itu menyerang reseptor di otaknya. Semakin ia mengingat, semakin terasa dadanya sesak. Sehingga, ia terpaksa harus berhenti dan duduk di sebuah bangku yang terletak di dekat pintu menuju halaman belakang.


“Kak ....” Sentuhan lembut di pundak Rafael segera membuyarkan lamunannya.


“Eh ... Mama belum tidur?”


“Kakak lagi apa gelap-gelapan di sini?”


Kata-kata yang hendak keluar dari mulut Rafael sempat tertahan sejenak di tenggorokannya, meskipun akhirnya ia tak tahan juga untuk meluapkannya. “Ma, Reva ....”


“Mama tahu, Nak. Mama ngerti. Kamu kangen Yiyi, ya?”


Rafael tak langsung menjawab. Kesunyian malam bersenandung pada hampa dalam hatinya. Semua sangat gelap saat itu, dan Rafael tak tahu dari mana ia harus mulai berbicara tentang apa yang terjadi di antara dirinya dan Reva kepada ibunya sendiri.

__ADS_1


Sungguh. Rafael ingin menceritakan semuanya, kebodohan dan kesalahan fatalnya sembilan tahun yang lalu. Ia sudah tak kuat lagi menanggung beban berat itu seorang diri. Rahasia yang masih terkunci rapat di antara mereka berdua. Hanya mereka berdua. Dan itu sangat menyiksa.


“Kak, biar bagaimanapun, Kakak sudah berkeluarga sekarang. Itu tanggung jawabnya besar. Kakak nggak bisa main-main,” Wina berusaha memberi nasihat setelah melihat putranya tampak begitu hilang arah. “Tapi, Reva itu juga sudah jadi bagian keluarga kita.”


“Maksud Mama?”


“Papa tahu kalau Reva tinggal dekat sekali sama Kakak.”


“Mama yang cerita?”


“Iya. Karena Mama tahu, seberapa besar Papa ngerasa bersalah begitu dia tahu kalau Reva kabur dari rumah. Papa sedih sekali kalau ingat itu. Reva sama sekali nggak ada hubungannya sama sikap orangtuanya.”


“Iya, Ma. Nggak ada hubungannya sa—”


“Papa mau Reva datang ke sini. Ke rumah kita. Sama kayak dulu waktu dia setiap hari main ke sini.”


“Ma ....”


“Kak, kita nggak bisa memutuskan hubungan keluarga begitu aja, ‘kan? Ingat tadi Mama bilang, Reva itu keluarga.”


“Tapi, Ma ....”


“Kenapa?”


“Ada sesuatu. Dia nggak akan mau datang ke sini lagi.”


“Ada apa, Kak? Kenapa enggak?”


“Ma, Reva nggak kabur tanpa sebab ....”


Wina menangkap kilatan ketakutan menyambar kedua mata putranya bahkan sebelum ia berkata apa pun. Jika tatapan kosong penuh beban itu adalah cerminan di hatinya, Wina tak akan berani mendengar kisah apa yang akan dipaparkan Rafael. Akan semengerikan apa ceritanya itu, jika raut wajahnya saat itu saja sudah seperti sedang menatap kematian.

__ADS_1


__ADS_2