
Seorang petugas kesehatan terlihat memantau perkembangan Rafael pagi itu. Angka dan ritme yang terpampang pada sebuah monitor electrocardiogram dicatatnya. Klip yang terkoneksi kepada setiap tuba diperiksanya satu per satu untuk memastikan mereka terpasang dengan aman. Siklus oksigen dan karbondioksida yang tertera pada layar ventilator juga diperhatikannya dengan saksama. Untuk kedua kalinya, ia juga memasang tuba nasogastric untuk mengosongkan cairan pada lambung Rafael yang pecah akibat tinjuan keras di perut.
Sudah satu minggu Rafael terbaring di sana, di ruang ICU dengan berbagai selang-selang kecil masuk dan keluar dari beberapa bagian tubuhnya. Ia masih tak juga merespons apa-apa. Tidak pada suara, tidak pada sentuhan, tidak pada kehadiran siapa pun di sekitarnya. Ia bergeming saat dokter-dokter ahli secara bergantian membolak-balik tubuhya untuk beberapa aksi medis. Menyayat setiap bagian vital untuk memasukkan alat penunjang kehidupan demi mencegahnya segera berpulang.
Meski Rafael dinyatakan tengah memasuki fase vegetatif non-responsif, para dokter tetap menyarankan agar keluarga dan kerabat dekat tetap berbicara kepadanya. Pasalnya, beberapa jurnal penelitian menyatakan adanya gelombang respons yang tercipta di sebuah layar pada alat stimulasi arus otak, yang artinya, kemungkinan pasien koma dapat mendengar meski secara fisik tak bereaksi. Prefrontal cortex yang mengatur kesadaran mungkin tak sepenuhnya hilang fungsi, dan Rafael, bisa jadi masih dapat merasakan apa-apa saja yang terjadi di sekitarnya. Meskipun, tentu saja distorsi ruang dan waktu terjadi secara besar-besaran di otak yang membengkak parah itu.
Hari itu, Pram menguatkan segenap tekadnya untuk berkunjung menjenguk putra kesayangannya. Hatinya hancur berkeping-keping saat mendengar si sulung sedang berada di garis tipis antara hidup dan mati. Stroke dan nyeri persendian yang sampai membuatnya tak bisa berjalan begitu saja diabaikannya. Ia juga tak peduli jika saat itu ia bahkan tak bisa menapak tegap lebih dari sepuluh langkah. Di setiap langkah yang ke sebelas, ia akan duduk sejenak atau berpegangan kepada tembok untuk mengatur nafas agar dadanya tak kian terasa sesak. Ia tak peduli. Ia tetap memaksa masuk ke ruangan itu, demi melihat pemandangan yang seketika akan menghancurkan jiwanya yang memang sudah rapuh.
Rafael terbaring tak berdaya hanya dengan sedikit saja harapan hidup yang tersisa.
Di situ Pram duduk, di kursi yang terletak di sebelah ranjang di mana putranya terkulai tanpa rona kehidupan di wajahnya. Ia menggamit tangan kiri putranya yang tergeletak tanpa selang melintang, sehingga ia bisa dengan seutuhnya menggenggam. Untuk beberapa saat, ia hanya memandang sendu paras tampan itu, paras yang merupakan gambaran dirinya sendiri saat muda dulu. Sungguh, mereka sangat mirip. Siapa pun pasti dapat langsung menebak bahwa mereka terikat darah dan daging.
Belum ada satu kata pun yang keluar kala itu. Kala Pram sudah berada di ruangan itu hampir setengah jam. Namun, itu bukan berarti ia tak memiliki apa pun untuk disampaikan. Benaknya sangat penuh oleh untaian kalimat rindu dan penyesalan. Hatinya sangat sesak oleh doa-doa penyembuh dan harapan masa depan. Sebagian dari isi pikirannya mengutuk siapa pun yang telah mencelakai putranya sampai seperti itu, tetapi sebagian yang lain sedang berusaha memaafkan dan berkata damai. Ada banyak sekali luapan emosi yang meledak di setiap urat nadi Pram saat itu, tetapi, entah mengapa sangat sulit untuk diungkapkan oleh sebaris kata-kata manis.
“Papa.” Tepukan halus di pundak Pram segera menyadarkannya dari lamunan yang menguasainya sejak tadi. Sheila dan Thalia telah datang menyusul ayah mereka ke dalam. Sebenarnya, mereka tadi datang bertiga, tetapi kedua gadis itu harus mengurusi beberapa keperluan administrasi.
“Papa yang kuat, ya,” cakap Sheila sembari mengelus-elus bahu ayahnya. “Papa harus yakin, kalau Kakak bisa sembuh.”
“Papa bisa, lho, ngobrol sama Kakak,” imbuh Thalia. “Dokter bilang, Kakak harus tetap sering-sering dengar orang-orang di sekitarnya, karena itu akan bantu dia untuk cepat merespons.”
__ADS_1
Meskipun Pram sendiri sudah mulai mengalami kesulitan berbicara, ia tetap berusaha untuk berkomunikasi. Ia tak mau kehadirannya di situ menjadi sia-sia. Ia tak mau Rafael berpikir bahwa ayahnya tak pernah datang. Biarlah jika saat itu suaranya parau karena habis menangis, atau kata-katanya terdengar terbata-bata karena stroke yang dideritanya.
“Kak, ayo bangun, Nak ...,” ujar Pram lirih sembari menggoyang-goyang pelan lengan putranya. “Kakak cepat pulang, ya, Papa tunggu di rumah. Kita semua kangen sama Kakak."
Tentu saja tak terdengar balasan apa pun dari hadapannya.
“Mama dan adik-adik, semuanya selalu berdoa biar Kakak cepat sembuh,” sambung Pram dengan penuh pengharapan. “Ayo, Kak ... Kakak janji mau betulkan kamera Papa yang rusak. Sayang, lho, kalau ndak diperbaiki. Di situ masih ada foto kita semua waktu mudik ke Yogyakarta, sebelum eyang meninggal.”
Sementara itu, Sheila dan Thalia hanya berdiri di dekat Pram yang pundaknya mulai bergetar menahan haru. Mereka berdua secara bergantian memeluknya dari belakang, seraya terus menguatkan ayah mereka yang tampak sangat terpukul.
“Kemarin, Mama masak soto ayam, ndak habis, karena biasanya Kakak yang sapu bersih sampai ke dasar panci. Mangga di pohon depan juga sebentar lagi bisa dipanen, tuh, Kak.
“Tahun ini, si Silver lagi yang juara dunia F1 pasti. Podium terus di setiap race, Grand Prix menang mulu. si Merah memble, ah! Ndak seru! Papa kalah lagi jadinya. Tapi yo wes, ora opo-opo. Kakak mau ditraktir apa lagi? Jadi mau beli sepeda gunungnya, 'kan?
“Katanya Dream Theater mau konser lagi di Indonesia. Kalau Papa sehat, kita berangkat ya, Kak? Ndak usah didengar omelan mbokmu, dia ndak ngerti kalau suaminya masih bisa nonton mosh pit. Nonton doang tapi, ndak ikut-ikutan.”
Saat itu, Pram sudah mulai nyaman berbicara kepada putranya sebagaimana mereka selalu berkomunikasi sehari-hari. Dengan penuh canda tawa dan celaan, penuh ejekan dan humor. Penuh semangat berkobar kala membahas topik-topik yang disukai. Bedanya, kali itu Pram hanya bermonolog tanpa mendapatkan satu sahutan kecil pun. Tak apa. Beban di hatinya saat itu sudah terlalu besar, yang akan segera meledak dan membuatnya sakit tak berdarah jika tak dikeluarkan. Ia harus melungsurkan semuanya.
Pram tak tahu di mana Rafael berada saat itu. Entah sedang berkelana di dimensi mana kesadaran putranya, meski fisiknya sedang terjebak berada di ruangan itu bersama dengannya. Namun, Pram tak peduli. Ia tak peduli seberapa jauh putranya menjelajah ke dimensi lain yang tidak ia mengerti, dan juga tak terlihat. Dengan segenap keyakinan, ia tahu bahwa putranya akan kembali.
__ADS_1
***
Hari itu, sama seperti biasanya, Reva sudah bergelut dengan seperangkat alat memasak di dapur sejak subuh. Ia mengerjakan semuanya dari mulai mengiris bawang, membersihkan lauk-pauk dan sayur-mayur, sampai menatanya di sebuah etalase yang terletak di teras rumah Bi Uma. Halaman yang cukup luas itu disulap Bi Uma menjadi sebuah warung nasi sederhana, di mana ia mengais rejeki untuk bertahan hidup selama dua puluh tahun terakhir.
Sejak seminggu yang lalu, Bi Uma sangat terbantu oleh kehadiran Reva di rumahnya. Reva yang memang sangat rajin tak segan mengambil alih sebagian besar pekerjaan Bi Uma agar wanita tua itu dapat banyak beristirahat. Biasanya, Bi Uma mengurus warung nasinya hampir seorang diri, di mulai dari berbelanja ke pasar sebelum subuh, hingga warung tutup pada sore hari. Waktu istirahatnya sungguh tak banyak, dan ia kerap kali mengalami gangguan kesehatan karena kelelahan. Sesekali saja ia mendapatkan bantuan dari seorang asisten.
Bi Uma—di usia senjanya—masih saja harus menjadi tulang punggung bagi seluruh keluarganya. Keenam orang anaknya yang masing-masing sudah berumah tangga itu tak banyak berguna. Mereka tak sungkan untuk kembali lagi dan lagi kepada Bi Uma, meminta sejumlah uang dengan berbagai dalih. Entah itu alasan kebutuhan sekolah, atau keperluan berobat, setiap bulan ada saja yang datang untuk menguras habis semua penghasilan Bi Uma yang sudah menjanda.
Sebagai seorang ibu, tentu saja Bi Uma tak kuasa menolak permintaan putra-putrinya yang mengaku sedang kesusaahan. Namun, batinnya tetap tersayat ketika ia menyadari bahwa anak-anaknya itu hanya akan datang untuk mengambil tabungan yang sudah susah payah ia kumpulkan. Setiap kali Bi Uma menolak, tentu saja itu akan menjadi sebuah perseteruan yang akan menyakiti hatinya. Akhirnya, ia memilih untuk selalu mengalah, pasrah saja terhadap perlakuan anak-anaknya setelah suaminya meninggal.
Hanya Kris, satu-satunya orang yang peduli terhadap kesehatan dan kebahagiaan Bi Uma. Meskipun Kris hanyalah seorang keponakan yang dititipkan, pria itu sangat berbakti, jauh melebihi anak-anak kandungnya sendiri. Kris giat bekerja agar Bi Uma nyaman tinggal di rumah sembari mengurus warungnya. Ia membeli TV dan kulkas baru. Kasur dan kompor baru. Ia mendonasikan pakaian lama Bi Uma, dan lalu memberinya yang baru. Ia juga membayar seseorang untuk membantu Bi Uma, biasanya untuk mencuci dan membersihkan rumah. Kris juga tak segan untuk mendamprat sepupu-sepupunya yang terkadang sudah bersikap sangat keterlaluan terhadap bibinya itu.
Sudah seminggu Kris berlayar jauh ke Timur, terpaksa meninggalkan dua wanita yang sangat dicintainya dengan berat hati. Saat itu, rasanya memang tak mungkin membatalkan kontrak kerja yang sudah terlanjur disepakati. Dampaknya akan sangat buruk terhadap karirnya di masa depan. Kris hanya berharap semuanya akan baik-baik saja selama ia pergi.
Tanpa disangka, Reva ternyata betah sekali tinggal bersama Bi Uma. Sang bibi memang sosok yang sangat lembut dan ramah, dan berkat dirinya, Reva jadi pandai memasak. Tak lama lagi Reva akan segera menikah. Hanya tinggal beberapa bulan lagi sampai Kris kembali kepadanya. Tentu saja, ia sangat ingin menjadi mahir dalam mengolah rasa masakan untuk calon suaminya.
Siang itu, pengunjung warung sedang ramai. Reva terpaksa harus menggoreng satu bungkus kerupuk udang lagi di dapur, karena stok yang berada di sebuah toples besar di atas etalase sudah hampir habis. Saat Bi Uma sedang menyajikan satu piring nasi rames untuk salah satu pelanggannya, terlihat dua orang pria dan dua orang wanita masuk ke pekarangan rumah.
“Cari siapa, Pak?” tanya Bi Uma kepada dua orang pria tinggi besar di hadapannya.
__ADS_1
“Boleh kami masuk, Bu?” jawab salah satu pria. “Kami dari kepolisian.”