Under The Rain

Under The Rain
Bab 40—Fenomena Alam


__ADS_3

Tahun ke dua penyembuhan dan terapi, Rafael sudah bisa melangkah perlahan dengan menggunakan tongkat. Setiap pagi, ia bersemangat sekali menjejakkan kaki di jalan kecil yang dilapisi oleh batu-batu alam untuk menuju ke taman belakang rumahnya. Katanya, berjalan di atas kerikil itu baik untuk melancarkan peredaran darah. Meskipun, ia masih saja tak bisa memapah kedua kakinya tanpa meringis nyeri, dan langkahnya pelan sekali. Tertatih-tatih serta sering berhenti untuk sekadar mengambil napas. Namun, semangatnya untuk pulih memang patut diacungi jempol.


Pria itu juga sudah mulai bisa mengucapkan kalimat-kalimat sederhana meskipun terbata-bata. Setiap malam Wina akan duduk bersamanya, menceritakan kisah-kisah masa kecil Rafael agar putranya itu tak melupakan satu kenangan pun. Wina bercerita tentang liburan keluarga. Dan juga tentang kenakalan remaja putranya, tentang hukuman-hukuman memalukan yang pernah anak itu dapatkan di sekolah, tentang gosip dari mantan-mantan pacarnya yang terdengar sangat konyol. Juga tentang cinta dan persahabatan.


Cerita membantu Rafael melatih daya ingatnya, membantunya menciptakan koneksi antara kisah dan emosi, dan membantunya menciptakan gambaran visual yang dapat melatih empati.


Sebenarnya, Rafael tak sampai mengalami amnesia. Ia tak kehilangan akses atas memori penyimpanan di dalam otaknya. Semua masih di tempat yang sama. Hanya saja, gegar otak itu membuatnya menjadi pelupa, dan Wina akan selalu hadir di sana untuk membantunya mengingat.


Rafael tak selalu memberikan respons baik saat mendengar kisah masa lalunya dibacakan dengan gamblang oleh ibunya sendiri. Terkadang, jika nostalgia itu terlalu intens menyerang dirinya, ia akan memberontak, seperti tak kuat menahan luapan emosi yang berlebihan. Lalu, ia akan mengurung dirinya sendiri hingga gejolaknya menenang. Biasanya, ia akan mengalami sakit kepala akut saat berusaha membuka lembaran ingatan yang begitu menyakitkan. Dadanya akan terasa sesak hingga membuatnya mual. Sampai pada titik terlemahnya, ia akan menangis. Entah mengapa pria itu menjadi jauh lebih emosional, dan Coach Indra memang pernah menyinggung perihal depresi pasca trauma.


Seperti biasa, setiap malam sebelum tidur, Rafael akan berada di gazebo di taman belakang. Katanya, angin malam dan secangkir teh jahe bisa memberikan ketenangan. Wina sampai memasang alas busa berlapis kain anti air di gazebo yang terbuat dari kayu jati itu, karena Rafael jadi sering menghabiskan waktu di sana. Hujan deras mulai turun, dan hal itu membuat Rafael merasa sangat damai, tak peduli jika cipratan air mulai membasahi kaosnya, karena tempat itu tak memiliki dinding pembatas.


“Kak, ayo, masuk!” teriak Sheila yang ternyata sudah berada dari ambang pintu, karena ia tak menemukan kakaknya di kamarnya. Pintu itu adalah akses untuk masuk ke rumah dari taman belakang.


Rafael tak menyahut. Dan Sheila yang khawatir terhadap kesehatan kakak laki-lakinya segera menyambar payung untuk menggiringnya masuk ke dalam rumah.


“Kak, masuk, yuk?” pinta Sheila yang sudah berdiri di hadapannya, di bawah payung besar berwarna merah. “Masuk angin, lho, nanti.”


Rafael yang sedang rebahan sama sekali tak tertarik untuk menurut. Ia hanya tersenyum memandangi adiknya yang terlihat cemas. “La, duduk sini,” ajaknya sembari menepuk ruang kosong di sebelahnya.


Meski enggan karena alas itu sudah basah, Sheila tetap menuruti permintaan sang kakak. Ia melepas sandalnya dan segera naik ke atas gazebo. “Mau apa, sih, Kak? Di sini dingin, dan juga basah,” omelnya.


“J-jangan banyak ngeluh, La ...,” desis Rafael. “Kamu tahu ... suara hujan bisa ngurangin stress.”


“Yang ada aku tambah stress, Kak. Apalagi kalau sampai pilek,” ketus Sheila sembari mengibaskan rambutnya yang terambai-ambai oleh bulir air.


“I-itu karena ... kamu lihatnya dari sisi negatifnya, La,” protes Rafael.


“Apa, sih, bagusnya hujan?”


“S-semuanya ... feel-nya, vibe-nya. Semuanya.”

__ADS_1


“Yuk, kita dansa di bawah hujan?”


“Enggak sekarang, La.”


“Kenapa memangnya?”


“K-karena, k-kadang kala ... kita cuma bisa jadi gagu ... di hadapan fenomena alam.”


“Kenapa?”


“Antara hanyut terbawa suasana ... atau kita merasa kecil karena alam itu menakjubkan.”


Melihat kilatan mata kakaknya yang begitu berbinar memandangi hujan membuat Sheila begitu bahagia. Pria itu seperti menemukan semangat hidupnya kembali. Di tahun itu, malam itu memang kali pertama hujan terlihat turun kembali. Bulan ke-sepuluh menjelang akhir tahun, akhirnya kucuran air dari langit itu kembali ke Bandung. Biarlah jika hujan dapat membuat jiwa Rafael tenteram, meski dingin terasa menusuk tulang. Sheila akan menemaninya sepanjang malam jika perlu.


“Kaaak!” pekik Sheila ketika ia tersadar akan sesuatu.


“Apa?”


“Kamu lancar bicara! Aku senang sekali!”


“Tapi aku juga kesal, karena kalau sama Reva, pasti kamu nggak akan nolak!”


Sheila segera membekap mulutnya sendiri saat nama itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Ia keceplosan dan langsung merasa bersalah, serta tak tahu harus bersikap bagaimana saat Rafael sontak menengok dan menatapnya lekat-lekat.


Coach Indra pernah berkata bahwa hal-hal yang dapat memacu depresi dalam diri Rafael sebaiknya dijauhkan dahulu. Untuk alasan itu, segala tentang Reva tak pernah disinggung oleh Wina di dalam cerita-ceritanya, meskipun wanita paruh baya itu sangat ingin memberi tahu putranya tentang isi diary yang saat itu sudah berada di nakas di samping kasurnya. Wina berjanji, jika saatnya sudah tepat, Rafael pasti akan dibuatnya mengerti tentang semua yang telah terjadi kepada sahabat masa kecilnya itu.


“Kak ....”


“Di mana dia?”


“Sudah, Kak, tolong ....”

__ADS_1


“Apa dia baik-baik aja?”


Melihat raut wajah Rafael yang mendadak menjadi sendu, Sheila langsung mengerti bahwa sedikit pun sang kakak tak melupakan segala tentang wanita itu, tak peduli seberapa keras pun benturan menghantam kepalanya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tatapannya menjadi sangat kosong, menerawang tak jelas ke langit-langit kayu yang menutupi gazebo. Selama bertahun-tahun topik tersebut mati-matian mereka hindari, dan saat itu semuanya menyeruak begitu saja gara-gara hujan di malam hari.


Sheila tak tahu bagaimana harus merespons. Kakaknya mendadak menjadi diam tak berkata-kata, dan ia takut salah bicara. Akhirnya, ia hanya terduduk canggung menemani pria itu, meskipun seluruh tubuhnya menggigil kedinginan. Sampai akhirnya, Wina datang untuk meminta mereka masuk ke dalam rumah, karena malam sudah sangat larut.


***


Setelah hampir dua puluh jam membelah angkasa, maskapai penerbangan asal Qatar yang membawa Reva dan Kris terbang dari Jakarta menuju Oslo akhirnya tiba di Bandara Internasional Gardermoen, gerbang utama dari salah satu negara populer di Skandinavia. Itu akan menjadi kali pertama Reva pergi ke luar negeri. Tak tanggung-tanggung, Kris langsung membawanya bertolak ke Norwegia untuk melihat aurora borealis, sesuatu yang sudah ada dalam daftar impian Reva sejak lama.


Selama dua tahun terakhir, Kris bekerja tanpa ampun demi mengabulkan keinginan istrinya untuk datang ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi. Tidak. Bukan Reva yang meminta. Wanita itu tak pernah mau merepotkan siapa pun, termasuk suaminya sendiri. Namun, Kris mengenal Reva sudah sangat lama. Ia tahu apa-apa saja yang istrinya itu impikan, seperti rumah dengan lahan yang luas dan juga melihat Northern Lights dengan mata kepalanya sendiri. Untuk itu, Kris selalu membuat kejutan-kejutan tak terduga meski tanpa diminta.


Penghujung tahun adalah waktu yang tepat untuk menyaksikan langit di Kutub Utara yang berpendar dengan warna kehijauan. Malam lebih panjang saat musim dingin tiba, dan udara yang kering membuat penampakan di angkasa menjadi lebih jelas. Salju pertama Reva akan ia temukan di sana, dan tentu saja ia sangat bersemangat.


Dari Oslo, Kris dan Reva segera melanjutkan perjalanan ke salah satu kota yang terletak di ujung utara Norwegia. Tromso, namanya. Kota yang sudah mengantongi popularitas di kalangan pengunjung internasional yang datang ke belahan bumi bagian utara untuk menikmati keagungan alam di sana. Tambahan waktu dua jam mereka habiskan di penerbangan lokal menuju kota tujuan, hingga akhirnya petualangan di Norwegia resmi dimulai.


Mantel bulu angsa serta topi dan selendang wool ternyata tak cukup hangat dipakai di temperatur di bawah nol derajat. Reva masih saja menggigil meski kala itu Kris yang sedang duduk di sampingnya terus memeluknya dengan erat. Kris dan Reva sedang menunggu mini bus yang akan membawa mereka berkeliling menikmati keindahan Kota Tromso di sore hari, dan bus yang sama akan membawa para penumpang di dalamnya untuk berburu penampakan aurora di malam hari.


Dua orang pemandu wisata berpengalaman akan mengantar para peserta tour ke tempat-tempat terbaik untuk menyaksikan fenomena alam yang menakjubkan itu, entah itu di lembah-lembah atau teluk terpencil yang terbentuk dari lelehan gletser. Tak peduli jika spot terbaik saat itu adalah di puncak bukit yang tertutup penuh oleh es tebal, mereka akan memastikan bahwa semua peserta mendapatkan malam terbaiknya di Tromso.


Saat itu udara sangat dingin, dan langkah kaki di atas salju terdengar berdecit. Kepulan asap keluar dari mulut orang-orang yang sedang berbicara. Temperatur kembali merosot ke angka -25°c. Jarum jam terus berdetak mendekati tengah malam. Kris dan Reva berdiri di atas danau yang membeku di sebuah lembah terpencil di utara Kota Tromso. Mereka telah mengejar secercah penampakan aurora sejak kelam menyelimuti langit.


Mereka berada jauh dari pemukiman penduduk, di kelilingi oleh kegelapan total tanpa satu pun sorot lampu kota, kecuali kerlip kecil dari lampu kamera milik Kris yang terus-menerus dibidiknya ke langit lepas. Tak pernah rasanya mereka berada sedekat itu dengan alam, berhubungan intim hanya kepada langit berbintang dan angin di musim salju.


“Kamu bahagia, Sayang?” tanya Kris ketika melihat binar mata kekasihnya turut mengerlip di antara ribuan galaksi di atasnya.


Reva tak langsung menjawab karena ia begitu terpesona dengan tarian cahaya yang terbentang di depan matanya. Tarian indah seperti gorden yang bergoyang tertiup angin kencang. Mulut menganga itu bahkan sudah tak mampu lagi berdecak kagum. Hanya mata bulat indahnya saja yang terbelalak tanpa mau berkedip.


“Sayang?” panggil Kris halus seraya menggoyang pundak kekasihnya. “Kamu takjub banget, ya?”


“Kris ....”

__ADS_1


“Ya?”


“Sesorang pernah bilang, kadang kala kita cuma bisa jadi gagu di hadapan fenomena alam. Kemungkinannya ada dua, antara kita benar-benar hanyut terbawa suasana, atau kita merasa kecil karena alam itu sangat menakjubkan.”


__ADS_2