Under The Rain

Under The Rain
Bab 17—Efek Bola Salju


__ADS_3

Waktu libur tiga hari menjadi tiga minggu kala Kris memutuskan untuk menemani Reva lebih lama di Bandung. Banyak urusan pekerjaan penting yang dengan mudahnya ia tinggalkan begitu saja, karena Reva kerap kali mengalami gangguan kesehatan pada beberapa hari terakhir itu. Melihat Reva yang saat itu sudah meringis tak berdaya di atas kasurnya membuat Kris enggan beranjak. Ia tak mau meninggalkan kekasihnya di saat-saat kritis seperti itu sendirian.


“Sayang, kita ke dokter lagi, ya?” bisik Kris lembut seraya membelai rambut Reva yang tengah terkulai lemas di sampingnya.


“Kemarin baru dari dokter?” jawab Reva lirih tak bertenaga.


“Aku kurang sreg sama dokter yang kemarin.”


“Mau gimana lagi, Dokter Octa lagi liburan ke Eropa.”


“Jadi kita mau nunggu sampai Dokter Octa pulang?”


“Katanya kamu nggak sreg sama dokter yang kemarin?”


“Tapi aku nggak bisa ngelihat kamu begini.”


“Aku nggak apa-apa. Cuma pinggulku sakit banget ... nggak bisa jalan.”


"Nggak apa-apa gimana? Kamu muntah setiap habis makan. Haid kamu juga parah banget gitu."


Reva tak menimpali, lalu Kris segera mengurut halus sepanjang punggungnya sementara wanita itu berbaring miring membelakanginya. Urutan yang menjadi pijatan halus hingga ke pinggul sampai bagian itu terasa lebih baik bagi Reva. Kris sudah biasa melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Ia sudah hafal titik-titik mana saja yang membuat Reva mengernyih tanpa ampun.


Setelah mendapat pijatan biasanya Reva akan tertidur, meskipun dengan kram luar biasa yang kerap kali ia rasakan di bagian perut bawahnya. Oleh karena itu, Kris juga dengan sigap selalu menyediakan kompres hangat untuk mengurangi rasa tidak nyaman di bagian situ.


“Lagian, ‘kok, bisa sampai begini lagi, sih, Sayang?”


“Aku nggak tahu, mungkin gara-gara aku ketemu lagi sama Erin.”


“Erin?”


“Kayaknya, sih. Akhir-akhir ini aku jadi nggak kontrol pola makan. Habisnya dia selalu kirim banyak makanan.”

__ADS_1


“Aduh ... jangan gitu, dong. Selalu jaga kesehatan, ya. Nanti bilang sama Erin kalau kamu memang perlu selektif sama makanan.”


“Iya, Sayang ....”


“Apa Erin tahu kalau selama ini kamu lagi sakit?”


“Aku nggak pernah bilang apa-apa soal itu."


Pada waktu-waktu seperti itulah Kris sangat mengutuk sosok pria bejad yang sudah membuat Reva sangat menderita. Yang telah menorehkan luka dan derita begitu besar, seperti efek bola salju. Berkat kejadian sembilan tahun yang lalu, rentetan peristiwa nahas yang harus dihadapi Reva seolah tak berujung.


Kris benar-benar berjanji akan menemukan orang itu dan memberinya ganjaran yang setimpal sebelum dirinya tiada. Karena kesibukannya yang kian bertambah, Kris sempat melonggarkan pencarian terhadap pria itu. Namun, itu tak akan terjadi lagi. Ia pasti akan segera menemukannya. Pasti.


“Pokoknya, kalau malam ini kamu sama sekali nggak bisa tidur lagi, kita ke rumah sakit, ya, Sayang.”


Reva tak menjawab lagi. Seluruh raganya sedang berusaha melawan perih yang bersumber dari ovariumnya sehingga menjadikannya begitu lelah. Ia terus memegangi perutnya sembari mencoba untuk tidur setelah meminum obat pereda nyeri yang sudah bertahun-tahun menemani hari-harinya.


***


“Aku gendong kalau kamu nggak kuat jalan, Sayang.”


“Kamu yakin bisa naik motor? Kita bisa pakai taxi biar kamu lebih nyaman.”


“Motor aja, nggak masalah.”


Dengan langkah terpogoh-pogoh, Reva mulai menyusuri koridor menuju lift yang akan membawanya menuju basement, tempat motor Kris diparkirkan. Reva benar-benar merasakan ada sesuatu yang salah sehingga ia langsung menurut saat Kris memaksanya untuk kembali lagi ke rumah sakit setelah check-up kemarin. Kali itu, mungkin saja ia akan berakhir dirawat inap.


Sesampainya di basement, pintu lift terbuka dan sosok Rafael yang baru saja kembali dari kantornya terlihat sedang menunggu di sekitar situ untuk naik ke atas.


“Eh, Raf, di sini juga?” tanya Kris dengan heran saat sosok rekan barunya tersebut tertangkap pandangannya.


Rafael yang fokusnya langsung tertuju kepada Reva yang terlihat sangat pucat tak meladeni pertanyaan Kris. Reva memang sudah biasa terlihat pucat karena memiliki skin-tone cerah, tetapi kali itu ia tampak sangat berbeda. Pucatnya terlihat sangat memprihatinkan. Apakah dia sedang sakit?

__ADS_1


“Raf?” Kris mulai merasa terganggu melihat Rafael memelototi kekasihnya seperti itu.


“Reva kenapa?” Rafael tak menggubris lagi dan malah balik bertanya. Ia justru semakin mendekat untuk melihat paras wanita itu lebih jelas. Namun, langkahnya langsung terhenti saat lengan Kris dengan sigap menahan dada pria yang lebih tinggi darinya itu.


“Reva lagi sakit,” jawab Kris tajam.


Rafael langsung mengambil satu langkah mundur ketika menyadari Kris tak suka dengan sikapnya barusan. Ia akhirnya mengerti bahwa pria itu ternyata sangat protektif terhadap kekasihnya. “Sorry,” katanya singkat sembari mengangkat kedua tangannya, pertanda ia tak berniat berbuat macam-macam.


Reva yang langsung merasa risih melihat sosok Rafael di situ sontak berlindung di balik punggung Kris seraya terus menundukkan pandangannya. Berkat trauma yang dialaminya, ia selalu refleks menjauh setiap kali radarnya menemukan Rafael sedang berada di sekitarnya.


Situasi di antara dua pria itu sempat menegang kala itu. Namun Kris langsung mengabaikannya dan segera memapah Reva menjauh dari Rafael yang masih berdiri di situ. Rafael hanya bisa menatap nanar langkah kaki Reva yang terus bergerak meninggalkannya tanpa mau menoleh kembali.


***


Setelah melalui rangkaian pemeriksaan yang intensif dengan beberapa prosedur seperti rontgen, MRI, CT Scan dan tes darah, akhirnya tim dokter memutuskan bahwa Reva harus segera menjalani laparotomi. Ditemukan bahwa kista pada ovariumnya telah pecah dan Reva mengalami infeksi yang cukup serius.


Pantas saja, beberapa hari terakhir itu, Reva tak henti mengalami mual dan muntah serta pendarahan ringan di luar siklus menstruasinya. Obat yang diberikan oleh seorang dokter yang ditemuinya kemarin juga sudah tak mempan lagi menahan ngilu pada perut bawahnya.


Terkadang, Reva sendiri memang lalai menjaga kesehatannya. Ia sering kali merasa kelelahan karena bekerja dan pola makannya menjadi berantakan. Biasanya, ada Kris yang selalu tegas mengingatkannya untuk beristirahat. Namun sayangnya, sudah beberapa bulan itu Kris harus bekerja di luar kota. Sepertinya tak lama lagi Kris akan mempertimbangkan untuk kembali ke Bandung saja agar ia bisa selalu membersamai Reva.


“Harus operasi lagi, ya?” tanya Reva dengan pasrah ketika seorang Dokter Spesialis OBGYN mulai memintanya untuk berpuasa.


“Iya, Sayang, tenang aja, ya. Aku selalu di sini buat kamu,” ujar Kris dengan tak henti menciumi punggung tangan kekasihnya yang tengah terbaring lemah di atas kasur perawatan.


“Maaf ya, Sayang. Aku ngerepotin kamu lagi. Aku ngerepotin kamu terus.”


“Eh, kamu ngomong apa? Jangan mikir aneh-aneh, ya. Aku seneng bisa jaga kamu.”


Prosedur pengangkatan kista ovarium itu memang bukan kali pertama dijalani oleh Reva. Sebelumnya, sudah dua kali ia harus menjalani laparoskopi. Kista yang bersemayam di dalam ovariumnya disebabkan oleh folikel yang tak menyusut saat kehamilan pertamanya, yang akhirnya membentuk kista. Bahkan, setelah melahirkan, kista tersebut tetap tak luruh sehingga tim dokter harus mengangkatnya kala Reva mengalami pendarahan hebat berkali-kali.


Operasi yang pertama berhasil, tetapi jaringan itu kembali tumbuh beberapa tahun kemudian, sehingga prosedur laparoskopi yang ke-dua harus dijalani oleh Reva. Dan saat itu, Reva kembali ke atas meja operasi untuk menjalani pembedahan yang ke-tiga. Kali itu bahkan situasinya jauh lebih parah, sehingga sayatan yang lebih besar perlu ditorehkan oleh tajamnya pisau bedah di bagian perut bawah Reva.

__ADS_1


Satu jahitan operasi pada Reva sudah dihitung sebagai satu pukulan mematikan oleh Kris. Demi Tuhan. Demi apa pun yang terdapat di alam semesta dan seluruh isinya, Kris akan membuat pria itu membayar lunas atas apa yang telah diakibatkannya pada tubuh Reva. Dan entah sudah berapa jahitan di tubuhnya yang Reva terima sejak ia melahirkan putra sulungnya sampai sembilan tahun kemudian, sementara pria itu melarikan diri dengan bebasnya.


Efek bola salju yang tak berhenti bergulir menghantam hidup Reva tanpa memberinya kesempatan untuk benar-benar pulih. Dari depresi hingga obat-obatan. Dari luka di rahimnya sampai luka di batinnya. Dari kehilangan pekerjaan sampai kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan. Pria itu harus menebus semuanya. Harus. Hanya itu tujuan hidup Kris saat itu. Tak ada ruang negosiasi untuk orang yang telah secara kejam menyiksa kekasihnya sampai seperti itu.


__ADS_2