
Memasuki bulan ke tiga terapi, belum banyak yang dapat Rafael lakukan selain duduk di atas kursi roda sembari terus berlatih mengucap kata. Seorang ahli patologi telah menyatakan bahwa Rafael mengalami apraxia. Pria itu hampir tak dapat menggerakan seluruh tubuhnya karena kerusakan sistem saraf yang fatal, bahkan untuk sekadar bicara pun, ia hanya bisa menganga tanpa ada satu kata pun yang terucap dari sana.
Seluruh fungsi sensori pada panca indranya mengalami masalah. Kedua mata itu merasa kelelahan ketika berada di tempat yang terang terlalu lama. Kedua telinganya hanya bisa mendengar suara samar meskipun orang-orang di sekitarnya berteriak. Ia merasa mual setiap kali membaui sesuatu, padahal itu hanyalah bau makanan atau semilir aroma parfum yang terbawa angin. Dan mulutnya, tampaknya di situlah gangguan terparahnya terjadi. Mulut itu seperti kehilangan otot-otot berbicara setelah hampir lima bulan beristirahat dalam keadaan koma. Seolah berat sekali untuk mengucap kata, atau membuka dan menutup dengan cepat.
Tahun pertama dalam terapi itu akan fokus kepada pengembalian fungsi motoriknya seperti sedia kala, dari mulai belajar berkomunikasi sampai berjalan kembali. Meskipun, sungguh, tak ada yang tahu bagaimana seluruh perjuangan itu akan berakhir. Namun, saat itu bukanlah waktunya untuk menyerah, saat Rafael akhirnya kembali ke kehidupan fana untuk melanjutkan kisahnya di dunia. Bagi keluarganya, tak ada kata berhenti sampai semua sisi pada pria itu kembali utuh.
Seorang terapi wicara datang siang itu. Ia membawa laporan hasil pemeriksaan terhadap kondisi yang sedang dialami oleh Rafael. Gangguan fungsi di otaknya menyebabkan kesulitan memberi instruksi, sampai lidahnya saja terasa sangat kelu, padahal ia sangat ingin berbicara. Ia memiliki kata-kata di otaknya yang tidak dapat ia ucapkan. Dan ia juga mengalami kesulitan mengunyah dan menelan, sehingga untuk sekadar makan pun masih saja membutuhkan bantuan infus dan selang.
Kesabaran terapis wicara itu memang luar biasa. Pria di penghujung usia tiga puluhan itu tak henti-hentinya memeragakan beberapa gerak mulut agar Rafael bisa memahami koneksi di antara gerakan dan makna kata yang sedang diucapkan. Ia juga menggunakan media untuk menunjukkan visual gambar, betul-betul seperti mengajari balita yang sedang belajar berceloteh.
Rafael sendiri tak banyak merespons. Setiap sepuluh menit sekali, ia akan terlihat meringis dan mulai kehilangan keseimbangan dari posisi duduknya di kursi roda. Sehingga, Wina harus tetap memeganginya agar tak terjatuh. Terapi wicara pada tingkat yang paling sederhana seperti itu saja sudah membuat kepalanya berdenyut sakit. Padahal, lima bulan lalu ia adalah seorang programmer andal yang mampu memecahkan kode-kode digital yang paling rumit sekalipun.
“Aaaaaa ...,” Sang terapis membuka mulutnya lebar-lebar, berharap Rafael dapat mengikuti gerakan mulutnya dalam menciptakan bunyi ‘a’. Disusul oleh bunyi ‘i’, kemudian bunyi-bunyi vokal yang lain.
Dengan kepala yang terasa seperti dihantam palu gada sakti milik Bima yang kekuatannya dapat membuat bumi porak-poranda, Rafael berusaha menjaga pandangannya tetap terbuka pada sesi terapi kali itu. Namun, fokus berkonsentrasi membuatnya mual sampai ingin muntah, dan keadaan itu membuatnya sangat frustasi karena ia merasa tak berdaya. Bagaimana tidak, kehidupannya saat itu terasa sangat menyiksa. Untuk sekadar memahami dan meniru apa yang diucapkan oleh terapisnya saja sudah sulit setengah mati.
Pada titik lelahnya, Rafael akan mulai menendang-nendang tak karuan, sepertinya gerakan itu tercipta begitu saja tanpa mampu ia kendalikan. Ia mulai terdengar melenguh seperti wanita yang hendak melahirkan, dan tentu saja bunyi itu juga keluar secara spontan dari laringnya. Untuk itu, setidaknya tiga orang harus mendampingi Rafael melalui proses terapi, untuk menjaganya ketika pria itu mulai tantrum akibat stress yang berlebihan.
“Sudah cukup untuk hari ini, ya,” pungkas Coach Indra, sang terapis. Ia sebetulnya adalah seorang psikolog yang menghabiskan bertahun-tahun untuk mendalami speech therapy, dan setiap pasien yang ia tangani memanggilnya dengan sebutan coach.
“Terima kasih banyak, Coach,” balas Wina dengan rasa khawatir tersirat dalam nada bicaranya, yang seketika langsung tertangkap oleh Indra.
“Saya harap ibu tetap bersemangat, ya. Kita akan melakukan yang terbaik bersama-sama.”
“Sepertinya sudah lebih dari dua bulan dan belum ada perubahan, Coach,” desis Wina dengan kedua tangan yang segera menyilang di dada, kala ia mulai merasakan perih di matanya. Dan ia segera menarik napas panjang agar tangisnya tak pecah.
__ADS_1
“Sabar, Ibu ....” Indra yang sudah ratusan kali menghadapi pasien yang putus asa seolah mengerti bagaimana perasaan Wina saat itu.
Sangatlah tak mudah menyaksikan orang terkasih harus menjalani hari-harinya seperti Rafael. Saat melakukan hal-hal sederhana seperti buang air saja memerlukan bantuan banyak tangan untuk menggendongnya. Karena, selain kehilangan kemampuan berkomunikasi yang membuatnya menjadi gagu, Rafael juga mengalami kelumpuhan parsial di beberapa bagian tubuhnya.
“Bu ....” Indra menatap Wina lekat-lekat di teras rumah itu, sebelum ia berpamitan untuk pulang. “Yakinlah, semuanya akan membaik. Yakinlah pengobatan medis kita sudah berkembang pesat saat ini. Pusat-pusat rehabilitasi sudah begitu modern. Anak Ibu bisa sembuh, dan saya percaya itu.”
“Iya, Coach. Terima kasih banyak. Saya bersyukur ada Coach untuk bantu anak saya. Meski kadang saya miris lihat si sulung seperti asing di rumahnya sendiri. Seperti nggak ingat apa-apa.”
“Bukan nggak ingat, Bu. Cuma memang ada masalah koordinasi antara otak dan gerakan motoriknya. Mungkin butuh berbulan-bulan, atau bisa bertahun-tahun. Tapi, nggak ada yang mustahil, ‘kan?”
“Semoga, Coach ... semoga. Kami akan tetap bersabar sampai si Kakak sembuh.”
***
Sepetak lahan di utara Daerah Istimewa Yogyakarta digarap oleh Kris untuk membangun tempat tinggal impiannya bersama sang istri tercinta. Ya, Kris yang memang sudah bertekad membawa wanita itu menjauh dari Bandung memilih Kota Yogyakarta untuk tempat bernaung dan menghabiskan hari-harinya. Reva sendiri yang memilih daerah itu. Daerah di mana ia bisa memandang Gunung Merapi dan menemukan berbagai macam sayuran segar dari petani setempat. Dan kabarnya, tempat itu memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Satu nilai tambah lagi bagi Reva.
Setelah sekian tahun bersama, Kris akhirnya mulai mendengar saran Reva untuk tak melulu menghamburkan uangnya untuk keperluan yang tak penting. Ternyata, penghasilannya setelah setengah tahun berhemat total bisa juga dipakai untuk membangun rumah. Tak besar memang, tetapi hunian itu memiliki desain eksterior dan interior yang menawan. Dan meskipun letaknya di pelosok, justru itulah daya tarik utama dari rumah sederhana itu. Rumah elok dengan udara segar dengan pemandangan yang menyejukkan mata.
Rumah tersebut didominasi oleh aksen kayu dan semen ekspos, yang berpadu sempurna dengan rindangnya pohon-pohon besar di sekitar situ. Rencananya, Reva akan mulai berbelanja tanaman hias, baik yang ditanam dalam pot maupun di tanah pekarangan rumahnya. Wanita itu sejujurnya tak mengerti apa-apa perihal tanaman. Ia hanya pernah memiliki beberapa kaktus yang tak memerlukan perawatan sulit. Namun, tak ada kata terlambat untuk belajar, bukan?
Sore itu mereka duduk berdua di atas sofa yang terletak di dekat jendela besar, di mana mereka bisa memandangi pucuk Merapi dari kejauhan. Dua cangkir cokelat panas turut menemani di senja yang terasa sangat dingin itu. Sengaja jendela tak ditutup untuk membiarkan angin dingin khas pegunungan masuk ke dalam rumah. Dan di sofa itu mereka saling berpelukan, menciptakan memori bersama dalam balutan selimut tebal.
“Maaf, ya, Sayang, untuk sementara cuma ini yang bisa aku kasih buat kamu,” ujar Kris sembari terus mendekap istrinya dalam pelukannya.
“Cuma ini? Hey, kamu baru aja bangun rumah, lho!”
__ADS_1
“Iya, tapi ukurannya kecil, dan letaknya jauh dari mana-mana.”
“Justru aku suka banget tinggal di sini. Adem, nggak berisik. Aku bersyukur kamu bawa aku ke sini. Lagian, aku, ‘kan, memang jarang ke luar rumah.”
“Semoga kamu selalu betah tinggal di sini, ya, Sayang. Aku bisa kasih kamu lebih banyak dari ini. Asalkan kamu selalu di sini.”
Menjelang malam tiba, mereka hanya menghabiskan waktu dengan saling mendekap dan berciuman. Berbagai benda dalam kardus-kardus besar pun belum mereka sentuh. Proses perpindahan rumah memang selalu melelahkan, dan saat itu rasanya mereka ingin bersantai sejenak saja.
***
Sebelum tengah hari, Reva sudah kembali dari berburu tanaman hias yang akan mempercantik seluruh sudut rumahnya. Saking banyaknya hasil perburuan di hari itu, penjual tanaman sampai memberikan fasilitas antar gratis. Memang lokasi rumah itu tak jauh dari nursery, namun tetap saja Reva merasa senang ketika permintaan free delivery-nya dikabulkan oleh si pedagang.
Kris sudah kembali ke Jakarta hari itu, jadi Reva mengurusi para tukang yang sedang membantunya membuat layout taman seorang diri. Untuk pohon-pohon yang lebih besar, Reva memang membutuhkan bantuan orang lain untuk memindahkan media tanamnya ke tanah.
Para pria berlengan kekar sudah selesai menurunkan semua pohon dan tanaman dari sebuah mobil pick-up. Semuanya sudah berkumpul di pekarangan rumah Reva, seperti beberapa pohon palem, serta pohon mangga kecil dengan daun yang sudah rimbun. Lalu, ada pohon kamboja, dan juga pohon kersen dengan tinggi sepinggang. Entah mengapa Reva memang menyukai pohon-pohon yang memiliki daun lebat ketika mereka bertumbuh besar. Kenapa? Kenapa pohon-pohon itu yang dipilih?
Untuk sementara waktu, Reva hanya mematung di hadapan batang-batang berdaun itu, merenungi entah apa. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tak enak, dan ia tak tahu mengapa, karena tadi pagi semuanya baik-baik saja sebelum ia berangkat berburu tanaman.
Kemudian, Reva berusaha mencerna mengapa dirinya mendadak menjadi gusar, mengingat-ingat apakah ia membuat kesalahan di hari itu. Pasti bukan karena masalah kesehatan. Tubuhnya sedang sangat fit dan ia menjaga pola makannya dengan baik. Apakah ia lupa membayar? Apakah ada kesalahan dalam daftar belanjaannya? Tidak. Tidak mungkin.
Berusaha mengabaikan kegelisahannya, Reva mulai membantu para tukang memindahkan pohon-pohon. Menata mereka dengan baik sesuai dengan layout yang sudah dibuat. Dan Reva terus saja memperhatikan dengan rinci seluruh proses pembuatan taman itu, berjaga-jaga jika ada yang melakukan kesalahan. Namun, semuanya tampak sempurna. Sangat sempurna. Lalu apa?
Sore hari saat desain taman mungil itu mulai menunjukkan rupanya, Reva akhirnya menyadari sesuatu. Sebuah jawaban mengapa sejak siang hari jantungnya berdegup kencang. Karena, taman itu sangat mirip dengan taman di rumah Pram! Tata letaknya, bebatuannya, pohon-pohon yang dipilihnya. Semuanya. Astaga! Reva tak sadar bahwa dirinya telah menyalin persis denah taman yang sudah sangat dikenalinya sejak kecil, dan itu sama sekali tak disengaja.
Reva segera membekap mulutnya rapat-rapat sebelum ia menjerit histeris, dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa segala yang berada di masa kecilnya itu benar-benar tak bisa ia lupakan. Ia mulai gemetaran. Tak mungkin taman dirumah barunya itu sangat mirip dengan apa yang ada di benaknya! Tak mungkin! Ia tak mau!
__ADS_1
Esok hari saat dirinya lebih tenang, Reva akan meminta para tukang untuk merombak habis desain taman itu!