
Reva memiliki kebiasaan unik di mana saat ia hendak menulis sebuah buku, ia akan melakukan hal-hal baru yang tampak konyol jika diperhatikan. Ia ingin memiliki wawasan sebanyak mungkin, dan mengerti sedalam mungkin. Pernah ia menempuh perjalanan seorang diri dari Bandung ke Lombok. Benar-benar sendirian. Jangan pikir ia akan menghamburkan uang membeli tiket pesawat dan menginap di resort mewah. Perjalanan a la Reva adalah naik-turun bus dari terminal ke terminal dan berdesakan di kereta kelas ekonomi, dan ia pun hanya menyewa kamar sederhana saja. Bukan apa-apa, Reva ingin memahami seperti apa rasanya budget solo backpacking itu, agar ia dapat menulis sensasinya dengan baik.
Reva juga mengenal beberapa kelompok masyarakat, dari mulai akademia yang konservatif, budak korporat dengan mind-set kapitalisnya, hingga seniman jalanan peminum alkohol seperti Krisna, kekasihnya. Ia juga memiliki beberapa teman yang berasal dari keluarga broken-home yang kerap berbagi cerita dengannya.
Dunia itu luas. Banyak sekali hal di luar norma sehari-hari yang belum Reva mengerti. Reva ingin belajar dan ia memang terus belajar, di mana pun dan kapan pun, karena ia ingin mengerti tentang kehidupan dari berbagai sisi dengan lebih baik.
Seperti saat itu, pukul 03.00 dini hari Reva sedang makan bubur di pasar induk! Ia tengah menulis sebuah novel di mana protagonis utamanya adalah seorang janda yang membesarkan lima orang anaknya dengan berjualan sayur di pasar. Seluk-beluk kehidupan di pasar serta perjuangan para pedagang di dalamnya berusaha Reva ceritakan dengan jelas, gamblang dan sebenar-benarnya. Oleh karena itu, Reva harus benar-benar memahami dulu bagaimana cara pasar tradisional beroperasi.
Pukul 11.00 siang, Reva akhirnya kembali ke apartemennya, dengan empat kresek besar yang berat totalnya mencapai tiga belas kilogram! Sebabnya, Reva tak enak jika harus bertanya-tanya ke para pedangang tentang pengalaman, tanpa benar-benar membeli produk dagangan mereka. Hasilnya, berkilo-kilo sayur-mayur dan lauk-pauk serta bumbu dapur berada dalam genggaman Reva yang siap ia olah menjadi berbagai macam masakan.
Saat Reva berbelok ke koridor di mana kamarnya berada, lagi-lagi ia melihat Kaia sedang termenung cemas sambil duduk di depan kamarnya, menunggu seseorang yang datang untuk membukakan pintu untuknya. Masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan tas di punggungnya, ia pasti baru saja pulang sekolah.
Reva berjalan melewatinya dan menyandarkan kresek-kresek hitam tebal itu di depan pintunya. Ia menoleh ke arah Kaia, yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum.
“Namamu Kaia, ‘kan?” tanya Reva sembari mencari kunci kamarnya di dalam tas selempangnya.
“Iya, Tante—”
“Nama saya Reva, nggak usah panggil tante.”
__ADS_1
Bocah itu hanya menatap heran. Mungkin ia pikir Reva sudah terlihat sangat dewasa, sehingga terasa aneh untuk memanggilnya hanya dengan nama saja bagi anak kecil seperti dirinya.
Pintu kamar Reva sudah terbuka, lalu ia mulai mengangkut setumpuk belanjaannya ke dalam. Saat ia hendak menutup pintu kembali, ia melihat Kaia masih memperhatikannya dengan wajah polos. Koridor itu benar-benar sepi, Reva kembali merasa khawatir untuk meninggalkan anak itu seorang diri.
“Kamu mau ikut masuk?” ajak Reva yang masih berdiri di ambang pintu dan memastikan bahwa ibu dari anak itu belum menunjukkan tanda-tanda akan datang.
Kaia masih belum mau beranjak dari tempat duduknya. Ia masih sangat kecil. Mungkin ia merasa malu dan takut, sehingga itu memaksa Reva untuk mendekatinya dan memasang wajah yang lebih ramah.
“Kamu mau ikut masuk?” tanya Reva sekali lagi, kali itu sembari mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah. “Aku bukan orang jahat, lho. Bukan penculik juga, tenang aja.”
Akhirnya, meski dengan ragu-ragu, Kaia menyambut uluran tangan Reva dan mereka bergenggaman. Lalu Reva membantunya berdiri dan menuntunnya masuk ke dalam rumahnya.
Sisa space di kamar itu masih luas, dan Reva menggunakannya untuk memajang buku-buku favoritnya serta koleksi mainan dan action figure-nya! Ya, Reva yang sudah hampir memasuki usia kepala tiga masih suka bermain play-dough, slime dan mainan fidget. Ia juga mengoleksi berbagai macam clay dan oil painting berwarna-warni untuk mengisi waktu luangnya, kontras sekali dengan isi lemari baju mungilnya yang serba gelap. Tentu saja bagi Kaia itu adalah surga! Maka dari itu, matanya sampai berbinar melihat koleksi stationary Reva yang sangat berwarna dan berkilauan karena bertabur glitter.
Reva menyadari Kaia terperangah melihat rak pajangan raksasanya yang sampai menjulang tinggi ke langit-langit. Bagi Reva, reaksi itu sangat lucu dan polos. Tak sadar, senyum tipis tersungging di bibirnya. Entah mengapa ia turut senang melihat Kaia berseri-seri seperti itu. Sungguh, seharusnya Reva memiliki setiap alasan untuk membenci anak itu, tetapi ia tak bisa. Menjadi buah hati Rafael dan Nadia, Kaia sama sekali tak berdosa.
Reva meraih seperangkat alat melukis yang terletak di bagian atas rak yang sejak tadi menarik perhatian Kaia. Kanvas, kuas dan berbagai macam cat lukis dalam tabung itu lalu diletakkannya di sebuah meja kerja. “Kalau mau, kita bisa melukis sama-sama,” ajaknya kepada Kaia, yang tentu saja diterimanya dengan bersemangat.
Kaia langsung melepas tas pundak serta botol minumnya dan menaruhnya di atas kasur Reva. Ia melepas kedua sepatunya lalu duduk di kursi kayu minimalis yang sudah disediakan Reva. Mereka duduk bersebelahan dan mulai saling berbincang. Reva mengajari anak itu beberapa teknik melukis yang ia pelajari dari Krisna, serta membiarkannya berkreasi menuruti imajinasinya. Sesekali mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Hari sudah siang dan matahari sudah meninggi tepat di pertengahan langit. Reva mulai membuat masakan sederhana untuk makan siangnya dan Kaia, sementara bocah itu masih asyik memoles kanvas putih dengan warna-warni cat. Tak lama, suara kisruh dua orang pria dan satu orang wanita terdengar heboh dari luar kamarnya, yang membuat Reva merasa penasaran sehingga ia mulai menempelkan daun telinganya ke pintu untuk menguping.
Astaga!
Tiga orang di depan kamarnya sedang ribut-ribut mencari Kaia yang dianggap menghilang!
Reva segera membersihkan jari-jemarinya sehabis memotong bawang, dan langsung membuka pintu dengan panik. “Pak, maaf, Kaia ada di sini sama saya,” ujarnya ke salah satu petugas security yang dipanggil oleh Nadia untuk menemukan Kaia.
Bodoh sekali Reva, seharusnya ia memberi kabar bahwa Kaia sedang bersamanya sehingga ia tidak membuat rusuh seperti itu. Namun, saat itu memang sama sekali tak ada orang di sekitarnya, dan jangankan memiliki nomor kontak Nadia, berpapasan dengan wanita itu saja Reva tak sudi.
Nadia langsung memelototi Reva dan menerobos masuk ke dalam rumahnya. Reva yang tak berkutik hanya bertengger di pintu dan membiarkannya masuk begitu saja, karena biar bagaimanapun, ia juga merasa bersalah. Kemudian, Nadia menarik lengan Kaia dengan paksa, sehingga kuas yang dipegangnya sampai jatuh ke lantai dan meninggalkan noda cat. “Ayo pulang, Kaia, melukis di rumah aja. Kamu kan punya juga!” serunya seraya mengangkut barang-barang milik Kaia, tas, sepatu dan botol minumnya.
Kaia langsung menurut dan bergegas meninggalkan tempat itu. Saat hendak melewati pintu, ia menatap Reva sambil tersenyum seolah mengatakan ‘terima kasih’. Reva hanya mengangguk kecil sebelum Nadia juga melewatinya. “Lain kali nggak perlu repot-repot ngurusin Kaia kayak gitu, Va. Dia cuma harus nunggu sebentar, kok. Karena tadi aku ada keperluan,” protes Nadia sebelum pergi.
Reva tak membela dirinya dan terlalu malas berkata-kata. Ia hanya memberi tatapan dingin dan tajam kepada wanita itu sebelum akhirnya menutup pintu. Sebentar, katanya? Kaia berada di kamarnya lebih dari satu jam! Dan itu bukan kali pertama anak kecil itu harus menunggu sendirian untuk masuk ke rumahnya sendiri.
Kesal sekali Reva melihat kelakuan Nadia seperti itu, sungguh tidak bertanggung jawab! Apakah suaminya tahu bahwa Nadia lalai sekali menjaga anaknya? Apakah Rafael sadar bahwa sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada Kaia?
Seharian itu Reva menjadi bad mood memikirkan tetangga sebelahnya yang acuh tak acuh. Untung saja Reva memiliki banyak perkerjaan untuk merapikan setumpuk bahan pangan yang baru saja dibelinya. Reva itu memang sangat aneh karena menganggap kegiatan bersih-bersih menyenangkan. Namun, itu memang betul-betul bisa mengalihkan perhatiannya dari perasaan-perasaan buruk di hatinya.
__ADS_1
Selesai merapikan dapur, Reva menuju meja kerjanya. Saat itu ia baru tersadar bahwa lukisan bunga yang dibuat oleh Kaia terlihat cukup bagus untuk anak seusianya. Kaia sepertinya memang berbakat. Tanpa ragu, ia memajang karya yang masih setengah jadi itu. Mungkin Kaia akan kembali ke sana untuk melanjutkan pekerjaannya, mungkin juga tidak. Reva tak peduli. Pokoknya ia menyukai lukisan itu.