
Berbagai benda yang berserakan di atas lantai menyambut pandangan Nadia dan Kaia sampai membuat mereka bergidik, diperparah dengan suara ringisan Rafael yang begitu terdengar mengkhawatirkan. Meskipun, pria itu masih mencoba bangkit sembari memegangi rahangnya yang retak. Tak jauh darinya, Kris berdiri tegap menantangnya, dan terus mendorongnya hingga tersungkur berkali-kali.
“Hey!!! Masalah lu apa?!” pekik Nadia lantang sembari menghampiri Kris dengan rusuh. “Pergi kamu dari sini!!!”
Tak sadar, ternyata Kris memegang sebuah pisau yang tadi ia ambil dari dapur, yang segera membuat Nadia tercekat dan langsung melangkah mundur. Dengan pancaran dendam membara, pisau itu diacungkan tepat ke batang hidung Nadia . “Jangan ikut campur,” ancam Kris datar dengan tangan bengisnya memegangi kerah baju Rafael.
Di sisa-sisa kekuatannya, Rafael masih berusaha memerintah, setelah ia melihat wajah putrinya seolah dipenuhi oleh teror, “jangan ikut campur, Nad! Masuk ke kamar! Kunci! Jaga Kaia!”
Dengan terbirit-birit, Nadia langsung menurut. Ia menarik Kaia ke kamar tidur mereka dan mengunci pintunya. Sebelumnya, ia melihat Rafael yang sepertinya bersikeras ingin melawan. Pria itu tampak tak gentar meski berkali-kali dijatuhkan. Horor di raut wajah Kris juga tak membuat nyalinya menciut sama sekali.
Rafael bagai sudah siap untuk kedatangan hari itu. Hari di mana kenyataan atas sesuatu yang bertahun-tahun ditutupinya akhirnya terungkap. Saat itu, Nadia pikir percuma saja ia menyela. Ia melihat sorot mata suaminya yang juga dipenuhi oleh kesungguhan untuk mengakhiri pertikaian itu. Dua laki-laki di hadapannya itu memang sama-sama keras kepala.
“KAIA! KAIA! Ponsel Bunda mana?!” Nadia tak kuasa menahan histeria menyaksikan perkelahian suaminya terbentang di depan matanya, yang datang secara tiba-tiba seperti itu.
Bocah itu langsung mendelik ke atas nakas dan menemukan benda pipih berlapis metal itu di sana, dan ia dengan gegas meraihnya untuk diberikan kepada Nadia.
Dengan gemetar Nadia mengulir dan menekan layar ponselnya berkali-kali, dan mendekatkan benda itu ke daun telinganya. Namun, setelah itu yang ia dapatkan selalu rasa kecewa dan kecemasan yang kian bertambah.
“Nggak ada yang angkat teleponnya, Kaia! Pada kemana, sih, orang-orang?!”
Saat itu memang sudah lewat tengah malam, dan Nadia belum juga mendapat respons dari siapa pun yang ia hubungi.
“Bunda, kenapa Om Kris kayak gitu?” tanya Kaia dengan gelisah. “Kenapa berantem sama Ayah?”
“Bunda nggak tahu, Ka, tapi Ayah kamu nggak bisa berantem! Payah banget dia itu! Mana pernah dia berantem kayak gitu!”
“Kita harus bantu Ayah, Bunda.”
“Kita harusnya ke bawah buat cari security! Sayang banget, Bunda nggak punya kontak security!”
“Biar Kaia ke bawah aja!”
“Jangan aneh-aneh, kamu! Kaia lihat tadi Om Kris bawa pisau?”
“Bunda, gimana kalau Ayah ditusuk?”
“Aduh ... jangan gitu, dong, Kaia! Jangan bikin Bunda tambah stress!”
Sebenarnya, tidak. Saat itu Kris benar-benar hanya ingin melampiaskan seluruh energi dalam amarahnya lewat pukulan demi pukulan. Ia memiliki kemelut di jiwanya yang hanya bisa luruh oleh sebuah perkelahian. Perkelahian dingin dan brutal demi pembuktian bahwa dirinya lebih baik dan lebih layak. Egonya sedang sangat tersakiti begitu ia menyadari bahwa Reva selama itu diam-diam melindungi orang yang paling ia benci. Hal itu begitu memicu stimulus dalam mentalnya yang sudah lama sakit, yang akhirnya kembali datang merajai seluruh akal sehatnya.
“Bunda, Kaia tahu!”
“Tahu apa kamu, Bocah?”
Kemudian, Kaia segera memeriksa teras balkon dengan hati-hati, karena perkelahian ayahnya yang diiringi gelegar raungan kesakitan masih berlangsung di luar kamar. Di unit apartemen itu, teras balkon memang dapat diakses baik dari ruang keluarga maupun kamar utama.
“Nih, Bunda!” seru Kaia ketika ia menemukan segulung tali prusik di kolong kursi balkon. “Kaia kemarin nemu tali di bawah situ!” terangnya lagi.
__ADS_1
“Tali? Tali buat apa?”
“Bunda, Kaia yakin bisa pergi ke teras balkonnya Reva kalau pakai tali ini,“ jelasnya dengan mantap.
“Ngawur kamu! Nggak lihat kamar kita letaknya di lantai tujuh, memang?”
“Nggak, Bunda, Kaia serius. Kaia harus ketemu sama Reva! Reva pasti bisa bantu!”
“Ih, kamu ada-ada aja, deh! Bunda nggak mau kasih izin, ah! Bahaya!”
“Nggak, Bunda, Kaia berani. Tapi, tolong Bunda pegangin talinya, ya!”
Nadia melongok ke bawah apartemen, dalam gelapnya malam dan minimnya lampu penerangan di sekitar situ. Pemandangan melompong itu begitu mengerutkan hati dan membuatnya merinding. Namun, Kaia yang tengah berdiri dan mengikatkan tali tersebut ke pingangnya tampak sangat yakin dengan keputusannya. Biar bagaimanapun, Nadia sangat khawatir. Kaia itu putri semata wayangnya, dan ia akan mengutuk dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk sampai terjadi kepadanya.
“Bunda! Cepat!” desak Kaia selagi mengintip perkelahian ayahnya dari celah kecil di jendela ruang tamu. “Ayo, Bunda! Kita minta tolong! Kasian Ayah!”
Melihat situasi yang kian memburuk membuat Nadia menjadi pasrah saja menuruti ide gila di otak anaknya itu. Ia pun segera memegangi ujung tali dan merelakan Kaia melakukan tugasnya di dinding halus itu. Hingga akhirnya, gadis kecil berusia delapan tahun itu tiba juga di kediaman Reva.
“Reva! Reva! Reva di mana?”
Kaia sangat panik ketika tak melihat Reva berada di dalam apartemennya sendiri, sampai kemudian ia mendengar suara gaduh datang dari dalam lemari.
“Reva?” selidik Kaia sambil mendekat ke arah sumber suara.
“Kaia? Kaia? Ini aku, tolong buka pintu lemarinya, Ka! Apa kuncinya masih tergantung di situ?”
Astaga! Reva berada di dalam lemari! Kaia seketika terperangah melihat benda berbentuk balok kayu yang sempit memanjang itu terus digedor paksa dari dalam. Anak itu tak habis pikir tentang siapa yang tega melakukan hal seperti itu kepada teman baiknya. Kemudian, ia pun dengan cepat memutar kunci lemari yang untung saja masih menggantung di tempatnya.
Setelah tersadar bahwa Kaia sedang berada di rumahnya karena pertikaian Rafael, Reva segera menyambar laci untuk memberikan sesuatu yang sangat penting kepadanya.
“Kaia, kita nggak punya banyak waktu,” jelas Reva dengan gusar kepada anak yang sedang berdiri di sampingya, “tapi, aku boleh minta tolong?”
“Iya, boleh.”
“Dengar baik-baik, ya, aku nggak akan ulang lagi,” perintah Reva dengan serius. “Ini kunci cadangan kamar Reva, Kaia harus simpan baik-baik.”
Meskipun bocah itu sangat kebingungan dan tak mengerti sedikit pun tentang apa yang sedang terjadi, ia tetap mendengarkan Reva dengan saksama.
“Nanti, kalau Erin datang, tolong kasih kuncinya ke Erin, ya. Kaia bisa?”
“Iya, Kaia bisa.”
“Sekarang lihat ke kolong kasur, Kaia.”
Keduanya lalu merunduk untuk menelisik jauh ke dalam celah yang cukup lebar di antara kasur dan lantai, dan Reva segera menyalakan lampu senter di ponselnya agar Kaia dapat melihat dengan jelas.
“Di situ ada koper. Di dalam koper ada case motif catur. Kaia harus bilang Erin untuk buka isi kotak itu. Kaia ngerti?”
__ADS_1
“Iya, Va.”
“Kodenya 722-144. Ingat, ya, 722-144.”
“722-144.”
“Bagus. Jangan sampai lupa, ya.”
“Iya, Va, Kaia ingat.”
“Makasih, Kaia. Please, Kaia nggak boleh bilang siapa-siapa dulu. Nanti biar Erin yang bertindak. Okay?”
“Okay.”
“Terima kasih banyak, ya, kamu udah ke sini buat tolong aku.”
Kaia menatap Reva lekat-lekat. Menatap wajah pasrah dan putus asa berpadu menjadi satu dalam tautan kesedihan. Entah mengapa rasa takut kehilangan langsung menyeruak dari nadinya seolah Reva akan pergi jauh untuk meninggalkannya. Kaia sudah cukup mengerti bahwa sesuatu yang salah sedang terjadi. Ia tahu hal yang besar sedang bergejolak di antara Kris dan ayahnya. Namun, Kaia tak berani banyak bertanya. Pikirannya tak cukup dewasa untuk memahami dari mana ia harus mulai bertanya.
“Kaia,” panggil Reva setelah hening menyela rasa gelisah di antara mereka berdua, “kamu tahu, aku sayang banget sama kamu,” akunya sembari menunduk tanpa mau melihat wajah gadis kecil di sebelahnya.
“Kaia juga sayang Reva,” balas Kaia dengan polosnya.
“Makasih banyak, bulan-bulan terakhir ini, kamu mau jadi teman baik aku. Kamu selalu main ke sini. Kita selalu melukis sama-sama. Baca buku sama-sama. Makasih buat semua waktu kamu, ya.”
Sebelum Kaia sempat menjawab, ceklek kunci dari arah pintu tiba-tiba saja terdengar, yang seketika membuat jantung Reva hampir melompat dari tempatnya. “Masuk ke kolong kasur, Kaia! Cepat!!!” desisnya dengan nada penuh penekanan.
Jari-jari kaki Kaia masih belum masuk sepenuhnya ke kolong kasur saat Kris berhasil membuka pintu. Untung saja, Reva segera melesat menghampirinya dan menghalangi pandangan Kris dengan tubuh lesunya.
“Kamu bisa keluar?” Kris terheran meski ia sendiri tampak banjir keringat.
“Aku dobrak pintunya!” Reva mendengus kasar.
“Kita harus cepat pergi dari sini!” Kris yang panik dan ingin segera melarikan diri dari situ sebenarnya tak terlalu mempedulikan jawaban Reva saat itu.
“Ke mana?”
“Jangan banyak tanya! Cepat keluar!”
“Tapi barang-barangku, Kr—”
“Bawa seadanya! Sisanya kita urus nanti! Cepat, Va!”
Dengan gegas Reva meraih tas ranselnya. Ia benar-benar hanya mampu mengemas benda-benda penting dan beberapa potong pakaian. Baju lusuh yang ia kenakan bahkan tak sempat diganti. Kotak makeup-nya juga sengaja ia tinggalkan, karena ransel yang tak terlalu besar itu sudah sesak. Sungguh, Reva hanya diberi waktu tiga menit untuk meninggalkan tempat itu, sampai akhirnya pintu itu dikunci dan Reva terpaksa pergi dari rumahnya sendiri.
Kris membawa koper dan satu tas besar sembari menarik lengan Reva berjalan ke luar apartemen. Dini hari memesan sebuah taxi untuk menuju ke sebuah tempat yang satu-satunya terpikir olehnya sejak tadi; rumah bibinya.
Setelah situasi dirasa aman, Kaia merangkak keluar dari kolong kasur. Unit studio milik Reva sudah tak berpenghuni saat itu, dan Kaia bisa berjalan ke rumahnya melalui pintu depan dengan kunci cadangan berada di dalam genggamannya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Kaia saat menyaksikan pemandangan gempar di dalam rumahnya sendiri saat ia kembali. Beberapa wajah yang ia kenal sudah berada di situ; Erin, Adji, Sheila dan Thalia. Beberapa wajah yang ia tak kenal juga menyesakki rumahnya, dan ketiga pria itu mengenakan seragam satuan keamanan. Lalu, Kaia melihat ayahnya sedang diangkut ke atas tandu.
Rafael dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma, dengan luka lebam di sekujur tubuhnya.