Under The Rain

Under The Rain
Bab 31—Koma


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan Reva dan Kris di sebuah rumah sederhana yang terletak di dalam gang. Wanita itu tampak sangat ramah dan lemah lembut, meski raut gelebah terpancar nyata pada wajahnya yang sudah berkerut di sana-sini. Ia adalah Bi Uma, satu-satunya figur orangtua yang Kris kenal sejak kecil. Suami Bi Uma telah meninggal beberapa tahun yang lalu, yang sampai membuat Kris semakin menjadi-jadi dengan konsumsi alkoholnya.


Bi Uma mempersilakan Reva untuk beristirahat, merapikan kamar kecilnya agar menjadi senyaman mungkin untuk ditempati. Ia juga segera membuat teh jahe hangat yang diberi madu karena Reva terlihat pucat. Saat itu sudah menjelang subuh, dan Bi Uma mulai berkutat di dapur untuk membuat bubur ayam.


Kris pernah beberapa kali membawa Reva untuk menginap di kediaman Bi Uma sebelum hari itu. Sebabnya, enam anak Bi Uma hampir semuanya merantau dan hanya satu orang yang tinggal dekat dengannya. Bi Uma selalu menerima Reva dengan sangat baik setiap kali wanita itu berkunjung, dan ia juga sudah mengetahui seluruh kisah Reva yang selalu diceritakan oleh Kris. Oleh karena itu, Kris berani mempercayakan keberadaan Reva di tangannya.


Saat itu, Kris terlihat sangat gelisah. Berkali-kali ia menghubungi beberapa orang melalui ponselnya dan selalu berakhir dengan bentakan dan amukan. Ia tampaknya ingin membatalkan seluruh kesepakatan kerjanya yang sudah terlanjur terjalin. Kris benar-benar merasa bahwa ia tak bisa meninggalkan Reva. Kondisinya sedang sangat berbahaya. Ia berpikir bahwa mungkin saja polisi tengah mengejarnya atas apa yang baru saja ia lakukan terhadap Rafael.


Sambungan telepon yang terakhir terputus, dan Kris langsung membanting ponselnya ke kasur di mana Reva sedang duduk untuk meminum tehnya.


“Kris, kamu nggak mungkin batal pergi ...,” ujar Reva setelah menyaksikan betapa frustasinya pria itu setelah gagal mendapatkan yang ia kehendaki. “Kamu nggak mau dicap nggak profesional, ‘kan? Kerja sama ini penting buat kamu, tolonglah.”


Kris duduk di sebelah kekasihnya, mencoba bersikap tenang. Ia mulai menarik nafas dalam-dalam setelah sempat hilang kendali, dengan berangasan menendang benda-benda di sekitarnya. “Aku nggak bisa ninggalin kamu,” tegasnya sikat.


“Karena apa?”


“Va, kalau cuma masalah pekerjaan, kita bisa cari kesempatan lain. Urusan kamu jauh lebih penting buat aku!”


“Tapi ini mimpi kamu, Kris. Kamu butuh bertahun-tahun buat sampai di titik ini. Akhirnya proyek film ini ada di depan mata. Dan kamu mau mundur gitu aja?”


“Aku bisa dapat pekerjaan lain.”


“Mereka nggak mungkin kasih izin! Siang ini kamu udah harus berangkat. Di mana mereka bisa cari pengganti visual designer secepat itu?”


“Aku nggak peduli—”


“Kenapa? Kenapa kamu sampai kayak gini?”


“Karena aku nggak mau kamu kenapa-napa!”

__ADS_1


“Aku baik-baik aja, Kris. Aku bisa tinggal di sini sama Bi Uma, sesuai seperti yang kamu mau. Aku janji nggak pergi ke mana pun sampai kamu balik lagi.”


“Bi Uma aja nggak cukup bikin kamu aman, Va!”


“Kenapa? Kamu minta aku keluar dari rumahku sendiri, fine, aku turutin. Katanya kamu lebih tenang kalau aku sama Bi Uma. Sekarang kenapa?”


“Va, mungkin kamu harus ikut aku ke Sumba.”


“Ada apa? Kenapa kita harus lari?”


“Aku mungkin baru aja bikin kamu dalam bahaya.”


“Apa maksud kamu?”


Reva yang tak tahu tentang bagaimana hasil akhir dari perkelahian itu mulanya tampak bingung, tetapi ia segera menyadari bahwa Kris pasti sudah melewati batas. “Apa maksud kamu? Apa yang udah kamu perbuat?” tanyanya dengan gelisah sampai membuat kata terakhir itu terdengar bergetar.


Pria itu hanya menunduk, tak berani menjawab. Di sepanjang perjalanan menuju rumah Bi Uma, ia membisu dengan tatapannya yang telihat sangat kosong. Perjalanan itu hanya dua puluh menit dari apartemen Reva, tetapi terasa berjam-jam karena Kris sangat cemas memikirkan polisi mungkin saja tengah mengejarnya.


Kris sadar bahwa ia telah berbuat kesalahan fatal, tetapi api membara dalam jiwanya sungguh tak bisa padam. Melihat Rafael yang saat itu sudah pasrah terkulai dalam genggamanya tak kuasa membuat Kris berhenti. Ia begitu merasakan kepuasan pada pukulan demi pukulan di sekujur tubuh pria itu, sampai ia tak bisa bergerak lagi. Saat Rafael berhenti merespons, Kris segera tersadar dari gelap yang menyelimuti pikirannya, hingga pada titik di mana jiwanya benar-benar kosong.


“K-kris ... tolong jawab ... a-apa yang terjadi sama dia?” Reva tak dapat lagi membendung ketakutan yang bisa saja merobek dirinya dari dalam saat itu. Ia merasakan gemetar hebat mulai kembali lagi membalut seluruh tubuhnya. Apa yang terjadi kepada Rafael? Apa? Mengapa Kris sampai bersikap seperti itu?


“K-kris ... gimana kondisinya? Please, jawab aku. Please ....”


Kris masih membatu, tertunduk dalam-dalam saat wajah memar Rafael terlintas di benaknya. Dan Reva tahu ia akan menerima berita yang sangat buruk jika Kris sampai membuka mulut. Namun, wanita itu sungguh tak tenang memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa terjadi kepada Rafael. Apakah mimpi buruknya benar-benar jadi nyata? Apakah hal-hal yang ia takutkan di kepalanya sejak dahulu sudah menjelema menjadi realita?


***


Di situlah Rafael berbaring, di sebuah ruangan ICU dengan berbagai alat bantu yang terpasang melalui selang-selang kecil di tubuhnya. Rafael mengalami cedera otak yang sangat parah. Benturan di kepala yang ia terima berkali-kali menyebabkan pendarahan di dalam otaknya yang membuat organ itu membengkak. Tulang tengkoraknya mengalami retak akibat bantingan kepala yang begitu keras ke berbagai sisi. Fraktur itu sendiri sampai memberi kerusakan parah pada celebral cortex, yang akhirnya mengirimnya ke dalam fase vegetatif non-responsif yang dikenal orang sebagai koma.

__ADS_1


Terlihat cairan dari otaknya keluar melalui telinga dan hidung bahkan sebelum ambulans datang. Luka-luka memar dan lebam yang tersebar di tubuhnya disinyalir sebagai akibat dari hantaman benda-benda tumpul yang sangat keras. Selain itu, Rafael juga mengalami cedera punggung dan pergeseran tulang pelvis, serta patah tulang di bagian hidung, rahang dan lengan kiri. Sehingga, sangat beresiko untuk mengangkutnya tanpa bantuan petugas medis profesional, karena jika salah posisi, retakan tulang di berbagai bagian tubuhnya itu bisa-bisa merobek lapisan otot dan organ dalam.


Nadia menangis saat itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, akhirnya ia menangis untuk suaminya. Rafael benar-benar terlihat seperti tak bernyawa, meski detak jantungnya masih bisa terdeteksi oleh monitor yang diletakkan di sebelah ranjangnya. Sebelumnya, tindakan intubasi untuk melubangi lehernya sudah dilakukan, agar pria itu tetap bisa bernafas melalui ventilator. Hanya itu saja yang dapat membuatnya bertahan hidup saat itu, seutas selang kecil untuk menyalurkan oksigen supaya jantungnya tetap berdetak. Sudah. Hanya itu.


Di luar ruang ICU, Erin melambaikan tangannya ke arah Nadia yang sedang meratapi kondisi suaminya di dalam sana. Nadia menengok dengan mata sembabnya kemudian segera menghampiri temannya itu.


“Rin! Kita harus lapor polisi!” tuntut Nadia dengan raut penuh rasa bersalah. “Ini percobaan pembunuhan, Rin. Orang itu bener-bener gila!”


“Nad, tenang dulu—”


“Aku beneran ngerasa goblok banget kenapa bisa-bisanya malah ngunci diri di dalam kamar! Aku panik banget, Rin. Aku takut! Saat itu yang kepikiran cuma Kaia. Aku nggak nyangka dia bakal sebrutal itu.”


“Nggak apa-apa, Nad. Kita ngerti. Situasinya emang udah parah banget. Nggak semua orang bisa berpikir jernih di saat kayak gitu. Dan kamu udah bener, kok, dengan melindungi Kaia. Kita mana tahu apa jadinya kalau kalian juga ikut campur, ‘kan?”


“Tapi aku harusnya langsung turun panggil security, Rin! Ah! Pengecut banget, sih! Harusnya aku nggak ciut waktu dia nodong pakai pisau! Aku pikir mereka berantem karena salah paham kecil aja, masalah pekerjaan atau apa. Kenapa separah ini, Rin?”


“Nad, dia itu lagi dikuasai dendam. Hatinya gelap. Kita nggak tahu, lho, mungkin dia juga bisa nyakitin kamu sama Kaia.”


“Dendam? Dendam apa?”


“Makanya kamu tenang dulu, Nad. Kamu dengar aku dulu,” pinta Erin dengan risau sembari mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya. “Kamu baca ini, diary-nya Reva. Aku ambil benda ini di dalam kopernya dia. Please, kamu baca! Setelah ini, kamu pasti akan ngerti semuanya.”


Erin segera menyerahkan buku catatan bersampul hitam itu ke tangan Nadia. Dan mereka duduk bersebelahan di kursi tunggu yang terletak tak jauh dari ruang ICU. Nadia sempat ragu karena ia tak tahu apa hubungan diary Reva dengan kondisi Rafael saat itu. Namun, akhirnya ia mulai membuka halaman pertama pada buku itu.


“Di sini, Reva tulis semuanya. Semuanya, Nad. Hal-hal yang selama ini bikin kita bertanya-tanya, ke mana selama sembilan tahun terakhir ini dia menghilang.”


Nadia mengangguk mengerti. Sedetik kemudian, ia terhanyut meresapi setiap kata-kata yang tertulis di dalam buku itu. Ia membalik halaman demi halaman sambil sesekali menyeka wajahnya yang mulai berurai air mata. Beberapa kali ia harus berhenti untuk mengambil nafas karena dadanya terasa sangat sesak. Semakin ia membaca, semakin sesak.


Ada kalanya di mana Nadia merasa bahwa ia tak kuat untuk melanjutkan. Lalu, ia akan menyeruput air di dalam botol minumnya setiap kali tenggorokannya terasa panas. Ia tak menyangka bahwa isi di dalam buku itu ternyata sangat membuatnya terguncang. Dan ia harus mengumpulkan kekuatannya kembali untuk terus membaca isi di dalam buku itu sampai selesai.

__ADS_1


“Astaga, Rin ... i-ini ... serius?”


__ADS_2