
Perayaan ulang tahun itu berlangsung sederhana. Mereka semua makan bersama dan bertukar kisah, serta saling memberi lelucon dan mengibur satu sama lain. Erin dan Adji yang turut hadir di situ membuat suasana lebih riuh, karena duo banyol itu tak henti-hentinya membuat orang lain tertawa. Sementara, Nadia kian merasa greget melihat Rafael belum mengetahui sedikit pun tentang apa yang menjadi penyebab perceraiannya. Sepanjang acara, Nadia hanya melirik-lirik gemas kepada orang-orang di sekitarnya. Untung saja, siang itu ia cukup bisa mengendalikan dirinya dengan baik.
“Erin! Erin!”
Erin yang baru saja keluar dari kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumah Rafael dikagetkan oleh sergahan Nadia yang tiba-tiba, tepat di moncong hidungnya.
“Nad! Ngagetin aja!” balas Erin kesal.
Nadia menarik lengan wanita itu ke lorong kecil yang mengarah ke gudang. Tempat itu cukup terpencil dan sepi, dan tidak ada siapa pun di situ. Di saat yang lain sedang asyik menikmati makan siang di ruang makan, Nadia diam-diam bertemu Erin.
“Rin! Gimana, sih? El belum tahu apa-apa?” desis Nadia setengah berbisik. Ia tak mau ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka.
“Mereka pasti punya pertimbangan sendiri, Nad. Mungkin karena kesehatan mentalnya belum stabil.”
“Tapi, jadinya dia mikir kalau aku
pergi gara-gara masalah uang! Itu sungguh nggak bagus buat image gue, tauk!”
“Yah! Itu mah elo aja yang ribet. Cuekin aja, lah! Kita semua tahu, kok, apa sebabnya.”
“Terus gimana? Reva ada kabar?”
“Nggak sama sekali, Nad. Dia ganti nomor kontak lagi. Dan beberapa kali aku ke tempat Bi Uma, dia nggak ada juga. Katanya dia memang pindah, sih.”
“Berarti terakhir kita berhubungan sama dia itu waktu Kris masih di timur, ya? Terus mereka gimana?”
“Bi Uma bilang, setelah nikah mereka nggak tinggal di Bandung lagi. Entahlah, mencurigakan banget. Dia mutusin hubungan sama kita gitu aja. Kenapa perlu sampai kayak gitu?”
“Diculik kali dia, Rin!”
“Enggak heran, sih, kalau lihat kelakuan suaminya kayak begitu.”
“Apa kita lapor polisi?!”
“Polisi lagi? Dramatis, lu! Janganlah ... itu, ‘kan, rumah tangga orang.”
“Terus kita harus gimana?”
“Nggak tahu. Kemarin-kemarin aku sibuk sama Ayesha yang mulai sekolah. Dan baby nomor dua lagi on the way, nih!”
“Sama, Rin!”
__ADS_1
“Lu hamil juga?”
“Ngaco! Kemarin aku sibuk kuliah lagi, dan lagi fokus banget ke Kaia.”
“Nanti aku cari cara, Nad. Aku sendiri penasaran banget sama keadaannya. Semoga, sih, hidupnya nggak ada masalah.”
“Aku cuma mau nolong si El, Rin. Kasihan banget dia. Nggak kebayang kalau dia tahu Reva udah nikah sama orang lain.”
“Tenang, ya, Nad. Semoga semua ada jalannya.”
***
Reva mulai tak berkutik tinggal di rumahnya sendiri. Ia benar-benar tak bisa kemana-mana selain ke pasar, itu pun harus diantar oleh suaminya. Mau makan mie ayam atau membeli camilan harus diantar suaminya. Ke supermarket atau ke kolam renang untuk berolahraga juga harus diantar suaminya.
Sebetulnya, Reva tak masalah. Toh, ia juga tak bisa pergi sendiri karena tak memiliki kendaraan pribadi. Hanya saja, Kris juga selalu memeriksa pesan-pesan yang ia terima, baik pesan singkat maupun surel. Ponsel dan laptopnya selalu dikontrol, dan ia juga tak boleh memiliki akun social media. Seperti dirinya itu sudah tak memiliki privacy lagi.
Setiap kali Reva mulai memberontak dan hendak melakukan protes, Kris akan memberinya hadiah, persis seperti orangtua yang sedang membujuk anak-anak tantrum. Sepatu dan tas baru, atau baju dan perhiasan. Tak jarang pula Kris membeli voucher staycation di hotel mewah, atau produk-produk skincare yang harganya jutaan rupiah. Sungguh, Reva sama sekali tak membutuhkan semua itu. Dirinya saja tak diperbolehkan untuk keluar rumah dan bertemu siapa pun, bukan?
Tak lama sejak kepulangan mereka dari Norwegia, Kris kembali mengajak Reva ke New Zealand, negara yang tentu saja berada di dalam bucket list wanita itu karena keindahan alamnya. Di negara yang terletak di bumi bagian selatan itu, banyak tempat-tempat yang sempurna untuk melakukan stargazing. Memandang ke langit lepas yang bertabur bintang seperti permata yang bertebaran di angkasa. Reva sangat ingin memiliki pengalaman mengamati ribuan gugusan planet di Milky Way, menatap titik putihnya yang bergerak dari ujung timur ke ujung barat sepanjang malam.
Sebenarnya, saat itu Reva sendiri tak setuju mengenai ide berlibur ke New Zealand. Bukan apa-apa, perjalanan itu hanya berselang beberapa bulan dari kunjungan ke Norwegia, dan Reva pikir itu adalah pemborosan besar. Menurutnya, berlibur ke luar negeri itu sebaiknya dilakukan setiap satu atau dua tahun sekali saja, agar rasanya selalu istimewa karena jarang dilakukan. Apalagi, mereka juga masih membutuhkan sejumlah uang untuk modal berbisnis. Tampaknya, Kris memang kesulitan sekali meninggalkan sifat borosnya yang tak kunjung hilang. Sedangkan pendapatannya itu tak tetap, meskipun saat itu nominalnya cukup besar.
“Aku boleh main ke penjara atau Rumah Sakit Jiwa, nggak? Aku mau tahu gimana tempat-tempat itu beroperasi.”
Anehnya, Reva memang tak berani sekali pun membantah Kris. Seolah ia merasa bahwa dirinya itu kecil sekali jika dibandingkan pria pemabuk yang terkadang bisa bersikap sangat temperamental itu.
Satu paket yang cukup berat mendarat lagi di teras rumah Reva sore itu, diantar oleh kurir bersepeda motor. Paket itu berlapis kayu. Di bawah kayu, masih terdapat bubble wrap untuk perlindungan extra, dan di bawahnya lagi masih terdapat kardus packaging yang sangat tebal. Reva mengikuti Kris ke ruang tengah untuk melihat suaminya membuka paket itu, meskipun ia sudah tahu pasti apa isinya.
Beberapa kaleng bir dan beberapa botol minuman beralkohol terlihat berkilauan dari balik packaging berlapis-lapis. Botol-botol itu sungguh terlihat cantik dipandang. Sangat elegan dan eksklusif. Reva tahu harga per-botol liquor itu bisa mencapai jutaan rupiah, dan saat itu ia melihat ada empat buah botol di sana, belum termasuk kaleng-kaleng.
Reva tak mengerti apa-apa saja nama benda cair itu. Ia hanya melihat label yang tertera pada botol, dan dari kejauhan ia dapat membaca kata whisky, tequila, champagne dan red wine. Beberapa minggu sebelumnya, paket yang datang bertuliskan vodka dan gin. Ada juga rum dan cognac. Entah sudah berapa juta Kris keluarkan untuk membeli alkohol bulan itu.
“Kamu beli lagi, Kris? Bukannya masih banyak stock, ya, di pantry?” Reva bertanya dengan sangat hati-hati.
Kris sontak terkekeh mendengar kepolosan istrinya itu, meski tetap fokus membaca kandungan pada setiap botol yang sudah bertengger dengan gagahnya di meja tamu.
“Satu botol, ‘kan, nggak harus langsung habis, Sayang. Bisa disimpan berbulan-bulan, yang penting rasannya nggak berubah.”
Dengan tangan terlipat ke dadanya, Reva duduk di kursi ruang keluarga, menghadap Kris yang dengan bangganya memotret botol-botol berkilauan yang baru saja didapatnya itu dengan kamera kesayangannya, untuk dibagikan di social media. Sementara, Reva terus memandangnya dengan kesal. Sebenarnya ia malas sekali mencampuri urusan apa pun tentang suami alkoholiknya, tetapi sesekali sepertinya ia harus bicara.
“Kris ...,” panggil Reva dengan ragu-ragu, “aku boleh ngomong sebentar?”
__ADS_1
“Ngomong aja.”
“Memangnya perlu minum sebanyak itu? Karena setiap mabuk, kamu jadi pemarah, dan jadi sering kena masalah. Ingat kemarin kamu hampir nabrak pengendara motor lain?”
“Va, beban kerjaku itu banyak. Kamu tahu sendiri, bahkan ketika di rumah pun selalu ada deadline, sampai nggak tidur. Aku minum buat kurangin stress, biar bisa tidur.”
“Memang nggak ada cara lain? Menurutku, uang yang kamu keluarin buat botol-botol itu terlalu besar.”
“Udah ada jatahnya, kok. Yang penting aku bisa kasih apa pun yang kamu mau, ‘kan? Apa lagi yang ada di wish list kamu? Apa jatah uang belanja masih kurang?”
“Enggak sama sekali, dan bukan itu maksud aku. Kamu tahu, profesi kita sebagai seniman dan penulis itu nggak stabil. Aku bersyukur kalau kamu handle banyak proyek sekarang. Banyak kerjaan, banyak orderan. Tapi, bukannya lebih baik kamu tabungkan aja?”
“Apa, sih, yang bikin kamu cemas? Rumah punya, mobil punya, liburan bisa—”
“Aku tahu, kamu lagi di puncak karir, tapi nggak selamanya kamu di situ. Tabungan pensiun kita nol rupiah, lho.”
“Kamu terlalu parno, Va—”
“Kamu ingat kenapa aku setuju tinggal di Sleman? Karena kita mau mulai bisnis agrikultur. Hasil penjualan apartemenku untuk modal ke situ, ‘kan? Tapi, kayaknya kamu nggak antusias lagi.”
“Apa semuanya harus buru-buru? Apa semuanya harus serusuh pikiran kamu? Kita baru aja pindah ke sini!”
“Aku bener-bener khawatir sama gaya hidup kamu, Kris ....”
“Aku jamin kamu nggak akan kekurangan, Va! Aku kerja juga buat kamu, jadi kamu nggak perlu ngatur caraku kerja gimana. Lama-lama aku stress karena kamu, bukan karena kerjaan!”
“Maaf, aku ikut campur. Aku cuma khawatir, sifat temperamen kamu nggak pernah hilang gara-gara minuman itu. Mungkin kamu nggak sadar, tapi kamu sering bikin orang celaka. Ini bukan melulu masalah uang.”
“Apa aku pernah nyakitin kamu, Va? Aku ngelakuin segalanya buat kamu! Persetan urusan orang lain!”
“Kris ... jangan kamu pikir aku senang sama materi berlebihan yang kamu kasih. Aku nggak pakai itu semua. Jadi, tolong ... jangan selalu jadiin aku alasan sebagai beban kerja kamu. Aku nggak pernah minta.”
“Kamu nggak suka? Kamu nggak suka lihat aurora? Kamu nggak suka stargazing? Munafik kamu, Va!”
“Aku lebih menghargai kalau kamu kasih aku izin ke luar rumah untuk kerja ... dan kamu nggak perlu setiap hari periksa apa yang ada di ponsel sama laptop aku. Kamu juga bisa copot semua CCTV yang ada di rumah.”
“Kamu itu istri aku, Va! Aku nggak pernah minta apa-apa lagi selain kamu nurut sama aku! Cuma gitu doang, kenapa berat banget, sih? Emang aku suruh kamu ngapain? Cari nafkah? Kamu itu nulis cuma hobby! Tahu, nggak?”
“Tuh, ‘kan ... cuma materi doang yang kamu pikirin, nafkah-lah, traveling-lah, rumah dan mobil—”
“Udahlah, Va. Aku nggak bisa relax nikmatin wine sambil dengerin kamu ngomel! Lebih baik kamu urusin kerjaan kamu sendiri.”
__ADS_1
Reva bangkit dari duduknya dengan gegas. Meski geram, ia tahu ia tak akan sanggup melawan. Ia ingat bagaimana Kris menjambak rambut dan menyeret tubuh mungilnya menyapu lantai, bagai dirinya itu sebuah karung buntal yang berisi dua kuintal beras. Ia ingat bagaimana Kris menguncinya di dalam lemari sampai ia hampir tak dapat bernapas. Jika saat itu Kaia tak datang tepat waktu, mungkin ia sudah merengang nyawa.
Dengan kecamuk di dadanya, Reva menunduk berjalan ke kamarnya. Memikirkan kembali keputusan mengapa ia setuju saja untuk menikahi pria itu. Tidak. Saat itu, Reva benar-benar berpikir, tak ada lagi orang yang mampu memperjuangkannya dengah gagah selain Kris. Tak pernah ada yang datang menolongnya dari keterpurukan selain Kris. Kris menjadikannya sebagai pusat kehidupan, dan itu membuatnya merasa sangat penting dan diingikan. Tanpa ia sadari, orang yang sama telah merenggut satu-satunya hal paling penting yang dimilikinya sebagai seorang manusia; kebebasan.