Under The Rain

Under The Rain
Bab 44—Pengintaian II


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, Erin dan Nadia bertemu lagi di hari kelima Kris ditunjuk sebagai mentor. Jika kegiatan itu sesuai jadwal yang tertera di website, hari itu adalah hari terakhirnya mengajar di ‘Yukita Arts’. Apa pun yang terjadi, mereka betul-betul berniat untuk menemukan sebuah jawaban malam itu.


Pedal gas diinjak Erin dengan tenang saat mobil Kris keluar pelataran kompleks ruko. Saat itu, sepertinya ia sudah terbiasa dengan adegan memata-matai, dan ia terus mengemudikan mobilnya tanpa kehilangan jejak sedikit pun. Bahkan, saat mobil hitam itu berhenti di sebuah minimarket, Erin tetap fokus kepada pergerakannya.


“Rin, kamu siap kalau kita harus ke Jakarta?” Sejak kemarin Nadia terus menduga bahwa Kris yang bekerja di Jakarta telah membawa Reva untuk tinggal di sana bersamanya, dan ia lihat nomor plat yang tertera di mobil itu berawalan huruf ‘B’.


“Kita memang udah siap untuk itu, ‘kan? Makanya kita titip anak-anak ke nenek mereka,” jawab Erin santai.


“Ya, udah,” balas Nadia sembari mengatur kemiringan kursinya ke posisi rebahan, lalu memakai bantal leher, dan menarik selimut tipis kesayangannya, “nanti kita gantian nyetir, ya.”


“Iya, tidur dulu, sana.”


Keyakinan Erin bahwa mereka akan berangkat ke luar kota semakin bertambah saat mobil Kris masuk ke sebuah gerbang toll, sehingga ia pun tak ragu untuk mengikutinya. Ia memang sudah siap untuk kemungkinan itu, dan sepanjang siang tadi dihabiskannya untuk tidur. Namun, firasatnya mulai merasakan sesuatu yang aneh saat mobil hitam itu mengambil tikungan ke kanan. Seharusnya, jika Jakarta adalah kota yang dituju, ia akan berbelok ke kiri.


“Nad ....”


Erin yang merasa bingung dengan arah tujuan Kris terpaksa membangunkan Nadia yang sudah memakai penutup mata. Untung saja wanita itu belum terbawa ke alam mimpi, dan ia langsung merespons ketika merasakan sentuhan di betisnya.


“Apa, Rin?”


“Belok kanan, lho. Ke arah Kertajati.”


“Hah? Mau kemana dia?”


“Nggak tahu. Tapi kita tetap lanjut, ya. Mungkin nggak akan ada kesempatan lagi soalnya.”


“Yakin, Rin? Udah malam, lho, ini?”


“Paling juga ke mana, sih?”


“Kalau dia berhenti di hutan? Kalau dia sadar lagi diikuti dan sengaja bawa kita ke tempat sepi? Abis kita, Rin!”


“Kebanyakan nonton serial killer, lu!”


“Mungkin aja, Rin! Gimana kalau dia pura-pura bego? Kamu jangan terlalu pas di belakang dia banget, deh. Yang penting nggak kehilangan jejak aja.”


“Jadi, kita lanjut, nih?”


“Iya, deh, mau gimana lagi ....”


Nadia kembali ke posisi rebahan dan membiarkan temannya itu fokus mengemudi. Saat itu, ia berpikir perjalanannya mungkin tak akan jauh. Jalur toll itu mengarah ke Bandara, bisa jadi Kris hendak bertemu atau menjemput seseorang.


***


Semakin lama, Erin semakin gusar karena Kris terus melaju. Mobil itu tak memelankan jalannya, tak berhenti atau berbelok ke mana pun, bahkan tak keluar melalui gerbang menuju Bandara seperti dugaan Nadia. Erin yang sudah tak tahu lagi harus berbuat apa hanya bisa mengikuti mobil itu dalam ketidakpastian. Entahlah, sepertinya sudah tak mungkin lagi berbalik arah untuk kembali. Ia sudah terlalu jauh dari rumah, jadi lebih baik diteruskan saja.


Tak tahu sudah berapa kota yang Erin lalui demi mengintai Kris dari kejauhan. Sejujurnya, Erin sudah tak peduli lagi, bahkan saat mereka telah melewati perbatasan provinsi sekali pun. Saat itu, Erin sudah terlanjur merasa penasaran, dan tanpa terasa ia mengemudi sudah hampir empat jam. Erin bahkan tak tahu lagi ia tengah berada di kota apa dan terus melaju.


“Rin ...,” panggil Nadia dengan suara parau karena baru terbangun dari tidurnya, “belum sampai juga kita?”


Erin melirik ke arah Nadia. Wanita itu pasti akan berteriak histeris jika tahu ratusan kilometer sudah terlalui sejak dirinya tertidur pulas. “Belum, Nad,” jawabnya singkat.


“Kita di mana, Rin?” tanya Nadia sembari bangkit dari posisi tiduran. Celingukan ke kanan dan ke kiri memperhatikan suasana di jalan dengan mata yang masih menyipit terkena silau sorot lampu mobil. “Masih di toll? Toll bagian mana ini?”


“Trans Jawa.” Dengan santainya Erin menjawab. Situasi tersebut memang sangatlah absurd sampai membuatnya jadi ingin tertawa sepanjang jalan. Kala itu, bahkan jika mereka harus berakhir di Banyuwangi pun, Erin sepertinya sudah tak masalah lagi.

__ADS_1


“HAH? NGAPAIN?”


“Ya, nggak tahu, Nad. Orang mobilnya lewat sini. Sayang kalau nggak diikutin, mau kapan lagi coba?”


“Udah gila, ya, kamu! Memang kita mau kemana?”


“Mana gue tahu, cempreng!”


“Yah, aku izin sama Mami cuma sampai pagi, Rin. Kaia aku titipin di rumahnya, tapi besok dia harus sekolah.”


“Emak kau, ‘kan, super tajir, Nad! Pasti bisalah kasih makan cucunya. Sopir pribadi aja dia punya.”


“Bukan gitu, Rin. Dia parno-an banget orangnya. Bakal panik kalau tahu aku road trip sejauh ini! Lagian, memangnya Adji nggak masalah kamu pergi jauh? “


“Enggak, sih. Yang ada juga dia pasti iri karena nggak kebagian peran main detektif!”


“Ah, sama-sama aneh, lu!”


“Lagian, ya ... lu, ‘kan, bukan ABG lagi, pakai takut diomelin segala. Telepon aja si Mami, bilang ada kerjaan. Mumpung belum tengah malam, nih.”


“Udah tidur pasti dia. Nanti subuh aja ku telepon.”


Selesai merajuk, Nadia kembali memandangi jalan bertabur lampu dari balik kaca jendelanya, dan mulai merenungi mengapa di waktu seperti itu bisa-bisanya ia berada di antah-berantah bersama Erin. Ia seperti tak mengenali dirinya sendiri, karena Nadia yang ia kenal tidak seperti itu. Ia selalu hidup hanya untuk dirinya sendiri.


“Dipikir-pikir, ngapain, sih, aku sama kamu di sini? Ngikutin orang nggak jelas ke tempat nggak jelas? Demi El? Demi Reva? Aku bahkan nggak suka-suka banget sama mereka berdua!”


“Berarti, kamu itu sebenarnya orangnya baik, Nad. Kamu bisa, ‘kan, peduli sama orang? Ternyata kamu nggak seaneh itu, jadi bisalah kita temenan.”


“Dih ... udah, ah, geli!”


“Gantian aja, yuk? Kamu lagi hamil, lho. Istirahat dulu,” desak Nadia yang merasa sangat khawatir.


“Kalau kita berhenti buat gantian, dia nggak akan kekejar, Nad. Kamu lihat sendiri, dia ngebut banget!”


“Tapi, Rin—”


“Lagian ini dini hari dan tempat ini gelap banget. Kita baru aja keluar dari toll, jalanannya jadi sepi begini. Memangnya kamu berani?”


“Nggak juga, sih, Rin. Tapi kamu pasti lelah banget. Takut celaka kalau kamu nyetir sambil ngantuk.”


“Aku nggak apa-apa. Santai aja, Nad.”


Setelah hampir delapan jam mengemudi, Kris mengambil tikungan ke sebuah jalan kecil yang tampaknya menuju pedesaan. Saat itu, Erin merasa ragu-ragu untuk mengikutinya berbelok, karena pasti pria itu akan menyadari bahwa dirinya sedang diikuti. Selama pengintaian, Erin selalu berusaha menjaga jarak aman agar Kris tak curiga. Namun, mengikutinya masuk ke jalan kecil seperti itu terlihat sangat kentara, sehingga demi keamanan, Erin terpaksa berhenti di pinggir jalan besar dan membiarkan pria itu lolos.


Untuk beberapa saat, kedua wanita itu hanya duduk di dalam mobil dengan mesin yang masih menyala, di tengah hening dan kelamnya Sleman pada pukul 02.00 dini hari. Mereka terus berdiskusi dan memikirkan sesuatu.


“Tapi sayang banget, Rin, kalau berhenti di sini. Kita udah pergi sejauh ini soalnya.”


“Terlalu beresiko, Nad. Lagian tempat itu menuju ke pelosok. Katanya kamu takut di buang ke hutan? Soalnya kalau kita ikut belok juga, pasti dia notice.”


“Jadi gimana, dong?”


“Tadi aku periksa map. Kabar baiknya, jalan kecil itu nggak terlalu bercabang. Kalaupun Kris berhenti di suatu tempat, kita masih bisa cari karena ternyata setelah belokan tadi itu areanya nggak begitu besar. Pokoknya, ujung jalan itu ending-nya di Merapi, deh.”


“Yah, mau gimana lagi. Kayaknya kita juga harus cari penginapan, Rin. Kamu harus istirahat. Lumayan bisa tidur sampai pagi sebelum kita lanjut jalan lagi. Di sini pasti banyak hotel atau villa, ‘kan?”

__ADS_1


“Ini daerah wisata ternyata, jadi jangan takut. Entah kenapa aku yakin banget ada sesuatu di sini. Kalau kamu kenal Reva, nggak heran kalau misalnya dia mutusin untuk beli properti dan settle di tempat kayak gini, soalnya sesuai kriteria dia banget.”


Nadia yang sedang berkutat dengan ponselnya kemudian menemukan kamar yang layak untuk di sewa malam itu. Pilihannya jatuh kepada sebuah villa mewah dengan dua buah kamar serta private pool, konsepnya persis seperti villa-villa tropical aesthetic di Bali. Letaknya juga tak jauh dari tempat mobilnya sedang parkir saat itu. Mungkin ia pikir dirinya itu sedang berlibur, padahal sebenarnya ia hanya membutuhkan kasur selama beberapa jam saja sampai besok pagi.


***


Boro-boro keluar pagi, saat matahari sudah terang-benderang saja, Princess Nadia masih asyik menikmati floating breakfast-nya di kolam renang yang bertabur kelopak bunga. Entah sudah berapa potret food and vibe yang ia ambil dari berbagai sudut, serta beberapa selfie dan short video. Lucunya, karena dia itu sudah menyatakan dirinya sendiri sebagai fashion designer, tempat itu malah dijadikannya sebagai lokasi photoshoot.


Nadia memang selalu membawa beberapa koleksi bajunya di bagasi mobil hatchback-nya itu, bisanyanya produk yang cacat dan tak lolos quality control untuk dijual, tetapi masih dibutuhkan untuk sample. Ia juga memiliki berbagai koleksi bikini di kotak penyimpanan yang terletak di dalam mobil, karena salah satu anak perusahannya memang bergerak di spesialisasi underwear.


Erin yang sejak tadi hanya bisa geleng-geleng saja memperhatikan perilaku wanita itu mulai geram dibuatnya. Bagaimana tidak, dirinya sudah siap sejak tadi. Ia bangun lebih awal meskipun semalam suntuk terpaksa menyetir penuh dari Bandung ke Yogyakarta. Namun, lihatlah si centil yang sedang bermanis manja di kolam itu, dengan wajah berseri-seri di hadapan kamera depan dari ponsel puluhan juta yang tampak sangat jernih. Hidupnya tampak sama sekali tak ada beban. Chill sekali, mengingat sebenarnya mereka sedang berada di sana untuk sebuah misi pengintaian.


“Woy!!! Udah hampir tengah hari!!!” teriakan yang entah untuk keberapa kalinya didengar oleh Nadia, tetapi selalu dihiraukannya dan hanya direspons dengan “sebentar lagi, ya ....”


“Aku tahu kamu nyebelin banget, Nad, tapi nggak begini juga konsepnya! Kita buru-buru, nih! Lo pikir ini holiday?” Erin yang mengomel di pinggiran kolam mulai meledak-ledak.


“Aku belom beres sarapannya, Rin. Sabar, yaaa ....” sahut Nadia dengan cockail buah di tangannya. Setengah dari tubuh moleknya itu berada di dalam air, entah mengapa ia betah sekali menikmati sarapan dengan cara seperti itu. Sementara, Erin menolak mentah-mentah saat ditawari floating breakfast oleh pengelola villa. Ia lebih memilih makan di kursi empuk, dengan tubuh yang sepenuhnya kering!


“Ya, iyalah belom beres! Dari tadi foto-foto doang! Untungnya, nih, Ayesha lagi ada outbond dari sekolah, dan Papanya lagi free jadi bisa nganter. Tapi, tetap aja aku harus cepat balik, Nad! Cepetan!!!”


Setelah drama berkepanjangan menyeret Nadia dari kolam renang, akhirnya wanita itu mau juga bergegas mandi dan bersiap. Berdandan dan memilah-milah salah satu baju rancangannya untuk dipakai hari itu, dan merapikan sisanya ke dalam sebuah koper yang selalu bertengger di bagasi mobil. Rencana check out pagi-pagi itu buyar sudah. Mereka saja baru menyerahkan kunci ke resepsionis tengah hari!


Keluar dari villa, mobil mulai kembali melibas aspal jalanan Sleman. Jika menuruti hasil mempelajari peta, maka pencarian itu akan berpusat pada suatu dusun di mana banyak penduduk bermukim. Erin dan Nadia menandai titik-titik di mana banyak rumah berada, dan mereka mulai menelusuri jalan-jalan itu satu per satu.


“Aktifin Wi-Fi, Nad.” Erin yang saat itu bergantian duduk di kursi penumpang memiliki sebuah rencana.


“Kenapa memangnya?” tanya Nadia di balik kemudi.


“Kita akan coba berhenti setiap beberapa rumah sekali, dan coba tangkap jaringan Wi-Fi di sekitar situ. Ketika ada nama yang terlihat mencurigakan, kita akan periksa.”


“Dih, pintar banget kamu.”


“Makanya punya otak itu dipakai, Nad! Jangan wangi parfum mulu yang kamu pikirin.”


“Lah? Siapa yang kayak gitu?”


“Kamu nanya? Kamu tadi milih parfum yang sesuai tema outfit aja sampai belasan menit! Lagian, memang kamu kalau pergi bawa berapa parfum, sih? Ribet!”


“Ah, kamu nggak ngerti, Rin! Mana mungkin aku pakai dress bunga-bunga tapi kecium agak maskulin, ‘kan? Nggak bisa bahan dress yang flowy ketemu aroma yang musky, Rin. Nggak gitu aturannya—”


“TERSERAH ELO!!!”


Selagi mereka berdebat masalah outfit dan parfum, tiba-tiba Erin menangkap sesuatu yang mencurigakan di ponselnya. “Berhenti, Nad! Berhenti!!!” teriaknya yang sampai membuat jantung Nadia hampir melompat dari tempatnya.


Jantung Erin pun seketika berdebar kencang, dan ia mulai memperhatikan kanan dan kirinya lebih teliti.


“Ada apa, Rin?”


“Periksa jaringan Wi-Fi yang masuk!”


“Mmhh ... undertherain?”


“Yup, undertherain ... aku nggak mungkin salah, Nad. Ini pasti punya Reva. Yakin, deh! Yakin banget malah!”


Dengan antusias, Nadia turut meneliti sekelilingnya, dan menemukan sebuah bangunan tepat di samping kanannya tampak sangat mencurigakan. Hatinya sungguh tergelitik untuk mencari tahu, karena meski rumah itu tak besar, penampilan taman dan fasadnya sungguh aesthetic. Mobil SUV hitam Kris yang semalaman mereka ikuti juga terparkir di halaman rumah itu, meskipun tampak samar karena bar pagar besi yang rapat.

__ADS_1


__ADS_2