
“Bunda! Bunda! Bunda!”
Teriakan Kaia yang tiba-tiba sudah seperti lolongan serigala di siang bolong. Gadis itu berlari keluar dari kamar, mengacungkan ponselnya ke udara dengan wajah panik, sembari terus berteriak memanggil ibunya.
Saat itu Nadia sedang berbicara dengan seseorang di telepon, dan ia segera menoleh ke arah putrinya dengan wajah bertanya-tanya. “Mbak, saya tutup dulu, ya. Secepatnya kita berkabar lagi.” Ia segera memutus sambungan telepon dan menghampiri Kaia. “Ada apa, Nak?”
Gadis itu segera menjulurkan lengannya ke arah sang bunda, hendak menunjukkan apa yang baru saja ia lihat di balik layar ponselnya. “Bunda lihat ini, deh!”
“Apa ini, Ka?”
“Jadi, Kaia mau ikut kelas water-color painting, Bunda. Kaia udah daftar. Tapi, coba Bunda lihat dulu siapa nama mentornya!” Dengan wajah gusar dan mata yang membulat, Kaia menunjukkan sebuah halaman website yang seketika membuat Nadia tercekat.
“Ini? Krisna ...?” Awalnya Nadia hanya merespons pelan, tetapi ketika ia terus mengulir ponselnya ke bawah, respons itu menjadi semakin riuh. “KRISNA! Ini beneran si Krisna itu?” teriaknya ketika menemukan foto dari wajah yang ia kenali dengan baik itu di sana.
“Iya, Bunda, Om Krisna.”
“Dia mentor melukis kamu, Ka? Si Krisna ini? Yang hampir bikin Papa kamu pergi ninggalin kita semua?!” pekik Nadia yang bisa saja membangunkan para tetangganya yang sedang tidur siang.
“Iya, Bunda. Di page itu ada fotonya. Krisna Satria ... suaminya Reva, ‘kan?” selidik Kaia dengan was-was.
“No, Kaia ... NO! Kamu nggak boleh datang ke kelas dia! Bunda nggak mau!” Nadia tiba-tiba bangkit dari duduknya dengan gelisah. Melihat wajah pria itu di foto digital saja sudah membuatnya muak, apalagi memikirkan putrinya akan mengikuti kelas seni yang dipimpin olehnya.
“Iya, Bunda. Kaia cancel aja kelasnya. Lagian, Kaia belum bayar, baru aja mau booking.”
“Nggak usah! Bunda bisa cariin kamu mentor yang jauh lebih baik. Bunda nggak mau kamu kenapa-napa, Nak.”
“Tapi, Bunda ... berarti Om Kris akan ada di Bandung, ‘kan, selama kursusnya berlangsung?”
Nadia yang sedang berjalan mondar-mandir tak karuan segera menghentikan langkahnya, lalu melirik ke arah Kaia sembari memicingkan mata. “Eh, bener juga, ya ....”
Untuk sesaat Nadia tampak memikirkan sesuatu, duduk di kursi dapur di apartemennya sembari mengetukkan jari-jarinya ke atas meja kayu. Kemudian, ia segera menyambar ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Sambungan pertama tak mendapatkan respons. Ia terus saja menghentakkan kakinya tak karuan, dan dengan gemas menjambak rambutnya sendiri seraya menunggu panggilan teleponnya tersambung. Kemudian, ia kembali menekan tulisan ‘CALL’ pada layar LCD itu untuk kedua dan ketiga kalinya, hingga akhirnya seseorang diujung sana menjawab juga.
“ERIN! Kemana, sih?” Geram tampak di wajahnya meskipun ia merasa lega.
“Tadi di kamar mandi, Nad. Ada apa?” jawab Erin di ujung telepon.
“Aku punya ide, Rin! Akhirnya, ada juga jalan keluar dari masalah itu!”
“Ini kita lagi ngomongin apa, ya?”
“Rin, dengerin. Minggu depan ada kelas pop-up water-color painting di tempat kursus arts-nya Kaia. Kamu tahu siapa yang jadi mentor untuk kelas itu?”
“Siapa?”
“KRIS! Krisna Satria! Orang yang kita cari-cari selama ini meskipun kita eneg banget dengar namanya!”
“Hah? Yang bener, Nad? Kebetulan banget, dong!”
“Beneran. Tadinya Kaia mau daftar. Tapi Amit-amit, deh, kalau anakku sampai ketemu dia lagi! Untung dia periksa dulu website mereka, dan kita nemu nama dan fotonya di situ!”
“Iya, Nad, bahaya. Terus rencana kamu apa?”
“Setidaknya, kita tahu dia akan ada di Bandung selama beberapa hari selama kelas pop-up itu. Mungkin, diam-diam kita bisa datang ke situ, Rin.”
__ADS_1
“Kita kuntit, maksudnya? Bisa, sih, nanti kita ikutin ke mana di pulang. Mungkin cuma itu caranya untuk cari Reva.”
“Aku juga mikir gitu, Rin. Kita ikutin mobilnya setiap kelasnya selesai. Mungkin bisa gantian pakai mobil aku atau kamu, biar dia nggak curiga.”
“Tanggal berapa kelasnya dimulai?”
“Satu sampai lima Februari. Kosongin jadwal di antara tanggal segitu, ya. Kita pergi bareng.”
“Okay.”
***
Topi dan kaca mata hitam sudah terpasang dengan ciamik. Tak lupa juga masker wajah serta rambut yang sengaja digerai untuk menutupi rahang. Nadia dan Erin sudah berada di halaman sebuah kompleks ruko, menanti target intai mereka sore itu.
Tempat kursus seni di mana Kaia menimba ilmu bernama ‘Yukita Arts’. Kaia datang ke situ dua kali dalam satu minggu setelah ia pulang sekolah. Tempat yang terletak di dalam sebuah ruko itu menawarkan berbagai kegiatan belajar seperti menggambar, membuat sketsa, melukis serta membuat manga. ‘Yukita Arts’ memang kerap kali mengundang beberapa mentor freelance untuk kelas-kelas tambahan mereka. Dan saat itu, Kris yang memang namanya sudah dikenal di dunia gambar dan warna, ditawari pekerjaan untuk mengajar anak-anak di sana selama pop-up class berlangsung.
“Yang mana mobilnya, Nad?” tanya Erin yang terus memperhatikan pintu masuk tempat kursus itu dari dalam mobilnya yang terparkir di ujung halaman ruko.
“Nggak tahu, Rin. Tapi di website mereka, jadwal kelasnya selesai jam 17.30. Tinggal lima menit lagi, pasti dia keluar dari pintu itu. Tunggu aja.”
“Okay, Nad. Siap-siap, ya.”
Lebih dari sepuluh menit waktu terlewati, tetapi batang hidung pria itu belum kelihatan juga. Hanya anak-anak seusia Kaia saja yang mulai berhamburan melangkah keluar pintu. Sepertinya mereka adalah murid-murid Kris.
“Belum ada, Rin ....”
“Baru selesai kali. Anak-anaknya aja baru keluar. Mungkin dia masih ada urusan.”
“Oh, okay, deh.”
“Riiin ...!”
“Sabar, ih! Tunggu sepuluh menit lagi, ya. Lagian, baru jam segini juga.”
Kabar baiknya, tak sampai sepuluh menit akhirnya tubuh skinny Kris tertangkap juga oleh kedua pasang netra dari wanita-wanita yang sudah seperti mata-mata itu. Ia memakai pakaian serba hitam dan membawa sebuah tas ransel. Cara berjalannya yang pecicilan itu sangat mudah dikenali, serta tato yang bertebaran di lengan dan lehernya juga langsung bisa teramati oleh Erin dari balik kaca spion mobilnya. Kabar buruknya, daerah itu sedang macet parah, semoga saja Erin bisa langsung menyela untuk menempatkan mobilnya tepat di belakang mobil Kris.
“Dia masuk ke mobil hitam itu, Rin!”
“Nanti kamu catat nomor platnya, ya.”
Erin segera menarik tuas transmisi ketika melihat keempat ban mobil hitam itu mulai bergerak. Bersama-sama, mereka meninggalkan area ruko dengan bantuan tukang parkir. Meski hampir saja menyerempet, Erin dengan cekatan langsung menempel pada mobil pria itu dan mulai membuntuti.
Mobil itu melewati jalan-jalan yang sudah dapat Erin tebak arahnya akan ke mana. Meskipun begitu, ia tak ingin sampai kehilangan jejak, karena bisa saja prediksinya ternyata salah.
“Eh? Ini mah mau ke rumah Bi Uma kayaknya, ya?” Nadia yang juga telah menyadari ke mana mobil itu hendak menuju langsung berkomentar.
“Kayaknya iya, Nad. Tapi, masuk akal, sih. Kalau Kris sekarang tinggal di luar kota, mungkin baru hari ini dia balik ke Bandung, dan pasti langsung silaturahmi ke tempat Bi Uma.”
“Mungkin Reva di situ?”
“Bisa jadi. Makanya kita tetap ikutin aja.”
“Bakal susah tapi ketemu Reva kalau ada suaminya gitu. Gimana coba, Rin?”
“Kita lihat nanti, deh.”
__ADS_1
Selama beberapa puluh menit berkendara, akhirnya mereka tiba juga di tujuan. Mobil Kris yang saat itu sudah terparkir di lahan bebas di depan sebuah kantor kelurahan mulai menyulitkan pengintaian. Pemiliknya sudah turun dan berjalan ke arah gang. Gang sempit yang akan mengantarnya ke kediaman Bi Uma. Erin dan Nadia tahu itu, karena mereka juga pernah melalui jalan yang sama. Namun, saat itu tak mungkin mereka turut mengerkornya berjalan kaki. Hari sudah malam dan tempat itu tampak sepi. Mereka takut Kris berbuat macam-macam.
“Cuma ada satu cara buat cari tahu apakah Reva ada di rumah itu atau nggak,” celetuk Erin, setelah dirinya dan Nadia berdebat panjang tentang apa yang harus mereka lakukan malam itu. Tak mungkin pula mereka pulang begitu saja tanpa hasil, setelah membuang-buang waktu mengintainya sejak sore.
“Apa?”
“Delivery!”
“Maksud lo?”
“Lihat aja, deh.”
Erin segera mengulir layar ponselnya, membiarkan jari-jemarinya menari di atas sana. Lalu, ia mulai menunggu, selagi membiarkan Nadia bertanya-tanya terhadap aksinya dengan mulut menganga.
Setelah menanti selama lima belas menit, seorang pengendara roda dua datang dan memarkirkan motornya di depan kantor kelurahan itu. Erin dengan gegas menghampirinya, masih lengkap memakai topi, masker dan kacamata.
“Kang, antarnya langsung ke Reva, ya. Rumahnya di cat biru, pagar putih, rumah keempat pokoknya, sebelah kanan.”
Erin memberikan instruksi sejelas mungkin kepada pengendara ojek online tersebut, dan ia juga tak lupa memberikan tip. “Ini buat akang. Tolongin saya, ya!”
“Kebanyakan, Teh ....”
“Nggak apa-apa. Ayo, Kang, langsung diantar aja.”
Sementara Erin terbirit-birit kembali ke mobilnya, pemuda itu melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Dengan membawa plastik yang berisi dua cup besar teh boba, ia masuk ke dalam gang dan menghilang dari pandangan Erin.
“Gila, dih! Nanti ketahuan gimana? Nggak ada yang tahu Reva pernah tinggal di situ selain kita soalnya!” omel Nadia begitu tersadar apa yang sedang dilakukan oleh temannya itu mungkin berbahaya.
“Terus kenapa? Kalau Kris tahu, memang dia mau ngapain? Kita tetap butuh informasi, Nad. Jadi nekad sedikit worth it, lah.”
Tak lama kemudian, si pemuda kembali, dan Erin segera melambaikan tangannya dari dalam mobil. “Gimana, Kang?” tanyanya dengan cemas karena jendela kacanya terbuka lebar. Ia takut sekali Kris tiba-tiba muncul dari gang itu dan melihat dirinya.
“Yang namanya Reva nggak ada, Teh.”
“Jadi yang nerima siapa? Bilang nggak, Reva di mana?”
“Ibu-ibu, Teh, tapi Nggak bilang apa-apa.”
“Ya udah, Kang. Makasih, ya.”
“Sama-sama, Teh.”
Erin segera menancap gas begitu urusan dengan delivery service itu selesai, melaju sejauh mungkin dan memastikan mobil Kris tak mengikutinya di belakang.
“Tapi, Rin, dia bisa aja bohong, lho. Karena dia tahu kalau itu pasti ulah kita, pasti dia bilang Reva nggak ada,” tukas Nadia setelah beberapa menit mereka kembali melibas jalan raya.
“Mau gimana lagi. Kita nggak bisa maksa juga.”
“Jadi kita harus gimana?”
“Menurutku, kita tunggu sampai hari terakhir Kris ngajar. Di hari terakhir itu bisa jadi penentuan, apakah dia tetap pulang ke Bi Uma, atau pergi ke tempat lain.”
“Boleh, deh. Setuju.”
Hari itu berakhir tanpa hasil, tetapi mereka akan mencoba lagi esok. Kondisi Rafael membuat mereka bersikeras untuk mencari tahu di mana sahabat masa kecilnya itu berada. Semoga saja, besok atau lusa akan ada kabar baik.
__ADS_1